Naik Angkot

Naik angkot itu perlu iman yang kuat, kalau belum kuat, maka saat naik angkot iman kita akan dikuatkan. Soalnya sopir angkot yang ugal-ugalan itu, yang kalau ngerem selalu mendadak, yang saat berjalan tancap gas seolah balapan dengan sopir angkot lain, benar-benar membuat hati deg-degan. Heran aja kenapa masih banyak orang yang selamat dari sopir ugal-ugalan ini. Tentu karena doa para pengguna jalan lain atau penumpang angkot yang imannya kuat, ya tho? Soalnya daku jarang lihat sopir angkot yang nyetir sambil berdoa. (*bletak*)

Pantas saja banyak orang lebih memilih naik motor atau mobil pribadi. Lha angkutannya tidak nyaman babar blas. Selain ugal-ugalan, para sopir ini seringkali ngetem lama, hiks… Paling parah adalah kalau sudah ngetem lama kemudian nyopirnya ugal-ugalan. Pernah daku sampai pusing hampir mabok, padahal jarak tempuh cuma deket, kurang lebih 5 km, hiks…

Syukurlah penderitaanku naik angkot berakhir karena mobil sudah diantar lagi ke sini. Horeee… hmm, kayaknya curhat ngga penting… hehehe…

Iklan

Ketika Rasa Tidak Terstandarisasi

Tulisan ini masih sambungan “Ulasan Kuliner yang Tidak Enak”, tapi membahas aspek lain, yaitu rasa yang tidak terstandarisasi. Wuih, judulnya keren yak? (*bletak*).

Jadi begini, daku sering makan di beberapa tempat tertentu. Sebut saja kantin A, B, C. Di salah satu kantin, yaitu Kantin A, punya menu yang hueeenak banget, yaitu Sop Daging. Bener-bener enak deh, dengan catatan kalau makannya pas “beruntung”. Loh kok gitu? Iya… Karena kalau pas enak, Sop Dagingnya benar-benar enak. Sayangnya keenakan ini tidak bisa dijamin selalu enak. Kadang kala tidak enak, keasinan, hambar, dagingnya terlalu alot, dll.

Sop Daging Tanpa Tulang
Sop Daging Tanpa Tulang

{ Gambar diambil dari sini: Sop Daging Kantin Belakang }

Kesimpulannya, makan Sop Daging di Kantin A untung-untungan, hehehe… Ini berbeda dengan resto internasional yang biasanya franchise. Mereka sudah punya standarisasi rasa sehingga di setiap cabang rasanya stabil. Mungkin ada perbedaan, tetapi biasanya tidak terlalu banyak.

Kaitannya dengan tulisan terdahulu adalah karena saat Penulis/Pengulas sedang kulineraria di suatu resto, mungkin pas dapat enak sehingga tidak ragu untuk memberikan cap jempol atau nilai yang tinggi. Mungkin keesokan harinya Penulis tersebut makan lagi di situ, bisa saja rasanya sudah tidak karuan.

Terus terang daku pernah mengalaminya di sebuah resto franchise terkenal, sebut saja “matahari” dalam bahasa Indonesia. Daku sering makan di sebuah cabang karena alasan praktis, lokasinya dekat dan rasanya lumayan. Suatu saat daku mendapati rasanya tidak enak, keasinan, kayak ada bumbu yang kurang. Ternyata kokinya ganti, hiks…

Bahkan yang semestinya terstandarisasi saja bisa menyimpang rasanya. Kesimpulannya, ulasan kuliner bisa saja untung-untungan. Bisa juga sial-sialan. Jadi jangan percaya 100% ulasan kuliner, hehehe… (*kompooor*)

1.974+ Tulisan

Saat melihat dashboard WP ternyata tulisan saya sudah mencapai 1.974 tulisan. Sedikit lagi 2.000. Rupanya saya sudah banyak ndobos, xixixi…

jumlah-posting

Saya jadi terpacu untuk segera mencapai 2.000 tulisan. Kurang 26 posting lagi. Dikurangi posting ini jadi kurang 25 lagi. Tapi bingung mau nulis apa. Tadinya mau meneruskan cerita tentang Ping, tapi belum ada kontak lagi sama Ping. Hallo, apa kabar, Ping?

Gado-gado Lover

Salah satu menu favorit saya adalah Gado-gado. Jika sedang makan di sebuah tempat yang kebetulan ada menu gado-gadonya, hampir selalu saya pesan gado-gado. Maklum, usia sudah menua sehingga saya harus lebih sering makan sayuran dan banyak mengurangi makan daging.

Nah, berikut ini adalah beberapa foto gado-gado yang menurut saya enak.

Gado-gado Boplo
Gado-gado Boplo

Boplo adalah salah satu restoran yang mengkhususkan diri pada makanan khas tradisional Indonesia seperti gado-gado, rujak, pecel, dan lain-lain. Rasanya enak. Kata teman, bumbu kacangnya pakai kacang mede. Wah jadinya tinggi kolesterol juga ya?

Baca selebihnya »