Mancing Yuuuk?

Di samping apartemen saya ada sebuah danau kecil yang bernama Situ Gede. Kalau saya perhatikan, setiap hari ada saja orang yang mancing di situ, baik pagi, siang, sore. Sebenarnya saya sedikit heran, apakah para pemancing ini memancing untuk sekedar hobi? Atau memang memancing sebagai mata pencaharian? Atau mereka sedang memancing ikan untuk lauk saja?

Di bawah ini ada 2 foto danau tersebut yang saya ambil kemarin sore. Coba cari di mana pemancingnya?

Mana Pemancingnya?
Mana Pemancingnya?
Mana hayooo?
Mana hayooo?

Baca selebihnya »

Belajar Display Dot Matrix

Setelah sebelumnya belajar 7-segments tibalah saatnya saya belajar display dot-matrix. Kali ini lebih kompleks dari pada 7-segments karena kita harus mengatur 64 LED (utk 1 panel ukuran 8×8). Pengaturan ke-64 LED ini dilakukan di ke-16 pin-nya.

Seperti biasa, kita harus mencari datasheet-nya. Dot matrix yang saya punya kodenya 1088BS. Setelah googling nemu file datasheet dengan judul ULM-1088AXBX.pdf (sayangnya saya tidak catat URL-nya). Di dalamnya ada spesifikasi beberapa tipe dot matrix dari seri 1088. Termasuk di antaranya 1088BS.

Skema 1088BX
Skema 1088BX

Dari datasheet, 1088BS adalah dot matrix dengan LED tipe HIGH RED yang terbuat dari GaAsP atau GaP (*ini singkatan dari unsur kimia. Saya sih sudah lupa, hehehe*). Dan konfigurasinya common anode.

Saya pun mengetest pin & nyala LED, apakah sesuai dengan datasheet? Dan ternyata cocok, horeee… Pengecekan ini mesti dilakukan karena dot matrix saya tidak diketahui produsennya. Cuma ada tulisan China & kode 1088BS. Beda dengan datasheet yang saya peroleh yang lebih detail informasi produsen, tipe dan seri.

Pengetesan berlangsung dengan baik. Tibalah saatnya wiring (pengkabelan) di breadboard. Seperti halnya saat wiring di 7-segments, saya menambahkan resistor 1K Ohm untuk membatasi arus ke dot matrix. Saya masih mengandalkan Arduino Nano andalan untuk pembelajaran ini.

Untuk pengetesan, saya membuat program sederhana untuk scanning LED. Dan tentu saja mencoba membuat sebuah pola, yaitu panah. Pembuatan pola masih sederhana saja dengan kode 0 dan 1 di posisi LED yang dimaksud.

Berikut foto dari proses belajar dot-matrix. Sayang di foto nyala LED-nya tidak nyata. Mestinya LED menyala merah terang. Mungkin saya yang belum bisa memotret ya? Hehehe… Ini persis dengan foto 7-segment kemarin yang juga tidak nampak warna merahnya. Padahal tertangkap di mata merah terang.

Bentuk panah. Mestinya menyala merah menyala. Di foto nampak putih.
Bentuk panah. Mestinya menyala merah menyala. Di foto nampak putih.

Baca selebihnya »

Box Makanan Delivery Order

image

Dari beberapa resto penyedia delivery service, menurut saya yg paling bagus adalah kemasan dari Solaria & KFC. Solaria mengemas makanan dalam box plastik sedangkan KFC ada paket keluarga yg dikemas dalam ember kecil.

Menurut saya ini bagus karena kemasan ini bisa berguna untuk hal lain, misalnya untuk tempat pernak-pernik penunjang hobi seperti komponen elektronika, dll. Sedangkan ember KFC bisa jadi pot. Karena manfaat tambahan ini akhirnya membuat preferensi pemesanan makanan menjadi ke kedua resto tersebut. Bagaimana dengan Anda?

Menyalakan Raspberry Pi

Ini sebenarnya posting yang tertunda. Penyalaan Raspberry Pi sudah berhasil dilakukan hari Kamis malam yang lalu (09/08/2012) saat daku kembali ke Tangerang dari Pekanbaru. Malamnya daku langsung ngabur ke sebuah mall dekat sini untuk membeli kabel HDMI dan Keyboard USB. Untuk SD Card daku mengorbankan kartu 8GB milik handycam. Sedangkan mouse pinjam notebook dan power pinjam dari charger BlackBerry.

Semua komponen sudah terkumpul
Semua komponen sudah terkumpul

Sebelum menyalakan, jangan lupa copy image OS ke SD Card. Kebetulan daku sudah download 2 OS yang direkomendasikan, yaitu Raspbian Wheezy dan Arch Linux. Yang pertama ingin kucoba tentu saja Raspbian Wheezy yang didaulat sebagai OS pilihan resmi pertama.

Salin image OS ke SD Card
Salin image OS ke SD Card

Cara copy-nya tersedia untuk Linux & Windows. Kalau mau gampang pake Windows saja karena sudah ada GUI-nya, yaitu Win32 Disk Imager. Kalau pakai Linux bisa pakai dd.

Colokin semua
Colokin semua

Setelah itu colokkan semuanya sesuai port-nya. Mestinya sih tidak ada yang keliru, terutama bagi newbie, karena semua colokannya khas. Hanya keyboard dan mouse saja yg sama-sama menggunakan USB. Dan boleh dipertukarkan colokannya.

Tiba saatnya menyalakan Raspberry Pi. Caranya gampang, yaitu tinggal mencolokkan kabel power, hanya itu… Raspberry Pi tidak punya saklar.

Raspi-config
Raspi-config

Jika semuanya baik-baik saja, setelah layar boot, kita akan dihadapkan pada utility raspi-config. Lakukan perubahaan konfigurasinya seperlunya. Jika tidak tahu apa yang harus dilakukan, silakan tekan “Finish” saja. Setelah itu Anda akan masuk ke prompt login. Loginlah dengan user pi dan password raspberry (password bisa diganti via raspi-config).

Pada prompt ketikkan startx dan tekan enter, maka kita akan masuk ke desktop LXDE standard bawaan Raspian Wheezy.

LXDE dengan logo Raspberry Pi
LXDE dengan logo Raspberry Pi

Distro ini belum lengkap. Baru ada program seperlunya saja. Untuk programmer Python sudah cukup berbahagia karena bahasa ini menjadi bahasa resmi di RPi. Syukurlah bahasa lain bisa juga diinstal seperti C++ dan PHP.

Belum ada aplikasi Office juga. Hanya text editor vi, nano dan LeafPad yang sudah GUI. Untuk menginstall program lain dibutuhkan koneksi ke internet. Gratis kok. Hanya saja yang agak repot adalah karena daku tidak punya koneksi via kabel ethernet di apartemen. Hanya ada wifi. Wah, berarti harus beli dongle wifi USB. Hiks…

Setelah ngoprek dikit terutama untuk mengoptimalkan tampilan supaya tidak ada border, dan juga mencoba overclock di 800 MHz, daku pun mencoba menggunakan Arch Linux. Hanya saja, Arch Linux ini benar-benar tanpa desktop manager. Tidak ada GUI di standardnya. Kita harus install semuanya sendiri. Ini solusi yang menarik bagi yang berminat membangun embedded Linux, misalnya Raspberry dibuat untuk pengendali atau tugas-tugas kritis atau di lapangan.

Arch Linux
Arch Linux

Kesimpulan

Menarik bisa memiliki & mencoba Raspberry Pi (disingkat RPi), sebuah komputer sexy seukuran kartu kredit yang saat ini sedang menjadi hit di seluruh dunia. RPi benar-benar cocok untuk sarana pembelajaran, selain karena harga resminya murah (US$ 35), juga karena bisa digunakan dengan piranti terjangkau, bahkan bisa bisa menggunakan TV analog biasa.

Bagi hobbyist, RPi benar-benar cocok karena penggunaannya bisa di-custom sesuai peruntukan. RPi bahkan bisa diprogram secara mandiri supaya bisa jadi seperti Arduino (microcontroller) karena disediakan GPIO (general purpose I/O). Bahkan sudah ada pengembangan library C sehingga pemrograman bisa seperti Arduino Programmer (berbasis Wiring), yaitu WiringPi. Bagi hobbyist Ardunio tentu tidak sulit beradaptasi ke Raspberry Pi.

Sangat menarik. Daku sangat suka Arduino + Raspberry Pi. Pengen suatu saat punya waktu untuk bikin proyek bagi keduanya.

Bunga Ga Jelas

Hehehe… sebenarnya judul di atas lebay banget. Karena bukan bunganya yang tidak jelas. Bukan pula fotonya yang tidak jelas bin tidak fokus (*yah mungkin sedikit tidak jelas fotonya*). Tapi karena dakunya saja yang tidak tahu nama-nama bunga. Daku bukan pecinta tanaman, tapi cuma penikmat keindahannya saja. Jadi kalau main ke Hutannya Ibu, tidak diragukan lagi pasti daku akan foto bunga-bunga di sana. Termasuk bunga di bawah ini. Tapi jangan tanya apa nama bunganya ya? Daku lupa tanya namanya ke Ibuku. Hehehe…

Apa namanya, hayo?
Apa namanya, hayo?

Kalau tidak salah, yang ini namanya Aster (BJSS/CMIIW).

Aster kah?
Aster kah?