Memasang eSIM Smartfren di iPhone 11 Ternyata Gampang Banget

Sejak beberapa tahun ini Apple menawarkan eSIM di beberapa jajaran produknya. Itu termasuk Apple Watch, iPad Pro dan juga iPhone. Selain Apple, Google juga mulai mendukung penggunaan eSIM lewat smartphone Pixel. Sayangnya vendor smartphone lain belum banyak yang mendukung penggunaan eSIM ini.

Padahal penggunaan eSIM ini dapat mempermudah user dalam memasang nomor di smartphone. Di samping tentu saja penghematan untuk operator selular karena tidak perlu lagi memproduksi kartu SIM.

Saat ini di Indonesia baru Smartfren yang menawarkan solusi eSIM. Sedangkan operator lain masih menunda penggunaan eSIM dengan berbagai alasan. Salut sama Smartfren yang tidak mau ketinggalan tren teknologi.

Nah di video kali ini kita mencoba memasang nomor eSIM Smartfren di iPhone 11. Ternyata gampang banget loh! Tidak perlu lagi sogok tray kartu SIM. Tidak perlu lagi repot-repot pasang kartu SIM. Dengan eSIM kita cukup men-scan kode QR yang telah disediakan oleh operator. Prosesnya pun cepat.

Semoga video ini bermanfaat. Salam.

Unboxing Souvenir Acara Digitalize Indonesia 2019 dari Siemens

Kemarin saya mengikuti acara Digitalize Indonesia 2019 yang diselenggarakan oleh Siemens. Tidak dinyana, souvenirnya adalah sesuatu yang telah saya ingin beli, tapi urung saya beli karena harganya mahal. Ini adalah sebuah keberuntungan.

Apa sih isi dari souvenirnya? Yuk kita unboxing bersama-sama. Ini video-nya:

Ketika Membeli iPhone 11 di Singapore

Ini pertama kalinya saya membeli barang elektronik di Singapore. Senang juga sih karena ada kesempatan membeli iPhone 11 saat transit di Singapore. Lagian iPhone 11 ini baru diluncurkan sebulan yang lalu. Jadi masih hot…

Ada rasa khawatir juga sih seandainya ada masalah di bea cukai. Tapi ada tips yang perlu dilakukan agar bisa aman di bea cukai. Yuk simak video berikut ini…

Semoga bermanfaat…

Upgrade Asus TUF FX505DD Tahap 2

Asus dengan seri TUF FX505DD berhasil membuat saya penasaran dengan kemampuan upgrade di laptop-nya. Setelah beberapa hari menunda upgrade tahap 2 dengan pertimbangan seberapa perlu saya harus meng-upgrade RAM-nya, akhirnya saya nekad juga untuk meng-upgrade-nya.

Hari ini paket RAM PC4-2666V dari V-Gen dengan kapasitas 16GB mendarat di kantor. Kebetulan saya mendapatkan RAM ini dengan chip yang sama dengan RAM 8GB bawaan laptop, yaitu SK hynix. Jadi seharusnya tidak ada masalah kompatibilitas. Beda kapasitas tidak masalah. Yang penting bisa jadi dual channel.

Dan ternyata benar, ketika dipasang langsung dikenali dengan baik oleh BIOS dan selama beberapa saat saya pakai tidak ada masalah. Tidak ada hang karena masalah incompatibility. Aman.

Dengan terpenuhinya 2 slot RAM di TUF FX505DD ini berarti prosesor AMD Ryzen 5 3550H dapat bekerja secara optimal karena dapat memanfaatkan dua channel RAM. Dan ternyata yang saya rasakan memang lebih cepat. Loading beberapa aplikasi serasa lebih cepat. Dan perpindahan antar aplikasi dapat berlangsung lebih cepat.

Sayangnya saya tidak melakukan benchmark ketika RAM cuma 8GB dengan setelah di-upgrade menjadi dual channel 24GB. Tapi percaya saja deh, terasa perbedaannya. Ya walau pun tidak ilmiah, tapi saya merasakan perbedaannya, hehehe…

Jadi walau pun laptop ini bukanlah laptop dengan prosesor tercepat, namun jadi terasa gegas dan gesit. Lebih nyaman untuk dipakai bekerja. Apalagi untuk programming yang butuh cukup banyak resources.

Sayangnya ya kemampuan upgrade laptop Asus ini cuma di storage (SSD NVMe atau pun SATA) dan RAM. Dan ini sudah saya lakukan semua. Untunglah laptop ini tidak mampu di-upgrade prosesornya. Seandainya saja bisa upgrade, tentu saya bakal sulit tidur karena memendam rasa penasaran untuk upgrade, hahaha…

Memonitor Beban Kerja Laptop

Sebenarnya tulisan ini cuma iseng. Seolah ingin membenarkan keinginan saya untuk melakukan upgrade fase 2 (lihat tulisan sebelumnya tentang upgrade fase 1). Ya memang rada gatel juga sih pengen segera bisa upgrade fase 2, yaitu untuk menambah RAM di laptop Asus TUF Gaming FX505DD saya. Hanya saja setelah melihat di toko online ternyata harga RAM SO-DIMM DDR4 PC4 — 2666MHz itu ternyata mahal. Apalagi dari merek terkenal. Padahal sudah ngiler lihat yang 16GB.

Nah belakangan ini saya mencoba menahan diri dan menyelidiki apakah benar saya membutuhkan upgrade RAM ini? Sementara jari sudah tidak tahan menekan tombol “BELI”, hahaha…

Sebenarnya saya belum 100% menggunakan laptop TUF ini untuk bekerja karena untuk pekerjaan kantor saya masih menggunakan MacBook Pro. Tapi jika kelak dibutuhkan untuk ikutan kompetisi atau tiba-tiba kumat semangat ngopreknya, TUF ini harus siap menanggung beban kerja yang berat. Mungkin berlebihan ya? Tapi mungkin juga tidak, secara saya bakal banyak menggunakan VM (Virtual Machine) atau AVD (Android Virtual Device).

Rencananya dalam beberapa hari ke depan ini saya akan memonitor beban kerja laptop ini untuk beberapa tugas normal sampai ke yang berat. Untuk memonitor ini diperlukan beberapa program sehingga saya bisa melihat seberapa utilisasi laptop, apa saja yang berjalan di laptop sampai ke suhu laptop. Berikut ini adalah beberapa aplikasi yang sudah saya install:

  1. htop. Ini adalah sebuah aplikasi ringan berbasis teks yang dijalankan di terminal. Fungsinya untuk memantau utilisasi CPU, RAM dan SWAP. Terlihat pula daftar program yang sedang berjalan beserta informasi penggunaan CPU dan RAM oleh aplikasi ini. Sebenarnya tidak hanya itu, aplikasi ini sudah dibekali fitur mumpuni semacam pencarian task, membunuh task, dll. Tidak hanya simple tapi sangat powerful. Sayangnya itu belum cukup karena aplikasi ini tidak bisa memonitor suhu, storage dan network.
  2. System Monitor. Kalau ini adalah aplikasi bawaan dari Ubuntu Desktop. Karena tampilannya grafis, maka tampak lebih menyenangkan untuk dilihat. Fitur unggulannya adalah monitor CPU, Memori & Swap, serta jumlah dan kecepatan komunikasi data. Semua ditampilkan dalam bentuk grafis yang menyenangkan untuk dilihat. Di samping fitur utama ini ada fitur tambahan seperti monitor proses apa saja yang sedang berjalan dan file system. Cukup lengkap ya? Di samping tampilannya lebih nyaman untuk dilihat.
  3. S-tui (Stress Terminal UI). Saya baru menemukan aplikasi keren ini. Aplikasi ini seperti htop yang berjalan di terminal dalam mode teks. Walau pun demikian, saya merasa aplikasi ini layak diinstall untuk mendampingi htop dan System Monitor karena aplikasi ini mempunya fitur untuk memonitor frekuensi CPU, utilisasi CPU, dan yang terpenting bisa memonitor temperatur CPU. Aplikasi ini mencoba untuk menampilkan data ini dalam bentuk grafis tapi dalam mode teks. Jadi bisa berjalan tanpa terlalu membebani laptop secara berlebihan. Sayangnya saya agak curiga dengan “Top Freq” di mana di sini tertulis 2100 MHz padahal “Cur Freq” (current frequency) bisa saja melebihi Top Freq. Ya memang base clock Ryzen 5 3550H ini di 2100 MHz. Tapi maksimal frekuensi seharusnya bisa sampai 3700 MHz yang mana kalau saya lihat belum pernah mencapai frekuensi ini (baca: AMD Ryzen 5 3550H).

Saat ini baru 3 aplikasi ini yang saya install. Sepertinya sih sudah cukup untuk memonitor beban kerja laptop TUF ini. Saat monitoring ini saya menggunakan mode Performance di manajemen daya SlimBook. Pada mode Performance ini lebih sering terdengar kipas lebih kencang berputar dibandingkan mode Energy Saving, hehehe…

Sebenarnya untuk menjustifikasi perlu tidaknya upgrade RAM itu harus dilihat dari utilisasi RAM dan Swap ya? Apakah cukup atau tidak? Atau ada parameter lain?

Yang jelas untuk prosesor AMD Ryzen itu seharusnya dikonfigurasi untuk RAM dual channel supaya bisa keluar semua potensi performanya. Jadi tidak melulu tentang berapa jumlah kapasitasnya, tapi lebih cenderung ke dual channel-nya. Mungkin saya hanya perlu upgrade ke 4GB yang lebih murah untuk mengaktivasi dual channel-nya. Walau pun dalam hati saya merasa tanggung, apa tidak lebih baik sekalian ke 16GB? Hahaha…

Seberapa Cepat SSD M.2 NVMe 256 GB V-GeN?

Kemarin saya membeli SSD NVMe M.2 dengan kapasitas 256 GB dari V-Gen untuk meng-upgrade laptop Asus TUF FX505DD saya. Setelah upgrade ini laptop menjadi jauh lebih gegas, baik saat booting mau pun saat menjalankan aplikasi-aplikasi besar.

Namun kemudian saya jadi penasaran, seberapa cepat SSD ini? Kalau harddisk SATA dengan putaran 7200 RPM itu rata-rata kecepatan baca dan tulisnya 80-160 MB/s. Lalu seberapa cepat SSD sehingga bisa meningkatkan performa laptop secara keseluruhan? Seberapa jauh beda kecepatannya?

Sebenarnya ada beberapa tipe SSD, misalnya tipe SSD dengan konektor SATA yang biasanya dapat langsung menggantikan posisi harddisk 2.5″ di laptop karena sama-sama menggunakan konektor SATA. Biasanya SSD SATA ini kecepatan baca dan tulisnya antara 400-600 MB/s.

Lalu ada juga SSD versi M.2 yang bisa memiliki kecepatan sampai kurang lebih 1.800 MB/s. Sedangkan M.2 yang menggunakan teknologi NVMe bisa melesat jauh kecepatannya sampai 2.500-3.500 MB/s. Wow, itu berarti lebih dari 20x kecepatan harddisk.

Nah, SSD V-GeN yang saya beli ini tertulis kecepatan bacanya sampai 3.500 MB/s dan kecepatan tulisnya sampai 2.500 MB/s. Benarkah SSD ini bisa mencapai kecepatan tersebut? Mari kita coba benchmark kecepatannya.

Oh ya, karena saya menggunakan Ubuntu, maka cara yang digunakan adalah dengan cara standar Ubuntu. Programnya sudah bawaan standar Ubuntu, yaitu dd dan hdparm.

Pertama adalah untuk mengukur kecepatan baca dengan perintah hdparm. Ternyata kecepatan bacanya mencapai 3.649,54 MB/s. Kecepatan baca ini melebihi klaim V-GeN yang menuliskan kecepatannya sampai 3.500 MB/s.

Kedua adalah untuk mengukur kecepatan tulis dengan perintah dd yang menuliskan file sebesar 1 GB berisi 0. Ternyata kecepatannya cuma 765 MB/s. Jauh lebih rendah dibandingkan klaim V-Gen yang menuliskan kecepatan bacanya sampai 2.500 MB/s. Dari beberapa kali uji coba tulis rentang kecepatannya antara 650-870 MB/s. Namun tidak pernah lebih dari 1.000 MB/s.

SSD V-Gen ini memang bukan yang mahal. Bahkan saya membeli merek V-GeN ini karena yang paling murah dibanding SSD NVMe merek lain. Sepertinya perlu coba beli merk lain yang lebih terkenal yang klaimnya punya kecepatan baca 3.500 MB/s dan tulis 3.000 MB/s.

Tapi menurut saya SSD V-GeN ini sudah jauh lebih baik dari pada harddisk yang sepertinya sekarang sudah mulai ditinggalkan. Bahkan sekarang sudah banyak laptop segmen entry level mulai menggunakan SSD.

Jika laptop Anda masih menggunakan harddisk, cobalah upgrade ke SSD. Percayalah, meng-upgrade dari Harddisk ke SSD adalah tindakan yang benar. Bahkan sangat direkomendasikan.

Upgrade Asus TUF FX505DD Tahap 1

AMD Ryzen 5 3550H di laptop Asus TUF FX505DD bukanlah prosesor yang lambat. Seharusnya dia cepat. Namun di laptop TUF FX505DD ini terasa lambat performanya. Ada 2 hal yang membuatnya jadi lambat, yaitu:

  1. Harddisk 1 TB. Menjalankan sistem operasi Microsoft Windows dari harddisk menjadikan laptop terasa sangat lambat. Apalagi jika harus melakukan pekerjaan yang berat yang butuh akses ke storage. Contoh paling terasa adalah saat booting, perlu beberapa menit hingga muncul tampilan login. Saya yang terbiasa menggunakan MacBook Pro jadi sering sewot karena harus menunggu lama. Belum lagi lag yang terasa saat mau menjalankan aplikasi besar.
  2. RAM Single Channel. Sayangnya laptop ini datang dengan konfigurasi RAM single channel. Walau pun RAM 8 GB yang terpasang sudah merupakan versi sangat cepat, yaitu Hynix 8GB PC4-2666. Ironisnya 2 GB telah terpakai untuk internal VGA dari AMD, yaitu Vega 8. Sedangkan kartu grafis tambahannya, yaitu NVidia GeForce 1050 telah dibekali VRAM 3 GB.

Untungnya laptop TUF Gaming ini upgradeable, mudah untuk di-upgrade bahkan oleh penggunanya sendiri. Upgrade yang bisa dilakukan meliputi RAM, Harddisk, SSD (tersedia slot M.2) dan kalau tidak salah modul wifi juga bisa diganti.

Oleh karenanya saya memutuskan untuk meng-upgrade laptop ini secara bertahap. Tahap pertama adalah memasang SSD NVMe supaya masalah kelambatan karena bottle neck di storage dapat teratasi. Saya pun membeli SSD NVMe M.2 sebesar 256 GB dari V-GeN. Sebenarnya pengen sekalian beli yang 512 GB, tapi kok harganya nyaris 2x lipat yang bagi saya kemahalan. Jadi sementara saya beli 256 GB dulu. Toh harddisk 1 TB tetap akan saya pasang..

Tahap kedua adalah meng-upgrade RAM. Tapi untuk upgrade RAM ini menunggu ada rejeki dulu, soalnya lumayan mahal juga, hahaha…

Hari ini SSD NVMe ini datang dan saya pun segera memasang di laptop TUF FX505DD. Saya meng-install Ubuntu Desktop 19.04 di NVMe sedangkan Harddisk 1 TB tetap MS Windows apa adanya. Jadi laptop ini bisa dual boot. Saat awal dinyalakan ada opsi mau boot ke mana? Ubuntu atau Windows? Kalau saya sih jelas boot ke Ubuntu, hehehe…

Kesan saya tentang NVMe ini adalah luar biasa. Amat sangat jauh bedanya. Amat sangat terasa cepatnya. Untuk booting cukup beberapa detik saja. Dan Ubuntu jadi terasa gegas dan lag sangat singkat terasanya.

Laptop TUF Gaming FX505DD ini jadi terasa kencang sekali.