Memasang eSIM Smartfren di iPhone 11 Ternyata Gampang Banget

Sejak beberapa tahun ini Apple menawarkan eSIM di beberapa jajaran produknya. Itu termasuk Apple Watch, iPad Pro dan juga iPhone. Selain Apple, Google juga mulai mendukung penggunaan eSIM lewat smartphone Pixel. Sayangnya vendor smartphone lain belum banyak yang mendukung penggunaan eSIM ini.

Padahal penggunaan eSIM ini dapat mempermudah user dalam memasang nomor di smartphone. Di samping tentu saja penghematan untuk operator selular karena tidak perlu lagi memproduksi kartu SIM.

Saat ini di Indonesia baru Smartfren yang menawarkan solusi eSIM. Sedangkan operator lain masih menunda penggunaan eSIM dengan berbagai alasan. Salut sama Smartfren yang tidak mau ketinggalan tren teknologi.

Nah di video kali ini kita mencoba memasang nomor eSIM Smartfren di iPhone 11. Ternyata gampang banget loh! Tidak perlu lagi sogok tray kartu SIM. Tidak perlu lagi repot-repot pasang kartu SIM. Dengan eSIM kita cukup men-scan kode QR yang telah disediakan oleh operator. Prosesnya pun cepat.

Semoga video ini bermanfaat. Salam.

Bisakah iPhone 11 Untuk Membuat Vlog?

Kalau pertanyaannya cuma “Bisakah iPhone 11 digunakan untuk membuat Vlog?” Tentu jawabnya simple: Bisa.

Ya karena kamera di smartphone keluaran Apple ini memang sudah bagus banget. Tidak hanya untuk foto, tapi juga untuk video. Seharusnya merekam video dengan iPhone 11 (dan tentu saja varian Pro) akan sangat mudah dilakukan. Dan hasilnya bagus.

Tapi bukan itu yang saya maksud. Karena membuat vlog itu tidak hanya sekedar mengambil video, tapi juga harus meng-edit dan meng-upload langsung ke youtube. Dan ternyata bisa loh! Karena iPhone 11 sudah dibekali software editing video iMovie. Hanya saja kemampuan iMovie ini berbeda jauh dengan versi MacOS. Banyak fitur yang dipangkas. Namun paling tidak kita bisa menggunakannya untuk membuat video sederhana.

Nah, saya pun membuat video singkat tentang iBel Si Kucing Belang. Sederhana banget sih videonya. Sekedar nambahin title dan menggabung-gabung beberapa clip. Mestinya bisa ditambahin efek dan suara-suara, tapi saya memang sengaja membuatnya sederhana saja. Ini dia videonya: “Kisah iBel Si Kucing Belang”

Kesimpulannya, kita bisa bikin vlog hanya dengan bermodal iPhone 11. Sederhana, mudah dan cepat. Namun kalau mau bikin vlog profesional ya mestinya perlu komputer content creator beneran.

Ketika Membeli iPhone 11 di Singapore

Ini pertama kalinya saya membeli barang elektronik di Singapore. Senang juga sih karena ada kesempatan membeli iPhone 11 saat transit di Singapore. Lagian iPhone 11 ini baru diluncurkan sebulan yang lalu. Jadi masih hot…

Ada rasa khawatir juga sih seandainya ada masalah di bea cukai. Tapi ada tips yang perlu dilakukan agar bisa aman di bea cukai. Yuk simak video berikut ini…

Semoga bermanfaat…

Membuat Virtual Machine Portable

Saat coding saya biasa menggunakan MacBook Pro. Sayangnya saat upgrade ke MacOS Catalina segalanya jadi berubah. Ada beberapa masalah yang timbul. Salah satunya adalah XAMPP tidak bisa bekerja lagi. Jadi saya tidak menjalankan Apache, PHP dan MySQL di MacBook Pro. Konon karena masalah dukungan aplikasi 32 bit yang dihilangkan.

Solusinya simple sih sebenarnya, yaitu dengan menggunakan Virtual Machine dengan guest Linux Ubuntu seperti yang saya lakukan juga di laptop Asus TUF saya. Tapi itu berarti mengorbankan sebagian storage MBP untuk VM.

Maklum, ukuran VM untuk OS Ubuntu, aplikasi HIS, database HIS, NodeJS, dan segala pernak-pernik pendukungnya itu memerlukan ukuran yang besar. Saya pernah mengalokasikan VM sebesar 40 GB ternyata kurang. Dan menurut kebutuhan saya ini, kurang lebih dibutuhkan ukuran VM antara 50-60 GB.

Naaah, MBP saya yang cuma punya kapasitas storage 256 GB itu tentu saja tidak mencukupi. Kalau saya membuat VM sebesar 50 GB, maka itu berarti sisa storage cuma tinggal 5-10 GB karena saat ini MBP juga saya pakai untuk membuat banyak dokumen dan konten.

Kemudian saya pun memikirkan solusi yang lebih kreatif, yaitu dengan membuat Virtual Machine di Flash Drive. Seperti biasa, saya membuat VM dengan menggunakan VirtualBox yang sangat user friendly dan bisa bekerja di MacOS, Windows dan Ubuntu. Dengan VM di FlashDrive ini berarti saya bisa:

  1. Menghemat storage internal di laptop. Saya bisa menghemat storage di MacBook Pro yang cuma punya SSD 256 GB itu. Cukup colokkan Flash Drive di MBP dengan bantuan kabel konverter USB A ke C.
  2. VM bisa portable, karena saya bisa menyalakan VM ini di MBP mau pun di TUF. Itu artinya saya tidak perlu tergantung dengan salah satu laptop saja. Kalau di kantor bisa pakai MBP dan ketika dibutuhkan coding di apartemen bisa pakai TUF. Cukup colokkan Flash Drive ke laptop yang tersedia. Jika perlu suatu saat nanti ketika ada laptop baru bisa langsung colok dan nyalakan VM. Praktis kan?
  3. Cukup membawa Flash Drive kemana saja. Idealnya saya cukup bawa Flash Drive VM ini untuk bekerja. Cukup menghemat tenaga karena tidak perlu bawa-bawa laptop. Dan ketika VM dinyalakan, semua lingkungan kerja sudah tersaji di laptop yang saya pakai.

Jadi saya pun membeli sebuah Flash Drive untuk mewujudkan ide ini. Saya membeli Flash Drive dari Sandisk dengan tipe Ultra Fit yang punya form factor sangat kecil. Tadinya saya ingin membeli yang tipe Ultra Flair yang punya kecepatan lebih tinggi, yaitu 150 Mbps. Tapi ukurannya lebih panjang sehingga kurang praktis. Terlalu menonjol dan tidak praktis.

Ultra Fit ini sangat pendek sehingga tidak terlalu menonjol saat dicolokkan di laptop TUF. Tapi kalau dicolokkan di MBP memang masih perlu kabel konverter USB A ke C sih. Tapi ketika digunakan di TUF bisa tertempel rapi di samping dongle USB mouse wireless yang juga selalu tercolok di TUF.

Sebagai catatan, Ultra Fit yang saya beli memang kapasitasnya cuma 64 GB. Kebetulan dapat diskon sehingga harganya menjadi Rp 159.000 dari harga normalnya yang Rp 229.000. Tadinya mau beli yang 128 GB tapi sayangnya tidak diskon. Harga yg 128 GB mencapai Rp 479.000 (tidak ada diskon). Bagi saya kemahalan, mending beli SSD sekalian yang sudah pasti punya kecepatan tinggi ya? Hehehe.

Kecepatan Ultra Fit yang sudah punya versi USB 3.1 ini memang cuma 130 Mbps, yang mana lebih rendah dari pada Ultra Flair yang mencapai 150 Mbps. Sebenarnya saya punya kartu MicroSD dari Samsung dengan kapasitas 128 GB. Lebih lega tentu saja. Tapi sayangnya cuma punya kecepatan 100 Mbps utk read dan 90 Mbps untuk write. Sepertinya tidak saya rekomendasikan. Lagian jadi kurang praktis karena perlu SD Card reader USB yang lebih besar dari pada Flash Drive.

Kecepatan Flash Drive dan Micro SD ini tentu boleh dibilang sangat rendah dibandingkan dengan SSD bawaan MBP mau pun SSD hasil upgrade di TUF. Tapi saat saya coba gunakan untuk VM, ternyata performanya baik-baik saja. Memang agak lambat saat pertama menyalakan dan saat shutdown VM. Tapi ketika sudah menyala dan digunakan untuk programming sudah cukup baik.

Proses pemindahan VM dari internal ke Flash Drive juga bisa dilakukan dengan mudah. Memindahkan ke laptop lain juga mudah. Tidak ada masalah kompatibilitas, bahkan di saat menggunakan 2 laptop dengan platform yang berbeda, yaitu di MacBook Pro dengan MacOS Catalina mau pun di Asus TUF dengan Microsoft Windows. Bahkan keduanya punya prosesor yang berbeda, yaitu Intel dan AMD. Ternyata tidak ada masalah. VirtualBox memang bagus!

Lagian saya membuat konfigurasi VM di kedua laptop ini berbeda. Saat di MBP saya cuma mengalokasikan 2 core dan 2 GB RAM. Sedangkan di TUF saya mengalokasikan 3 CPU dan 4 GB RAM. Ternyata saat dipindah-pindah tidak masalah. VM bisa menyesuaikan diri di kedua alokasi tersebut.

Tidak dipungkiri, VM memang bisa lebih gegas di TUF yang punya alokasi mesin lebih baik. Namun untuk di MBP saya sedikit mengakali dengan menjalankan editor dan browser penguji di MacOS (host). Jadi VM di MBP cuma untuk dijadikan server LAMP. Sedangkan di TUF saya full menjalankan desktop Ubuntu 18.04.2 di VM dengan nyaman.

Demikian kurang lebih sharing tentang membuat Virtual Machine Portable denga VirtualBox. Jika ada kesempatan saya akan membuatkan videonya.

Di dunia teknologi informasi ini kita memang harus dituntut untuk lebih kreatif dalam mengatasi banyak tantangan dan masalah. Semoga tips ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Salam.

Aplikasi-aplikasi Untuk Ubuntu

Sepertinya sudah berkali-kali saya meng-install Ubuntu, baik di laptop, server mau pun di Virtual Machine. Dan setiap kali install Ubuntu, setiap kali pula saya harus mengulangi meng-install beberapa aplikasi yang menunjang pekerjaan dan hobi saya. Sayangnya kadang kala saya lupa apa saja yang harus saya install sehingga ketika dibutuhkan perlu install dulu. Jika dalam kondisi terburu-buru tentu sangat tidak menguntungkan, misalnya saat akan meeting atau bertemu client. Apalagi jika terjadi gangguan koneksi internet.

Jadi perkenankanlah saya menuliskan daftar apa saja yang harus/perlu saya install di Ubuntu baru. Tentu ini sekedar pengingat bagi diri sendiri jika kelak diperlukan install Ubuntu lagi. Seperti saat ini di mana saya perlu install Ubuntu lagi karena upgrade SSD NVMe.

SERVER

  1. Tasksel. Ini adalah sebuah utility installer yang sangat membantu. Dengan tasksel ini meng-install beberapa aplikasi dapat dilakukan dengan cara yang praktis.
  2. LAMP. Ini adalah stack aplikasi yang sangat diperlukan oleh server Linux, meliputi Apache, MySQL dan PHP. Gunakan tasksel untuk menginstall stack LAMP supaya mudah.
  3. NodeJS dan NPM. Penting untuk server aplikasi dengan bahasa JavaScript.
  4. PHPMyAdmin. Aplikasi berbasis web ini sangat penting ketika diperlukan administrasi database MySQL secara remote.
  5. OpenSSH. Sangat penting supaya server bisa di-remote secara ssh. Juga tersedia utility penting seperti ssh-keygen dan ssh-copy-id supaya sesi ssh tidak perlu lagi login.
  6. Samba. Sifatnya opsional saja karena ada beberapa cara lain yang lebih secure seperti sFTP atau scp.
  7. sFTP. Sifatnya opsional saja. Belakangan saya lebih sering menyalin file secara remote dengan scp.
  8. Postfix. Sifatnya opsional saja tergantung apakah kita akan menjadikan server ini sebagai server email.
  9. Ufw. Sebuah firewall ringan dan praktis. Sangat diperlukan.
  10. Htop. Ini adalah aplikasi ringan berbasis teks untuk memonitor kerja CPU dan memori dan aplikasi apa saja yang sedang bekerja di server.
  11. Mytop. Seringkali kita perlu melihat apa saja yang terjadi di server database. Dengan aplikasi ini kita bisa melihat query apa saja yang sedang berjalan dan ada berapa koneksi ke server database. Jika diperlukan kita bisa membunuh query yang lambat.
  12. MC (midnight commander). Sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi ketika server dikonfigurasi headless dan perlu diakses dari jarak jauh, maka menggunakan mc akan sangat membantu ketika berurusan dengan file/direktori. Saya sangat suka mc karena mengingatkan saya pada NC (Norton commander) di era masa lalu.
  13. Tightvncserver. Sebuah server VNC. Tidak terlalu dibutuhkan sebenarnya. Tapi kadang asyik juga remote server dengan GUI.
  14. Rkhunter. Sangat diperlukan untuk mengecek apakah ada penyusupan malware di server.
  15. Speedtest-cli. Sangat diperlukan untuk mengetest kecepatan jaringan di server.
  16. Nmap dan beberapa utility jaringan lain.

DESKTOP/LAPTOP

Berhubung kerjaan saya adalah programmer, maka laptop juga saya fungsikan sebagai server. Jadi apa yang terdaftar di SERVER di atas juga saya install di laptop. Sedangkan Ubuntu Desktop yang saya install sudah mengikutkan banyak aplikasi berguna seperti LibreOffice, Remmina, transmission torrent, dll. Namun saya tetap membutuhkan beberapa aplikasi yang perlu saya install secara manual. Yaitu:

  1. VirtualBox. Aplikasi ini sangat penting untuk membuat VM di laptop. Kadang kita perlu experimen atau belajar sesuatu di sistem operasi terbatas di VM. Ketika bermasalah atau ketika tidak dibutuhkan lagi tinggal dihapus tanpa mempengaruhi sistem utama.
  2. Chrome. Sebenarnya Ubuntu sudah mempunyai browser bawaan Mozilla Firefox yang cukup powerfull. Namun Chrome memiliki banyak keunggulan penting seperti integrasi dengan Google dan G-Suite. Bahkan Youtube lebih baik dijalankan di Chrome.
  3. Geany. Ini sebuah editor ringan favorit saya sejak dahulu kala. Sebenarnya banyak editor lain yang lebih fancy seperti Atom, Visual Studio Code Editor, dll. Namun saya selalu balik lagi menggunakan Geany karena ringan dan bersih tampilannya.
  4. Android Studio. Digunakan untuk membuat aplikasi di Android.
  5. Scrcpy. Sangat berguna untuk digunakan me-remote hape Android. Sangat membantu juga ketika digunakan saat membuat aplikasi Android karena aplikasi bisa langsung diuji coba ke hape sedangkan tampilan hape-nya tetap di komputer. Tidak perlu bolak-balik pegang hape.
  6. Arduino IDE. Digunakan untuk ngoprek Arduino dan kawan-kawannya.
  7. Fritzing. Digunakan untuk mendesain PCB dengan cara yang paling mudah.
  8. GIMP. Untuk editor foto/gambar.
  9. InkScape. Untuk menggambar vector.
  10. VLC. Untuk nonton video/film. Saya gunakan juga untuk nonton TV digital yang saya streaming dari Raspberry Pi + TV HAT dengan TVHeadEnd. Alternatif lain yang cukup baik adalah omxplayer yang sangat ringan karena dijalankan dari terminal.
  11. VNC Viewer. Digunakan untuk remote desktop ke server-server. Bisa juga menggunakan Remmina yang memiliki dukungan lebih banyak seperti VNC, RDP, VNC over SSH, dll.
  12. Postman. Untuk menguji coba API/Web Service.
  13. Mysql-workbench-community. Sayangnya belum ada versi untuk Ubuntu 19.04. Padahal di Ubuntu 18.04/10 bisa di-install dan berjalan dengan baik. Alternatif lain adalah Tora. Tapi saya kurang cocok dengan Tora.
  14. Kazam. Untuk screen recorder. Sangat diperlukan saat membuat video tutorial.
  15. Etcher. Digunakan untuk menyalin file image ke USB atau SDCard. Sangat dibutuhkan ketika membuat OS di SDCard untuk Raspberry Pi.
  16. Git. Penting untuk versioning code.
  17. TestDisk. Sebuah utility berbasis teks untuk recovery file.

Sedangkan berikut ini adalah beberapa aksesoris yang tidak terlalu diperlukan, tapi bagus juga jika di-install.

  1. CPU G. Ini seperti CPU Z yang legendaris itu. Fungsinya sekedar mengetahui merek dan tipe jeroan komputer kita seperti CPU, Motherboard, RAM, dll.
  2. Slimbook Battery. Jika Ubuntu di-install di laptop, maka aplikasi ini sangat diperlukan supaya baterai bisa lebih hemat. Karena secara alami Ubuntu itu menggenjot sistem secara optimal sehingga cenderung lebih boros baterai.
  3. Terminator. Sebenarnya ini cuma terminal/console saja di mana Ubuntu sudah punya terminal bawaan yang cukup baik. Keunggulan Terminator adalah di kemampuannya membagi jendela Terminator menjadi beberapa terminal. Kita bisa membaginya ke vertikal atau horizontal.
  4. Cmatrix. Hahaha ini cuma aplikasi iseng saja. Bisa difungsikan sebagai screensaver. Yang menarik adalah karena tampilannya seperti di video Matrix yang dibintangi Keanu Reeves.
  5. Tor Browser. Jika ingin browsing situs yang diblokir oleh pemerintah, maka Tor Browser ini adalah solusi praktis dibandingkan jika harus install VPN.

Nah kan ternyata banyak sekali. Makanya seringkali ada saja yang tertinggal. Tapi ya paling asyik kalau saat diperlukan baru di-install. Sayangnya tidak setiap saat tersedia koneksi internet yang memadai seperti ketika harus tugas luar kota. Dan kadang kala ukuran aplikasi yang harus di-download sangat besar. Jadi lebih baik jika aplikasi sudah terinstall dan kapan saja diperlukan siap digunakan.

Sepertinya daftar di atas akan terus bertambah saat saya menyadari apakah ada yang terlupa. Atau belakangan baru tahu ada aplikasi baru/penting yang perlu di-install juga. Jadi daftar di atas akan dinamis. Masukan dari pembaca juga mungkin baik sehingga saya perlu meng-install aplikasi usulan tersebut juga.

Walau pun tulisan ini cenderung sebagai pengingat bagi diri sendiri, tapi mungkin pembaca juga dapat memperoleh manfaat juga.

Oh iya, beberapa aplikasi yang berhubungan dengan multimedia tetap lebih asyik menggunakan versi MacOS/iOS seperti misalnya iMovie, Garageband, Procreate, dll. Jadi untuk kebutuhan edit multimedia tersebut lebih baik di MacBook Pro atau iPad.

Salam.