Obsesi Radio (Sebuah Catatan)

Rupanya sudah 4 tahun yang lalu sejak saya ngoprek radio dengan Sparkfun Si4703 (Evaluation Board). Saat itu evaluation board ini harganya cukup mahal, yakni $19.95 belum termasuk ongkir dari luar. Dan memang Si4703 ini bagus dan handal. Saat di breadboard berjalan dengan baik. Sayangnya saat disolder ke PCB saya salah sambung sehingga board rusak. Hiks… Saat itu kebetulan sedang sibuk coding dan ketambahan kecewa akhirnya ngoprek radio terlupakan.

Radio Kotak Kardus

Radio Kotak Kardus

Empat tahun kemudian, tepatnya beberapa waktu belakangan ini saya teringat kalau saya masih punya 1 spare Evaluation Board Si4703. Iya memang, waktu itu saya belinya 2, hehehe…

Kalau dulu saya menggunakan sysmin (system minimal) ATmega328 (baca: Membuat Jam Digital Sendiri), maka kali ini saya menggunakan Arduino Nano. Seperti biasa, dirangkai di breadboard dulu. Untuk mengubah frekuensi dan volume saya menggunakan Rotary Encoder dengan Switch tekan. Berjalan baik…

Hingga akhirnya saya menambahkan modul amplifier PAM8403. Mendadak semuanya jadi kacau… Arduino Nano jadi mbrebet entah kenapa. Seperti clicking gitu. Padahal sudah saya tambah kapasitor decoupling dan elco tambahan di power. Semua pengkabelan sudah benar. Hingga akhirnya Si4703 rusak, tidak mau nyala lagi. Gubrak…

Tidak putus asa, saya pun mencari penjual modul Si4703 lokal. Ternyata nemu! Horeee… Sekedar catatan, 4 tahun yang lalu cuma ada Evaluation Board di Sparkfun (lihat: SparkFun FM Tuner Evaluation Board – Si4703. Namun sekarang sudah ada Basic Board-nya juga (lihat: SparkFun FM Tuner Basic Breakout – Si4703), tapi harganya sama mahalnya $19.95, hiks…

Modul Si4703 yang saya beli dari lokal ini nampaknya buatan China. Warnanya dan layout komponennya berbeda dengan versi Sparkfun. Dan kali ini saya harus berhati-hati.

Setelah ngoprek lama, akhirnya ketahuan kalau ada masalah di Arduino Nano saya. Dan ketika saya ubah dengan Nano cadangan, ternyata semua berjalan dengan baik. Hampir saja saya banting Nano sialan itu, hahaha… Untungnya saya masih punya 2 nano cadangan.

Hingga akhirnya radio dengan Si4703 ini jadi. Versi pertama saya masukkan di sebuah kotak plastik hadiah dari sebuah makanan (baca: Ngoprek Radio Digital dan Ngoprek Radio Digital (Update Firmware)). Kemudian saya tambahkan amplifier mini PAM8403 dan dikemas di kotak kardus bekas (baca: Simple Cardboard Radio). Lucu juga ya?

Belakangan saya membeli modul radio FM yang murah, yaitu breakout board TEA5767. Kata teman saya, modul ini “busuk”. Tapi karena murah, saya pun ingin mencobanya. Ternyata memang “busuk”, hahaha…

Catatan dari saya mengenai “kebusukannya” adalah:

  • Tidak sensitif penerimaannya. Padahal sudah dibekali antena stik. Jadi penerimaan sebuah stasiun tidak sebagus ketika ditangkap dari Si4703.
  • Searching terlalu cepat, banyak stasiun radio terlewat, dan tidak konsisten. Maksudnya tidak konsisten adalah ketika mencari naik ketemu sebuah stasiun, tapi ketika mencari ke bawah stasiun tersebut tidak ketemu. Atau sebaliknya. Pernah searching dari atas ke bawah dan sebalinya tidak nemu sebuah stasiun pun. Hehehe…
  • Tidak memiliki pengaturan volume. Padahal sudah dibekali soket untuk headphone. Mendengarkan langsung dari earphone? Bisa bikin budek karena terlalu keras, hahaha… Sedangkan Si4703 punya pengatur volume internal sehingga volume bisa diatur secara program.

Beberapa saat sempat mencoba ngoprek TEA5767 ini dengan beberapa alternatif, yaitu:

  • Menggunakan potensiometer (linear) untuk mengubah frekuensi. Ternyata tidak bagus, hehehe… Mungkin karena potensiometer tidak punya step seperti halnya rotary encoder. Jadi bener-bener harus pakai feeling muternya. Kalau terlalu bersemangat bisa lompat jauh frekuensinya, hehehe… Mungkin bisa diakali dengan penggunaan knop yang besar diameternya supaya bisa pelan muternya. Tapi metode ini kurang efektif karena kerjanya berdasarkan perubahan resistansi potensio, jadi tidak bisa menyimpan stasiun di EEPROM.
  • Menggunakan tombol untuk searching frekuensi. Hasilnya juga tidak bagus. Kalau untuk mode searching tidak nyaman, banyak stasiun yang terlewat. Apa saking cepat searching-nya? Atau karena tidak sensitif?
  • Menggunakan tombol untuk incremental/decremental frekuensi. Menurut saya, menekan tombol dengan penambahan frekuensi 0.1 atau pengurangan 0.1 sangat tidak nyaman. Ditekan terus supaya cepat pun tidak nyaman karena stasiun jadi tidak ketemu. Hehehe…
  • Terbaik memang menggunakan rotary encoder. Sayang juga sih pakai rotary encoder yang ada switch-nya tapi hanya difungsikan untuk mengubah frekuensi. Mestinya bisa juga untuk mengganti volume. Sayangnya TEA5767 tidak bisa.

Rasanya kok tidak nyaman pakai TEA5767 ya? Kata teman saya lagi, TEA5767 ini jelek crystal-nya. Mau mengganti crystal-nya juga sulit karena kecil banget. Males deh kalau disuruh ngelepas dan nyolder ulang, hahaha…

Belakangan saya mencoba mencari alternatif penjual Si4703. Ternyata di AliExpress ada dan lebih murah dari pada penjual lokal. Saya pun mencoba membeli. Sayangnya mungkin baru datang sebulan lagi.

Nampaknya saya terobsesi dengan modul radio ini. Soalnya di otak sedang berpendar ide-ide liar seperti menggunakan ATTiny85 atau Wemos D1 Mini (frekuensi dan volume bisa diatur dengan berbasis web), menggunakan display TFT, menambahkan sensor DHT11 dan RTC, sampai ke desain casing yang cantik.

Terus terang melihat desain casing radio yang cantik di internet membuat tambah bersemangat ngoprek radio. Siapa tahu bisa bikin radio cantik juga, hehehe…

Sebenarnya mendengarkan radio via internet juga bisa. Tapi perlu koneksi internet dan tentu saja boros kuota. Lagian kurang asyik, hehehe… (Baca: Membuat Raspberry Pi Sebagai Radio Internet). Tapi kalau terpaksa harus mendengar radio via browser bisa ke: internet-radio.com.

Eh ternyata catatannya sudah panjang. Yowis kapan-kapan disambung lagi curhatnya, hehehe…

Tentang Emanuel Setio Dewo

Tumbuh, Berkembang, Berbuah...
Pos ini dipublikasikan di Personal dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Obsesi Radio (Sebuah Catatan)

  1. yanobuntu berkata:

    mantap kang… untung aku belum beli si TEA hhahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s