Desain UI/UX Nurse Call System 2019

Sebenarnya ide ini sudah dicoba untuk dikembangkan sejak 2015-2016, namun sayangnya belum sempat terealisasi dan sampai sekarang masih mangkrak (baca: Demo Prototype Nurse Call System). Hingga akhirnya saya mencoba mendesain ulang UI/UX untuk Nurse Call System tersebut tentu dengan desain yang lebih modern. Di bawah ini adalah contoh videonya :

Rencananya piranti ini dibangun menggunakan Raspberry Pi Zero W dengan display TFT 5″ resolusi tinggi ditambah dengan kontroler untuk beberapa tombol dan rotary switch. Rotary switch dikelilingi oleh LED RGB yang akan menyala sesuai kebutuhan, hijau jika keadaan baik, merah jika ada panggilan atau emergency, biru jika pasien melakukan pemesanan, oranye jika ada panggilan komunikasi dari perawat di nurse station, dan lain-lain. Oh iya, tentu saja tombol tekan konvensional tetap disertakan. Gunanya untuk pemanggilan darurat tanpa melalui antarmuka piranti ini.

Baca selebihnya »

Iklan

Merapikan Penyimpanan Source Code

Rupanya saya sudah mulai harus merapikan penyimpanan source code dari proyek-proyek elektronika saya. Kenapa? Karena saat ini saya coding di beberapa device, yaitu:

  1. MacBook Air. Ada beberapa proyek yang saya program dari MBA ini. Sayangnya MBA pernah bermasalah dengan Wemos D1 Mini yang menggunakan driver CH340. Ini adalah chip yang bertanggung jawab menghubungkan komputer dengan Wemos D1 Mini sehingga kita bisa meng-upload program ke Wemos. Kalau Wemos D1 mini dicolokkan ke MBA, maka laptop langsung crash. Jadi saya tidak menggunakan MBA lagi untuk coding proyek elektronika, karena ternyata Arduino Uno versi cloning juga menggunakan CH340. Baru kemudian saya nemu solusi ketidakcocokan MacOS dengan CH340. Dan ironisnya solusi ini baru ada setelah beberapa tahun. Namun terlambat, saya sudah banyak coding di device lain.
  2. Laptop Acer kuno. Ini adalah laptop kuno saya. Sudah pensiun. Source code sudah saya backup ke harddisk external.
  3. Raspberry Pi. Ya… saya memang menggunakan Raspi untuk coding beberapa proyek, termasuk salah satunya adalah Radio Touchscreen. Masalahnya saya aktif coding di 2 Raspberry Pi. Satu Raspi dengan casing hitam dimana saya banyak coding untuk Arduino, Wemos, Nano, Micro, dll. Sedangkan satu Raspi yang telanjang dimana saya gunakan untuk coding beberapa proyek yang membutuhkan modul external seperti display TFT Touchscreen, dll. Untungnya saya tidak menggunakan 2 Raspi lain sebagai basis development. Saya masih punya Raspi Zero W dan Raspi model B versi pertama. Keduanya belum sempat saya oprek, hehehe…
  4. CHIP. Belakangan saya sering ngoprek CHIP. Sejatinya saya senang ngoprek CHIP ini. Sayangnya ngoprek CHIP ini seperti tidak punya masa depan, karena CHIP versi original sudah tidak dijual oleh NextThingCo. Sekarang NTC jualan PocketCHIP dan CHIP Pro saja. Di websitenya cuma ditulis kalau CHIP akan hadir kembali dengan CPU GR8. Tapi sudah lama berselang tidak keluar juga. Kemarin dapat info kalau ada startup baru yang membuat cloning CHIP, yaitu: Popcorn Computer. Konon pinout-nya sama dengan CHIP. Namun sayangnya Popcorn Computer ini terlalu mahal. Di situ tertulis $99 untuk 2 buah. Beda banget dengan CHIP yang cuma $9.
  5. Notebook Asus. Saya juga coding di laptop ini. Tidak banyak sih. Secara ini laptop milik kantor. Seingat saya, saya coding  Radio Mini dengan Wemos D1 Mini di laptop ini. Oh iya, hampir lupa, antrian wemos dan IoT dengan wemos ada di sini juga. Ini gara-gara MBA saya tidak bisa berkomunikasi dengan Wemos.

Nah, banyak kan? Belakangan saya sering bingung, code proyek ini dimana ya? Saya harus mengingat alasan-alasan mengapa saya harus coding di salah satu perangkat saya di atas, baru kemudian saya teringat. Hahaha…

Baca selebihnya »

Bingung Memilih Platform

Seorang teman meminta didesainkan sebuah sistem antrian. Masalahnya, sekarang platform yang tersedia banyak. Ini yang membuat kita jadi bingung menentukan mau pakai platform apa dan apakah platform tersebut efisien dari segi biaya?

Contohnya ya sistem antrian ini, opsinya bisa pakai PC biasa yang mahal; pakai Raspberry Pi yang lebih murah; pakai dongle Android yang praktis; atau murni mendesain elektronikanya? Masalahnya adalah harus pas antara biaya, kemudahan dan kehandalan. Seperti sebuah segitiga, ketiga faktor tadi ada di setiap sudut segitiga. Ketika kita mengedepankan kehandalan dan kemudahan, maka biaya akan jadi mahal. Atau ketika ketika memilih murah tapi handal, biasanya untuk mengembangkannya jadi sangat sulit. Namun memilih platform yang mudah dengan biaya murah biasanya kurang handal.

     Biaya --- Handal
       \         /
        \       /
         \     /
          Mudah

Tapi sebenarnya ada solusi lebih baik, yaitu mencampurkannya. Ada beberapa bagian menggunakan Raspberry Pi, bagian lain Dongle Android, dan yang membutuhkan komputasi dan penyimpanan besar bisa menggunakan PC biasa. Oh iya, sebagian lagi pakai Wemos D1 Mini.

Begitulah kira-kira.

Dikerjain Firefox

Kemarin saat asyik coding, mendadak script tidak bekerja. Tidak ada pesan error sama sekali. Yang terjadi seolah script sedang proses tapi tidak berkesudahan. Tampilan Firebug di Firefox cuma icon animasi proses, muter-muter melulu tanpa berakhir.

Saat saya coba jalankan script dari modul lain ternyata bisa berjalan dengan baik. Apakah script saya bermasalah? Saya pun meneliti satu per satu baris code yang terlibat. Sambil melotot saya coba cari apakah ada bugs di code, tapi tidak saya temukan.

Pusing nyariin bugs
Pusing nyariin bugs

Sebagai informasi, satu modul ini secara total ada 4000 lebih baris code, terdiri dari HTML, JavaScript, PHP dan CSS plus SQL. Kebayangkan ruwetnya? Sedangkan Firebug andalan tidak memberikan informasi error apa pun kecuali status proses yang muter-muter.

Saya coba eksekusi script dari CLI juga tidak ditemukan masalah. Pakai browser text lynx tidak pula keluar error. Me-restart Apache pun tidak menolong.

Tanpa saya sadari saya telah menghabiskan waktu terlalu lama mencari bugs yang mungkin terselip di ribuan code tersebut. Mungkin ada code yang “kesenggol”, demikian tim kami menyebutnya, dimana kadang terselip karakter tak diinginkan karena keyboard tanpa sengaja tertekan sehingga seringkali menyebabkan error.

Saya pun ambil jalan pintas dengan mencoba merender script dari browser Chrome. Apa yang terjadi? Ternyata script berjalan dengan baik!

Saya pun segera mematikan Firefox dan menjalankan ulang script. Dan ternyata script dapat berjalan baik di Firefox.

Kesimpulan sederhana saya adalah, browser Firefox jenuh dengan script saya. Mungkin dia bosan menjalankan code yang itu-itu saja, hahaha… Yang jelas, saya sempat panik karena script tidak bekerja. Namun kemudian saya senang karena ternyata saya “cuma” dikerjain Firefox.

LAMPP versus XAMPP

Sebagai developer aplikasi web, siapa sih yang tidak kenal LAMPP/XAMPP? Sekedar informasi LAMPP itu singkatan dari Linux, Apache, MySQL, PHP dan Perl, yang merupakan sebuah platform aplikasi berbasis web paling banyak digunakan di dunia. Sedangkan XAMPP adalah LAMPP versi MS Windows. Dengan XAMPP, instalasi, penggunaan dan pengelolaan platform ini menjadi mudah, semudah menekan tombol-tombol di XAMPP Control Panel.

Sejak menggunakan laptop pas-pasan untuk bekerja, daku sedikit ngomel tentang performanya. Rasanya kok lelet banget. Kalah dengan laptop lamaku yang hanya punya otak Intel Core 2 Duo dengan RAM cuma 2 GB tapi menggunakan Ubuntu 13.10. Daku pun penasaran, apakah benar laptop ATIV Book 9 Lite-ku ini memang performanya pas-pasan? Memalukan!

Lubuntu di Virtual Machine
Lubuntu di Virtual Machine

Maka daku pun mencoba melakukan uji coba sederhana, bagaimana performa laptopku ini jika menggunakan Linux? Maka daku pun men-setup Virtual Machine dengan Oracle VM VirtualBox untuk mesin Lubuntu 13.10 versi 32bit. Daku mengalokasikan Processor 2 Core, RAM 1280 MB dan Virtual Storage 20 GB. Setelah itu daku menginstall LAMP, Samba dan Open SSH via tasksel. Tidak lupa melakukan update OS dulu supaya semuanya lancar. Oh iya, sebagai tambahan, kita perlu install aplikasi dari VBoxGuessAddition supaya OS bisa berjalan dengan lancar di VirtualBox.

Supaya adil, daku memindahkan database dan aplikasi kami ke mesin virtual ini. Karena ukurannya besar, daku sampai ketiduran saat migrasi ke VM, maklum sudah jam 3 pagi, mata sudah 5 watt. Paginya dilanjut ngoprek dan semuanya selesai dengan baik.

Baca selebihnya »

Uji Coba Sistem Appointment Rumah Sakit (Beta)

Mumpung dapat kesempatan uji coba server cloud selama 2 minggu, saya pun menggunakannya untuk uji coba sistem Appointment RS Awal Bros. Sistem yang sempat tertunda beberapa bulan ini statusnya masih beta, alias versi uji coba publik. Jadi jika ada yang mau membantu untuk uji coba, silakan mengunjungi URL berikut ini:

Sistem Appointment RS Awal Bros

Versi Beta Sistem Appointment
Versi Beta Sistem Appointment

Oh iya, tidak hanya untuk uji coba, sistem Appointment boleh diuji coba untuk di-hack. Jadi kami persilakan para hacker (termasuk Ping Si Hacker Ping) untuk mencoba membobolnya. Bukan karena sistem kami aman 100%, justru untuk mengetahui apakah ada lubang (hole) keamanan atau tidak. Jadi bagi para hacker, “Welcome”.

Tetapi untuk urusan hack-crack ini tidak berlaku bagi Bro Budi, Bro Adrian YW dan Limasindo loooh!!!

~~~
Terkait:
~ Memetakan Jaringan RS Awal Bros
~ Peta Panduan
~ Janjian Yuk?
~ Nyicipin Teknologi Cloud

Bergeser Ke Aplikasi Bergerak (Mobile)

Sekitar tahun 2003, saya pernah ngotot mengembangkan aplikasi berbasis web. Pada masa itu pengembangan aplikasi berbasis web bukanlah pilihan yang populer. Saat itu merupakan jaman keemasan bagi aplikasi desktop. Namun toh saya tetap memilih menggunakan teknologi web untuk mengembangkan Sisfo Kampus.

Tidak dinyana, pilihan platform berbasis web ini menjadi bekal tersendiri bagi saya, karena trend pengembangan aplikasi berpihak ke dunia internet berbasis web, area yang saya telah tekuni sejak 2003.

Namun belakangan ini aplikasi berbasis web saja tidak cukup. Aplikasi perlu bergeser ke piranti bergerak (mobile), dalam hal ini adalah tablet PC dan smartphone. Berdasarkan sebuah riset penelitian, pengapalan Tablet PC telah melampaui penjualan PC konvensional. Bahkan rasio kepemilikan smartphone telah begitu tinggi sehingga tidak jarang seseorang memiliki lebih dari 1 smartphone.

Dengan demikian bisa ditebak, pengembangan aplikasi harusnya menyesuaikan ke piranti bergerak sehingga aplikasi bisa diakses lebih banyak lagi pengguna. Lagi pula akses dari piranti bergerak ini meningkatkan aksesibilitas sehingga pengguna bisa bekerja kapan saja dan dimana saja nyaris tanpa penghalang berarti.

Baca selebihnya »