Mentertawakan Kesedihan

Sekali-kali posting curhatan aaaah… Jadi begini, Selasa kemarin mental saya down. Bener-bener down. Baru kali ini saya benar-benar down hanya karena pekerjaan. Apa sebabnya? Karena saat meeting seluruh cabang kemarin saya dibantai. Bukan lagi “kami” (divisi IT Corp), tapi saya secara personal. Kalau bertahun-tahun sebelumnya saya juga dibantai, saya masih bisa mengatasinya karena saya berdiri atas nama divisi IT. Tapi tidak untuk tahun ini.

Bagaimana seandainya semua pekerjaan, pengabdian dan pengorbanan selama ini dianggap nothing? Tidak ada artinya? Dianggap tidak ada progres dari tahun ke tahun? Bagaimana jika sebuah pekerjaan yang sebegitu besar dianggap kecil dan tidak ada artinya? Ironisnya yang mengatakan hal itu adalah orang penting, anggota komisaris. Jika yang mengatakannya direktur RS mungkin saya masih bisa tabah seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi kali ini tidak.

Jujur, sepanjang presentasi saya hanya bisa menahan kesedihan. Sebuah materi presentasi saya drop, tidak saya presentasikan. Padahal presentasi yang saya drop itu sangat penting bagi perusahaan terutama dalam meningkatkan brand. Tapi saya drop, saya terlalu sedih untuk mempresentasikannya. Mungkin keputusan saya salah, tapi saya sadar kalau ini bukan saat atau kondisi yang tepat untuk mempresentasikannya. Sepanjang waktu menjawab cecaran saya hanya bisa menahan sedih. Saya berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata.

Dan sepanjang perjalanan pulang saya menangis. Sedih. Terakhir kali saya menangis setahun yang lalu saat Ayahanda tercinta meninggalkan kami untuk kembali ke rumah Bapa.

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Saya telah dianggap gagal memimpin divisi IT Corporate. Pekerjaan saya dianggap tidak ada progres atau artinya dari tahun ke tahun. Dan saya berbesar hati untuk menerima kenyataan itu. Perkenankanlah saya mengundurkan diri. Biarlah orang lain yang jauh lebih baik dari pada saya memimpin divisi IT Corporate.

Sayangnya pengunduran diri saya ditolak CEO. Saya tidak boleh mengundurkan diri. Bahkan usulan terakhir saya untuk meletakkan jabatan manajer ditolak. Baiklah, saya akan coba bertahan selama beberapa bulan ke depan. Saat ini saya tidak bisa bekerja dengan kepala tegak. Tidak ada lagi kebanggaan di hati. Dan tidak ada kepercayaan diri ketika bertemu dengan jajaran direksi rumah sakit. Mental saya sudah down.

Syukurlah semua anak buah saya adalah teman saya. Benar-benar sahabat. Banyak masukan dan dorongan dari mereka. Nampaknya banyak kata-kata dan nasehat yang pernah saya sampaikan ke mereka berbalik ke diri saya sendiri. Sayangnya saya terlalu down… Hiks…

Hingga akhirnya saya memutuskan untuk bangkit. Ehm… bukan hal yang mudah sebenarnya. Namun ada beberapa hal yang bisa saya lakukan, yaitu:

Bekerja seperti untuk Tuhan

Nasehat dari Kolose 3:23 menampar saya,

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Benar adanya. Semestinya saya harus berpikir dan bekerja untuk Tuhan, bukan untuk perusahaan atau perorangan. Dengan demikian seharusnya saya bisa bekerja dengan segenap hati, akal budi, dan pengabdian.

Mentertawakan kesedihan

Setelah tertampar oleh Kolese 3:23, saya pun sudah bisa tenang. Dan saya pun mulai mentertawakannya. Ambil contoh ketika rakor IT disepelekan, “Rakor hanya dilakukan 1 kali dan itu pun cuma membahas queueing”. Seandainya sentilan ini cuma diucapkan komisaris 1× mungkin saya menganggapnya angin lalu. Tapi jika diulang beberapa kali, tahulah saya bahwa ini pembunuhan karakter. Orang ini tidak tahu kalau queueing justru acara bonus. Ada beberapa acara yang jauh lebih penting dari itu yang dibahas di rakor IT.

Saya pun becanda dengan tim, “Mari kita adakan rakor setiap bulan di Bali atau Lombok selama seminggu dan cuma membahas queueing!” Tentu saja tim IT Corp tergelak. Karena mengumpulkan koordinator IT dari seluruh RS tidaklah mudah. Selain butuh biaya besar, juga bakal mengganggu keberlangsungan operasional RS yang banyak menggantungkan operasionalnya ke sistem IT.

Memahami cara berpikir pengkritik

Saya berusaha memahami cara berpikir pengkritik. Ketika kepemimpinan saya dikritik tidak ada hasilnya selama bertahun-tahun, saya pun berusaha memahaminya bahwa si pengkritik tersebut tidak tahu bahwa:

  1. Kami sudah melakukan implementasi di 6 RS selama 3 tahun. Oke, mungkin menurut standard Si Pengkritik yang terlalu tinggi itu angka ini adalah nothing.
  2. Selama 4 tahun kami telah menghasilkan 250++ modul standard RS. Dan kami harus mengimplementasikannya, memperbaiki jika ada kesalahan, dan terus mengembangkannya ke versi 2. Baiklah, Si Pengkritik tidak tahu angka ini.
  3. Selama itu pula kami sudah membuat sistem pendukung seperti antrian, inter koneksi ke alat lab, inter koneksi ke LIS, resep online, modul dokter, EIS otomatis, dll. Di RS lain kebanyakan di-outsource atau membeli produk jadi yang mahal. Mungkin si Pengkritik tidak tahu berapa miliar uang yang bisa dihemat.
  4. Tidak hanya bertanggung jawab terhadap sistem, kami juga bertanggung jawab terhadap server bagi seluruh website RS, email, dll
  5. Kami harus menegakkan sistem operasional di setiap RS. Tidak jarang kami turut membantu operasional departemen-departemen di RS seperti keuangan, medis, farmasi, dll.
  6. Kami harus siap sedia 24 jam selama 7 hari jika ada masalah di sistem atau pun infrastruktur. Dan kami harus bersedia bekerja di mana saja di seluruh cabang RS yang kadang tidak memiliki akomodasi yang baik. Bahkan tidak ada perhitungan lembur.

Si Pengkritik mungkin tidak tahu kalau:

  1. Saat ini IT Corp hanya tersisa 6 orang. Ada tambahan 1 orang November ini. Tahun ini keluar 3 orang. Coba bayangkan beban yang harus dipikul oleh 7 orang dari seluruh RS.
  2. Kami baru saja mengimplementasikan di 1 RS. Dan kami menjadwalkan implementasi lagi di 2 RS akhir tahun ini. Dan 2 RS tahun depan.
  3. Kami harus mengembangkan beberapa modul baru, sekitar 12 modul. Termasuk appointment yang bisa menaikkan daya saing RS dan meningkatkan brand.
  4. Banyak sekali inisiatif justru berasal dari IT, bukan hasil inovasi manajemen RS, seperti stock opname dengan barcode, dll. Pfff…
  5. Saya harus selalu menjaga motivasi anak buah yang memiliki beban kerja tinggi dengan gaji tidak kompetitif.

Mulai memikirkan peluang lain

Saat down, saya banyak memperoleh wacana baru. Mungkin terlalu dini untuk mem-follow up-nya. Namun bukan berarti saya mengabaikannya. Dan saya mulai membuka diri terhadap peluang yang ada. Jika sebelumnya saya selalu mengabaikan peluang karena adanya “ikatan moral”, kini saya melepaskan “ikatan moral” ini. Saya harus membebaskan diri untuk kemana saja.

Penutup

Mungkin masih banyak lagi. Tidak perlulah saya tuliskan semua pencapaian yang sudah pernah kami capai. Tidak menutup mata, banyak pula kesalahan yang sudah saya buat selama bekerja di sini. Terakhir kegagalan saya adalah dalam hal pengembangan modul Akunting yang bekerja sama dengan vendor luar. Ternyata vendor luar kabur. Dan saya menanggung beban kesalahan ini, hiks…

Mungkin curhatan ini dianggap tidak etis dan bisa membuat saya dipecat. Saya akan dengan senang hati menyambutnya, karena sebenarnya pengunduran diri saya sebelumnya sudah ditolak. Mungkin Tuhan punya rencana lain yang tidak saya ketahui?

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Catatan, Curhat, Dewo, Personal dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Mentertawakan Kesedihan

  1. Imelda berkata:

    Memang kalau tidak mengerjakan sendiri, tidak tahu susahnya kerjaan itu ya. Gambatte, pasti ada jalan yang lebih baik

  2. chocoVanilla berkata:

    Sing sabar. Aku pun pernah mengalaminya. Yah,namanya kita pekerja. Rasa sedihmu itu wujud dari rasa tanggungjawabmu juga. Kalo kamu cuek berarti kamu tidak bertanggungjawab, ya to? 😛 Tapi sedih dan putus asa gak boleh berlarut-larut.

    Sometimes, para petinggi tidak melihat “proses”, yang mereka lihat adalah “hasil akhir”. Dan itu wajar, bagaimanapun mereka adalah investor bukan pembimbing ato motivator 😀 Mereka menggaji kita untuk pencapaian perusahaan yang lebih baik.

    Saatnya bangkit, berusaha semampumu untuk mendapat yang terbaik. Jika itu masih saja tidak dihargai, serahkan pada Tuhan. Tidak ada yang sia-sia jika kita berusaha keras. Tuhan sudah berjanji akan upah yang lebih baik 😉

    Seperti kata BuEm, gambatte, Bro! Kami semua berdoa buatmu 🙂

  3. mhilal berkata:

    bekerja seperti untuk Tuhan
    Benar-benar tamparan yang menguatkan hati. 🙂

  4. Iksa berkata:

    Saat seperti ini paling baik untuk merenung ..
    Karena saat sudah di titik bawah, tidak ada yang dikhawatirkan lagi, semua akan jadi lebih baik ke depann ..
    Dengan kemampuan yang ada tidak perlu khawatir membangun karir dimanapun .. Pertanyaan berikutnya, apa tidak sekalian berpikir untuk membangun apa yang dilakukan sekarang diluaran saja .. Untuk perusahaan sekarang cukup jadi konsultan saja dan klien pertama .. lumayan berpindah kwadran ….

  5. Julia Heath berkata:

    Jadi, ini adalah masalah “ayam dan telur” kan? Mana yang lebih dulu? Sayangnya, dalam kasus ini Anda harus merapikan dulu “dapur” Anda sebelum bisa mulai menarik orang-orang unggul tersebut. Anda harus melakukan ini karena tanpa orang-orang unggul tersebut, hampir tidak mungkin bisa dicapai hasil yang bagus. Ciptakan tim orang-orang dengan performa top dan Anda pun akan sukses. Tetapi, jika menyimpan banyak orang di bawah standar, Anda pun akan gagal. Saya yakin poin-poin di atas sudah memberikan Anda banyak buah pikiran untuk dipertimbangkan dan dilakukan. Satu hal yang sangat saya sarankan adalah jangan membawa masalah karyawan di bawah standar tahun ini ke tahun depan. Mulailah tahun baru dan tahun ini dengan kondisi segar. Jangan membawa masalah dan penderitaan menuju tahun baru! Ingat orang-orang negatif yang sama akan membawa masalah yang sama. Jika Anda tidak melakukan pembenahan sekarang, Anda akan mengalami frustasi yang sama dengan penderitaan yang tengah dialami selama 12 bulan terakhir ini, dan tidak akan ada orang yang mengasihani Anda. Hanya diri Anda sendiri yang patut disalahkan! Jadi, gunakan waktu untuk memikirkan “strategi pembenahan” dan bertindaklah untuk merombak tim dari kondisi di bawah standar menjadi tim dengan performa top menuju tahun depan dengan optimisme baru.

  6. Ping balik: Pulang Ke Kota Papah | Emanuel Setio Dewo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s