Blogger Kena Tipu

Ada blogger kena tipu. Dan blogger itu adalah saya, hiks… Kejadian memalukan sekaligus memilukan ini terjadi kemarin sore. Ceritanya saya dapat telpon dari seseorang yang mengaku bernama R yang adalah rekan kerja saya. Dia bilang kalau kena razia dan butuh uang damai karena R cuma bawa uang 50rb, tidak cukup untuk berdamai.

Sebenarnya saya tidak langsung percaya dan mencoba mengkonfirmasi apakah ini benar R teman saya? Termasuk mengapa menghubungi saya dan bukan istrinya di rumah? Karena saya agak curiga dengan suaranya & gayanya yang berbeda. Dia menjawab dengan meyakinkan bahwa dia memang R dan tidak bisa menelepon istrinya di rumah.

Saya kasihan juga jika dia memang benar-benar R, teman saya. Saya juga memaklumi, mungkin dia dalam keadaan yang tidak menguntungkan sehingga suaranya serba serius, berbeda dengan pembawaannya yang santai yang biasa saya kenal.

Menipunya juga canggih, karena ada sosok lain yang berperan sebagai polisi yang konon menahan R karena membawa mobil tanpa surat dan kena razia untuk menanggulangi kriminalitas. Suaranya meyakinkan sekali sebagai sosok polisi. Atau saya yang mudah percaya ya?

Baca selebihnya »

Alarm Meraung-raung

Sudah beberapa kali saya mendengar alarm mobil meraung-raung di area ruko depan apartemen. Mungkin ada upaya pencurian mobil. Syukurlah ada alarm sehingga bisa menggagalkan upaya pencurian mobil.

Di area ruko depan apartemen memang sering jadi pool bagi usaha rental mobil. Di situ diparkir banyak sekali minibus. Sayangnya pemilik usaha rental tidak punya pool khusus sehingga hanya memarkirkan mobil-mobilnya di area parkiran terbuka ruko yang mungkin tanpa penjagaan ketat.

Selama ini, saya mengamati kalau raungan alarm mobil ini berlangsung lama. Mungkin pemilik mobil tidak mengetahui kalau alarm mobilnya meraung-raung. Mungkin setelah 1 jam barulah alarm tersebut mati. Entah karena dimatikan oleh pemilik atau karena habis akinya.

Untuk upaya menggagalkan pencurian, alarm mobil standard seperti ini sudah cukup. Tapi lain ceritanya jika pencurinya cukup ahli. Saya pernah baca ada alat scanner yang bisa mematikan alarm tanpa perlu merusak dan membuka pintu. Ketika alarm dimatikan, maka kunci pintu dapat terbuka sendiri.

Konon pembukaan dengan scanner ini bisa dilakukan hanya dalam beberapa menit. Scanner akan mencari frekuensi/channel dari alarm. Begitu ketemu langsung mematikan alarm.

Tidak dipungkiri, daerah ruko depan rada sepi dan mudah diakses orang dari luar. Beda dengan apartemen yang selalu dijaga satpam 24 jam.

Celah ini tentu dapat dimanfaatkan pencuri. Walau pun dia gagal mencuri karena alarm meraung-raung, bisa saja dia menunggu beberapa lama sampai baterainya habis. Begitu aki habis, dengan mudah dia dapat membuka pintu. Menyalakan mesin cukup dengan starter metode dorong. Huuh, hilang deh itu mobil. (*Ups, kok malah ngajarin maling ya?*)

Mungkin lebih baik jika alarm sudah dilengkapi dengan modul GSM/CDMA yang otomatis akan mengirim SMS atau e-mail ke pemilik mobil jika ada upaya pencurian. Bagusnya lagi jika ada modul GPS sehingga bisa terdeteksi lokasinya. Sayangnya fitur-fitur canggih seperti ini belum menjadi standard keamanan mobil-mobil favorit di Indonesia. Padahal kan produsen mobil tahu begitu rawannya kondisi di Indonesia tercinta ini.

Premium Oplosan

Saat liburan di Semarang kemarin saya menjumpai mobilnya anak-anak ndut-ndutan, tidak enak dipakai. Kalau nanjak jadi ngeden kehilangan tenaga. Padahal awal bulan sudah diservis besar. Saya menduga ada yang salah dengan businya. Setelah dilihat di nota servis, busi sudah diganti baru.

Saya pun meminta sopir untuk menservis di kemudian harinya. Apa yang terjadi? Kepala bengkel menelepon saya dan bilang kalau businya bermasalah. Lha tapi kan baru saja diganti di awal bulan? Jawaban kepala bengkel sungguh mengejutkan karena bermasalahnya busi disebabkan oleh premium yang di bawah spesifikasi standar. Jika seharusnya memiliki oktan 87 ternyata didapati di bawah 80. Weks…

Karena penyebab kerusakan karena faktor eksternal, maka penggantian busi dikenakan ke konsumen. Kepala bengkel kemudian merekomendasikan penggunaan pertamax. Kata kepala bengkel lagi, masalah jeleknya kualitas bahan bakar ini pernah dimuat di kompas. Saya sendiri belum sempat mengeceknya. Tapi memang saya pernah dengar masalah kualitas bensin. Hanya saja baru kali ini saya mengalaminya sendiri.

Beberapa waktu yang lalu saya membaca kasus rusaknya saringan dan pompa bensin yang dialami oleh banyak mobil terkait rendahnya kualitas bensin. Belum lama malah membaca bengkoknya stang piston beberapa mobil yang diduga karena masalah bensin juga.

Jika memang demikian, apa bentuk tanggung jawab dari pertamina? Sejauh ini tidak ada langkah kongkret dari Pertamina. Padahal beberapa lembaga independen atau perorangan memang mendapati rendahnya kualitas premium. Bahkan di bawah spesifikasi standar yang sebenarnya memang sudah rendah.

Mungkin ini sabotase? Atau memang supaya masyarakat beralih ke pertamax? Soalnya premium memang bahan bakar yang disubsidi pemerintah dan jatah subsidi sudah habis. Ah, entahlah. Yang jelas masyarakat memang banyak dirugikan. Mungkin sudah banyak orang yang bermasalah dengan mobilnya karena buruknya bahan bakar, tapi mereka lebih senang menerima apa adanya. Toh mereka sudah mendapat subsidi?

Sensor di Buku

Ketika terjadi kehebohan buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” tempo hari, jadi terbesit di pikiran (hayah, kayak ngga ada lagi yg dipikirkan ya?), apakah bisa dilakukan sensor di buku? Kalau kita amati sensor di film, maka kita akan lihat blur saat ada gambar yang disensor, atau suara “tiiiit” sepanjang ucapan yang disensor. Tapi bagaimana dengan buku?

Kalau di blog sih seringkali kata yang disensor (oleh penulisnya sendiri) digantikan dengan “*” (bintang) atau karakter lain. Tapi seringkali penggantian karakter ini hanya di karakter tertentu sehingga kata aslinya masih bisa ditebak. Contohnya: “p*n*s” yang masih bisa ditebak dari kata “panas” (hayah). Atau ada juga yang diganti total 1 kata dengan bintang, misalnya “*****”. Kalau diganti total dengan bintang sih jadi tidak tertebak kata asli yg dimaksud penulis.

Hehehe… rasanya tidak ada buku yg disensor model begini ya? Yang terjadi adalah buku tersebut sama sekali tidak bisa beredar. Kalau pun terlanjur terbit/cetak ya dibakar saja. Dan tidak boleh lagi dicetak.

Tapi mengapa film dan musik masih bisa beredar walau pun dengan sensor? Adilkah?

Spekulasi Liar Tragedi Sukhoi

Turut berduka cita bagi keluarga korban Sukhoi. Sungguh ini tragedi yang memilukan. Di sisi lain, banyak spekulasi yang beredar seputar tragedi Sukhoi ini. Bagiku, spekulasi-spekulasi liar ini merupakan tragedi tersendiri. Karena banyak sekali spekulasi yang tidak mendasar yang beredar secara gampangnya. Dari hape nyala yg katanya mengakibatkan turbin mati, atau teori konspirasi dikendalikannya sistem navigasi secara remote oleh Amerika, dan masih banyak lagi spekulasi.

Daku menyebutnya tragedi karena betapa mudahnya spekulasi-spekulasi ini disebarkan tanpa dicek kebenarannya. Atau mungkin karena semakin berkembangnya kemudahan penyebaran informasi ini sehingga orang dengan mudah meneruskan informasi ini tanpa perlu mengeceknya terlebih dahulu? Menurutku, ini sama saja melempar sampah ke orang lain.

Ironisnya banyak orang awam yang mempercayainya begitu saja. Semakin bagus spekulasi disajikan, semakin mudah orang mempercayainya. Ditambah balutan bahasa teknis yang jarang terdengar membuat orang mudah terpukau dan menjadi percaya.

Sekedar saran dariku, biarlah spekulasi itu ada, tapi jangan mudah percaya. Karena tanpa data dan fakta, cerita liar itu tetap hanya spekulasi, belum terbukti kebenarannya. Lebih baik kita menunggu berita resmi sambil terus membantu jika mampu. Biarlah tim ahli bekerja. Kita tunggu hasil penyelidikan saja. Serahkan saja pada ahlinya. Untuk sementara lupakan teori konspirasi dulu. Jangan turut memperkeruh duka ini.

Setuju?