Upgrade Asus TUF FX505DD Tahap 2

Asus dengan seri TUF FX505DD berhasil membuat saya penasaran dengan kemampuan upgrade di laptop-nya. Setelah beberapa hari menunda upgrade tahap 2 dengan pertimbangan seberapa perlu saya harus meng-upgrade RAM-nya, akhirnya saya nekad juga untuk meng-upgrade-nya.

Hari ini paket RAM PC4-2666V dari V-Gen dengan kapasitas 16GB mendarat di kantor. Kebetulan saya mendapatkan RAM ini dengan chip yang sama dengan RAM 8GB bawaan laptop, yaitu SK hynix. Jadi seharusnya tidak ada masalah kompatibilitas. Beda kapasitas tidak masalah. Yang penting bisa jadi dual channel.

Dan ternyata benar, ketika dipasang langsung dikenali dengan baik oleh BIOS dan selama beberapa saat saya pakai tidak ada masalah. Tidak ada hang karena masalah incompatibility. Aman.

Dengan terpenuhinya 2 slot RAM di TUF FX505DD ini berarti prosesor AMD Ryzen 5 3550H dapat bekerja secara optimal karena dapat memanfaatkan dua channel RAM. Dan ternyata yang saya rasakan memang lebih cepat. Loading beberapa aplikasi serasa lebih cepat. Dan perpindahan antar aplikasi dapat berlangsung lebih cepat.

Sayangnya saya tidak melakukan benchmark ketika RAM cuma 8GB dengan setelah di-upgrade menjadi dual channel 24GB. Tapi percaya saja deh, terasa perbedaannya. Ya walau pun tidak ilmiah, tapi saya merasakan perbedaannya, hehehe…

Jadi walau pun laptop ini bukanlah laptop dengan prosesor tercepat, namun jadi terasa gegas dan gesit. Lebih nyaman untuk dipakai bekerja. Apalagi untuk programming yang butuh cukup banyak resources.

Sayangnya ya kemampuan upgrade laptop Asus ini cuma di storage (SSD NVMe atau pun SATA) dan RAM. Dan ini sudah saya lakukan semua. Untunglah laptop ini tidak mampu di-upgrade prosesornya. Seandainya saja bisa upgrade, tentu saya bakal sulit tidur karena memendam rasa penasaran untuk upgrade, hahaha…

Iklan

Memonitor Beban Kerja Laptop

Sebenarnya tulisan ini cuma iseng. Seolah ingin membenarkan keinginan saya untuk melakukan upgrade fase 2 (lihat tulisan sebelumnya tentang upgrade fase 1). Ya memang rada gatel juga sih pengen segera bisa upgrade fase 2, yaitu untuk menambah RAM di laptop Asus TUF Gaming FX505DD saya. Hanya saja setelah melihat di toko online ternyata harga RAM SO-DIMM DDR4 PC4 — 2666MHz itu ternyata mahal. Apalagi dari merek terkenal. Padahal sudah ngiler lihat yang 16GB.

Nah belakangan ini saya mencoba menahan diri dan menyelidiki apakah benar saya membutuhkan upgrade RAM ini? Sementara jari sudah tidak tahan menekan tombol “BELI”, hahaha…

Sebenarnya saya belum 100% menggunakan laptop TUF ini untuk bekerja karena untuk pekerjaan kantor saya masih menggunakan MacBook Pro. Tapi jika kelak dibutuhkan untuk ikutan kompetisi atau tiba-tiba kumat semangat ngopreknya, TUF ini harus siap menanggung beban kerja yang berat. Mungkin berlebihan ya? Tapi mungkin juga tidak, secara saya bakal banyak menggunakan VM (Virtual Machine) atau AVD (Android Virtual Device).

Rencananya dalam beberapa hari ke depan ini saya akan memonitor beban kerja laptop ini untuk beberapa tugas normal sampai ke yang berat. Untuk memonitor ini diperlukan beberapa program sehingga saya bisa melihat seberapa utilisasi laptop, apa saja yang berjalan di laptop sampai ke suhu laptop. Berikut ini adalah beberapa aplikasi yang sudah saya install:

  1. htop. Ini adalah sebuah aplikasi ringan berbasis teks yang dijalankan di terminal. Fungsinya untuk memantau utilisasi CPU, RAM dan SWAP. Terlihat pula daftar program yang sedang berjalan beserta informasi penggunaan CPU dan RAM oleh aplikasi ini. Sebenarnya tidak hanya itu, aplikasi ini sudah dibekali fitur mumpuni semacam pencarian task, membunuh task, dll. Tidak hanya simple tapi sangat powerful. Sayangnya itu belum cukup karena aplikasi ini tidak bisa memonitor suhu, storage dan network.
  2. System Monitor. Kalau ini adalah aplikasi bawaan dari Ubuntu Desktop. Karena tampilannya grafis, maka tampak lebih menyenangkan untuk dilihat. Fitur unggulannya adalah monitor CPU, Memori & Swap, serta jumlah dan kecepatan komunikasi data. Semua ditampilkan dalam bentuk grafis yang menyenangkan untuk dilihat. Di samping fitur utama ini ada fitur tambahan seperti monitor proses apa saja yang sedang berjalan dan file system. Cukup lengkap ya? Di samping tampilannya lebih nyaman untuk dilihat.
  3. S-tui (Stress Terminal UI). Saya baru menemukan aplikasi keren ini. Aplikasi ini seperti htop yang berjalan di terminal dalam mode teks. Walau pun demikian, saya merasa aplikasi ini layak diinstall untuk mendampingi htop dan System Monitor karena aplikasi ini mempunya fitur untuk memonitor frekuensi CPU, utilisasi CPU, dan yang terpenting bisa memonitor temperatur CPU. Aplikasi ini mencoba untuk menampilkan data ini dalam bentuk grafis tapi dalam mode teks. Jadi bisa berjalan tanpa terlalu membebani laptop secara berlebihan. Sayangnya saya agak curiga dengan “Top Freq” di mana di sini tertulis 2100 MHz padahal “Cur Freq” (current frequency) bisa saja melebihi Top Freq. Ya memang base clock Ryzen 5 3550H ini di 2100 MHz. Tapi maksimal frekuensi seharusnya bisa sampai 3700 MHz yang mana kalau saya lihat belum pernah mencapai frekuensi ini (baca: AMD Ryzen 5 3550H).

Saat ini baru 3 aplikasi ini yang saya install. Sepertinya sih sudah cukup untuk memonitor beban kerja laptop TUF ini. Saat monitoring ini saya menggunakan mode Performance di manajemen daya SlimBook. Pada mode Performance ini lebih sering terdengar kipas lebih kencang berputar dibandingkan mode Energy Saving, hehehe…

Sebenarnya untuk menjustifikasi perlu tidaknya upgrade RAM itu harus dilihat dari utilisasi RAM dan Swap ya? Apakah cukup atau tidak? Atau ada parameter lain?

Yang jelas untuk prosesor AMD Ryzen itu seharusnya dikonfigurasi untuk RAM dual channel supaya bisa keluar semua potensi performanya. Jadi tidak melulu tentang berapa jumlah kapasitasnya, tapi lebih cenderung ke dual channel-nya. Mungkin saya hanya perlu upgrade ke 4GB yang lebih murah untuk mengaktivasi dual channel-nya. Walau pun dalam hati saya merasa tanggung, apa tidak lebih baik sekalian ke 16GB? Hahaha…

Seberapa Cepat SSD M.2 NVMe 256 GB V-GeN?

Kemarin saya membeli SSD NVMe M.2 dengan kapasitas 256 GB dari V-Gen untuk meng-upgrade laptop Asus TUF FX505DD saya. Setelah upgrade ini laptop menjadi jauh lebih gegas, baik saat booting mau pun saat menjalankan aplikasi-aplikasi besar.

Namun kemudian saya jadi penasaran, seberapa cepat SSD ini? Kalau harddisk SATA dengan putaran 7200 RPM itu rata-rata kecepatan baca dan tulisnya 80-160 MB/s. Lalu seberapa cepat SSD sehingga bisa meningkatkan performa laptop secara keseluruhan? Seberapa jauh beda kecepatannya?

Sebenarnya ada beberapa tipe SSD, misalnya tipe SSD dengan konektor SATA yang biasanya dapat langsung menggantikan posisi harddisk 2.5″ di laptop karena sama-sama menggunakan konektor SATA. Biasanya SSD SATA ini kecepatan baca dan tulisnya antara 400-600 MB/s.

Lalu ada juga SSD versi M.2 yang bisa memiliki kecepatan sampai kurang lebih 1.800 MB/s. Sedangkan M.2 yang menggunakan teknologi NVMe bisa melesat jauh kecepatannya sampai 2.500-3.500 MB/s. Wow, itu berarti lebih dari 20x kecepatan harddisk.

Nah, SSD V-GeN yang saya beli ini tertulis kecepatan bacanya sampai 3.500 MB/s dan kecepatan tulisnya sampai 2.500 MB/s. Benarkah SSD ini bisa mencapai kecepatan tersebut? Mari kita coba benchmark kecepatannya.

Oh ya, karena saya menggunakan Ubuntu, maka cara yang digunakan adalah dengan cara standar Ubuntu. Programnya sudah bawaan standar Ubuntu, yaitu dd dan hdparm.

Pertama adalah untuk mengukur kecepatan baca dengan perintah hdparm. Ternyata kecepatan bacanya mencapai 3.649,54 MB/s. Kecepatan baca ini melebihi klaim V-GeN yang menuliskan kecepatannya sampai 3.500 MB/s.

Kedua adalah untuk mengukur kecepatan tulis dengan perintah dd yang menuliskan file sebesar 1 GB berisi 0. Ternyata kecepatannya cuma 765 MB/s. Jauh lebih rendah dibandingkan klaim V-Gen yang menuliskan kecepatan bacanya sampai 2.500 MB/s. Dari beberapa kali uji coba tulis rentang kecepatannya antara 650-870 MB/s. Namun tidak pernah lebih dari 1.000 MB/s.

SSD V-Gen ini memang bukan yang mahal. Bahkan saya membeli merek V-GeN ini karena yang paling murah dibanding SSD NVMe merek lain. Sepertinya perlu coba beli merk lain yang lebih terkenal yang klaimnya punya kecepatan baca 3.500 MB/s dan tulis 3.000 MB/s.

Tapi menurut saya SSD V-GeN ini sudah jauh lebih baik dari pada harddisk yang sepertinya sekarang sudah mulai ditinggalkan. Bahkan sekarang sudah banyak laptop segmen entry level mulai menggunakan SSD.

Jika laptop Anda masih menggunakan harddisk, cobalah upgrade ke SSD. Percayalah, meng-upgrade dari Harddisk ke SSD adalah tindakan yang benar. Bahkan sangat direkomendasikan.

Upgrade Asus TUF FX505DD Tahap 1

AMD Ryzen 5 3550H di laptop Asus TUF FX505DD bukanlah prosesor yang lambat. Seharusnya dia cepat. Namun di laptop TUF FX505DD ini terasa lambat performanya. Ada 2 hal yang membuatnya jadi lambat, yaitu:

  1. Harddisk 1 TB. Menjalankan sistem operasi Microsoft Windows dari harddisk menjadikan laptop terasa sangat lambat. Apalagi jika harus melakukan pekerjaan yang berat yang butuh akses ke storage. Contoh paling terasa adalah saat booting, perlu beberapa menit hingga muncul tampilan login. Saya yang terbiasa menggunakan MacBook Pro jadi sering sewot karena harus menunggu lama. Belum lagi lag yang terasa saat mau menjalankan aplikasi besar.
  2. RAM Single Channel. Sayangnya laptop ini datang dengan konfigurasi RAM single channel. Walau pun RAM 8 GB yang terpasang sudah merupakan versi sangat cepat, yaitu Hynix 8GB PC4-2666. Ironisnya 2 GB telah terpakai untuk internal VGA dari AMD, yaitu Vega 8. Sedangkan kartu grafis tambahannya, yaitu NVidia GeForce 1050 telah dibekali VRAM 3 GB.

Untungnya laptop TUF Gaming ini upgradeable, mudah untuk di-upgrade bahkan oleh penggunanya sendiri. Upgrade yang bisa dilakukan meliputi RAM, Harddisk, SSD (tersedia slot M.2) dan kalau tidak salah modul wifi juga bisa diganti.

Oleh karenanya saya memutuskan untuk meng-upgrade laptop ini secara bertahap. Tahap pertama adalah memasang SSD NVMe supaya masalah kelambatan karena bottle neck di storage dapat teratasi. Saya pun membeli SSD NVMe M.2 sebesar 256 GB dari V-GeN. Sebenarnya pengen sekalian beli yang 512 GB, tapi kok harganya nyaris 2x lipat yang bagi saya kemahalan. Jadi sementara saya beli 256 GB dulu. Toh harddisk 1 TB tetap akan saya pasang..

Tahap kedua adalah meng-upgrade RAM. Tapi untuk upgrade RAM ini menunggu ada rejeki dulu, soalnya lumayan mahal juga, hahaha…

Hari ini SSD NVMe ini datang dan saya pun segera memasang di laptop TUF FX505DD. Saya meng-install Ubuntu Desktop 19.04 di NVMe sedangkan Harddisk 1 TB tetap MS Windows apa adanya. Jadi laptop ini bisa dual boot. Saat awal dinyalakan ada opsi mau boot ke mana? Ubuntu atau Windows? Kalau saya sih jelas boot ke Ubuntu, hehehe…

Kesan saya tentang NVMe ini adalah luar biasa. Amat sangat jauh bedanya. Amat sangat terasa cepatnya. Untuk booting cukup beberapa detik saja. Dan Ubuntu jadi terasa gegas dan lag sangat singkat terasanya.

Laptop TUF Gaming FX505DD ini jadi terasa kencang sekali.

Backlight Keyboard Asus TUF FX505DD Tidak Menyala di Tombol Spasi

Saat install banyak hal di Asus TUF FX505DD mendadak saya tersadar kalau backlight keyboard di tombol spasi tidak menyala. Saya pun mengecek foto dan video saat pertama kali laptop ini dinyalakan. Ternyata memang tidak menyala backlight di tombol spasinya. Saya pun komplain ke supplier. Kata supplier backlight untuk spasi memang tidak menyala. Bahkan supplier sudah memvideokan laptop stok.

Kalau saya lihat di website resmi Asus TUF FX505 seri D (dengan prosesor AMD Ryzen 5/7) tampak bahwa backlight di spasi nyala. Coba teliti di website resminya: ASUS TUF Gaming FX505DD/DT/DU. Tuh kan nyala!?

Saya pun penasaran jadinya. Lalu saya pun melihat video beberapa review Asus TUF FX505DD dari beberapa reviewer/vlogger. Ternyata memang tidak nyala di unit yang mereka review. Berarti di seri FX505DD memang tidak menyala backlight di spasinya. Saya lihat di beberapa review di seri Intel juga tidak menyala. Tapi ada beberapa yang menyala. Jadi sepertinya tidak semua seri TUF ini nyala spasinya.

Sayangnya perihal nyala atau tidaknya ini tidak terdokumentasi dengan baik di website atau brosur Asus. Dan bahkan vendor tidak mengerti jelas masalah ini. Dan saya pun sempat khawatir apakah laptop yang saya beli ini ada cacat bawaan atau tidak. Syukurlah jika memang tidak menyala. Artinya laptop saya ini baik-baik saja.

Di bawah ini video backlight keyboard di laptop saya.

Nyobain Laptop ProGaming untuk Programming (Asus TUF FX505DD)

Bagi seorang programmer kayak saya, laptop adalah hal yang penting. Tidak hanya penting, tapi 1 saja tidak cukup. Jadi untuk menemani MacBook Pro 13″ saya pun membeli sebuah laptop cadangan. Karena cadangan, maka kriteria yang saya ajukan adalah: tidak bego-bego amat (maksudnya prosesor harus cukup kencang dan storage cukupan), terjangkau di kantong dan harus handal. Setelah melakukan pengamatan (bukan riset loh ya!) selama 3 bulan belakangan ini, akhirnya saya membulatkan diri membeli Asus TUF Gaming. Walau pun laptop ini Pro-Gaming, tapi saya akan menggunakannya untuk Programming, hehehe…

Mengapa saya membeli Asus TUF Gaming seri FX505DD? Bagi saya laptop ini sangat memenuhi kriteria saya:

  1. Tidak bego, alias harus pinter! Dengan dibekali prosesor AMD Ryzen 5 3550H, laptop dengan arsitektur Zen+ (peralihan dari aristektur Zen ke Zen2) ini konon setara dengan prosesor berforma tinggi dari Intel, yaitu seri i5 8300H yang sangat dikenal di laptop-laptop gaming entry level. Tambah gesit dengan dibekali kartu grafis Nvidia GeForce GTX1050 dengan VRAM 3GB. Paduan antara prosesor AMD Ryzen dengan kartu grafis Nvidia ini konon membuat laptop ini bisa memainkan game AAA dengan baik. Makanya saya menuliskannya sebagai laptop Pro-Gaming, hehehe…
  2. Terjangkau! Saya tidak bisa bilang laptop ini murah karena ya bagi saya laptop ini cukup menguras kantong. Tapi dibandingkan MacBook Pro yang harganya 23 jutaan itu jelas harga FX505DD bisa dibilang murah, tidak ada setengahnya. Bisa juga dibandingkan dengan seri DY yang lebih dulu diluncurkan. Bahkan dibandingkan seri DT dan DU yang diluncurkan bebarengan dengan DD. Dengan perbandingan ini, saya pun rela mengeluarkan kocek untuk menebusnya.
  3. Handal! Jujur saja, saya sangat suka ketika melihat iklan Asus yang menonjolkan jargon standard military grade MIL-STD-810G yang disematkan di laptop TUF-nya. Kehandalan ini sangat saya butuhkan mengingat saya bakal sering membawanya bepergian.

Selain itu ada alasan lain mengapa saya memilih membeli TUF FX505DD, yaitu:

  1. Saya membutuhkan layar 15.6″. Bagi seorang programmer, saya sangat suka melihat beberapa window sekaligus ketika coding. Misalnya untuk melihat IDE, browser (untuk mencari referensi atau tutorial/contoh) dan output (bisa emulator android, debugging, dll). Kadang pula perlu remote ke beberapa server untuk debugging dan menjalankan suatu proses. Intinya bakal banyak window atau aplikasi yang terbuka. Makanya saya sering menggunakan dual atau bahkan triple monitor. Dan kadang kala layar 13.3″ itu terlalu sempit! Kalau ditinggikan resolusinya, maka tulisan jadi sangat kecil sehingga membuat mata cepat lelah.
  2. Keyboardnya enak banget! Bagi seorang programmer, keyboard laptop ini seenak sebuah burger dari merek terkenal! Empuk, renyah dan bikin nagih. Bagi pengguna laptop Apple pasti bakal tau rasanya ketika mengetik menggunakan laptop Asus ini setelah bertahun-tahun menderita dengan keyboard MacBook Pro yang cetek dan berisik. Mau ngetik cepat dengan MBP? Wah jari malah sakit, hahaha…
  3. Tidak hanya empuk dan menyenangkan, keyboard dari TUF FX505 ini nyalanya berwarna-warni. Sangat entertaining. Saya jarang sekali menyalakan backlight keyboard MBP. Tapi menggunakan TUF ini serasa enggan mematikan backlight-nya. Enak dilihat. Baiklah, mungkin saya ndeso ya? Maklumlah, ini pertama kali beli laptop gaming, hahaha…
  4. Port-nya cukupan. Walau pun belum ada USB type-C dan slot SDCard, tapi dengan adanya 3 USB type-A, HDMI dan Ethernet sudah cukup menyenangkan. Coba bandingkan dgn MBP yang cuma punya 2 port USB Type-C, xixixi…

Walau pun banyak hal yang saya sukai dari laptop TUF gaming ini, ada beberapa hal yang kurang saya sukai, yaitu:

  1. Sistem operasinya Microsoft Windows. Saya tidak membenci Windows, tapi saya lebih suka menggunakan Ubuntu. Sayangnya saya tidak bisa beli laptop ini tanpa Windows karena dari sononya sudah di-bundling dengan Windows. Seandainya saja bisa beli tanpa Windows tentu saya akan sangat senang, di samping tentu saja bakal lebih murah lagi harganya.
  2. Layarnya bukan IPS. Cuma tertulis IPS-level yang artinya setara dengan panel IPS. Yang saya rasakan adalah warnanya kurang kontras/cerah dan layarnya kurang terang. Lagi-lagi pengguna MBP bakal segera menyadari kekurangan ini.
  3. Konfigurasi RAM cuma single channel. Konon AMD Ryzen akan bekerja optimal ketika menggunakan RAM dual channel. Ini artinya saya harus menabung untuk membeli 1 lagi keping RAM.
  4. Masih menggunakan harddisk untuk storage utamanya. Ini artinya lambat dan rentan rusak ketika terbentur atau jatuh. Dan lagi usia pakai harddisk lebih singkat dari pada SSD. Walau pun demikian kapasitasnya lumayan lega, yaitu 1 TB. Artinya saya bisa buat beberapa VM di sini. Tapi sudah sewajibnya saya harus menabung untuk membeli SSD NVMe.
  5. Touchpad-nya kurang nyaman. Bagi pengguna produk Apple pasti akan segera menyadari ketika menggunakan laptop ini karena kurang presisi dan tidak nyaman klik-nya. Selain itu gesture yang biasa digunakan di touchpad MBP berbeda dengan di laptop ini. Kalau gesture ini lebih dipengaruhi oleh sistem operasi Windows-nya sih.

Tapi mengingat harganya yang terjangkau, saya tidak akan komplain. Mungkin saya harus menabung untuk membeli SSD NVMe dan RAM 1 keping.

Era Foldable Smartphone & Laptop

Semenjak Apple merevolusi smartphone menjadi model full touchscreen, sepertinya inovasi belum beranjak jauh. Kecuali hanya penambahan minor seperti bentuk yang semakin mengecil, menipis, kamera semakin banyak, kamera yg bisa nongol, prosesor semakin kencang, kapasitas RAM dan storage meningkat, dll. Sepertinya membosankan ya?

Demikian juga di dunia laptop. Perkembangannya tidak banyak berubah. Ya memang ada konvergensi antara tablet dengan laptop sehingga menimbulkan jenis convertible. Tapi ya kemudian hanya seperti itu. Para vendor hanya balapan di sektor itu-itu saja dalam beberapa tahun belakangan ini.

Hingga akhirnya Samsung dan Huawei memperkenalkan foldable smartphone, alias ponsel pintar dengan layar lipat. Kedua vendor ini memperkenalkan prototype ponsel layar lipatnya dengan mekanisme berbeda. Jika Huawei melipat ponselnya dengan layar tetap di sisi luar, Samsung melipat ponselnya sehingga layar besarnya tertekuk di dalam sambil menyediakan layar kecil untuk display di bagian luar saat ponsel terlipat.

Baca tentang Huawei di: Huawei’s Mate X dan Samsung Foldable di: Samsung Galaxy Fold.

Kemudian Samsung mulai merilis ponsel layar lipatnya dengan harga fantastis yang sayangnya menuai problema di layarnya yang cepat rusak karena terkelupas. Berikut beritanya: Samsung reportedly delays Galaxy Fold launch to May or beyond after display issues.

Huawei Mate X

Baca selebihnya »