Cermin Senjaku

Kupandangi pantulan wajahku di cermin. Masih cantik di usia senjaku. Padahal baru kemarin aku mengeluh karena keriputku, karena kempotku. Padahal kemarin hampir kupecahkan cermin besar ini karena kecewa dengan pantulan wajahku.

Kuusap wajahku dengan bedak yang dulu biasa aku pakai untuk pentas. Kuulaskan lipstik merah membara yang biasanya bisa menggoda para pria. Semenjak kacamataku pecah tadi pagi, aku lebih bisa menikmati wajah senjaku.

Iklan

11 pemikiran pada “Cermin Senjaku

  1. TOK! TOK! TOK! Kuketuk pintu Dwi Mitra. Walau tempat itu terlihat tutup dan kosong, aku tak peduli, aku harus mencobanya dulu. Kuketuk lagi beberapa kali, tetap tak ada jawaban. “Mbak Ratna! Mas Anton!” aku berteriak sekeras mungkin, siapa tahu salah satu dari mereka ada di dalam. Tetap tak ada jawaban apapun dari dalam. Tak ada suara apapun selain suara hujan yang menghantam jalanan yang sepi. Tubuhku terasa lemas, nafasku terengah-engah karena berlari tadi. Kuusap wajahku yang basah oleh air hujan, pelan- pelan aku terduduk di depan pintu itu. Kutatap DVD di balik kantong plastik yang kubawa. Tatapanku menjadi kosong, ada air yang menetes dari kedua mataku. Apakah itu air hujan? Ataukah air mata? Kalau itu air mata, apakah artinya aku menangis? Menangis karena apa? Karena takut? Karena malu? Karena bingung?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.