Atmel ATTINY817 Xplained MINI

Dulu saya suka sekali ngoprek ATTiny, terutama ATtiny85 dan ATTiny84. Menurut saya, chip-chip ini sangat sederhana dan mudah dipelajari. Kalau mau bikin piranti elektronika simpel (embedded) bisa menggunakan chip kecil ini. Selain murah, juga bisa praktis & ringkas.

Walau pun demikian, ATTiny memang punya keterbasan, terutama di spesifikasinya. Tapi memang sebenarnya Attiny tidak ditujukan untuk aplikasi yang kompleks. Attiny biasanya digunakan untuk mengendalikan tugas-tugas ringan yang spesifik. Tidak seperti chip yang kompleks seperti ATMega328 yang digunakan di Arduino versi awal atau SAM3X8E yang menggunakan arsitektur ARM yang bisa multi purpose dengan kecepatan tinggi.

Terakhir saya sempat ngoprek Radio dengan Attiny85 dan berakhir mentok karena keterbatasan memori-nya yang cuma 8 KB. Itu pun sudah berkurang menjadi sekitar 6 KB karena digunakan untuk bootloader. Dan saya pun kehabisan memori karena harus menggunakan beberapa library, hiks…

Lalu beberapa waktu lalu saya dapat email dari Atmel tentang kehadiran beberapa seri ATtiny, yaitu ATtiny417, ATtiny814, ATtiny816 dan ATtiny817. Saya pun memesan ATtiny817 XMini yang merupakan evaluation board untuk ATtiny817.

Apa sih istimewanya ATtiny817 ini? Yang jelas, ATtiny817 ini tetap minimalis dengan memori flash cuma 8 KB, SRAM 512 byte, EEPROM 128 byte, kecepatan clock meningkat sampai 20 MHz/20 MIPS, punya 2 buah timer/counter 10-bit, tetap menggunakan 8-bit DAC, analog comparator, accurate internal oscillator dan multiple calibrated voltage references. Dan yang menarik karena ada Peripheral Touch Controller (PTC), custom logic, 10-bytes unique ID dan bentuk packagingnya 24 pin. Detail spesifikasi bisa dilihat di: ATTINY817 (www.microchip.com) dokumen komplit: Datasheet.

Nah, Evaluation Kit ATtiny817 Xplained Mini (Xmini) yang saya beli ini sudah dilengkapi debugger terintegrasi, 2 buah tombol kapasitif (terintegrasi QTouch Peripheral Touch Controller), Auto-ID, akses ke semua sinyal ATtiny817, 1 LED status berwarna hijau, 1 tombol mekanik, virtual port COM (CDC), ditenagai USB, punya pin yang kompatibel dgn Arduino, header SPI. Tuh lihat saja di foto di atas. Jadi mudah ngopreknya karena pin jadi kompatibel dgn Arduino UNO.

Jujur saja saya masih belum tau mau dibikin apa, dan kapan ngopreknya, secara saat ini lagi sibuk dengan pekerjaan. Semoga saja dalam waktu dekat bisa segera ngoprek lagi. Soalnya yang menarik dari Attiny817 ini adalah adanya 2 tombol kapasitifnya. Sepertinya bisa luas aplikasinya.

Iklan

Bingung Memilih Platform

Seorang teman meminta didesainkan sebuah sistem antrian. Masalahnya, sekarang platform yang tersedia banyak. Ini yang membuat kita jadi bingung menentukan mau pakai platform apa dan apakah platform tersebut efisien dari segi biaya?

Contohnya ya sistem antrian ini, opsinya bisa pakai PC biasa yang mahal; pakai Raspberry Pi yang lebih murah; pakai dongle Android yang praktis; atau murni mendesain elektronikanya? Masalahnya adalah harus pas antara biaya, kemudahan dan kehandalan. Seperti sebuah segitiga, ketiga faktor tadi ada di setiap sudut segitiga. Ketika kita mengedepankan kehandalan dan kemudahan, maka biaya akan jadi mahal. Atau ketika ketika memilih murah tapi handal, biasanya untuk mengembangkannya jadi sangat sulit. Namun memilih platform yang mudah dengan biaya murah biasanya kurang handal.

     Biaya --- Handal
       \         /
        \       /
         \     /
          Mudah

Tapi sebenarnya ada solusi lebih baik, yaitu mencampurkannya. Ada beberapa bagian menggunakan Raspberry Pi, bagian lain Dongle Android, dan yang membutuhkan komputasi dan penyimpanan besar bisa menggunakan PC biasa. Oh iya, sebagian lagi pakai Wemos D1 Mini.

Begitulah kira-kira.

Demo Prototype Nurse Call System

Seorang teman main game Clash of Kings suatu saat menghubungi saya. Dia bertanya apakah saya bisa membuatkan desain Nurse Call System? Setelah menggali lebih dalam tentang requirement-nya, saya pun menjawab bisa (baca: Proyek dengan Raspberry Pi). Saya pun mengajukan usul sebaiknya menggunakan Raspberry Pi.

Desain elektronikanya tidak terlalu sulit karena hanya terdiri dari beberapa tombol, LED dan beberapa komponen pasif. Yang lebih menyita waktu adalah bagian software-nya. Karena ada beberapa bagian software yang dibuat dengan Python dan PHP. Kalau mau disebut lebih lengkap bahasa yang terlibat adalah: Python, PHP, SQL, JavaScript, CSS. Banyak kan? Hehehe…

Tempo hari saya sudah mendemokan workflow dari Nurse Call System ini lengkap dengan modul tombol yang dikendalikan oleh Raspberry Pi. Kali ini saya membuat video di Youtube untuk mendemokan workflow tersebut. Tapi di video ini saya tidak menggunakan modul tombol Raspberry Pi. Saya mensimulasikan secara software saja. Maklum saya belum membuat casing tombol yang baik (dan bagus). Berikut videonya:

Semoga video tersebut bisa sedikit menjelaskan alur dari Nurse Call System.

Proyek Dengan Raspberry Pi

Setelah 4 tahun memiliki Raspberry Pi rasanya saya hanya mengopreknya sekali hanya untuk menjadikannya radio internet. Setelah itu saya menyimpannya kembali ke dalam box-nya di laci.

Namun kemudian ada teman yang meminta bantuan untuk mendesainkan sebuah sistem dengan Arduino. Karena sistem tersebut saya nilai kompleks, maka saya menyarankan menggunakan Raspberry Pi. Awalnya teman rada ragu menggunakan Raspberry Pi. Selain lebih mahal, pengoperasian & pemrograman Raspberry Pi lebih ruwet dari pada Arduino. Namun saya berhasil meyakinkan kalau menggunakan Raspberry Pi justru lebih praktis dengan banyak kelebihan fitur yang bisa ditawarkan ke client. Dan saya berjanji minggu depan sudah menyelesaikan POC (proof of concept) desain saya.

raspberry_pi_2016
Headless Raspberry Pi

Setelah itu barulah saya ngebut belajar IO Raspberry Pi dan pemrograman Python. Syukurlah tidak sulit. Tutorial juga banyak tersedia di internet. Bahkan mengirimkan data ke server bisa dilakukan dengan mudah. Untuk koneksi ke server saya membeli dongle Wi-Fi dari Mi yang low power.

Sedikit solder-solder komponen pasif, LED dan switch jadilah sebuah unit demo sederhana. Pada hari H saya mendemokannya pada teman saya dan mereka antusias sekali dengan desain tersebut.

Yang lucu adalah karena demo dilakukan di sebuah mall yang tempo hari sempat dapat ancaman bom (gubrak). Jadi saya pun mengemas Raspberry Pi dan pernik-perniknya di sebuah kotak makan kecil dan menyelipkannya di kantong depan tas notebook. Coba saja seandainya saya membawanya dengan kotak mika transparan seperti yang biasa saya lakukan, pasti akan mengundang kehebohan tersendiri saat diperiksa satpam. Hehehe…

Mungkin lain kali saya akan menuliskan lebih detail tentang proyek tersebut saat semuanya sudah jadi.

Jam digital kecil. Tinggal hubungkan ke baterai. Bisa didesain casing sesuai kreativitas.

Jam Digital Kecil

Sudah beberapa bulan yang lalu saya iseng order jam digital dari dx.com, tapi baru saya coba minggu lalu. Saya tertarik karena bentuknya yang kecil dan telanjang alias tidak pakai casing/box. Jadi bisa kita modifikasi sendiri sesuai kreativitas. Oh iya, walau pun bentuknya kecil, jam ini punya beberapa fitur seperti penampilan tanggal, suhu sekitar dan baterai RTC untuk penghitungan waktu, sehingga walau pun sumber daya mati, jam ini tetap menghitung waktu secara internal.

Jadi ingat sudah beberapa kali membuat jam digital dengan Arduino dan Embedded Arduino. Sayangnya sekarang sedang malas ngoprek elektronika, hehehe… Berikut foto-foto iseng jam digital tersebut:

Jadi kepikiran untuk bikin pin yang ada jamnya. Atau dijahit di tas saja? Tapi kalau di bandara bisa dikira bom waktu ya? Hehehe… Anda punya ide lain?

Tas Ransel Isi Harta Karun

Rupanya sudah setahun lebih daku tidak ngoprek elektronika & mikrokontroler. Sejak wafatnya Ayahanda tercinta November 2012, praktis kegiatan ngoprekku meredup sampai akhirnya sama sekali tidak ngoprek lagi. Namun ketika Sabtu kemarin daku ngobrol dengan Make.do.nia yang memintaku terlibat dalam kegiatan mereka, gairah ngoprekku bangkit lagi. Maka daku pun mengambil tas ransel yang tertinggal di Bekasi.

Tas ransel berisi harta karun
Tas ransel berisi harta karun

Tas ini berisi peralatan & komponen elektronika. Bagiku, isinya adalah harta karun.

Membongkar harta karun
Membongkar harta karun

Sebagian lagi tercecer di kabinet & kontainer. Perlu waktu untuk mengumpulkan dan menatanya lagi. Terhenyak ketika daku menyadari ada beberapa komponen yang menarik yang sangat menantang untuk dioprek.

Menantang untuk dioprek
Menantang untuk dioprek

Tidak luput prototype “Say it with Light!” Sayangnya adaptor tertinggal di Bekasi. Jadi belum bisa menyalakannya lagi. Tapi ke depannya bisa dioprek untuk dijadikan jam 8×8. Angka jam & menit dibuat scroll saja biar irit, hehehe…

Say it with Light!
Say it with Light!

Kali ini daku ngoprek Arduino dengan Windows 8.1. Ternyata lebih ribet karena harus install driver. Bandingkan dengan Linux Ubuntu yang tinggal colok sudah bisa jalan. Dan ternyata kabel data USB bisa jadi masalah. Kabel USB bawaan Arduino Nano yang tipis ternyata tidak bisa bekerja dengan baik. Begitu diganti kabel USB yang lebih baik langsung bisa bekerja dengan baik. Perasaan dulu di Ubuntu pakai kabel ini tidak masalah.

Ngoprek LCD 16×2
Ngoprek LCD 16×2

Rencananya besok mau bikin Garduino dengan Arduino Nano. Dipasang di breadboard saja supaya saat acara “Show and tell” di Make.do.nia bisa lebih mudah dipahami. Detail oprekan akan daku tuliskan di www.setiodewo.com.

Benarkah e-KTP Tidak Boleh Sering-sering Difotocopy?

Menurut Mendagri Gamawan Fauzi, e-KTP tidak bisa diperlakukan seperti KTP biasa. Lebih lanjut beliau menyebutkan kalau e-KTP jangan sering-sering difotocopy apalagi di-hekter (di-staples) karena akan merusak chip di dalam e-KTP (sumber: Mendagri: e-KTP Jangan Terlalu Sering Di-fotocopy dan Di-hekter). Tapi apakah benar demikian?

Beberapa praktisi IT & elektronika tentu tidak sependapat dengan Mendagri, termasuk salah satunya yang dimuat di: “Praktisi IT Bantah E-KTP Rusak Akibat Fotocopy”. Secara pribadi saya juga meragukan pernyataan Mendagri Gamawan. Jika di-hekter (stapples) mungkin bisa saja merusaknya secara fisik chip. Namun sering-sering mem-fotocopy belum terbukti bisa merusakkan chip dalam e-KTP. Kecuali jika chip di dalamnya tidak memenuhi standard industri elektronika.

Lantas kekhawatiran apa yang mengakibatkan timbulnya himbauan untuk tidak sering-sering memfotocopy e-KTP? Untuk diketahui, mesin fotocopy memang mengeluarkan cahaya & panas dalam proses duplikasi. Tetapi cahaya yang digunakan untuk proses saya pikir tidak akan mudah merusakkan chip di dalam e-KTP. Karena (tentu saja) chip dalam e-KTP tidak sensitif cahaya seperti EPROM yang itu pun perlu sinar ultraviolet yang kuat. Dan sekedar informasi, EPROM tidak lagi banyak digunakan dan diproduksi.

Jikalau yang dikhawatirkan adalah panas dari mesin fotocopy, mungkin bisa saja. Tapi panas terbesar bukan diterima oleh obyek yang diduplikasi, tetapi justru pada kertas copy-nya. Dan lagi kebanyakan chip elektronika didesain mampu bekerja pada rentang suhu yang lebar. Rentang yang jamak diadopsi dalam industri chip adalah antara -40° sampai dengan 85° Celcius. Jika mesin fotocopy menghasilkan panas di atas 85°, mungkin memang bisa merusakkan chip e-KTP.

Namun jika memang itu adalah himbauan dari Mendagri, walau pun tidak dirilis secara resmi/nasional, mungkin ada alasan khusus yang memang ada unsur teknisnya. Saya berharap himbauan tersebut bukan karena penggunaan chip yang di bawah standard industri.