Memonitor Beban Kerja Laptop

Sebenarnya tulisan ini cuma iseng. Seolah ingin membenarkan keinginan saya untuk melakukan upgrade fase 2 (lihat tulisan sebelumnya tentang upgrade fase 1). Ya memang rada gatel juga sih pengen segera bisa upgrade fase 2, yaitu untuk menambah RAM di laptop Asus TUF Gaming FX505DD saya. Hanya saja setelah melihat di toko online ternyata harga RAM SO-DIMM DDR4 PC4 — 2666MHz itu ternyata mahal. Apalagi dari merek terkenal. Padahal sudah ngiler lihat yang 16GB.

Nah belakangan ini saya mencoba menahan diri dan menyelidiki apakah benar saya membutuhkan upgrade RAM ini? Sementara jari sudah tidak tahan menekan tombol “BELI”, hahaha…

Sebenarnya saya belum 100% menggunakan laptop TUF ini untuk bekerja karena untuk pekerjaan kantor saya masih menggunakan MacBook Pro. Tapi jika kelak dibutuhkan untuk ikutan kompetisi atau tiba-tiba kumat semangat ngopreknya, TUF ini harus siap menanggung beban kerja yang berat. Mungkin berlebihan ya? Tapi mungkin juga tidak, secara saya bakal banyak menggunakan VM (Virtual Machine) atau AVD (Android Virtual Device).

Rencananya dalam beberapa hari ke depan ini saya akan memonitor beban kerja laptop ini untuk beberapa tugas normal sampai ke yang berat. Untuk memonitor ini diperlukan beberapa program sehingga saya bisa melihat seberapa utilisasi laptop, apa saja yang berjalan di laptop sampai ke suhu laptop. Berikut ini adalah beberapa aplikasi yang sudah saya install:

  1. htop. Ini adalah sebuah aplikasi ringan berbasis teks yang dijalankan di terminal. Fungsinya untuk memantau utilisasi CPU, RAM dan SWAP. Terlihat pula daftar program yang sedang berjalan beserta informasi penggunaan CPU dan RAM oleh aplikasi ini. Sebenarnya tidak hanya itu, aplikasi ini sudah dibekali fitur mumpuni semacam pencarian task, membunuh task, dll. Tidak hanya simple tapi sangat powerful. Sayangnya itu belum cukup karena aplikasi ini tidak bisa memonitor suhu, storage dan network.
  2. System Monitor. Kalau ini adalah aplikasi bawaan dari Ubuntu Desktop. Karena tampilannya grafis, maka tampak lebih menyenangkan untuk dilihat. Fitur unggulannya adalah monitor CPU, Memori & Swap, serta jumlah dan kecepatan komunikasi data. Semua ditampilkan dalam bentuk grafis yang menyenangkan untuk dilihat. Di samping fitur utama ini ada fitur tambahan seperti monitor proses apa saja yang sedang berjalan dan file system. Cukup lengkap ya? Di samping tampilannya lebih nyaman untuk dilihat.
  3. S-tui (Stress Terminal UI). Saya baru menemukan aplikasi keren ini. Aplikasi ini seperti htop yang berjalan di terminal dalam mode teks. Walau pun demikian, saya merasa aplikasi ini layak diinstall untuk mendampingi htop dan System Monitor karena aplikasi ini mempunya fitur untuk memonitor frekuensi CPU, utilisasi CPU, dan yang terpenting bisa memonitor temperatur CPU. Aplikasi ini mencoba untuk menampilkan data ini dalam bentuk grafis tapi dalam mode teks. Jadi bisa berjalan tanpa terlalu membebani laptop secara berlebihan. Sayangnya saya agak curiga dengan “Top Freq” di mana di sini tertulis 2100 MHz padahal “Cur Freq” (current frequency) bisa saja melebihi Top Freq. Ya memang base clock Ryzen 5 3550H ini di 2100 MHz. Tapi maksimal frekuensi seharusnya bisa sampai 3700 MHz yang mana kalau saya lihat belum pernah mencapai frekuensi ini (baca: AMD Ryzen 5 3550H).

Saat ini baru 3 aplikasi ini yang saya install. Sepertinya sih sudah cukup untuk memonitor beban kerja laptop TUF ini. Saat monitoring ini saya menggunakan mode Performance di manajemen daya SlimBook. Pada mode Performance ini lebih sering terdengar kipas lebih kencang berputar dibandingkan mode Energy Saving, hehehe…

Sebenarnya untuk menjustifikasi perlu tidaknya upgrade RAM itu harus dilihat dari utilisasi RAM dan Swap ya? Apakah cukup atau tidak? Atau ada parameter lain?

Yang jelas untuk prosesor AMD Ryzen itu seharusnya dikonfigurasi untuk RAM dual channel supaya bisa keluar semua potensi performanya. Jadi tidak melulu tentang berapa jumlah kapasitasnya, tapi lebih cenderung ke dual channel-nya. Mungkin saya hanya perlu upgrade ke 4GB yang lebih murah untuk mengaktivasi dual channel-nya. Walau pun dalam hati saya merasa tanggung, apa tidak lebih baik sekalian ke 16GB? Hahaha…

Berebut Masuk Lift

Saya heran ketika melihat banyak sekali orang yang begitu pintu lift terbuka langsung menerobos masuk. Padahal banyak orang dari dalam lift yang mau keluar. Sehingga bisa dipastikan orang dari dalam lift kesulitan keluar dan akhirnya mereka berusaha menerobos arus orang-orang yang mau masuk lift.

Tidak hanya sekali dua kali kejadian seperti ini saya alami, nyaris setiap hari. Mungkin mereka takut kalau ketinggalan lift seperti orang-orang di stasiun yang takut ketinggalan kereta.

Seperti kemarin ketika saya satu lift dengan penderita stroke yang menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Saat pintu lift terbuka, beberapa orang terburu-buru akan menerobos masuk. Langsung saja saya berikan kode tangan stop tinggi-tinggi supaya orang-orang tidak menerobos masuk dan membiarkan kami keluar terlebih dahulu. Syukurlah mereka mengerti kode tangan saya dan mereka urung menerobos. Tetapi beberapa anak kecil terlanjur berlari masuk lift dan hampir menabrak bapak si penderita stroke. Haduuuh…

Saya lihat di beberapa lift sudah ditempeli papan bertuliskan “Dahulukan yang keluar” atau memberikan pembatas di tengah pintu lift sebagai pengatur jalur masuk dan keluar lift, kiri untuk masuk dan kanan untuk keluar. Nampaknya masyarakat kita masih perlu belajar banyak ya?

Kesalahan Waktu di Pound of Flesh

Sudah nonton film “Pound of Flesh” yang dibintangi Jean Claude Van Damme? Lumayan menghibur kan? Tapi saya melihat kejanggalan waktu di film ini. Mari kita lihat beberapa scene di bawah ini.

2015-04-29 23:05:27
2015-04-29 23:05:27

Dalam rekaman CCTV jalan tertera tanggal 29/04/2015 jam 23:05:27. Rekaman ini menunjukkan figur wanita yang membantu penjahat mencuri ginjal Deacon. Dari sinilah penyelidikan yang dilakukan kakak-beradik ini dimulai.

Baca selebihnya »

Simfoni Negeriku

Masih dalam rangka mencari lagu-lagu instrumental untuk menemani kerja, saya malah menemukan album “Simfoni Negeriku” dari Victorian Philharmonic Orchestra & Addie MS. Isinya lagu-lagu nasional.

Jepretan Layar 2015-04-21 pada 11.01.40 AM

Langsung saja pikiran terlempar jauh ke masa lalu, saat dimana saya masih SD. Saat itu Papah yang masih bekerja sebagai pegawai negeri sering sekali menyetel kaset lagu-lagu nasional dan perjuangan menjelang 17-an atau saat perayaan hari nasional lainnya. Kami semua jadi ikut bersemangat mendengar lagu-lagu perjuangan itu.

Sayangnya album “Simfoni Negeriku” ini bukan lagu-lagu perjuangan yang menggugah semangat. Walau pun ada lagu Indonesia Raya dan Mars Pancasila, namun menurutku kurang bisa membangkitkan asa. Jadi sementara ini saya lewatkan saja.

Sleep Songs

Sedang cari-cari lagu instrumentalia yang tenang yang sekiranya bisa menemani kerja ternyata malah menemukan album bertajuk “Sleep Songs: 101 Sleep Songs & Relaxation Music, Relax Sounds to Reduce Stress Level”. Saya coba dengar sampelnya ternyata musiknya begitu saja. Ya memang ditujukan supaya pendengarnya bisa relaks dan tertidur. Musiknya lambat, nadanya begitu-begitu saja. Jadi bayangin, ini yang main musik pasti merekamnya sambil terkantuk-kantuk atau malah tertidur? Hahaha…

Jepretan Layar 2015-04-21 pada 10.44.02 AM

Syukurlah saya bukan tipe yang kesulitan tidur. Kadang merasa sulit tidur sih, tapi ternyata cuma 5 menit. Habis itu terlelap, bablas.

Oh iya, kalau sedang kerja, Anda suka ditemani lagu apa?