Era Foldable Smartphone & Laptop

Semenjak Apple merevolusi smartphone menjadi model full touchscreen, sepertinya inovasi belum beranjak jauh. Kecuali hanya penambahan minor seperti bentuk yang semakin mengecil, menipis, kamera semakin banyak, kamera yg bisa nongol, prosesor semakin kencang, kapasitas RAM dan storage meningkat, dll. Sepertinya membosankan ya?

Demikian juga di dunia laptop. Perkembangannya tidak banyak berubah. Ya memang ada konvergensi antara tablet dengan laptop sehingga menimbulkan jenis convertible. Tapi ya kemudian hanya seperti itu. Para vendor hanya balapan di sektor itu-itu saja dalam beberapa tahun belakangan ini.

Hingga akhirnya Samsung dan Huawei memperkenalkan foldable smartphone, alias ponsel pintar dengan layar lipat. Kedua vendor ini memperkenalkan prototype ponsel layar lipatnya dengan mekanisme berbeda. Jika Huawei melipat ponselnya dengan layar tetap di sisi luar, Samsung melipat ponselnya sehingga layar besarnya tertekuk di dalam sambil menyediakan layar kecil untuk display di bagian luar saat ponsel terlipat.

Baca tentang Huawei di: Huawei’s Mate X dan Samsung Foldable di: Samsung Galaxy Fold.

Kemudian Samsung mulai merilis ponsel layar lipatnya dengan harga fantastis yang sayangnya menuai problema di layarnya yang cepat rusak karena terkelupas. Berikut beritanya: Samsung reportedly delays Galaxy Fold launch to May or beyond after display issues.

Huawei Mate X

Baca selebihnya »

Iklan

Keyboard Bluetooth Logitech K380

Ketika 8 bulan yang lalu (Agustus 2018) saya membeli iPad 6th 2018, saya sempat berpikir memberdayakannya lebih dari sekedar tablet biasa. Seperti kita tahu, tablet biasanya digunakan untuk konsumsi media (nonton video, baca-baca eBook, dll), bermedia sosial, browsing, email, dan sedikit menulis. Khusus untuk iPad 6th, Apple memulai dukungan Pencil-nya untuk iPad yang lebih murah. Sebelumnya Pencil hanya bisa digunakan di iPad Pro yang harganya jauh lebih mahal.

Memang saya sudah membeli Pencil versi 1 yang bisa digunakan di iPad 6th. Dan saya sudah mencoba belajar menggambar lagi. Di samping tentu saja mencoba membuat lagu di GarageBand.

Tapi saya masih ingin menggunakan iPad saya lebih dari pada itu, terutama untuk menunjang pekerjaan saya. Saya ingin membuat iPad saya bisa digunakan juga untuk mengadministrasi server-server, remote desktop, bahkan untuk coding. Bisakah?

Ternyata bisa teman-teman. Ada beberapa aplikasi yang saya install yang bisa membantu saya melakukan hal-hal tersebut. Namun ada tapinya… Yaitu tidak nyamannya keyboard virtual/touchscreen di layar. Bukan tidak nyaman sih, tapi ada 2 hal yang membuat saya tidak terlalu suka menggunakan keyboard touchscreen, yaitu:

  1. Mengkorupsi layar karena separo layarnya dipakai untuk keyboard virtual. Sisanya baru digunakan untuk tampilan aplikasi. Tentu tidak nyaman ya? Apalagi saya sudah terbiasa dengan setup dual monitor yang memiliki pandangan luas ke aplikasi, kode dan data.
  2. Mengetik di layar serasa tidak natural. Tidak ada feedback, tidak ada batasan antar karakter sehingga sering nyasar, dan tidak ada tombol shortcut seperti Ctrl, Alt, Del, Back, Function Key, dll. Padahal tombol-tombol itu sangat penting untuk administrasi server dan coding.

Sehingga akhirnya saya memutuskan membeli Keyboard Bluetooth dari Logitech, yaitu seri K380. Sebenarnya ada opsi seri K480 yang lebih besar dan punya beberapa fitur tambahan. Namun setelah lihat-lihat review positif tentang K380 dibanding K480 akhirnya saya memutuskan membeli K380.

Sebelumnya saya berpikir mau membeli converter Lightning-to-USB sehingga saya bisa menggunakan keyboard Logitech USB yang biasa saya pakai untuk Raspberry Pi. Namun setelah dipertimbangkan, kalau pakai cara ini jadinya malah tidak praktis dan tidak mudah untuk dibawa-bawa.

Pilihan saya atas Logitech K380 rupanya pilihan yang tepat. Pagi ini saya menerima paket ini dan langsung saya coba. Pairing ke iPad 6th dan MacBook Pro dapat berlangsung dengan mudah. Cukup tekan tombol #1 selama 3 detik, maka channel 1 siap pairing dengan iPad. Saya menggunakan channel #2 untuk koneksi ke MackBook Pro. Oh iya, K380 bisa terkoneksi ke 3 piranti. Untuk mengganti ke piranti tertentu tinggal klik tombol #1, #2 atau #3. Simpel banget.

Bentuk keyboard ini cukup mungil dan simpel. Tapi key-nya punya ukuran standar. Key-nya berbentuk bulat sehingga nampak lebih artistik. Walau pun key-nya ketika ditekan lebih senyap dibanding kebanyakan keyboard (bahkan lebih silent dibanding keyboard MacBook Pro saya yang menggunakan mekanisme butterfly), namun terasa lebih keras. Mungkin per-nya masih baru sehingga lebih keras. Tapi secara keseluruhan keyboard ini sangat nyaman digunakan.

Keyboard K380 ini juga bisa digunakan untuk mayoritas sistem operasi, mulai dari Windows, MacOS, iOS dan Android. Untuk MacOS dan iOS juga sudah disematkan label alternatif untuk tombol Command, Options dan Back. Ada juga tombol ke media player (play, fast forward, back dan volume), menu, pindah window, bahkan shortcut ke screen capture (fn + tab). Keren…

Satu hal yang menurut saya jadi kekurangan keyboard ini, yaitu tidak adanya tombol Home, Page Down, Page Up dan End. Mengakalinya harus menggunakan kombinasi antara Command + panah. Di beberapa aplikasi bisa menggunakan kombinasi Ctrl + panah. Ya memang sedikit repot kalau coding yang memerlukan navigasi ke kode dengan cepat. Tapi sepertinya tidak masalah jika sudah terbiasa menggunakan MacOS yang memang tidak menyediakan tombol Home, Page Down, Page Up dan End.

Sebagai kesimpulan, saya senang sekali menggunakan keyboard ini karena membuat iPad saya bisa digunakan sebagai piranti darurat untuk administrasi server dan coding ringan (web programming). Ini sangat berguna karena saya sering ke luar kota dan tentu saja tidak praktis jika harus membawa MacBook Pro atau Asus.

Sebagai catatan, posting ini saya tulis dengan K380 di iPad. Ternyata nyaman juga. Keyboard yang dipairing dengan iPad juga nyaris tanpa lag, apa yang diketikkan langsung tampil nyaris tanpa jeda. Jadi kepikiran mau beli mouse bluetooth sehingga iPad bisa benar-benar kayak PC. Atau upgrade ke iPad Pro yang lebih powerful ya? Hahaha…

Desain UI/UX Nurse Call System 2019

Sebenarnya ide ini sudah dicoba untuk dikembangkan sejak 2015-2016, namun sayangnya belum sempat terealisasi dan sampai sekarang masih mangkrak (baca: Demo Prototype Nurse Call System). Hingga akhirnya saya mencoba mendesain ulang UI/UX untuk Nurse Call System tersebut tentu dengan desain yang lebih modern. Di bawah ini adalah contoh videonya :

Rencananya piranti ini dibangun menggunakan Raspberry Pi Zero W dengan display TFT 5″ resolusi tinggi ditambah dengan kontroler untuk beberapa tombol dan rotary switch. Rotary switch dikelilingi oleh LED RGB yang akan menyala sesuai kebutuhan, hijau jika keadaan baik, merah jika ada panggilan atau emergency, biru jika pasien melakukan pemesanan, oranye jika ada panggilan komunikasi dari perawat di nurse station, dan lain-lain. Oh iya, tentu saja tombol tekan konvensional tetap disertakan. Gunanya untuk pemanggilan darurat tanpa melalui antarmuka piranti ini.

Baca selebihnya »

Upgrade Head Unit Mobil dengan TV Digital

Mobil saya belum kekinian, tidak ada display LCD atau pun TV. Tadinya mau upgrade ke head unit yang sudah ada display LCD dan TV tapi ternyata mahal. Apalagi yang support TV Digital, harganya mahal banget Gan! Kalau maksa beli yang murahan takutnya malah kecewa, hahaha…

Jadi saya pun memutuskan mengadopsi Raspberry Pi Zero W + DVB TV Hat yang saya oprek tempo hari plus iPad sebagai display TV-nya. Berikut video-nya :

Tadinya saya mau memanfaatkan Raspberry Pi 3B ditambah LCD Display 3.5″ (lihat di sini) tapi ternyata display segitu kekecilan. Memang lebih baik pakai iPad yang 9.7″. Jelas lebih legaan. Ditambah iPad punya kemampuan dihubungkan ke head unit bawaan mobil untuk amplifikasinya. Dengan integrasi ke head unit mobil, suaranya jadi bagus dan keras.

Sebenarnya saya mau membuat setup ini permanen. Tapi ternyata Raspberry Pi perlu pasokan voltase yang stabil. Charger mobil saya seringkali tidak stabil sehingga membuat RPi kadang tidak mau nyala. Solusi sementara adalah dengan menghubungkan Raspberry Pi ke USB-nya head unit yang relatif lebih stabil. Tapi berarti output suara dari iPad tidak bisa masuk ke head unit.

Untuk mengatasi masalah stabilitas voltase ini ada 2 opsi, yaitu membeli charger mobil yang voltasenya stabil atau membuat sendiri regulator tegangan. Sepertinya opsi ke-2 lebih masuk akal.

Kemarin mencoba juga mengganti iPad dengan hape Samsung A7 yang display-nya walau pun lebih kecil tapi masih cukup nyaman. Sayangnya output audio dari A7 tidak bisa masuk ke headunit standard bawaan mobil. Kalau iPad dan iPhone suaranya bisa dikeluarkan via kabel lightning ke USB. Kalau Samsung A7 dan Xiaomi A1 belum ketemu caranya walau pun mode USB-nya sudah di-set ke “audio source”. Sepertinya setting “audio source” di Android itu justru memasukkan suara ke hape ya? Bukan sebaliknya?

Opsi “media transfer” juga tidak bisa membuat suara dialihkan ke USB. Sempat coba Xiaomi A1 pakai kabel audio biasa masuk ke port auxillary-nya head unit tapi suaranya tidak bagus. Nanti kapan-kapan coba pakai Samsung A7.

Tapi yang pasti dengan setup RPi Zero + DVB TV HAT + iPad sudah mencukupi bagi saya. Suasana perjalanan jadi lebih menyenangkan. Tantangan berikutnya adalah jika setup ini dibawa perjalanan jauh antar kota. Pasti jadi berantakan secara frekuensi siaran digital bisa berbeda di setiap region.

TV Digital Mungil 3.5″ Dengan Raspberry Pi

Kalau tempo hari membahas pembelian DVB TV uHAT dan setupnya di Raspberry Pi, maka kali ini saya membahas tentang membuat TV yang mungil. Sebuah Raspberry Pi saya siapkan untuk menjadi media player khusus menampilkan streaming TV Digital dari Zero. Saya menggunakan sebuah display LCD TFT 3.5″ HDMI dari Kedei. Ini sebuah display yang sudah saya beli sejak April 2018 tapi jarang sekali saya pakai.

Kali ini saya coba gunakan display mungil ini untuk menampilkan streaming TV Digital dari Raspberry Pi Zero W yang menggunakan DVB TV uHAT. Berikut adalah contoh videonya:

Lucu ya? TV yang mungil tapi masih cukup jelas menampilkan gambar. Inilah enaknya TV Digital, bisa jernih sekali gambarnya.

Kalau orang-orang kian hari TV-nya semakin besar, kalau saya malah mengecil. Saya mah gitu orangnya, hahaha…

Raspberry Pi Untuk Apa?

Kalau ada yang bertanya apa yang bisa dilakukan oleh Raspberry Pi? Untuk apa saja? Maka jawabnya akan banyak sekali. Raspberry Pi yang sering juga disebut sebagai SBC (single-board computer) itu seperti layaknya sebuah komputer, dia bisa melakukan banyak hal. Ditambah lagi fleksibilitas koneksinya yang seperti Arduino, menjadikannya bisa ditambahi piranti apa saja.

Mau dijadikan robot bisa, dijadikan drone bisa, dijadikan pengendali smarthome bisa, dijadikan server bisa, dijadikan face detection/recognition bisa, dan banyak lagi. Silakan google saja dengan keyword “Raspberry Pi projects”, maka akan ketemu banyak hal yang bisa dibuat dengan Raspberry Pi.

Kembali ke laptop… Kemarin ada teman jual Raspberry Pi 3B dengan harga murah. Langsung saja saya beli. Padahal saya sudah punya beberapa Raspi dan belum tahu mau dipakai apalagi. Makanya 2 paragraf di atas itu sejatinya pertanyaan buat saya sendiri, Raspi-nya mau dipakai apa lagi? Hahaha…

DWO_0261

Ini adalah beberapa Raspberry Pi yang saya miliki beserta peruntukannya:

  1. Raspberry Pi Original Model B. Ini Raspi pertama saya. Saat ini nganggur. Sudah saya tambahin LCD TFT dengan antar muka SPI.
  2. Raspberry Pi 3 Model B. Saya gunakan sebagai server IoT dengan alamat di http://zero-iot.com. Saat ini masih digunakan untuk penggunaan pribadi.
  3. Raspberry Pi Zero W. Digunakan sebagai sensor suhu dan kelembaban. Dalam waktu tidak lama akan meluncur ke teman yang memesannya.
  4. Raspberry Pi Zero W + DVB TV uHAT. Digunakan untuk server TVHeadEnd. Lihat posting saya sebelumnya di “Membeli DVB TV uHAT untuk Raspberry Pi” dan “Setup DVB TV uHAT di Raspberry Pi.”
  5. Raspberry Pi 3 Model B. Saya gunakan sebagai player untuk streaming dari TVHeadEnd sekaligus untuk kerja ringan mengelola server-server. Memang seringkali saya harus mengelola server di malam hari, terutama berkenaan dengan backup, replikasi dan setup yang seringkali butuh waktu lama. Jadi ketika proses saya tinggal tidur sambil berharap esok paginya proses telah selesai tanpa error.
  6. Raspberry Pi 3 Model B. Ini yang baru saya beli dari teman. Memang belum tahu kegunaannya untuk apa. Nanti cari ide dulu. Yang pasti sih saat ini saya jadikan cadangan. Oh iya, saya ada LCD HDMI khusus untuk Raspberry Pi. Tempo hari saya coba tapi karena terlalu kecil, cuma 3.5″, jadinya malah menyiksa mata karena kekecilan, hahaha…

Perkara SBC, sebenarnya saya juga punya CubieBoard versi 2 dan CHIP. Keduanya bagus kok. Tapi untuk fleksibilitas dan dukungan jelas Raspberry Pi lebih bisa diandalkan. Apalagi CHIP sudah tamat riwayatnya.

Selain Raspberry Pi yang sudah saya miliki, sebenarnya saya juga ingin mencoba Raspberry Pi 3 Model A+ dan OrangePi Zero. Tapi nanti sajalah kalau memang sudah ada rencana mau digunakan untuk apa. Mengenai OrangePi Zero sebenarnya bisa jadi alternatif lebih murah dibanding Raspi Zero W yang saat ini saya gunakan sebagai sensor IoT.

Saya tahu bahwa saya menggunakan Raspberry Pi bukan untuk hal-hal yang luar biasa. Pengen sih bisa menggunakannya untuk hal-hal yang luar biasa seperti untuk drone, robot, image/audio processor, smart home, video surveillance atau hal heboh lainnya. Tapi ya lagi-lagi masih terkendala budget dan waktu, hahaha…

Setup DVB TV uHAT di Raspberry Pi

Sebenarnya pemerintah sudah memaksa para penyiar TV itu untuk melakukan siaran digital terestrial. Dan batas waktu untuk memindahkan siaran analog ke digital seharusnya berakhir di akhir tahun 2018. Siaran digital terestrial ini tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat karena akan mendapatkan siaran TV yang sangat jernih di samping adanya informasi tambahan yang bisa didapat (seperti EPG, electronic program guide).

Tapi sepertinya belum semua penyiar serius menindaklanjutinya, terbukti masih banyak penyiar yang belum memiliki penyiaran digital yang stabil (bahkan ada yang mati, hanya bekerja baik di jam-jam tertentu), coverage sinyal belum merata, adanya tulisan “experimental”, dan lain-lain.

Saya menguji coba TV uHAT ini di Raspberry Pi 3B, mengikuti petunjuk di sini dan mencoba front-end webbased untuk konfigurasi. Ada beberapa hambatan memang. Berikut adalah beberapa catatan yang saya buat.

Raspberry Pi 3B + DVB TV uHAT

  1. Tidak ada preset muxes (frekuensi multiplexes) untuk Indonesia. Bisa kok menggunakan preset Default-Auto. Bisa juga menambahkan muxes secara manual.
  2. Sebelum melakukan scanning, edit semua muxes untuk menggunakan delivery system DVB-T2 dan bandwidth 8MHz. Baru kemudian lakukan force scan.
    Untuk mengedit sekaligus semua muxes, lakukan select all (ctrl+A) dan tekan tombol edit. Parameter yang mau diubah harus dicentang, masukkan nilainya, tekan tombol Save.
  3. Catatan tambahan, untuk mendapatkan Nexmedia, tambahkan muxes secara manual di frekuensi 290MHz, delivery system DVB-T2 dan bandwidth 7 MHz. Lakukan scan, maka akan muncul banyak services. Hanya saja hampir semua service terenkripsi, kecuali Nex SCTV. Kita cuma bisa nonton Nex SCTV.
  4. Kalau terdeteksi siaran, maka akan ditampilkan sebagai services.
  5. Setelah dapat beberapa services, lakukan mapping supaya bisa tampil di end user.
  6. Memainkan langsung di Raspberry Pi yang dipasangi TV HAT bisa menggunakan VLC. Saya lebih suka Raspberry Pi digunakan sebagai server streaming saja. Untuk menontonnya bisa menggunakan Raspberry Pi yang lain, tablet/iPad, smartphone Android, atau dari Laptop/MacBook.
  7. Untuk streaming dibutuhkan koneksi yang cepat. Saya menggunakan koneksi tethering dari smartphone ternyata kadang lancar kadang lambat. Sepertinya karena banyak lalu lintas internet juga di jaringan tethering. Jadi kalau lagi penuh bisa bikin siaran nge-lag.
  8. Kalau siarannya putus-putus, maka banyak hal yang perlu diselidiki: mungkin memang siarannya jelek sinyalnya, muxes memang tidak bekerja, koneksi jaringan lambat (seperti saya yg menggunakan tethering), atau bisa jadi Raspberry Pi-nya terbebani.
  9. Kalau saya cek di Raspberry, untuk keperluan streaming tidak membutuhkan banyak processing CPU. Seringkali di bawah 10% penggunaan CPU. Tapi memang dibutuhkan jaringan yang cepat karena data yang di-streaming besar.

Baca selebihnya »