Connected People

Di era modern ini rasanya sudah tidak asing jika seseorang akrab dengan media sosial yang akan mengkoneksikan dirinya pada orang lain tanpa batasan tempat dan waktu. Sudah jamak kita lihat anak-anak SD sudah fasih berinteraksi dengan piranti bergerak semacam ponsel pintar, tablet, PC/Laptop, dll. Entah untuk main game online, ngobrol dengan teman-teman, upload foto/video, nge-blog, video call, dll.

Sementara saya yang lahir beberapa ratus tahun yang lalu merasa bahagia bisa mengalami perkembangan sedemikian cepatnya dan syukurnya masih bisa mengikuti perkembangan teknologi terutama untuk membantu aktivitas saya. Entah teknologi apa lagi yang akan tercipta 10 tahun ke depan. Mungkin konektivitas sosial akan lebih canggih lagi. Dan semoga saya masih bisa mengikutinya.

Kemudian saya teringat kisah yang diceritakan leluhur tentang bagaimana kehidupan pra teknologi telekomunikasi, yang mana kala itu surat menyurat pun belum bisa dilakukan kecuali jika diantarkan sendiri.

Ya… saya teringat kisah yang diceritakan oleh nenek saya ketika beliau masih kecil. Waktu itu masih jamannya perang dengan Belanda. Begini kisah singkatnya…

Mendadak Belanda menyerbu desa dimana keluarga nenek tinggal. Kontan saja semua keluarga mengungsi. Keadaan benar-benar kacau, semua pergi terburu-buru meninggalkan rumah tanpa sempat membawa apa-apa. Semua mengungsi mencari selamat.

Di tempat pengungsian yang relatif aman, keluarga baru menyadari kalau adiknya nenek yang kira-kira berumur 5 tahun tidak ada karena tertinggal. Saat itu adiknya memang sedang bermain di luar rumah. Jadi saat terjadi peperangan tidak ikut mengungsi bersama keluarga.

Ayahnya nenek nekad kembali ke desa tempat tinggal mereka dan mencoba mencarinya. Namun tidak ketemu. Sudah dicari beberapa hari tidak ketemu. Hingga akhirnya beberapa minggu, bulan dan tahun berlalu.

Saya yang diceritain jadi sedih. Namun ceritanya belum usai. Selama bertahun-tahun itu keluarga tetap mencari dan menelusuri kemana-mana hingga akhirnya ada petunjuk kalau Si Adik sempat ikut seseorang yang dikenal keluarga. Diburu sampai beberapa kota akhirnya si adik ditemukan. Setelah bertahun-tahun dan si adik sudah  berumur belasan tahun, sudah beranjak remaja. Dia ditemukan ikut bekerja sebagai pekerja kasar.

Betapa bahagianya keluarga berhasil menemukannya kembali. Saya hanya bisa membayangkan betapa haru mereka saat itu. Ingin rasanya punya mesin waktu untuk kembali ke masa itu dan merekam pertemuan mereka. Tentu amat-sangat mengharukan.

Mungkin saya tidak akurat menceritakannya kembali di sini. Tapi begitulah kurang-lebih kisah jaman dulu, sebuah jaman dimana orang belum terkoneksi karena memang belum ada teknologinya.

Dan saya yang pernah merasakan jaman belum ada koneksi sampai sekarang sudah jamak koneksi via sosial media menjadi saksi betapa dalam rentang waktu tersebut banyak cerita yang mungkin sulit untuk dilukiskan.

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Personal. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s