Kamera Pengintai

(Cerpen Wedo Tesio. Baca cerita sebelumnya: “Kecewa Tayangan Erotis” Start-Finish: 08/08/2010)

Semalaman Wedo tidak bisa tidur. Pikirannya terganggu dengan peristiwa kemarin. Agak menyesal juga dia karena telah memasang 2 kamera pengintai yang harganya termasuk mahal itu. Tapi yang lebih mengganggu pikirannya adalah karena jika kamera itu ditemukan Bu Gina. Bisa-bisa jadi kasus. Bisa-bisa dia dituntut Bu Gina. Maka Wedo pun memikirkan bagaimana caranya supaya bisa mendapatkan kembali kameranya.

Terbersit di pikirannya untuk kembali ke apartemen Bu Gina. Tapi apa alasannya ya? Yang jelas sih tidak mungkin jika dia masuk ke sana diam-diam. Kan penjagaan di sana cukup ketat. Jadi Wedo harus memikirkan alasan supaya bisa masuk ke sana lagi.

Maka dengan nekad Wedo pun mengampil ponselnya dan menghubungi Bu Gina.

“Selamat pagi, Bu Gina,” sapa Wedo saat telponnya tersambung ke ponsel Bu Gina.

“Selamat pagi juga. Wedo ya?” Terdengar suara Bu Gina ringan, seolah tanpa beban. Mungkin Bu Gina belum mengetahui kamera pengintai Wedo? Ah, kesempatan, pikir Wedo.

Baca selebihnya »

Kecewa Tayangan Erotis

( Cerpen Wedo Tesio )

Akhirnya Wedo menemukan meja bernomer 9 itu. Segera saja dia meletakkan ransel besar di salah satu kursinya.

“Posisi yang sangat strategis,” gumannya ketika menyadari bahwa meja itu terletak di sudut dan tempat duduknya menghadap ke pusat cafe. Sudut pandang yang lebar. Wedo dapat mengawasi setiap pengunjung cafe itu.

Sampai kemudian matanya tertumbuk pada seorang wanita cantik berwajah kusut yang rupanya memperhatikannya sejak tadi. Agak canggung juga dipandangi oleh seorang wanita berwajah kusut. Dengan kikuk Wedo pun melemparkan senyum kepadanya. Tapi sungguh tidak sopan, wanita itu malah melengos. “Huh…”

“Ah, masa bodohlah,” kata Wedo dalam hati. Wedo pun mulai mengeluarkan satu-satu pirantinya. Sebuah notebook berlayar 12 inchi yang ringan beserta pernak-perniknya. Dia memilih notebook seringan 1,4 kg ini demi menunjang mobilitasnya yang cukup tinggi. Tidak masalah ketika dia harus bekerja mendadak di mana saja.

“Ups, hampir lupa. Aku harus segera bekerja.” Dengan sigap Wedo menancapkan charger ke notebook kebanggaannya dan kemudian mencolokkannya ke outlet di bawah mejanya. Benar juga saran bos-nya yang menyuruh Wedo memilih meja nomer 9 ini. Selain strategis, rupanya ada colokan listriknya juga. Jadi aman deh kegiatan berkomputernya karena tidak perlu takut kehabisan baterai.

Baca selebihnya »