Tablet PC Murah untuk Pelajar

Ketika membaca berita “Demi Siswa, India Bikin Tablet Seharga Rp 280 Ribu”, saya pun terkagum-kagum atas inisiatif pemerintah India ini. Bagaimana tidak kagum? Pemerintah India memfasilitasi para pelajar dengan Tablet murah seharga 1.500 rupee (atau sekitar Rp 280.000). Dengan demikian para pelajar diharapkan tidak hanya mendapat pengetahuan dari textbook standard, tetapi juga dari internet.

Sebelumnya pemerintah India juga sudah banyak berinovasi untuk para masyarakatnya, seperti PC murah, mobil murah, dll. Yang mengganggu otak saya adalah, mengapa inovasi-inovasi ini tidak tercipta di Indonesia ya? Saya melihat pemerintah kita ini reaktif, ada masalah barulah kemudian ditangani.

Padahal jika kebijakan pemerintah bisa inovatif dan kreatif bisa memicu dan mengangkat kreativitas masyarakatnya. Ujung-ujungnya tentu inovasi kolektif yang masif. Tunggu, bukan berarti saya mengecilkan kreativitas masyarakat loh! Saya tahu masyarakat kita sangat kreatif. Yang saya soroti adalah kreativitas dari pemerintah.

Idealnya sih pemerintah bisa proaktif seperti kebanyakan pemerintahan di luar sana, sebut saja India atau China.

Kalau sudah begitu, biasanya kita hanya jadi pengekor, mengikuti atau meniru kebijakan atau inovasi dari luar. Atau malah jadi konsumen saja. Nampaknya Indonesia masih perlu banyak belajar. Menurut saya sih bukan belajar di keilmuannya saja, tetapi juga dari ke-inovasian atau kekreatifannya.

Kisah Sukses RB CMC

Selalu menarik mengikuti kisah sukses suatu entitas bisnis, bagaimana mereka memulai usaha, berinovasi, berstrategi dan berkembang maju. Salah satu yang kebetulan masih satu group adalah kisah Rumah Bersalin CMC yang terletak di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang.

CMC (Cikarang Medical Center) memulai usahanya sebagai klinik di tahun 1995 dengan layanan Rawat Jalan, Poli Gigi dan UGD (Unit Gawat Darurat). Pada perjalanannya, CMC menambahkan layanan MCU (Medical Check Up) bagi umum mau pun perusahaan.

Yang tengah itu blogger misterius
Yang tengah itu blogger misterius

Dan kini CMC telah menjelma menjadi sebuah Rumah Bersalin. Wow… sungguh sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Saya senang ketika sedikit banyak bisa belajar dari perkembangan CMC yang sangat menginspirasi. Oh iya, seseorang di tengah itu blogger juga loh, hehehe… Mungkin beliau berkenan berbagi kisah sukses RB CMC di blog-nya.

Selamat ya, RB CMC. Semoga sukses selalu.

Urun Rembug Mobil Listrik Dahlan Iskan

Saya sangat senang ketika Pak Dahlan Iskan (atau staff-nya?) membaca blog ini dan turut berkomentar di blog sederhana ini. Artinya beliau bisa menyerap aspirasi dari rakyat dengan baik walau pun via blog (internet). Lebih lanjut mengenai sepak terjang Pak Dahlan Iskan bisa merujuk ke URL: Kick Dahlan Iskan atau Komunitas Dahlanis.

Melanjutkan pembahasan mobil listrik sebelumnya, saya cukup terharu dengan kengototan program mobil listrik Pak Dahlan Iskan. Niatnya baik walau pun tentu banyak kekurangan di sana-sini. Dan untuk itulah perlunya masukan dari berbagai pihak, termasuk mungkin dari blogger sederhana seperti saya. Syukurlah beberapa diskusi di blog ini sudah terbaca beliau dan semoga bisa menjadi masukan bagi beliau.

Mempertimbangkan kengototan Pak Dahlan ini, mungkin perlu adanya beberapa pemikiran di berbagai aspek yang sekiranya dapat menunjang keberhasilan proyek mobil listrik tersebut. Berikut adalah urun rembug dari saya yang sederhana ini.

1) Layanan Purna Jual Mobil Listrik

Kita perlu belajar dari kegagalan produk dan penjualan beberapa produsen kendaraan bermotor konvensional, misalnya dari mobil/motor China. Lebih banyak kegagalan produk ini disumbangkan oleh kurangnya layanan purna jual seperti kurangnya ketersediaan suku cadang (sparepart), bengkel dan montir yang ahli, jaminan atau garansi, dll.

2) Mutu Produk

Tentu saja mutu harus selalu dikedepankan. Belajar dari kesuksesan produsen mobil besar yang mana mereka tidak segan melakukan recall untuk memperbaiki kesalahan produksi walau pun kesalahan itu hanya kecil saja. Tetapi langkah ini menunjukkan pentingnya kualitas produk dan bagaimana mereka berkomitmen untuk menjaga kualitas produk tetap tinggi sehingga produk tetap prima dalam waktu yang lama.

3) Desain Produk

Selain mutu tinggi, tentu perlu juga memperhatikan desain produk. Karena mobil listrik ini secara teknologi berbeda dengan mobil konvensional, tentu saja desain tidak perlu meniru mobil konvensional. Mobil listrik sebagai solusi masa depan tentu layak menggendong desain yang lebih futuristik. Tentu lebih asyik jika tampilannya elegan.

Di sisi lain, desain mobil listrik mesti memperhatikan aspek bobot (mesti lebih ringan) tapi tetap kokoh dan aspek aerodinamika sehingga hambatan angin tidak menurunkan kemampuannya. Artinya memang perlu desain yang berbeda dengan mobil konvensional. Toh mobil listrik tidak perlu didesain berkecepatan tinggi karena kecepatan tinggi justru akan merugikan sirkuit/kabel karena sirkuit/kabel akan dibebani dengan arus yang besar sejalan dengan kebutuhan akan kecepatan yg tinggi.

Ada beberapa contoh mobil listrik yang desainnya sangat futuristik dan elegan. Mungkin Pak Dahlan perlu mengajak para pembuat mobil listrik nasional out of the box dan lepas dari kungkungan desain mobil konvensional (dengan mesin combustion).

4) Kebijakan Pengikut Produk

Melengkapi jaminan/garansi produk, proyek mobil listrik ini memerlukan kebijakan pengikut produk, misalnya kebijakan sewa baterai (jadi pengguna tidak perlu khawatir terhadap kerusakan atau penurunan kapasitas baterai), sewa mobil listrik (jadi pengguna tidak perlu beli, tetapi cukup sewa mobil listrik saja), konversi motor ke mobil listrik (program pertukaran sepeda motor ke mobil listrik), dan lain-lain.

Perlu kebijakan kreatif untuk mendukung kesuksesan mobil listrik.

5) Konversi Sepeda Motor ke Mobil Listrik

Tentu saja ini kebijakan yang positif dilihat dari aspek kuantitas sepeda motor yang begitu besar. Seperti kita tahu, sepeda motor itu menyumbang angka kecelakaan dengan kematian yang terbesar. Artinya aspek keselamatannya sangat rendah. Pemerintah perlu memikirkan hal ini dengan memberikan kebijakan konversi sepeda motor ke mobil listrik.

Tentu saja mobil listrik tidak perlu besar dengan kapasitas 7 penumpang. Cukup 2-4 penumpang saja, contohnya adalah desain Renault Twizy yang berkapasitas 2 penumpang. Dan harus didukung dengan harga yang realistis sehingga bisa dijangkau oleh para pengendara sepeda motor.

Sungguh, saya banyak mendengarkan keinginan para pengendara sepeda motor untuk memiliki mobil yang bisa mengangkut keluarga kecilnya, terbebas dari panas-hujan dan tentu saja lebih aman dari pada sepeda motor.

6) Kebijakan Pemerintah

Keberhasilan proyek mobil listrik ini perlu didukung kebijakan dari pemerintah sebagai katalis peralihan mobil konvensional ke mobil listrik. Contoh kebijakan ini misalnya: insentif pajak (pengurangan pajak kendaraan bermotor sehingga lebih murah. Atau malah dibebaskan dari pajak sekalian?), gratis tol (atau diskon 50% boleh juga), gratis parkir, dan lain-lain.

Penutup

Demikian urun rembug dari saya. Mungkin opini ini bisa membantu keberhasilan mobil listrik. Semoga Indonesia tidak hanya bisa berlari mengejar ketertinggalan, tetapi bisa melompat jauh ke depan. Kalau tidak mulai melompat sekarang, nanti lompatan kita ketinggalan lagi loh! (*hayaaah*)

Mbah Kakung

Masih sealbum dengan foto Holden Premier, daku menemukan foto-foto lucu kami sekeluarga. Termasuk fotonya Mbak Choco yg masih belia. Hehehe…

Mbah Kakung
Mbah Kakung

Namun kali ini daku akan bercerita tentang sesosok yang sangat penting dalam keluarga kami, yaitu Michael Sadat Dibyowiyoto yang lebih kerap kami panggil sebagai Mbah Kakung. Sebagai kakek, beliau sangat banyak memberikan nilai-nilai kehidupan yang baik bagi putera-puterinya dan juga cucu-cucunya. Maklum, sebagai guru dan pernah juga menjabat kepsek, beliau mempunyai tanggung jawab atas moral & pendidikan yang terbaik bagi kami semua.

Walau pun Mbah Kakung di Yogyakarta dan kami sekeluarga di Semarang, namun kami tetap dekat dengan beliau. Karena kami semua pernah kost di sana. Dari kakak nomer 1 & 2 (Mbak Choco), daku sampai adik, karena kami pernah kuliah & sekolah di sana. Sayangnya daku tidak lulus UGM. (*DO nih ye? DO kok bangga*)

Mbah Kakung amat sangat dekat dengan Mbak Choco karena mereka punya sense of humor yang tinggi. Walau hanya berdua, tapi suasana jadi rame karena gojekan mereka. Tidak dipungkiri, keduanya memang sangat lucu.

Baca selebihnya »

Terlambat & Kesempatan Hidup

Seorang pekerja datang terlambat & kemudian diomelin habis-habisan oleh bosnya. Namun anehnya pekerja itu malah tersenyum saja & menanggapi omelan bosnya dengan hati riang seolah tanpa beban.

“Kok Bapak santai saja diomelin habis-habisan oleh bos?” tanya sekretaris penuh rasa penasaran.

“Seandainya saja dia tahu apa yang terjadi sebelumnya dengan saya.” jawab pekerja itu tetap dengan senyumnya.

“Memang apa yang terjadi sebelumnya?” tanya sekretaris penuh selidik.

“Tadi saya nyaris tewas. Seandainya saja saya tidak ditolong oleh seseorang yang memegang saya yang hampir jatuh dari jembatan penyeberangan karena terpeleset, mungkin saya tidak bisa lagi hadir di sini.”