Wawancara Perokok

Saat melakukan rekrutmen, kadang ada situasi dimana saya terusik, yaitu saat mengetahui kalau si pelamar adalah perokok. Ya… saya terusik untuk mengetahui mengapa dia merokok. Biasanya di akhir wawancara jadinya saya malah memberi nasehat panjang-lebar tinggi-rendah luas-sempit tentang bahaya merokok.

Dari pengalaman mewawancarai para perokok, ternyata mereka merokok karena kebiasaan dan tidak ada alasan spesifik. Mungkin mereka memperhalus kata “kecanduan” menjadi “kebiasaan”. Para perokok ini mengaku biasa menghabiskan 1 bungkus rokok seharinya. Ironisnya tidak ada keinginan sama sekali untuk berhenti. Maka saya pun bilang kalau perokok akan berhenti merokok jika sudah sakit. Lalu mulailah ceramah saya tentang bahaya merokok dan dampak buruknya bagi orang-orang di sekitarnya. Dan saya tidak bosan-bosannya melakukan hal ini, xixixi…

Walau pun demikian, pada periode lalu kami merekrut seorang perokok. Untungnya dia tidak ada masalah dengan kesehatan. Syukurlah dia tahu diri dengan tidak merokok di lingkungan rumah sakit. Jadi kalau mau merokok, dia harus keluar lingkungan rumah sakit dulu dan kalau perlu ngumpet, xixixi…

7 pemikiran pada “Wawancara Perokok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.