Sampul 3D

Saat jalan-jalan di toko buku nemu majalah dengan sampul 3 dimensi. Keren loh. Jadi ingat jaman SD saat beli permen dapat hadiah gambar 3D. Atau yang biasa jadi hiasan rautan pensil dan penggaris. Ehm, jaman sekarang masih ada rautan pensil dan penggaris dengan hiasan gambar 3D gak ya?

image

Buku Motivasi Berhadiah

Ada 1 hal yang menarik yang saya perhatikan dari buku-buku motivasi, yaitu semakin banyaknya buku motivasional yang melampirkan hadiah atau bonus, baik langsung mau pun tidak langsung. Sependek yang saya tahu, fenomena pemberian bonus ini dipopulerkan di Indonesia oleh Tung Desem Waringin (TDW). Mohon koreksi jika saya salah (CMIIW).

Tentu saja hal ini sangat menarik bagi saya karena buku motivasi ini belum-belum sudah memotivasi kita untuk membelinya, dan tentu saja untuk kemudian membacanya. Jadi kita pun mendapatkan ilmu & motivasi plus hadiah atau bonus yang dilampirkannya. Menarik kan?

Iming-iming bonus atau hadiah ini pun tidak tanggung-tanggung karena secara mencolok menghias sampul buku-buku motivasional dan nilainya cukup menggiurkan. Bahkan ketika saya menayangkan foto buku “Percepatan Rejeki” langsung dikomentari oleh Pak Mars yang tertarik dengan bonus langsung Rp 900,000. Sampul buku karangan Ippho Santosa ini bisa jadi menipu karena buku ini tidak memberikan bonus uang sepeser pun. Harap dicatat, buku ini tidak memberikan uang sepeser pun kepada pembacanya. Sekali lagi, tidak! (*meniru gaya tulisan Ippho*)

Karena terkesan menipu, buku motivasional ini jadinya saya nilai tidak etis. Oke, sang penulis bisa saja berkelit dengan dalih apa pun, namun setiap orang yang membaca tulisan ini akan mengira kalau akan mendapatkan uang Rp 900,000 saat membeli buku ini.

Jauh berbeda dengan buku-buku karangan motivator lain yang lebih senior yang menyertakan kata-kata “SENILAI” yang bisa kita artikan kalau bonusnya bukanlah berupa uang namun apa pun yang nilainya sesuai nominal yang tercantum. Misalnya: “Bonus tiket senilai Rp 450,000”, “Bonus konsultasi senilai Rp 1,000,000”, dll. Dan kalau pun nominal bonusnya salah, paling tidak kita memiliki persepsi bahwa bonus itu dinilai sekian oleh penulisnya dan bonus bukanlah berupa uang tunai. Fair kan?

Oke kita tinggalkan buku motivasi yang terkesan tidak etis dan kita membahas buku motivasi yang baik-baik saja. Karena ada 1 hal menarik lain yang ingin saya utarakan di sini, yaitu tentang seorang pengusaha dan motivator Bong Chandra. Saya memiliki 2 buku karangan Bong Chandra, yaitu “Unlimited Wealth. 17 Hari Menuju Kebebasan Finansial” dan “The Science of Luck. 12 Rahasia Menciptakan Keberuntungan Secara Ilmiah.” (*maaf, saya belum sempat menuliskan resensi kedua buku ini & beberapa buku lainnya, hehehe*) Bong Chandra ini sama-sama berangkat dari Batam seperti halnya Ippho Santosa dan Jaya Setiabudi yang sama-sama berprofesi sebagai pengusaha dan motivator.

Kedua buku karangan Bong Chandra ini saya nilai bagus banget. Sebagian dari isinya baru dan sangat memotivasi. Namun beberapa hal yang sudah pernah saya baca sebelumnya tetap dapat disajikan dengan menarik.

Kembali ke bonus… Kedua buku ini memberikan keterangan bonus yang lugas dan tidak menyesatkan. Selain mengandung kata “senilai”, buku ini juga memperinci bonus yang akan diterima pembelinya di sampul depan. Jadi tulisan bonus di sampul tidaklah menyesatkan.

Hal lain yang membuat saya semakin menghormati Bong Chandra adalah karena kedua buku ini royaltinya disumbangkan! Sekali lagi, DISUMBANGKAN! Pada buku “Unlimited Wealth” disebutkan kalau “100% royalti buku ini akan disumbangkan.” Sedangkan buku “The Science of Luck” dituliskan “120% royalti buku akan disumbangkan.” Pasti nombok ya? Bong Chandra pasti sudah sedemikian sejahtera & makmurnya sehingga bisa memberikan ilmu plus sumbangan yang cukup signifikan.

Anggap saja 100% dan 120% royalti ini benar-benar disumbangkan kepada pihak yang memang membutuhkan, saya jadi berpikir kalau saya membeli buku ini, berarti saya pun turut menyumbang. Saya pikir, inisiatif ini benar-benar mulia, karena mengajak kita turut menyumbang selain tentu saja kita mendapatkan ilmu dan motivasi dari buku ini. Mungkin kita tidak menyumbang dalam bentuk uang karena uang yang disumbangkan adalah hak milik Bong, namun kita telah menjadi saluran dari niat baik Bong Chandra.

Ini yang membuat saya sangat mengagumi Bong Chandra!

Buku: Percepatan Rejeki

Saat jalan-jalan di toko buku, saya cukup girang ketika menemukan buku “Percepatan Rejeki Dalam 40 Hari Dengan Otak Kanan” karangan Ippho ‘Right’ Santosa. Sejak membaca bukunya yang berjudul “13 Wasiat Terlarang! Dahsyat Dengan otak Kanan”, boleh dibilang saya ini penggemar Ippho Santosa. Makanya dengan tidak ragu saya langsung membeli buku Seri Otak Kanan ini.

Sampai rumah segera saja saya sobek bungkus dan memulai membacanya dengan penuh semangat. Namun segera saja semangat saya pupus. Semuanya bermula dari sebuah bab “Bacalah!” yang mengawali semua bab dalam buku ini.

Baca selebihnya »

Teddy Ingin Terbang

“Ah, seandainya aku bisa terbang seperti burung-burung itu.” Gerutu Teddy Si Beruang Kecil sambil duduk lesu di sebuah batu. Seharian ini dia berlari-lari di lapangan sambil mengepak-kepakkan sayap dari kertas yang diikat di kedua lengannya. Bukannya terbang, Teddy malah jatuh terjerembab ketika meloncat dan mengepakkan sayap buatannya kuat-kuat. Kini sayap-sayap itu robek. Kayu kerangkanya patah.

Ayah Teddy yang sedari tadi memperhatikan polah anak kesayangannya itu pun tersenyum simpul. Dia pun mendekati Teddy. Diusapnya kepala Teddy dengan lembut.

“Bagaimana percobaan terbangmu hari ini?” Tanya Ayah Teddy lembut.

“Gagal lagi, Ayah.” Sungut Teddy. “Beruang memang tidak bisa terbang ya? Padahal Teddy ingin bisa terbang seperti burung. Teddy ingin melihat pemandangan alam dari ketinggian. Pasti indah sekali.”

Ayah Teddy pun tersenyum simpul.

“Siapa bilang beruang tidak bisa terbang?” Kata ayah Teddy.

“Buktinya Teddy tidak punya sayap. Pakai sayap buatan pun Teddy tidak bisa terbang, Yah.” Kata Teddy sambil cemberut.

“Begini saja, besok kan hari minggu, ayah akan mengajak Teddy untuk terbang.” Kata Ayah Teddy sambil merangkul Teddy.

“Bener, Yah? Ayah beneran mau mengajak Teddy terbang? Bagaimana caranya, Yah?” Tanya Teddy penuh antusias.

“Percaya saja pada ayah. Sekarang kita pulang dulu. Besok pagi-pagi benar kita terbang.” Kata Ayah sambil beranjak berdiri.

“Horeee… bener ya, Yah…” Seru Teddy kegirangan disambut anggukan ayah. Mereka pun pulang ke rumah dengan penuh semangat.

Baca selebihnya »

Belajar dari Iblis

Hayah, ini judul nan antik. Mosok belajar dari iblis? Ya tentu bisa begitu, dalam artian mempelajari iblis dan modus operandinya supaya kita tidak terjebak oleh pesona duniawinya. Maka dari itu daku membuka bungkus plastik buku berjudul “Membongkar Kedok Iblis. Mengungkap Modus Operandi Tipu Daya Setan.” Buku inilah yang akhirnya kubeli setelah bimbang ingin memilih “Injil Menurut Starbucks”.

Woke, buku ini kesannya horror banget. Dan situasi saat ini agak serem juga sebenarnya. Karena sebagai Penghuni Pertama di RS yang sepi nan senyap di malam hari ini tentu mendukung acara per-horror-an.

Buku Belajar Iblis
Buku Belajar Iblis

Namun setelah dibaca-baca, ternyata tidak horror kok. Bahasanya mudah dicerna. Dan tentu saja menarik. Lagi pula bahasannya lebih universal lintas-kepercayaan walau pun basis pembahasan tetap berasal dari Alkitab. Jadi bagi yang non-Kristiani boleh juga membacanya.

Baca selebihnya »