Si Dia Menjemput

Aku melihat seorang gadis yang tampak gelisah duduk di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Dari raut wajahnya tampak sekali kalau gadis ini diliputi perasaan ketakutan. Kedua tangannya saling menggenggam erat. Kemudian dia pun merintih, eh, lebih tepatnya berteriak namun tercekat. Aku pun mendekatinya.

“Ada apa, Dik? Kenapa cemas? Ada yang perlu saya bantu?” Kataku sambil menyentuh pundaknya lembut. Sejenak dia pun mengalihkan pandangannya kepadaku. Namun tanpa kata.

Sedetik kemudian tangannya menggenggam tanganku erat.

“Suster, tolong dicek pasien yang baru saja masuk ruang itu.” Katanya tercekat sambil menunjuk ke ruangan bertuliskan UGD.

“Memangnya ada apa, Dik?” Kataku mencoba menenangkannya sambil mengusap punggung tangannya yang masih menggenggam erat tangan kiriku.

“Tolong dilihat saja, Sus.” Katanya dengan mata memelas.

Baca selebihnya »

Misteri Di Balik Layar (Bagian 2)

{ Kisah ini diikutsertakan dalam kontes Misteri di Balik Layar yang diselenggarakan oleh Pakde Cholik. }

Inspektur Suzana seolah tidak percaya, dia kembali memeriksa denyut nadi Mudhoiso. Ketika tidak dijumpai denyut nadinya, Inspektur Suzana pun menitikkan air matanya. Direbahkan kepalanya di dada Mudhoiso tanpa menghiraukan lagi kerumunan kru Wayang Orang BlogCamp Budhoyo yang kini mengelilinginya sambil berbisik-bisik satu sama lain namun tidak berani bertindak. Mereka tahu kalau Inspektur Suzana lebih mengetahui apa yang harus dilakukan saat ini.

“Tangkap pelaku Arjuna dan hubungi polisi segera!” Seru Inspektur Suzana tiba-tiba memecah keriuhan. Dan semuanya pun berserak melaksanakan perintah Inspektur Suzana yang selama ini terkenal tegas dan cekatan.

“Mas, bangun! Jangan tinggalkan aku sendiri!” Seru Inspektur Suzana lagi sambil terisak. Tidak ada lagi sosok inspektur tegas dan cantik nan cekatan yang selama ini menjadi stigma positif bagi Suzana.

“Aku juga mencintaimu, Mas. Sungguh! Jangan ragukan cintaku. Aku menyesal jika selama ini aku mengabaikanmu. Selama ini aku seolah menganggapmu tidak ada. Tapi sebenarnya cintaku hanya untukmu. Maafkan pertengkaran kita tempo hari, Mas!” Tangis Suzana seolah tidak terbendung lagi menyadari suaminya kini telah tiada. Suzana tidak bisa menerima keadaan ini.

Baca selebihnya »

Di Batas Senja 2 : Generasi Muda

Index Trilogi:
1. Di Batas Senja 1 : Tlah Lekang Oleh Usia (Dik Ndaru)
2. Di Batas Senja 2 : Generasi Muda (Dewo)
3. Di Batas Senja 3 : Patah Tumbuh Berganti (Jeng Devi)

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Jika ada kesamaan cerita dan nama pemeran, maka itu adalah kebetulan semata yang mungkin bisa jadi disengaja juga.

Ndaru melangkah keluar RS khusus rehabilitasi pecandu narkoba dengan langkah ringan. Tidak pernah seringan ini, pikirnya. Setelah hampir 6 bulan mendekam di sini seperti seorang pesakitan, mendadak pikirannya terbuka, bahwa untuk apa sih mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu? Yang didapat hanya kesenangan sesaat dan kemudian sepintas berlalu, menyisakan rasa ketagihan untuk terus menggunakan obat terlarang itu demi mengejar pelarian sesaat.

Kini dia sudah mulai mencoba mengatasi rasa itu. Walau pun di sisi lain, gejolak tubuh yang menagih obat-obatan itu masih merasuk jiwanya sehingga raganya pun sering bergidik menahan rasa. Namun seperti kata dokter Devi yang merawatnya, rasa itu bisa dialihkan ke hal-hal positif yang menyenangkan. Dengan bijak dr. Devi malah mengajak Ndaru melakukan beberapa kegiatan yang belakangan menyita perhatian & waktu Ndaru sehingga dia tidak lagi terkekang oleh narkoba.

Pertama kali datang, Ndaru sempat harus diseret oleh dr. Devi dan beberapa perawat saat tubuhnya menggigil keras menagih obat penenang. Walau pun tubuhnya lemah, Ndaru dipaksa untuk menggerakkan semua anggota tubuhnya. Ndaru dipaksa merasakan setiap bagian tubuhnya. Dari ujung jempol kaki, merambat ke dengkul, naik, naik dan naik terus sampai ke ujung kepalanya. Butuh konsentrasi tinggi, yang sejatinya tidak ingin Ndaru lakukan saat dirinya ketagihan dan kemudiah fly. Jika Ndaru menyerah, tidak segan-segan dr. Devi menyiramkan air dingin di beberapa bagian tubuhnya.

Ah, mendadak melintas wajah Dewo. Jika saja waktu itu tidak ada Dewo, mungkin Ndaru tidak tertolong karena over dosis. Sahabat sepermainannya itu memang sahabat sejati. Yang telah banyak sekali menolong dirinya. Ironisnya Ndaru telah beberapa kali mengajak Dewo untuk ikut berpesta obat-obat terlarang. Hal yang kontradiksi dengan yang dilakukan Dewo kepadanya.

Baca selebihnya »

Negri di Awan : Kemana Angin Mengalir

Index Trilogy:
1) “Negri di Awan : Sidang Para Batara” (Dik nDaru)
2) “Negri di Awan : Kemana Angin Mengalir” (Dewo)
3) “Negri di Awan : Menuju Negri Impian” (Jeng Devi)

Ini misi yang maha penting, pikir Batara Siwa. Bagaimana pun Kanda Narayana benar. Bumi yang sudah berjalan 40.000 tahun ini tidak bisa serta merta di-reset. Dia mesti mencari sisik-melik dan mengumpulkan data penunjang supaya Sang Hyang Brahma bersedia menangguhkan kiamat.

Dikeluarkannya iPad dan mulai mengetikkan email berisi rencananya kepada para puteranya. Kepada Kartikeya yang menjabat dewa perang, dia memerintahkan untuk rehat sejenak supaya dalam beberapa hari research-nya ini dapat berjalan dengan baik tanpa ada peperangan. Karena rencananya menitis sebagai manusia menjadikannya sangat rentan jika ada peperangan. Juga untuk mendata motivasi di balik peperangan di dunia, berapa persen yang dimotivasi oleh rebutan sumber daya alam dan berapa besar dampaknya terhadap alam.

Kepada Ganesa yang menjabat dewa ilmu pengetahuan, dia memerintahkan untuk melakukan survey kepada seluruh penduduk dunia tentang kepedulian manusia terhadap alam. Juga melakukan research tentang perusakan alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Kebetulan Ganesa mempunyai channel di seluruh universitas di penjuru dunia yang selalu siap sedia membantu setiap research yang digelarnya.

Kepada Batara Kala yang menjabat dewa waktu alias yang menentukan waktu hidup manusia, dia memerintahkan untuk mendata berapa banyak orang yang selama hidupnya merugikan alam dan berapa banyak yang hidupnya bergantung kepada alam dan memeliharanya dengan baik. Juga menghitung berapa banyak yang mati karena kualat terhadap alam. Dan berapa banyak manusia yang tidak berdosa yang mati karena bencana alam.

Setelah emailnya terkirim, Batara Siwa yang juga terkenal sebagai Batara Guru ini segera beranjak mengambil jaket dan helmnya. Dia segera bergegas menuju parkiran moge-mogenya yang memang terpisah dengan garasi mobil-mobil sport-nya. Dipandanginya sejenak motor Harley Davidson yang tidak pernah sekalipun dia tunggani. Terlalu boros bensin dan sangat berisik. Benar-benar tidak ramah lingkungan. Kalau pun dia punya HD, itu karena hadiah dari para dewa yang gemar piknik ke bumi untuk menghabiskan anggaran tahunan dan abadan. Demikian juga dengan semua mobil-mobil sport yang selalu membuatnya heran karena dinilainya tidak ramah lingkungan babar blas.

Baca selebihnya »

Kamera Pengintai (2)

(Serial Wedo Tesio. Cerita ini lanjutan dari “Kecewa Tayangan Erotis” dan “Kamera Pengintai”)

“Ehm, apakah Ibu tidak mencurigai orang lain di dalam perusahaan? Mungkin saja… ini kemungkinan saja ya, mungkin ada staf-staf Ibu yang lain yang seperti Bu Siska.” Wedo berusaha mengutarakan kecurigaannya dengan bahasa yang berhati-hati. Dia takut membuat Bu Siska tersinggung karena Wedo sudah mulai masuk ke wilayah pekerjaan Bu Gina.

“Ya bisa saja begitu. Tapi dengan bantuan kamu, saya pun belum tentu bisa mempercayai kamu.” Kali ini Wedo menangkap nada datar & sinis dari Bu Gina.

“Hanya saja, saya tidak memiliki kepentingan bisnis dengan materi pengintaian saya, Bu. Jadi semuanya tidak berarti bagi saya.” Kata Wedo berusaha menyakinkan.

“Tidak meyakinkan. Dan tidak menjamin.” Kata Bu Gina masih datar. Aduh… bagaimana caranya menyakinkan Bu Gina ya? Tanya Wedo dalam hati.

“Kan semua hasil pengintaian akan saya laporkan ke Bu Gina. Tanpa ada yang saya tutup-tutupi. Jika perlu, saya akan menandatangani kontrak kerja secara profesional dengan Ibu.”

Bu Gina kemudian mengambil tas di sampingnya dan menaruhnya di meja.

“Lalu ini apa?” Tanya Bu Gina menunjukkan isi tasnya. Wedo melihat di dalamnya ada sepasang kamera pengintainya. Dan matanya tertumbuk ke sebuah pistol. Hah, Bu Gina punya pistol? Langsung saja Wedo mengkerut nyalinya. Ya karena kameranya yang ketahuan dan juga karena pistol itu. Tidak dinyana Bu Gina memiliki sebuah pistol. Melihat materialnya, nampaknya pistol itu pistol beneran. Seumur-umur Wedo belum pernah memegang pistol. Bahkan melihat pistol asli dalam jarak sedekat ini pun belum pernah.

Baca selebihnya »