Bingung Memilih Platform

Seorang teman meminta didesainkan sebuah sistem antrian. Masalahnya, sekarang platform yang tersedia banyak. Ini yang membuat kita jadi bingung menentukan mau pakai platform apa dan apakah platform tersebut efisien dari segi biaya?

Contohnya ya sistem antrian ini, opsinya bisa pakai PC biasa yang mahal; pakai Raspberry Pi yang lebih murah; pakai dongle Android yang praktis; atau murni mendesain elektronikanya? Masalahnya adalah harus pas antara biaya, kemudahan dan kehandalan. Seperti sebuah segitiga, ketiga faktor tadi ada di setiap sudut segitiga. Ketika kita mengedepankan kehandalan dan kemudahan, maka biaya akan jadi mahal. Atau ketika ketika memilih murah tapi handal, biasanya untuk mengembangkannya jadi sangat sulit. Namun memilih platform yang mudah dengan biaya murah biasanya kurang handal.

     Biaya --- Handal
       \         /
        \       /
         \     /
          Mudah

Tapi sebenarnya ada solusi lebih baik, yaitu mencampurkannya. Ada beberapa bagian menggunakan Raspberry Pi, bagian lain Dongle Android, dan yang membutuhkan komputasi dan penyimpanan besar bisa menggunakan PC biasa. Oh iya, sebagian lagi pakai Wemos D1 Mini.

Begitulah kira-kira.

Iklan

Dikerjain Firefox

Kemarin saat asyik coding, mendadak script tidak bekerja. Tidak ada pesan error sama sekali. Yang terjadi seolah script sedang proses tapi tidak berkesudahan. Tampilan Firebug di Firefox cuma icon animasi proses, muter-muter melulu tanpa berakhir.

Saat saya coba jalankan script dari modul lain ternyata bisa berjalan dengan baik. Apakah script saya bermasalah? Saya pun meneliti satu per satu baris code yang terlibat. Sambil melotot saya coba cari apakah ada bugs di code, tapi tidak saya temukan.

Pusing nyariin bugs
Pusing nyariin bugs

Sebagai informasi, satu modul ini secara total ada 4000 lebih baris code, terdiri dari HTML, JavaScript, PHP dan CSS plus SQL. Kebayangkan ruwetnya? Sedangkan Firebug andalan tidak memberikan informasi error apa pun kecuali status proses yang muter-muter.

Saya coba eksekusi script dari CLI juga tidak ditemukan masalah. Pakai browser text lynx tidak pula keluar error. Me-restart Apache pun tidak menolong.

Tanpa saya sadari saya telah menghabiskan waktu terlalu lama mencari bugs yang mungkin terselip di ribuan code tersebut. Mungkin ada code yang “kesenggol”, demikian tim kami menyebutnya, dimana kadang terselip karakter tak diinginkan karena keyboard tanpa sengaja tertekan sehingga seringkali menyebabkan error.

Saya pun ambil jalan pintas dengan mencoba merender script dari browser Chrome. Apa yang terjadi? Ternyata script berjalan dengan baik!

Saya pun segera mematikan Firefox dan menjalankan ulang script. Dan ternyata script dapat berjalan baik di Firefox.

Kesimpulan sederhana saya adalah, browser Firefox jenuh dengan script saya. Mungkin dia bosan menjalankan code yang itu-itu saja, hahaha… Yang jelas, saya sempat panik karena script tidak bekerja. Namun kemudian saya senang karena ternyata saya “cuma” dikerjain Firefox.

LAMPP versus XAMPP

Sebagai developer aplikasi web, siapa sih yang tidak kenal LAMPP/XAMPP? Sekedar informasi LAMPP itu singkatan dari Linux, Apache, MySQL, PHP dan Perl, yang merupakan sebuah platform aplikasi berbasis web paling banyak digunakan di dunia. Sedangkan XAMPP adalah LAMPP versi MS Windows. Dengan XAMPP, instalasi, penggunaan dan pengelolaan platform ini menjadi mudah, semudah menekan tombol-tombol di XAMPP Control Panel.

Sejak menggunakan laptop pas-pasan untuk bekerja, daku sedikit ngomel tentang performanya. Rasanya kok lelet banget. Kalah dengan laptop lamaku yang hanya punya otak Intel Core 2 Duo dengan RAM cuma 2 GB tapi menggunakan Ubuntu 13.10. Daku pun penasaran, apakah benar laptop ATIV Book 9 Lite-ku ini memang performanya pas-pasan? Memalukan!

Lubuntu di Virtual Machine
Lubuntu di Virtual Machine

Maka daku pun mencoba melakukan uji coba sederhana, bagaimana performa laptopku ini jika menggunakan Linux? Maka daku pun men-setup Virtual Machine dengan Oracle VM VirtualBox untuk mesin Lubuntu 13.10 versi 32bit. Daku mengalokasikan Processor 2 Core, RAM 1280 MB dan Virtual Storage 20 GB. Setelah itu daku menginstall LAMP, Samba dan Open SSH via tasksel. Tidak lupa melakukan update OS dulu supaya semuanya lancar. Oh iya, sebagai tambahan, kita perlu install aplikasi dari VBoxGuessAddition supaya OS bisa berjalan dengan lancar di VirtualBox.

Supaya adil, daku memindahkan database dan aplikasi kami ke mesin virtual ini. Karena ukurannya besar, daku sampai ketiduran saat migrasi ke VM, maklum sudah jam 3 pagi, mata sudah 5 watt. Paginya dilanjut ngoprek dan semuanya selesai dengan baik.

Read More »

Uji Coba Sistem Appointment Rumah Sakit (Beta)

Mumpung dapat kesempatan uji coba server cloud selama 2 minggu, saya pun menggunakannya untuk uji coba sistem Appointment RS Awal Bros. Sistem yang sempat tertunda beberapa bulan ini statusnya masih beta, alias versi uji coba publik. Jadi jika ada yang mau membantu untuk uji coba, silakan mengunjungi URL berikut ini:

Sistem Appointment RS Awal Bros

Versi Beta Sistem Appointment
Versi Beta Sistem Appointment

Oh iya, tidak hanya untuk uji coba, sistem Appointment boleh diuji coba untuk di-hack. Jadi kami persilakan para hacker (termasuk Ping Si Hacker Ping) untuk mencoba membobolnya. Bukan karena sistem kami aman 100%, justru untuk mengetahui apakah ada lubang (hole) keamanan atau tidak. Jadi bagi para hacker, “Welcome”.

Tetapi untuk urusan hack-crack ini tidak berlaku bagi Bro Budi, Bro Adrian YW dan Limasindo loooh!!!

~~~
Terkait:
~ Memetakan Jaringan RS Awal Bros
~ Peta Panduan
~ Janjian Yuk?
~ Nyicipin Teknologi Cloud

Bergeser Ke Aplikasi Bergerak (Mobile)

Sekitar tahun 2003, saya pernah ngotot mengembangkan aplikasi berbasis web. Pada masa itu pengembangan aplikasi berbasis web bukanlah pilihan yang populer. Saat itu merupakan jaman keemasan bagi aplikasi desktop. Namun toh saya tetap memilih menggunakan teknologi web untuk mengembangkan Sisfo Kampus.

Tidak dinyana, pilihan platform berbasis web ini menjadi bekal tersendiri bagi saya, karena trend pengembangan aplikasi berpihak ke dunia internet berbasis web, area yang saya telah tekuni sejak 2003.

Namun belakangan ini aplikasi berbasis web saja tidak cukup. Aplikasi perlu bergeser ke piranti bergerak (mobile), dalam hal ini adalah tablet PC dan smartphone. Berdasarkan sebuah riset penelitian, pengapalan Tablet PC telah melampaui penjualan PC konvensional. Bahkan rasio kepemilikan smartphone telah begitu tinggi sehingga tidak jarang seseorang memiliki lebih dari 1 smartphone.

Dengan demikian bisa ditebak, pengembangan aplikasi harusnya menyesuaikan ke piranti bergerak sehingga aplikasi bisa diakses lebih banyak lagi pengguna. Lagi pula akses dari piranti bergerak ini meningkatkan aksesibilitas sehingga pengguna bisa bekerja kapan saja dan dimana saja nyaris tanpa penghalang berarti.

Read More »

Samsung Galaxy Tab

Hore… akhirnya kami memiliki Samsung Galaxy Tab 10.1. Walau pun sudah disetujui pembeliannya oleh BOD, tapi eksekusi pembelian baru bisa dilakukan hari Senin 26/09/2011 karena berbagai alasan. Dengan demikian kami bisa meneruskan pengembangan modul dokter yang dioptimasi untuk menggunakan Tablet PC.

Pertama kali pakai SGT 10.1 kesannya keren banget. Android Honeycomb 3.0 jauh banget dari Froyo 2.2. Banyak peningkatan yang daku rasakan. Apalagi dengan prosesor SGT yang mumpuni dan gegas. SGT tidak nampak keberatan saat menjalankan beberapa aplikasi. Video berukuran lebih dari 1.5 GB dapat dimainkan tanpa masalah.

Jadi bersemangat nih mengembangkan aplikasinya. Asal jangan terdistraksi untuk main ya? Hehehe…