Antara Go-Jek dan HaloDoc (1)

Tahun lalu ketika Go-Jek berkolaborasi dengan HaloDoc membuat Go-Med, sepertinya belum banyak RS (rumah sakit) yang peduli dengan sepak terjang duo ini. Rasanya sulit meyakinkan manajemen RS kalau kelak di kemudian hari, kedua perusahaan teknologi ini akan mengubah pola kerja bisnis di bidang kesehatan. Seperti kebanyakan perusahaan konvensional, RS tidak terbiasa brainstorming bagaimana bisnis bisa berubah kelak, terutama karena peran teknologi yang semakin merasuk ke masyarakat.

Saat ini manajemen RS hanya sibuk memikirkan bagaimana operasional RS-nya supaya bisa efisien dengan tarif yang lebih kompetitif dibanding pesaing. Di sini RS akan mengambil banyak keuntungan dari semakin efisiennya operasional. Jika keuangan sudah kuat, maka akan dilakukan ekspansi seperti menambah layanan, menambah jumlah bed, membeli peralatan medis, membeli atau membangun RS baru, dan lain-lain.

Tentu hal ini bukan sesuatu yang salah. Malah bagus! Tapi bagus dalam artian “konvensional”. Karena sayangnya belum banyak RS yang memikirkan bagaimana bisnis kesehatan ini bisa dijalankan dengan cara yang berbeda. Dan “bagaimana bisnis kesehatan ini bisa dijalankan berbeda” sedang didemonstrasikan oleh paduan HaloDoc dan Go-Jek! Dua perusahaan teknologi yang sedang merevolusi bisnis kesehatan. Kalau sedikit berkilas balik, Go-Jek ini sudah lebih dulu merevolusi bisnis transportasi roda dua yang dulu dikenal sebagai “ojek”. Dari sini Go-Jek telah melakukan ekspansi layanan seperti Go-Food, Go-Car, dll. Tidak berhenti di situ, Go-Jek pun mulai ekspansi ke negara lain, yaitu Vietnam (Go-Viet), Thailand (Get)! Dalam waktu dekat Go-Jek akan menantang Grab di kandangnya, yaitu di Singapura! (Indonesia’s Go-Jek could launch ride-hailing service in Singapore to challenge Grab).

Terbayang kan kalau tahun lalu Go-Jek bekerja sama dengan HaloDoc? Go-Jek sudah merambah dunia kesehatan! Dan itu bukan hal yang main-main! Go-Jek ini sudah menjadi raksasa dengan valuasi melebihi Garuda Indonesia! Perlukah RS2 khawatir? Mari kita renungkan bersama.

Kalau Anda membaca serial “Melawan Disrupsi di Bidang Kesehatan”, mungkin kita perlu mulai mengamati bagaimana duo ini akan melangkah kemana, dan mulai mengambil langkah yang diperlukan supaya tidak terlibas. Syukur-syukur bisa mengikuti perubahan yang akan terjadi dan bisa tetap bertahan.

Ah sepertinya berlebihan ya? Bisa jadi iya, tapi tidak ada salahnya kita lihat dan analisa apa yang sedang mereka lakukan belakangan ini. Saat ini kita hanya bisa menganalisa dan memperkirakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, karena seperti layaknya perusahaan teknologi, mereka tertutup soal strategi. Mereka suka sekali membuat kejutan dan mereka akan senang disebut pionir atau pengubah sejarah bisnis! Itu sebuah prasasti digital yang sangat membanggakan! Tidak ada salahnya kita mulai memperkirakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya! Dan tentu saja antisipasi! Atau malah mendahului mereka?

Halo HaloDoc!

Dari sisi HaloDoc, saat ini sepertinya mereka mengubah strategi. Mereka tidak lagi memposisikan “melawan” RS, tetapi merangkulnya. Tentu dengan cara yang elegan.

Pada awalnya HaloDoc merangkul banyak dokter sehingga para dokter mau menggunakan platform HaloDoc untuk memberikan konsultasi online. Pasien akan membayar seberapa lama mereka berkonsultasi. Namun sepertinya cara ini tidak bekerja dengan baik. Seperti yang saya tuliskan di serial sebelumnya, mekanisme ini memiliki banyak kelemahan, baik secara teknis, medis mau pun legal. Pada akhirnya konsultasi yang bisa diberikan sangat terbatas, tidak mendalam, dan lagi-lagi akan diarahkan untuk berobat ke RS.

Dari mekanisme bisnis sudah sedikit bermasalah, ditambah lagi dengan mekanisme ini membuat HaloDoc menjadi berhadap-hadapan langsung dengan RS. Seolah menjadi pesaing. Hal yang tentu saja tidak bijaksana.

Namun dengan hadirnya Go-Jek di belakang HaloDoc, mereka mulai menambahkan layanan pembelian/pengantaran obat dan order laboratorium (bekerja sama dengan Prodia). Pasien bisa membeli obat langsung via Go-Med. Resep dari dokter bisa dipotret untuk pembelian obat online. Tapi cara ini juga masih berhadapan muka langsung dengan RS yang saat ini sudah memiliki instalasi farmasi dan menerapkan e-prescribing (resep online/elektronik) sehingga pasien terpaksa membeli obat di farmasi.

Tidak menyerah, Go-Med kemudian berubah haluan, kini merangkul RS dengan menawarkan jasa pengantaran obat ke pasien. Obat yang dibeli pasien tetap berasal dari farmasi RS tersebut, namun Go-Med mengantarkannya ke rumah pasien. Jadi pasien tidak perlu menunggu lama di farmasi RS.

Berapa tarif yang dikenakan HaloDoc ke pasien/RS untuk mengantarkan obat langsung ke rumah pasien? Zero! Alias gratis! Apakah mereka rugi? Tidak! Pada awalnya akan nampak rugi, padahal kelak mereka akan menuai keuntungan! Apa yang mereka dapatkan dari apa yang mereka lakukan sekarang ini?

Mari kita coba tebak apa yang bisa saja terjadi di balik layanan ini.

(1) Obat Iter

Baiklah, saat ini pasien membeli obat dari farmasi RS. Tapi apakah ini menjamin setiap kali pasien membeli obat akan selalu di farmasi RS? Tidak! Dengan kemudahan pembayaran (via Go-Pay), diskon besar, dan bahkan obat diantar ke rumah, pasien cukup membeli dari smartphone-nya di rumah. Resep iter adalah sasaran empuk bagi Go-Med! Terutama bagi para penderita penyakit kronis.

(2) Diskon Besar

Apa yang menarik bagi pasien sehingga mau membeli obat via Go-Med selain harga obat yang lebih murah dari pada harga di farmasi RS? Plus diantar gratis ke rumah? Bagaimana jika HaloDoc mampu menawarkan hal ini? Ini bukan omong kosong atau sekedar promosi karena ternyata mereka mampu! Hanya saja, mungkin saat ini belum terbuka. Mereka tidak mau merusak struktur harga obat. Jadi insentif bagi pasien ini bukan berupa diskon besar, tapi diwujudkan dalam hal gratis biaya pengantaran.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkin saya akan menuliskannya lebih detail di artikel terpisah.

(3) Pembayaran Mudah dengan Go-Pay

Kalau kita amati, belakangan ini Go-Pay menawarkan promosi besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, promosi ini berupa cashback, voucher, diskon, kode kupon, untuk banyak sekali merchant! Lihat saja di: Promo GO-PAY Oktober 2018: Cashback, Voucher, Diskon, Kode Kupon. Apa yang mereka lakukan? Mereka seperti membakar-bakar uang saja! Apakah mereka rugi?

Yang bisa kita amati, sesungguhnya mereka sedang berusaha merebut user sebanyak-banyaknya dari para pesaing, sebut saja Ovo yang mem-backup Grab, T-Cash, atau e-money konvensional (seperti flazz, brizzi, mandiri e-money, dll). Promosi jor-joran ini juga untuk mengantisipasi sistem dompet elektronik dari luar yang konon akan masuk Indonesia, sebut saja Alipay, Apple Pay, dll. Tidak boleh telat kalau tidak mau dilibas para raksasa ini.

User base yang masif tentu akan memuluskan layanan-layanan lain dari Go-Jek untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Ya tentu saja salah satunya adalah HaloDoc! Seandainya Anda sudah memiliki jumlah uang yang banyak di dompet Go-Pay, maka Anda akan malas mengisi dompet Ovo. Kecuali jika Anda punya uang lebih sehingga rela menyimpan sejumlah tertentu di masing-masing dompet elektronik tersebut.

Mengapa Anda mau menyimpan uang banyak di dompet Go-Pay? Ya mungkin saja Anda suka memesan Go-Food, naik Go-Jek atau Go-Car. Atau karena Anda pernah menggunakan jasa pijat Go-Massage, jasa pindahan Go-Box, dll.

Kalau sudah begitu, maka ketika sakit Anda akan melirik HaloDoc karena Anda bisa membayar konsultasi dan obat dari dompet Go-Pay Anda! Begitulah kira-kira yang mungkin bisa terjadi ketika Go-Pay mendominasi dompet elektronik.

(4) Rebut Data Pasien

Kalau Go-Pay merebut pangsa pasar dompet elektronis, maka HaloDoc merebut data pasien dari RS. Apa yang terjadi ketika pasien dengan suka rela menggunakan jasa Go-Med? Pasien memang akan merasakan kenyamanan karena tidak perlu antri di farmasi, bisa melakukan pembayaran dengan mudah via Go-Pay langsung dari smartphone-nya, dan bahkan obatnya diantar ke rumah gratis.

Yang terjadi sebenarnya adalah HaloDoc memperoleh data pasien tersebut meliputi nama, alamat, copy resep dan dengan mudah bisa tercatat pula profile pasien seperti jenis kelamin, umur, dan mungkin juga profile kesehatan berdasarkan obat yang dibelinya. Dengan data yang diperoleh ini, HaloDoc + Go-Jek dengan mudah akan melakukan personalisasi layanan. Contoh sederhananya begini, kalau diketahui kalau pasien ternyata menderita diabetes, maka Go-Med akan menawarkan obat iter. Seperti kita ketahui, penderita diabetes itu akan selalu mengkonsumsi obat diabetik. Belum lagi penawaran pemeriksaan lab langsung di rumah secara berkala. Oke, dari sini kita bisa lihat bahwa selanjutnya pasien akan mem-bypass RS.

Intinya adalah, jika HaloDoc sudah memegang data pasien ini, maka mereka bisa menawarkan layanan yang sudah dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan pasien. Seperti kita tahu, menawarkan sesuatu yang tepat kepada orang yang membutuhkan itu lebih efektif dari pada sekedar broadcast message atau memasang iklan billboard atau menayangkan iklan di TV yang semuanya ini butuh biaya besar.

Contoh lain misalnya: ibu hamil, penderita stroke, jantung, dll. Silakan berimajinasi layanan apa kiranya yang cocok bagi para pasien tersebut? Jika yang Anda tawarkan cocok dengan kebutuhan mereka, pasti mereka tidak ragu untuk membeli.

(5) Analisa Profile Pembelian

Sebenarnya ini masih terkait dengan poin (3) tentang pembayaran. Tapi ketika dipadupadankan dengan poin (4), maka akan meningkatkan personalisasi layanan yang tentu saja akan lebih efektif dan efisien.

Contohnya begini, hasil dari analisa pembelian dan profile kesehatan seseorang, maka ditemukan fakta ini : ada seorang lelaki yang menderita sakit diabetes, umur 40 tahun, hasil pemeriksaan lab diketahui juga, sering belanja online dengan rata-rata pengeluaran Rp 100 juta per bulan, tinggal di bilangan elite Jakarta, dll. Kira-kira layanan apa yang bisa ditawarkan untuk pasien tersebut?

Atau contoh lain, ditemukan fakta seorang wanita single berumur 35 tahun, obesitas, sering makan mewah di restoran, sering belanja hal-hal tidak perlu, dengan rata-rata pengeluaran per bulan Rp 50 juta. Kira-kira layanan apa yang bisa ditawarkan untuk wanita ini? Walau pun belum pernah menggunakan jasa HaloDoc, namun dari profile ini kita bisa melihat kecenderungan orang ini akan sakit apa.

Penutup

Tulisan ini sekedar apa yang terlintas di pikiran saya, sebuah opini pribadi hasil pengamatan saya. Tentu saja bisa salah. Tapi kalau Anda mengikuti tulisan saya sebelumnya tentang disrupsi bisnis kesehatan, nampaknya sudah mulai bisa terlihat bahwa para perusahaan teknologi ini bisa dengan mudah mengubah strateginya dalam waktu yang singkat. Mereka sedang menguji coba berbagai strategi dan melihat mana yang akan berhasil.

Yang perlu diacungi jempol adalah karena kesigapan mereka dalam mengubah strategi dan menerapkan pola pikir komprehensif dari berbagai sudut pandang/bidang yang kemudian dianalisa dan disatukan untuk mendukung strategi mereka. Seperti dalam kasus di dunia kesehatan ini, mereka tidak hanya melihat dari sisi medis, tapi juga bisa melihat dari profile pengeluaran, kebiasaan, trend, kesehatan dan dengan sigap melakukan personalisasi layanan.

Tentu saja saya masih akan menuliskan beberapa hal di tulisan selanjutnya, hasil pengamatan dari sepak terjang Go-Jek dan HaloDoc ini. Sampai jumpa lagi. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan

Nomer Hape Mirip

Tempo hari saya memasang iklan untuk kontrakan apartemen di beberapa situs iklan gratis. Tidak berapa lama kemudian saya mendapat SMS yang menawarkan supaya saya memasang iklan juga di http://www.jualo.com.

Yang menarik adalah karena nomer si pengirim mirip dengan nomer hape yang saya gunakan, cuma dia menggunakan kode negara +46 yang tercatat sebagai Sweden. Di bawah ini capture SMS yang saya terima dari Sri dan Ana yang menggunakan nomer yang sama yang mirip dengan nomer saya.

Nomernya mirip

Memang ada ya masking dengan cara meniru nomer hape target? Jika demikian, berarti masking-nya bisa banyak sekali nomer, sebanyak nomer target iklan. Melihat kode negara +46, berarti layanan masking ini diselenggarakan di Sweden. Benarkah?

Memulai Start Up

Saya teringat ketika tahun 2003 saya memulai Sisfo Kampus. Jujur saja, itu bukan start up pertama saya, tetapi kedua. Usaha pertama saya gagal total ketika saya masih di Semarang. Kalau kemudian Sisfo Kampus berkembang dengan baik, itu karena saya kepepet. Tidak ada jalan mundur atau berpaling selain memperjuangkan kelangsungan hidup Sisfo Kampus.

Peralatan tempur pekerja IT
Peralatan tempur pekerja IT

Kini sudah lewat 10 tahun dan saya ingin membuat usaha di usia saya yang tidak bisa dibilang muda. Namun tidak ada kata terlambat tho? Kali ini tidak ada unsur kepepet, murni hanya karena saya ingin membuat hal baru. Sesuatu yang saya mulai tanpa dasar motivasi yang kuat. Lalu apakah akan berhasil? Jujur, saya sendiri tidak terlalu yakin. Namun saya punya semangat untuk memulainya. Kalau tidak dicoba, kita tidak akan tahu apakah berhasil atau tidak, tho? Jadi saya pun memulainya.

Idenya sederhana sekali kok. Namun saya kira dari kesederhanaannya itulah bisa jadi dengan mudah diterima masyarakat. Sayangnya saya belum bisa bicara banyak tentang idenya. Mungkin kalau sudah ada versi beta barulah ditulis lagi detailnya.

Doakan berhasil yaaa… Terima kasih.

Presentasi e-Business

Hari Rabu (15/05/2013) kemarin saya menghadiri presentasi e-Business yang disampaikan oleh dr. Erik Tapan di RS Awal Bros Bekasi. Sungguh menarik bahwa dunia bisnis sudah harus menggunakan saluran media sosial dengan efektif demi memenangkan persaingan bisnis. Dan dewasa ini pemanfaatan saluran media sosial sudah menjadi suatu keharusan.

Hanya saja, eksekusinya menjadi PR tersendiri bagi institusi bisnis, terutama supaya bisa selaras dengan strategi perusahaan. Bagi para individu yang telah memiliki akun di media sosial diharapkan mampu secara selaras mendukung perusahaan di media sosial terutama untuk membangun imaji yang positif.

dr. Erik Tapan
dr. Erik Tapan

Presentasi diakhiri dengan diskusi teknis pelaksanaan pemanfaatan media sosial di group RS Awal Bros. Karena walau pun telah memanfaatkan media sosial, ternyata masih banyak PR untuk membenahi mekanisme selama ini supaya selaras dengan strategi perusahaan.

Memulai Bisnis Harus Cepat

Beberapa tahun yang lalu kami punya ide bisnis. Nampaknya sangat menjanjikan. Lagi pula belum ada pesaing yang betul-betul sama persis dengan ide bisnis kami. Namun karena banyak kendala, bisnis itu sampai sekarang belum terealisasikan.

Ketika kemudian belakangan kami mengetahui ternyata ada bisnis baru yang muncul yang ide-nya mirip dengan ide kami, rasanya kami sudah ketinggalan bertahun-tahun lamanya. Karena bisnis baru ini sudah berjalan dengan baik, mapan dan telah memiliki komunitas besar dengan skala yang luas (regional Asia).

Pelajaran hari ini adalah bahwa jika punya ide bisnis, apalagi idenya bagus dan memiliki potensi keberhasilan tinggi, maka harus segera dieksekusi sebelum keduluan pemain lain. Kita tidak bisa mengabaikan betapa banyaknya jenius bisnis di luar lingkup komunitas kita saat ini yang mungkin tidak terendus dan tiba-tiba saja mereka muncul dan sukses. Jadi harus segera dieksekusi.

Kami pun harus segera memutar ide supaya bisnis kami berbeda dengan ide semula. Mungkin bidangnya tetap, tetapi harus ada pembeda sehingga calon pelanggan lebih tertarik kepada bisnis kami. Jadi strategi kami selanjutnya adalah diferensiasi, hiks…

Hati-hati Bahasa Marketing

Seringkali kita temui bahasa marketing yang bombastis. Seperti contohnya foto iklan di bawah ini yang saya potret dari sebuah surat kabar lokal. Iklan ini menuliskan “Tablet Mini Sejuta Fungsi.” Daku yakin kalau tulisan ini belum tentu benar. Benarkah tablet tersebut sudah memiliki sejuta fungsi? Ataukah harus diinstal aplikasi dulu? Rasanya kok tidak mungkin ya? Menginstall 1,000 aplikasi saja sudah pasti bikin tablet-nya keok.

Sayangnya seringkali kita memaklumkannya atau mengabaikannya begitu saja. Beberapa orang marketer/sales yang pernah berdiskusi denganku hanya ngeles dan berkata, “Ah itu kan hanya bahasa marketing.” Tapi jelas contoh kasus seperti ini bisa dikategorikan sebagai bentuk penipuan.

Di dunia lain, klaim-klaim di iklan seperti ini bisa jadi bumerang. Contohnya Apple yang dianggap menipu dengan iklan New iPad-nya di Australia karena dianggap menyesatkan. Dalam kasus tersebut Apple bersedia membayar penalti 2,25 juta dolar Australia plus biaya pengadilan 300 ribu dolar Australia.

Sudah saatnya berhati-hati dalam “berbahasa marketing” karena sekarang konsumen sudah pintar dan tidak mudah dibohongin.