Merapikan Penyimpanan Source Code

Rupanya saya sudah mulai harus merapikan penyimpanan source code dari proyek-proyek elektronika saya. Kenapa? Karena saat ini saya coding di beberapa device, yaitu:

  1. MacBook Air. Ada beberapa proyek yang saya program dari MBA ini. Sayangnya MBA pernah bermasalah dengan Wemos D1 Mini yang menggunakan driver CH340. Ini adalah chip yang bertanggung jawab menghubungkan komputer dengan Wemos D1 Mini sehingga kita bisa meng-upload program ke Wemos. Kalau Wemos D1 mini dicolokkan ke MBA, maka laptop langsung crash. Jadi saya tidak menggunakan MBA lagi untuk coding proyek elektronika, karena ternyata Arduino Uno versi cloning juga menggunakan CH340. Baru kemudian saya nemu solusi ketidakcocokan MacOS dengan CH340. Dan ironisnya solusi ini baru ada setelah beberapa tahun. Namun terlambat, saya sudah banyak coding di device lain.
  2. Laptop Acer kuno. Ini adalah laptop kuno saya. Sudah pensiun. Source code sudah saya backup ke harddisk external.
  3. Raspberry Pi. Ya… saya memang menggunakan Raspi untuk coding beberapa proyek, termasuk salah satunya adalah Radio Touchscreen. Masalahnya saya aktif coding di 2 Raspberry Pi. Satu Raspi dengan casing hitam dimana saya banyak coding untuk Arduino, Wemos, Nano, Micro, dll. Sedangkan satu Raspi yang telanjang dimana saya gunakan untuk coding beberapa proyek yang membutuhkan modul external seperti display TFT Touchscreen, dll. Untungnya saya tidak menggunakan 2 Raspi lain sebagai basis development. Saya masih punya Raspi Zero W dan Raspi model B versi pertama. Keduanya belum sempat saya oprek, hehehe…
  4. CHIP. Belakangan saya sering ngoprek CHIP. Sejatinya saya senang ngoprek CHIP ini. Sayangnya ngoprek CHIP ini seperti tidak punya masa depan, karena CHIP versi original sudah tidak dijual oleh NextThingCo. Sekarang NTC jualan PocketCHIP dan CHIP Pro saja. Di websitenya cuma ditulis kalau CHIP akan hadir kembali dengan CPU GR8. Tapi sudah lama berselang tidak keluar juga. Kemarin dapat info kalau ada startup baru yang membuat cloning CHIP, yaitu: Popcorn Computer. Konon pinout-nya sama dengan CHIP. Namun sayangnya Popcorn Computer ini terlalu mahal. Di situ tertulis $99 untuk 2 buah. Beda banget dengan CHIP yang cuma $9.
  5. Notebook Asus. Saya juga coding di laptop ini. Tidak banyak sih. Secara ini laptop milik kantor. Seingat saya, saya coding  Radio Mini dengan Wemos D1 Mini di laptop ini. Oh iya, hampir lupa, antrian wemos dan IoT dengan wemos ada di sini juga. Ini gara-gara MBA saya tidak bisa berkomunikasi dengan Wemos.

Nah, banyak kan? Belakangan saya sering bingung, code proyek ini dimana ya? Saya harus mengingat alasan-alasan mengapa saya harus coding di salah satu perangkat saya di atas, baru kemudian saya teringat. Hahaha…

Jadi saya mulai merapikan source code di github. Seharusnya saya sudah sejak dulu menggunakan github ini. Tapi ya memang saya malas melakukannya. Bayangkan saja workflow yang saya lakukan selama ini untuk ngoprek:

  1. Googling untuk cari ide.
  2. Googling cari tahu caranya.
  3. Cari komponen-komponen yg diperlukan. Kadang harus beli dari luar. Jadinya lama.
  4. Buat skema dan prototyping di breadboard. Kadang merusakkan komponen sehingga harus beli lagi. Itulah makanya saya sering beli komponen lebih dari 1. Untuk cadangan jika bermasalah.
  5. Debugging. Sekarang debugging hardware lebih mudah karena kebanyakan komponen sudah berupa module. Jadi ingat dulu saat harus ngoprek bikin minsys, kebayangkan repotnya? Hehehe…
  6. Buat desain PCB.
  7. Pesan CPB.
  8. Buat produknya & testing. Kalau ada masalah ya harus debugging dan perbaiki.
  9. Seringkali harus optimasi software. Atau membuat tampilan lebih baik.
  10. Buat case/box. Seringkali langkah ini saya skip. Pengen sih punya printer 3D. Mesti nabung dulu. Eh dari beberapa tahun yang lalu nabung untuk beli printer 3D tapi tidak pernah kesampaian beli, hahaha…
  11. Buat video dokumentasi.
  12. Buat blog dokumentasi.
  13. Ini step tambahan, yaitu buat repository di github.

Nah kaaaan… ngoprek itu cukup panjang langkahnya. Seringkali saya sudah posting di blog walau pun baru tahap prototype di breadboard. Alasannya supaya saya tidak lupa dan juga sebagai penyemangat untuk menyelesaikannya. Kalau tidak saya tulis kadang proyek malah terlupakan karena kesibukan bekerja. Sering lupa kemarin sudah sampai dimana step-nya, apalagi kalau proyeknya rumit.

Kadang pula yang jadi masalah adalah pembelian komponen. Seringkali harus beli dari luar. PCB juga mulai pesan ke China. Sebenarnya sayang juga sih karena terpaksa devisa melayang ke luar negeri. Walau pun lebih murah, pemesanan komponen atau PCB ke luar ini butuh waktu lebih lama. Kalau mau cepat harus pakai jasa pengiriman yang mahal.

Kalau ada yang tanya apakah saya mengkomersialisasi proyek saya ini? Jawabnya tidak. Ini murni hobi kok. Saya senang ngoprek hal-hal kecil, mempelajari masalah elektronika dan berpikir apakah saya bisa membuat hal-hal yang dapat membantu kehidupan keseharian kita. Saya memang sudah suka elektronika sejak kelas 5 SD.

Dan kebanyakan proyek saya open ke publik baik untuk desain hardware mau pun software-nya. Proyek-proyek saya memang tidak populer karena solusi yang saya buat kadang nyeleneh, njelimet, membosankan dan berbeda dengan yang lain. Ya karena saya suka menjadi unik, hahaha…

Kembali ke leptooop… seperti sudah saya tulis di atas, saya mulai merapikan penyimpanan source code di github. Belum semuanya sempat saya pindah ke sana sih. Butuh waktu sambil nyari-nyari dimana saya menyimpan code-nya selama ini, hahaha… Namun jika Anda mau melihatnya, silakan kunjungi repository saya di: github/setiodewo.

Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.