Kopi Luwak

Anda pecinta kopi? Anda pasti mengenal Kopi Luwak. Bagi yang belum tahu (termasuk saya), proses pembuatan kopi luwak ini sungguh menggelikan. Karena biji kopi harus masuk ke sistem pencernaan Luwak (Musang Kelapa) terlebih dahulu dan kemudian dikeluarkan bersama dengan kotoran. Biji kopi yang keluar bersama kotoran ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk dan kemudian disedu dengan air panas. Walau pun proses pembuatannya membuat geli, konon rasanya maknyus…

Di balik itu, Kopi Luwak asli Indonesia itu menyimpan sejarah yang kelam. Ceritanya bermula saat Belanda membuka perkebunan komersial di koloninya, yaitu Indonesia pada abad ke-18. Dengan konsep Tanam Paksa (cultuurstelsel), Belanda memaksa rakyat untuk menanam kopi Arabika yang didatangkan dari Yaman. Para pekerja perkebunan pribumi dilarang memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi.


{ Foto dipinjam dari Wikipedia }

Ceritanya berlanjut saat penduduk lokal ingin pula mencicipi kopi yang sangat terkenal itu. Maklum, cerita kenikmatan kopi itu sangat mendunia. Sangat ironis ketika rakyat Indonesia yang menyediakan perkebunan dan menanamnya tidak bisa turut mencicipinya.

Suatu kebetulan ketika penduduk mengetahui ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi. Saya berpikir, mungkin penduduk kala itu menemukan kotoran Luwak dan menjumpai ada banyak biji kopi di situ, hiii…


{ Ini dia Luwaknya (Musang Kelapa). Foto dipinjam dari Wikipedia }

Kemudian saya membayangkan, karena saking inginnya penduduk menikmati kopi, maka penduduk memunguti biji-biji kopi tersebut. Biji-biji kopi tersebut kemudian dicuci, disangrai, ditumbuk dan disedu dengan air panas. Lha kok rasanya enak? Apalagi aromanya ternyata asyik juga. Jadilah kopi luwak ini terkenal di masyarakat under ground.

Lantas kopi Luwak yang menjadi popular ini kemudian diketahui Belanda. Jadilah Kopi Luwak industri baru. Kopi Luwak menjadi kopi yang termahal saat itu dan menjadi minuman orang kaya.

Aroma dan rasa Kopi Luwak yang khas ini diyakini karena Luwak hanya memilih biji kopi yang terbaik dan matang sempurna. Sedangkan sistem pencernaan Luwak membantu menghilangkan daging buah dan proses fermentasi sehingga hanya tersisa biji kopi yang masih dilindungi kulit keras.

Saya sendiri secara pribadi rada-rada geli kalau harus minum Kopi Luwak ini, secara dia harus melalui proses pencernaan Luwak. Namun tidak dipungkiri, kita harus mengapresiasi sejarah Kopi Luwak ini. Dan ternyata Kopi Luwak menjadi kopi favorit penikmat kopi seluruh dunia. Tidak dinyana, kopi Luwak menjadi kopi yang termahal.

~~~

Kisah nyata perjalanan sejarah Kopi Luwak ini dituangkan dengan baik di:

~ Kopi Luwak (Wikipedia Indonesia)
~ Kopi Luwak (Wikipedia English)

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Dewo, Opini dan tag . Tandai permalink.

17 Balasan ke Kopi Luwak

  1. Adhi P berkata:

    Kopi paling jozzzzzz

  2. Oyen berkata:

    di puslitkoka 1 kg sejutaan, mau? 😛

  3. Potensi besar Kopi Luwak masih belum banyak tersentuh, ayo kita kembangkan bersama . .

  4. zedeen berkata:

    saya udah pernah minum punya temen, enak sih, nggak terlalu asem sehingga konon aman untuk penderita maag, tapi kalau saya minum terus2an saya malah bisa kena maag, duitnya habis buat beli kopinya jadi nggak bisa beli beras 😀

  5. Lidya berkata:

    saya bukan pecinta kopi mas

  6. Devi Yudhistira berkata:

    harganya itu lo mas yg ga nahaaann…..
    tp kl beli langsung di pengolahnya, lbh murah siihh (jangan2 itu barang KW ya?)

    makasih ya kopi luwaknya 🙂

  7. Loekito berkata:

    Reblogged this on Loekito.

  8. Emory Reese berkata:

    Kopi luwak adalah kopi terbaik di dunia. Hal ini bisa kita lihat dari harga kopi luwak yang sangat fantastis dan mahal hampir disemua café atau coffee shop di negara-negara lain. Harga kopi luwak di Eropa dan Amerika berkisar antara $ 30 hingga $ 100 percangkir. Di Indonesia harga kopi luwak di jual antara Rp. 80.000 sampai Rp. 125.000 percangkir. Bukan karena masalah harga yang membuat kopi luwak menjadi kopi terbaik melainkan kopi luwak memang memiliki rasa kopi yang begitu nikmat, lembut dan tahan lama di dalam mulut kita.

  9. Ping balik: Kopi Luwak Jepara | Emanuel Setio Dewo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s