Ulasan Kuliner yang Tidak Enak?

Kalau membaca ulasan-ulasan kuliner di blog, rasanya selalu menarik dan membuat air liur menetes (hiii…). Kesannya enak banget gitu. Jadi pengen ikut merasakan juga.

Namun apakah makanan/minuman yang diulas itu benar-benar enak? Menurutku, tidak menjamin. Bisa jadi tidak sesuai dengan lidah kita. Suatu saat daku membaca twit seseorang yang suka mengulas kuliner, dia berkata kalau semua yang diulasnya pasti enak, karena kalau tidak enak pasti tidak akan dia ulas.

Lalu daku pun terusik dengan subyektivitas ulasannya. Pertama, mungkin makanan yang dia ulas cocok dengan lidahnya, tapi belum tentu cocok dengan lidah orang lain. Seperti contohnya lidah orang Jogja yang lebih senang makanan manis, sedangkan orang Jawa Tengah lebih suka yang gurih. Tentu beda dengan orang Padang yang suka pedas dan bersantan kental. Bahkan urusan lidah ini menjadi masalah besar bagi beberapa orang Indonesia yang ke luar negeri. Konon mereka harus beradaptasi cukup keras untuk bisa menerima masakan lokal di sana.

Kedua, sepertinya makanan/minuman yang tidak enak berhak pula diulas. Walau pun tentu tidak dengan maksud menjatuhkan Si Pengusaha makanan, tetapi sepertinya perlu juga diapresiasi dalam tulisan publik. Bisa kan mengulasnya dari sisi yang lain? Misalnya nuansa, dekorasi restoran, atau keunggulan-keunggulan lain. Seperti halnya Starbucks yang minuman/makanannya itu-itu saja, tidak ada yang istimewa, tetapi tetap layak untuk diulas. Dan nyatanya kesuksesan Starbucks tidak hanya karena minuman/makanannya, tetapi karena konsep experience yang dia unggulkan. Inovasinya mendobrak budaya minum kopi di Amerika. Dan sekarang sudah merombak konsep “ngopi” di Indonesia juga.

Anda punya pendapat lain?

Iklan

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Dewo, Opini, Personal dan tag , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Ulasan Kuliner yang Tidak Enak?

  1. Iksa berkata:

    Mas Dewo, kalau saya sih cenderung tidak menuliskan pengalaman makan tidak enak, karena itu masalah selera dan menghalangi rejeki orang. Kalau perbaikan layanan, fasilitas dll bagus juga dibahas …

  2. jarwadi berkata:

    Enak dan tidak enak itu subyektif. Tidak bisa diukur dengan multi tester. Hehe

  3. xrismantos berkata:

    boleh aja review makanan yang ga enak, tapi dengan menyembunyikan identitas penyedia makanannya. Kasihan juga mas kalo jadi ga laku gara-gara selera kita yang beda…

  4. Imelda berkata:

    aku pernah beberapa kali mengulas tentang restoran dan makanan, dan kalau tidak enak biasanya aku akan tulis, “aku sendiri sudah cukup, tidak akan kembali lagi karena sudah tau rasanya” hehehe

  5. Ping balik: Ketika Rasa Tidak Terstandarisasi | Emanuel Setio Dewo

  6. Lidya berkata:

    harus pinjam lidah pengulas makanan ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s