Kembali Ke Microsoft Windows

Setelah bertahun-tahun menggunakan MacOS dan Ubuntu, akhirnya saya memutuskan menggunakan Windows 10 di Asus TUF FX505DD. Ya memang laptop ini sudah ada Windows bawaannya. Tapi sebelumnya saya meng-install Ubuntu di SSD dan selalu boot ke Ubuntu. Hanya saja, Ubuntu bermasalah di driver display-nya. Ketika menggunakan monitor external atau proyektor atau TV dengan kabel HDMI, maka Ubuntu akan gagal mengenali dan bahkan seringkali hang ketika kabel dicolokkan. Padahal sudah menurunkan desktop manager dengan menggunakan gdm.

Contohnya kemarin ketika presentasi, awalnya baik dengan proyektor bekerja dengan baik. Namun ketika harus bergantian presentasi dan kemudian balik lagi saya harus presentasi, laptop langsung hang. Tidak bisa diapa-apakan walau pun sudah tekan Ctrl+Alt+Del atau Ctrl+Alt+Backspace. Terpaksa hard reset dan boot ke Windows untuk presentasi lagi.

Jadi Ubuntu masih bermasalah dengan kartu NVidia atau malah dengan AMD Ryzen + Vega? Entahlah. Tapi cukup mengganggu bagi saya yang sering presentasi atau menggunakan monitor external.

Sedangkan jika boot ke Windows dari harddisk itu sangat menyebalkan. Amat sangat lambat.

Akhirnya saya memutuskan meng-install ulang NVMe dengan Windows 10. Eh bukan install ulang, tapi menyalin Windows di harddisk ke NVMe. Untuk menyalin image Windows dari harddisk ke NVMe ini diperlukan aplikasi bernama EaseUS Todo Backup Free. Sejatinya ada versi berbayarnya, tapi kita bisa meng-install versi free-nya. Bagusnya adalah ada fitur “System Clone” yang cukup pandai sehingga walau pun storage tujuan lebih kecil, tapi EaseUS bisa mengaturnya dengan baik. Jadi walau pun harddisk saya 1TB sedangkan SSD NVMe hanya 256GB, namun karena isi harddisk hanya beberapa puluh giga byte, maka cloning bisa dilakukan dengan aman. Bahkan NVMe bisa langsung dipergunakan sebagai boot drive.

Walau kembali ke Windows, namun saya masih memerlukan Ubuntu untuk banyak hal yang berkenaan dengan pekerjaan. Jadi saya meng-install VirtualBox dengan VM Ubuntu 19.04. Bukan solusi yang efisien sih. Tapi efektif untuk pekerjaan saya.

Masalah berikutnya muncul. Yaitu ketika menyadari bahwa font di Windows tidak sebagus MacOS atau bahkan Ubuntu. Setting font clear type tidak membantu, tetap kurang nyaman. Jadi males kerjanya, hahaha… Apalagi kan saya memang akan banyak coding yang berarti akan sering berhadapan dengan banyak code/text.

Syukurlah menemukan program MacType yang bisa membuat font di Windows jadi seindah MacOS/Ubuntu. Syukurlah gratis juga. Saya memang paling suka yang gratisan dan halal, hahaha…

Jadi terima kasih untuk program EaseUS Todo Backup Free dan MacType.

Raspberry Pi Sebagai Alarm Musik di Pagi Hari

Sudah suatu hal yang lumrah jika saya menggunakan hape sebagai alarm di pagi hari untuk membangunkan diri ini. Tapi seperti sudah kebiasaan, biasanya alarm dari hape ini akan saya snooze dan kembali tidur. Saya masih ngantuk dan lagian melakukan snooze itu semudah menggeser jempol di hape. Setelah beberapa kali snooze akhirnya saya pun kesiangan bangunnya, hahaha…

Saya perlu alarm yang lebih ribet sehingga untuk mematikannya perlu bangun dari tidur. Jadi saya membuat alarm dengan menggunakan Raspberry Pi. Caranya mudah kok. Cukup menambahkan 2 baris di cron job.

Pertama-tama pastikan output audio dipindah dari HDMI ke Analog. Hal ini perlu dilakukan supaya RPi tidak tergantung dengan TV. Namun demikian diperlukan Speaker Aktif untuk menyalurkan suara dari RPi. Untuk itu sambungkan jack dari speaker aktif ke port audio di Raspberry Pi.

Setelah itu edit file crontab dengan perintah:

sudo nano /etc/crontab

Tambahkan baris berikut ini di bagian terbawah crontab:

0  5    * * *   dewo    DISPLAY=0:0 cvlc /home/dewo/Musik; killall vlc
0  6    * * *   dewo    killall vlc

Perintah killall yang kedua untuk memastikan vlc harus mati satu jam kemudian. Jangan lupa copy file-file musik yang diinginkan ke folder /home/dewo/Musik. Oh iya, ganti “dewo” dengan username Anda sendiri.

Nah, di pagi hari saya akan terbangun ketika mendengarkan lagu-lagu metal yang saya simpan di folder Musik. Mematikannya akan rada ribet karena saya akan menyalakan tv, membuka terminal dan membunuh VLC. Saya harap saya tetap terbangun saat menjalankan prosedur mematikan alarm ini. Tapi ya kalau ngantuk banget bisa jadi tetap akan tidur lagi, hahaha…

Memonitor Beban Kerja Laptop

Sebenarnya tulisan ini cuma iseng. Seolah ingin membenarkan keinginan saya untuk melakukan upgrade fase 2 (lihat tulisan sebelumnya tentang upgrade fase 1). Ya memang rada gatel juga sih pengen segera bisa upgrade fase 2, yaitu untuk menambah RAM di laptop Asus TUF Gaming FX505DD saya. Hanya saja setelah melihat di toko online ternyata harga RAM SO-DIMM DDR4 PC4 — 2666MHz itu ternyata mahal. Apalagi dari merek terkenal. Padahal sudah ngiler lihat yang 16GB.

Nah belakangan ini saya mencoba menahan diri dan menyelidiki apakah benar saya membutuhkan upgrade RAM ini? Sementara jari sudah tidak tahan menekan tombol “BELI”, hahaha…

Sebenarnya saya belum 100% menggunakan laptop TUF ini untuk bekerja karena untuk pekerjaan kantor saya masih menggunakan MacBook Pro. Tapi jika kelak dibutuhkan untuk ikutan kompetisi atau tiba-tiba kumat semangat ngopreknya, TUF ini harus siap menanggung beban kerja yang berat. Mungkin berlebihan ya? Tapi mungkin juga tidak, secara saya bakal banyak menggunakan VM (Virtual Machine) atau AVD (Android Virtual Device).

Rencananya dalam beberapa hari ke depan ini saya akan memonitor beban kerja laptop ini untuk beberapa tugas normal sampai ke yang berat. Untuk memonitor ini diperlukan beberapa program sehingga saya bisa melihat seberapa utilisasi laptop, apa saja yang berjalan di laptop sampai ke suhu laptop. Berikut ini adalah beberapa aplikasi yang sudah saya install:

  1. htop. Ini adalah sebuah aplikasi ringan berbasis teks yang dijalankan di terminal. Fungsinya untuk memantau utilisasi CPU, RAM dan SWAP. Terlihat pula daftar program yang sedang berjalan beserta informasi penggunaan CPU dan RAM oleh aplikasi ini. Sebenarnya tidak hanya itu, aplikasi ini sudah dibekali fitur mumpuni semacam pencarian task, membunuh task, dll. Tidak hanya simple tapi sangat powerful. Sayangnya itu belum cukup karena aplikasi ini tidak bisa memonitor suhu, storage dan network.
  2. System Monitor. Kalau ini adalah aplikasi bawaan dari Ubuntu Desktop. Karena tampilannya grafis, maka tampak lebih menyenangkan untuk dilihat. Fitur unggulannya adalah monitor CPU, Memori & Swap, serta jumlah dan kecepatan komunikasi data. Semua ditampilkan dalam bentuk grafis yang menyenangkan untuk dilihat. Di samping fitur utama ini ada fitur tambahan seperti monitor proses apa saja yang sedang berjalan dan file system. Cukup lengkap ya? Di samping tampilannya lebih nyaman untuk dilihat.
  3. S-tui (Stress Terminal UI). Saya baru menemukan aplikasi keren ini. Aplikasi ini seperti htop yang berjalan di terminal dalam mode teks. Walau pun demikian, saya merasa aplikasi ini layak diinstall untuk mendampingi htop dan System Monitor karena aplikasi ini mempunya fitur untuk memonitor frekuensi CPU, utilisasi CPU, dan yang terpenting bisa memonitor temperatur CPU. Aplikasi ini mencoba untuk menampilkan data ini dalam bentuk grafis tapi dalam mode teks. Jadi bisa berjalan tanpa terlalu membebani laptop secara berlebihan. Sayangnya saya agak curiga dengan “Top Freq” di mana di sini tertulis 2100 MHz padahal “Cur Freq” (current frequency) bisa saja melebihi Top Freq. Ya memang base clock Ryzen 5 3550H ini di 2100 MHz. Tapi maksimal frekuensi seharusnya bisa sampai 3700 MHz yang mana kalau saya lihat belum pernah mencapai frekuensi ini (baca: AMD Ryzen 5 3550H).

Saat ini baru 3 aplikasi ini yang saya install. Sepertinya sih sudah cukup untuk memonitor beban kerja laptop TUF ini. Saat monitoring ini saya menggunakan mode Performance di manajemen daya SlimBook. Pada mode Performance ini lebih sering terdengar kipas lebih kencang berputar dibandingkan mode Energy Saving, hehehe…

Sebenarnya untuk menjustifikasi perlu tidaknya upgrade RAM itu harus dilihat dari utilisasi RAM dan Swap ya? Apakah cukup atau tidak? Atau ada parameter lain?

Yang jelas untuk prosesor AMD Ryzen itu seharusnya dikonfigurasi untuk RAM dual channel supaya bisa keluar semua potensi performanya. Jadi tidak melulu tentang berapa jumlah kapasitasnya, tapi lebih cenderung ke dual channel-nya. Mungkin saya hanya perlu upgrade ke 4GB yang lebih murah untuk mengaktivasi dual channel-nya. Walau pun dalam hati saya merasa tanggung, apa tidak lebih baik sekalian ke 16GB? Hahaha…

Membeli iPad 2018 Apakah Worth It?

Saya sudah memimpikan memiliki tablet Apple sejak lama. Apalagi sejak keluar seri iPad Pro dan kemudian melihat bagaimana para seniman memamerkan keterampilan menggambarnya di YouTube. Benar-benar membuat ngiler.

Sayangnya saya tidak bisa membelinya karena terlalu mahal. Sebenarnya alasan sesungguhnya adalah tidak tega membelinya karena terlalu mahal. Karena keperluan rumah-tangga tidak boleh diabaikan. Maklum sudah bapak-bapak, harus lebih bertanggung jawab dalam membelanjakan uangnya, hahaha…

Tapi kemudian saya memutuskan untuk memiliki iPad (bukan yang Pro), apalagi iPad 2018 ini termasuk “murah” untuk ukuran produk dari apel krowak itu. Karena Apple mengeluarkan iPad versi 2018 ini untuk berkompetisi langsung dengan ChromeBook yang nampaknya mulai menggerogoti dominasi iPad. iPad 2018 secara resmi dibandrol mulai $329 (versi 32GB WiFi Only). Sedangkan untuk pelajar bisa memilikinya dengan harga $299. Kalau Anda guru bisa membelinya dengan harga $309. Tapi ini harga di sono ya? Kalau di sini yang tidak bisa dapat harga diskon ini karena Apple belum membuka toko resminya di Indonesia.

Dari harganya nampak bahwa Apple memang menyasar segmen ChromeBook yang memang harganya sekitar itu. Belakangan laptop dengan platform ChromeBook memang semakin diterima oleh masyarakat terutama karena harganya lebih murah dibanding laptop/PC namun memiliki fungsionalitas dan kinerja tidak kalah.

Kembali ke iPad, akhirnya kemarin saya membeli versi 128GB WiFi Only warna Gold. Warna Gold ini baru dikeluarkan di jajaran iPad mulai tahun 2018 ini. Gold-nya lebih gelap dan jadi lebih menarik dibandingkan iPhone. Sebenarnya kalau ada versi RED pasti saya akan memilih RED, hahaha…

Saya memilih versi 128GB karena versi 32GB itu nanggung. Pasti cepat habis terisi. Dan saya tidak memerlukan versi selular karena bagi saya memasang nomer khusus di iPad itu sia-sia. Karena toh tidak bisa digunakan untuk nelfon atau WhatsApp.

Apakah membeli iPad itu Worth It?

Ini pertanyaan yang sangat subyektif sebenarnya. Karena pasaran tablet itu agak rancu, karena ada 3+ platform yang available di pasaran tablet tapi kesemuanya tidak sejajar. Tidak sejajar ini dilihat dari fungsionalitas, target market dan harganya.

Jadi rada sulit menilai apakah membeli iPad 2018 ini worth it jika dibandingkan dengan produk kompetitor. Sedangkan bila dianggap tidak ada pesaing karena tidak ada kesejajaran yang tepat, ya pastinya jadi worth it, hehehe…

Disclaimer: Ini pendapat pribadi saya loh. Mungkin berbeda dengan pemikiran Anda. Silakan isi komentar untuk berdiskusi. Oh iya, pembahasan platform di bawah bukan diurutkan berdasarkan awal kemunculan produk. Saya mengurutkannya berdasarkan alur penulisan yang ingin saya sampaikan.

Berikut ini pendapat saya tentang beberapa platform tablet tersebut.

Platform yang mau saya bahas pertama adalah platform Android. Di sini pemain besarnya ada Samsung, Asus, dan berbagai merek dari China. Merek besar lain mulai meninggalkan pasar tablet platform Android dan fokus di PC/laptop/hybrid, seperti misalnya Acer, HP, Sony, Lenovo, Benq, dll.

Tablet dengan platform Android ini agak nanggung. Kesannya hanya berguna untuk konsumsi media (media consumption) atau cuma untuk main game. Target segmen jadi mengerucut ke anak-anak sampai remaja. Mau diajak kerja lebih produktif oleh orang dewasa tapi dirasa kurang tenaga. Dulu pemain tablet Android ini banyak sekali. Tapi lama-lama rontok satu per satu.

Saya rada trauma dengan tablet platform Android ini. Karena tahun 2011 dulu pernah membeli Samsung Galaxy Tab 10.1″ (Baca: “Samsung Galaxy Tab“, “Keyboard Dock Samsung Galaxy Tab 10“, “Keyboard Dock untuk Samsung Galaxy Tab 10“) namun tidak sesuai ekspektasi. Sangat terbatas kemampuannya dan rada lambat. Yang membuat trauma adalah karena Samsung tidak mengeluarkan update OS Android untuk tablet ini setelah 1-2 tahun produk ini dirilis. Menyebalkan! Tidak bertanggung jawab! Padahal harganya muahaaaal! (Hahaha… ngomel2 jadinya).

Platform yang ke-2 adalah dari Microsoft. Dulu Microsoft mengeluarkan tablet versi Windows RT (Baca: “Windows RT” di Wikipedia). Ini adalah porting OS Windows ke arsitektur ARM. Sayangnya platform ini tidak berhasil. Serba nanggung. Walau pun aplikasi-aplikasi penting berhasil diboyong ke platform ini, namun kinerjanya tetap kurang dibandingkan versi desktop-nya. Tentu saja tidak banyak developer aplikasi yang mau bertaruh di platform yang tidak matang ini.

Platform Windows RT ini memang nyaris gagal sehingga akhirnya Microsoft mengeluarkan tablet full fledged, yaitu tablet dengan sistem operasi Windows yang asli versi desktop. Sayangnya para pabrikan PC tetap tidak mau mengeluarkan tablet dengan sistem operasi Windows sehingga Microsoft mulai memproduksi sendiri tablet Surface (dan Surface Pro). Demi memangkas harga, Microsoft mengeluarkan juga Surface RT dengan aristektur ARM.

Kekurangan dari platform Windows ini adalah karena memboyong arsitektur x86 dari Intel yang dikenal boros daya (dibandingkan dengan aristektur ARM yang dari dulu dikenal hemat daya). Sudah gitu form factor susah diajak langsing menandingi ARM yang bisa lebih hemat ukurannya.

Ini yang membuat para produsen males membuat tablet versi Windows. Kan tidak lucu juga kalau bikin tablet tapi bentuknya besar, tebal dan cuma bisa dipakai 3-4 jam karena boros baterai. Ya memang akhirnya Microsoft harus membuat contoh dengan tablet Surface-nya.

Akhirnya bermunculanlah produk-produk hybrid, yang bisa menjadi tablet dan bisa juga menjadi laptop. Seperti berdiri dengan 2 kaki berpijak di dua dunia. Serba nanggung jadinya ya?

Platform ke-3 adalah tablet dengan sistem operasi iOS dari Apple. Menurut saya, ini adalah platform yang ideal untuk tablet saat ini. Apple memang dikenal sebagai produsen dengan produk yang nyaman digunakan, gegas dan cocok untuk para seniman. Tablet dari Apple sangat digemari para musisi karena iPad bisa mensimulasikan efek-efek suara dengan latency paling rendah, terdengar nyaris realtime. Misal: ketika kita memukul drum di iPad, maka suara langsung terdengar ketika jari menyentuh display. Kekerasan dan aksennya tergantung dari tekanan dan kecepatan ketukan jari ke display. Ini sangat mengesankan!

Jangan lupakan fenomena efek gitar dengan latency rendah di iPad dan iPhone yang nyaris realtime. Dulu ramai sekali orang menggunakan iPad dan iPhone untuk simulasi efek gitarnya (Baca: iRig HD). Dulu latency serendah itu sulit sekali dikejar oleh platform lain!

Dan jangan lupakan artis seni rupa (gambar/lukisan dan foto). Mereka sangat menikmati iPad untuk berkreasi. Karena menggambar di iPad (terutama di iPad Pro) sangat menyenangkan dan nyaris memiliki sensasi seperti menggambar di kertas atau kanvas yang sebenarnya. iPad Pro memang memiliki display yang luar biasa dengan teknologi laminasi dan refresh rate lebih tinggi dari pada tablet saingannya sehingga menggambar di iPad Pro jauh lebih menyenangkan. Sampai sekarang kenyamanan menggambar di iPad Pro masih sulit ditandingi para kompetitor (CMIIW).

Dan sekarang iPad memiliki kemampuan editing video sampai 4K. Ini berarti para vlogger/youtuber yang banyak berkeliaran (mobilitas tinggi) itu tidak perlu membawa laptop dan bisa segera mengedit dan meng-upload videonya dari mana saja. Tinggalkan saja laptop yang berat itu di rumah!

Ini yang membuat iPad mendominasi pangsa pasar tablet. Hingga akhirnya banyak orang menyebutkan “iPad” sebagai nama generik piranti yang hanya punya layar itu dibanding menyebutnya sebagai tablet.

Namun sepertinya Apple sudah mulai khawatir dengan kehadiran platform ke-4, yaitu platform ChromeBook yang menggunakan sistem operasi Chrome OS. Ya awal mulanya ChromeBook itu ditargetkan untuk laptop murah. ChromeBook bisa murah karena sebenarnya laptop menggunakan kernel turunan Linux yang ringan/ringkas dan browser Chrome. Sedangkan aplikasi-aplikasi berjalan di atas browser Chrome. Jadi tidak perlu spesifikasi hardware yang tinggi. Untuk kapasitas penyimpanan juga cuma seadanya, secukupnya saja. Karena sebagian besar dokumen akan disimpan di Cloud.

Nah, belakangan Chrome OS ini dipakai juga untuk tablet. Ini yang membuat Apple khawatir. Karena jika tablet Chrome berhasil, maka secara kombinasi antara ChromeBook dengan Chrome Tablet bisa saja mengejar dominasi iPad. Karena bagaimana pun juga ChromeBook yang murah itu sudah cukup kinerjanya bagi para pelajar. Dan pelajar ada gerbang pertama untuk suatu dominasi produk di masa depan. Dan Apple tidak mau kehilangan pelanggan masa depannya!

Apple harus merebut kembali pasar masa depannya dengan menggelar harga pelajar. Untuk para pelajar dan pengguna awal, Apple menawarkan New iPad yang sejatinya sudah cukup mumpuni untuk tugas-tugas yang tidak berat/kompleks. Dan versi 2018 bentuknya sudah tipis, manis dan modern. Di harga segitu sulit sekali menemukan produk dari pesaing yang fitur, mutu dan kemampuannya setara.

Untuk segmen lain, Apple juga mengeluarkan versi-versi murah dari iPad-nya. Kalau versi mahal iPad Pro adalah ukuran 12.9″, maka kemudian dikeluarkanlah versi murah dengan ukuran 10.5″. Masih kurang murah? Keluar jugalah versi 9.7″. Semuanya nyaman digunakan untuk menggambar (dan melukis).

Sedangkan produk nanggung iPad Air dan iPad Mini sepertinya bakal dihentikan karena membuat bingung konsumen karena sudah ada New iPad yang sudah bisa setipis iPad Air. Sedangkan iPad Mini tidak diteruskan karena iPhone sudah mulai punya versi besar (iPhone 8 Plus). Sebagai informasi, sejatinya iPad Mini dibuat untuk menjembatani iPhone yang punya layar kecil dengan iPad. Apple memberikan opsi di antara itu untuk mengisi gap bagi pengguna yang merasa layar iPhone kekecilan tapi menganggap iPad kebesaran. Nampaknya sekarang jadi kurang relevan karena iPhone sudah punya versi besar dan iPad sudah bisa setipis dan seringan iPad Air. Tapi ya tentu saja terserah Apple ya? Kita tunggu September nanti saat Apple merilis produk-produknya.

Kompetisi

Menurut saya (ini menurut saya ya?) pesaing yang benar-benar memiliki fitur dan fungsionalitas mirip dengan iPad Pro adalah Microsoft Surface. Tapi Surface (dan Surface Pro) menggunakan Windows Desktop yang multi fungsi. Cenderung tidak mudah digunakan. Orang harus belajar menggunakannya supaya bisa produktif. Bahasa kerennya: learning curve-nya lama. Bandingkan dengan iPad yang nyaris bisa segera digunakan.

Dari segi bentuk jelas lebih langsing dan manis iPad. Sedangkan harganya? Surface Pro malah mahalnya 2-3x harga iPad Pro (tergantung tipenya).

Bagaimana dengan tablet-tablet Android? Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, sekarang tablet Android itu malah seperti mainan saja. Penggunanya cuma menggunakannya untuk ber-sosial media, main game, cek email dan tugas-tugas ringan lainnya. Mau diajak melukis selayaknya iPad Pro? Dibanding iPad regular yang murah itu saja belum tentu bisa menyaingi. Mau diajak bikin lagu atau ngedit film? Kebanyakan tablet Android akan kedodoran.

Ini yang membuat iPad sulit dibandingkan atau disetarakan dengan kompetitornya.

Beneran Worth It?

Kembali ke pertanyaan apakah iPad 2018 ini worth it? Jawaban subyektif saya adalah: YAAA! (dengan bonus “A”). Saya memang sudah menginginkannya sejak lama. Dan versi 2018 ini menurut saya adalah versi iPad dengan teknologi yang jauh lebih baik dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dia sudah punya prosesor A10 Fusion yang gegas dan dukungan Apple Pencil dan split screen untuk kerja multitasking. Kalau melihat produk kompetitor, nyaris sulit membuat perbandingannya.

Tetapi jawaban obyektifnya baru bisa saya tuliskan setelah beberapa bulan menggunakannya yaaa… Soalnya 2 hari menggunakan iPad ini belum bisa memberikan penilaian yang sebenar-benarnya. Tapi 2 hari ini menggunakan iPad rasanya baik-baik saja. Serba cepat dan bisa split screen. Saya sedang memesan Apple Pencil untuk menggambar dan menulis. Nanti akan saya tulis terpisah.

Keluhan yang saya rasakan adalah keyboard virtualnya. Dari dulu Apple memang tidak pernah nyaman keyboard virtualnya. Kalau terbiasa akhirnya bisa nyaman sih. Tapi kalau kita menggunakan Apple dan Android bersamaan, ya akhirnya mau tidak mau jadi membandingkannya dengan keyboard-nya Android. Enakan keyboardnya google yang bisa swipe dan suggestion/prediction-nya akurat.

Sementara ini dulu tulisan saya. Rupanya sudah panjang lebar dan tinggi rendah. Kapan-kapan disambung lagi (kalau sempat dan niat). Jangan lupa kalau ini adalah pendapat saya pribadi. Mungkin bisa beda dengan pemikiran Anda. Silakan tuliskan di kolom komentar untuk berdiskusi lebih lanjut.

Salam.

Beberapa Hari Tidak Ngoprek

Beberapa hari ini tidak bisa ngoprek. Rasanya geregetan deh. Alasannya adalah karena sedang ada tugas membuat aplikasi yang tidak bisa didelegasikan. Lagi pula teman-teman juga sudah overload. Kalau pun didelegasikan bisa lama selesainya karena harus nunggu antrian panjang.

chipradioSedangkan waktu kerja di kantor juga sudah banyak dihabiskan untuk urusan administrasi, manajerial atau operasional ini-itu. Belum lagi meeting2 yang banyak menghabiskan waktu terutama untuk perjalanannya yang kerap kali macet. Mau tidak mau ya tugas ini dikerjakan di luar jam kerja di apartemen.

Sebenarnya tidak ada deadline yang ditetapkan. Tapi saya sering membuat deadline yang ketat bagi diri sendiri. Maksudnya supaya bisa segera selesai dan bisa mengerjakan pekerjaan lain.

Lagi pula saya tidak suka mengerjakan sesuatu yang terlalu lama. Maunya bisa segera jadi. Kalau kelamaan biasanya malah jadi terbengkalai karena tugas-tugas baru yang lebih penting akan segera menyita waktu, tenaga dan pikiran.

Hehehe… ini sekedar curhat supaya bisa update di blog. Supaya blog tidak terlalu lama idle.