Jeruk Dalam Kemasan

Jeruk setelah dipanen hanya bisa bertahan beberapa hari. Setelah itu jeruk akan terlalu matang dan kemudian membusuk. Tapi bagaimana jika dikemas dan diberi sirup? Menurut tulisan kadaluarsanya, dia bisa bertahan hampir setahun.

jeruk1

Bagaimana rasanya? Kecut-kecut bercampur manisnya sari buah apel (atau sirup?). Tapi apakah bila dikemas seperti ini jeruk akan tetap menyehatkan?

jeruk2

Pemenang SUCI 4

Seperti biasa, setiap kamis malam saya selalu mantengin KompasTV. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk nonton Stand Up Comedy Indonesia Session 4 (SUCI 4). Yang asyik adalah karena ada beberapa pelawak yang telah tereliminasi tapi ikut diundang untuk mengisi acara grand final. Durasinya jadi panjang dan selama beberapa jam saya puas ketawa. Untung ketawa saya normal, coba kalau nadanya mirip Mbak Kunti, pasti apartemen jadi heboh, xixixi…

{ Foto dipinjam dari Stand Up Comedy Kompas TV }

Selamat bagi David yang berhasil menjadi juara satu. Pada penampilan-penampilan sebelumnya David memang lucu banget. Walau pun pada penampilan grand final ini kurang gerrr (menurut saya loooh!). Kayaknya ada beberapa bagian yang dipotong oleh Kompas TV.

Selamat juga bagi Abdur yang terpaksa jadi juara dua. Jujur saja, saya njagoin Abdur sejak awal. Lawakannya cerdas namun bisa dibawakan dengan lugas. Hanya saja, menurut juri kemarin, cerita yang dibangun Abdur kurang bulat. Hem… iya sih.

Dan selamat juga bagi Dzawin yang menduduki posisi juara tiga. Sebenarnya dia lucu, tapi seringkali tidak stabil lucunya, kadang lucu banget, kadang tidak.

Sayangnya sesi SUCI 4 telah berakhir. Saya menunggu sesi berikutnya. Oh iya, kalau mau lihat arsip video-nya bisa di: Stand Up Comedy Kompas TV.

Gagal Memahami Kalimat Positif

Nampaknya daku termasuk orang yang gagal dalam memahami sesuatu. Kali ini daku gagal memahami “Kalimat Negatif & Positif”. Daku sering mendengar nasehat kalau dalam mendidik anak-anak dilarang menggunakan kalimat negatif, misalnya: “minum madu supaya TIDAK sakit”, yang disarankan dipositifkan menjadi “minum madu supaya sehat”. Pendek kata, jangan menggunakan kata NEGATIF dan sebaiknya menggunakan kata POSITIF untuk mensugesti anak.

Ya, daku gagal memahaminya karena sebenarnya kalimat dengan “TIDAK”, “JANGAN”, “DILARANG”, dll, bukanlah kalimat negatif bagiku. Karena kata-kata ini bukanlah kata negatif. Dalam hal ini “TIDAK”, “BUKAN”, dll memang merupakan “NEGASI”, tetapi bukanlah berarti negatif. Bagiku, NEGATIF itu lebih tepat jika dipahami sebagai konteks atau arti dari suatu kalimat. Misalnya: “Saya ingin mencuri”, ini jelas kalimat yang memiliki arti negatif secara normatif. Demikian juga dengan kalimat ajakan: “Mari kita merampok.”

Selain itu, kalimat POSITIF yang disarankan mengganti kalimat NEGATIF pun sebenarnya tidak tepat. Misalnya kalimat “Minum madu supaya TIDAK sakit” diganti menjadi “Minum madu supaya sehat”, daku memahaminya seperti ini: Si Anak sedang sakit lalu diberikan madu supaya sembuh (menjadi sehat).

Benarkan? Daku gagal memahaminya? Terlepas dari itu, konon para peneliti mengungkapkan kalau kalimat dengan kata “TIDAK”, “JANGAN”, “DILARANG”, dll akan diabaikan oleh otak sehingga orang cenderung malah melakukannya. Saat membacanya, daku pun gagal memahaminya. Bagiku, jika orang yang mendengarnya kemudian mengabaikan atau malah cenderung melakukannya, itu karena dorongan hati orang itu untuk mengabaikan dan kemudian malah melakukannya. Namun jika tingkat kedisiplinan dan kepatuhan dan pemahaman seseorang itu tinggi, maka larangan tersebut akan dipatuhi.

Bisa juga karena orang gagal mencerna atau memperhatikan konteks dari larangan tersebut. Contohnya ketika daku masih kecil sering diingatkan Ibu: “Jangan lupa bawa buku ini ya”, yang kemudian terjadi adalah daku lupa membawanya. Kemudian ibu menasehatiku untuk selalu “MEMPERHATIKAN” alias “PERHATIAN” jika diajak ngomong atau ketika dinasehati. Alhasil setelah itu daku pun selalu memperhatikan dan tidak lupa lagi.

Contoh lain, ini seperti rambu-rambu lalu lintas di Indonesia yang cenderung dilanggar oleh banyak orang. Namun demikian di negara tetangga sangat ditaati dan amat-sangat jarang dilanggar. Jadi bukan masalah rambu-nya, namun masalah mental atau budaya yang mempengaruhi tingkat pelanggaran.

Ini menurutku loooh yaaa, seseorang yang seringkali gagal memahami sesuatu.

Bekerja Pakai Sepatu Olahraga

Ketika daku ke kantor menggunakan sepatu olahraga nampaknya menjadi perhatian khusus dari teman-teman, apalagi karena warna kontras banget, yaitu biru. Tentu saja komentar-komentar yang masuk beraneka ragam. Salah satunya adalah dianggap meniru Dahlan Iskan atau Atut yang lebih dulu sering menggunakan sepatu olahraga atau kets ke kantor.

Namun sebenarnya daku bukan mengikuti gaya mereka. Sebenarnya daku malah tidak pede saat menggunakan sepatu OR-ku. Apalagi seringkali tidak matching warnanya dengan bajuku.

sepatu-kerja

Kalau daku pakai sepatu OR ke kantor itu adalah karena sepatu kerjaku jebol, padahal umurnya belum ada setahun, hiks… Mungkin karena daku sering jalan kaki dan bobotku sedang naik sehingga beban sepatu jadi berat. Apalagi sejak Marooney terjual sehingga sementara waktu daku harus naik angkutan umum yang ternyata ada porsi jalan sehatnya. Mungkin juga sepatuku bukan yang awet.

Tapi pakai sepatu OR jadi lebih nyaman. Selain lebih empuk, juga enak dibuat jalan kaki. Langkah jadi ringan. Tidak heran jika Dahlan Iskan atau Atut lebih senang pakai sepatu OR dalam bekerja. Tentu saja karena mereka lebih aktif dalam kegiatan bekerjanya.

Mungkin daku harus beli sepatu OR yang warnanya hitam agar tidak terlalu mencolok ketika dipakai untuk kerja ya?