Memperingati 1000 Hari Almarhum Papah

Tidak terasa 1000 telah berlalu sejak berpulangnya Papah ke Pangkuan Bapa. Kami memperingatinya bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70 tanggal 17 Agustus 2015 di peristirahatan terakhir Papah di Sagan, Yogyakarta.

11013027_10153252871464620_1921647147217001135_o

Kami memperingati 1000 hari dengan doa bersama Ibunda, Bapak & Ibu Mertua, Keluarga Mbak Chocovanilla, dan Neti. Doa dipimpin oleh Papa Mertua.

Baca selebihnya »

Iklan

Mampir di The Westlake Resto

Tempo hari saat mengurus Kijing Papahanda, kami menyempatkan diri mampir makan siang di The Westlake Resto yang berlokasi di jalan Ringroad Barat Bedog, Sleman, Yogyakarta (Peta: google maps). Rupanya memang mengasyikkan makan siang di sana. Kami disuguhi pemandangan danau buatan yang asri.

westlake01

Di sana disediakan perahu kayuh untuk menjelajahi danau. Kita juga bisa mancing di danau. Kalau saya lihat ikan di danau banyak dan besar-besar. Cocok bagi yang hobi mancing.

westlake02

Baca selebihnya »

Pulang Ke Kota Papah

Terngiang lagu Yogyakarta dari KLA Project,

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita saling luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Yogyakarta, ini bukan tentang kisah asmaraku, tapi kisah asmara Papah & Ibu. Ketika cinta mereka bersemi puluhan tahun lalu, membina keluarga sederhana dan bahagia, hingga akhirnya maut memisahkan mereka, tepat satu tahun yang lalu.

Ada setangkup haru dalam rindu
Ada setangkup haru dalam rindu

Baca selebihnya »

Akhir Tahun di Ganjuran

Akhir tahun ini kami habiskan di Yogyakarta. Kami mengikuti Misa di Gereja Ganjuran dengan ujub untuk memperingati 40 hari wafatnya Papah tercinta. Ternyata selain Misa akhir tahun, Misa juga untuk melantik para Prodiakon. Kurang lebih 110 Prodiakon yang dilantik. Misa dibawakan oleh 4 pastor sekaligus.

Sungguh terharu menyadari bahwa ujub Misa untuk Papah ternyata didukung oleh sedemikian banyak orang, dari 4 pastor, kurang lebih 110 prodiakon, dan para umat yang memadati Gereja Ganjuran. Papah mendapat banyak dukungan doa.

Terima kasih Tuhan. Damai di Surga ya, Pah.

Kebanjiran Lagi

Selama 2 hari kemarin rumah kami di Graha Wahid Semarang kebanjiran setelah seharian hujan dengan derasnya. Kalau 2 tahun lalu banjir karena tanggung jebol, kali ini tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Biasanya hujan deras tidak membuat banjir. Mungkin ada saluran mampet atau tanggul jebol lagi?

Syukurlah banjir kali ini cuma menggenangi jalanan kompleks dan tidak sampai masuk rumah. Hanya saja setelah banjir timbul beberapa masalah seperti endapan lumpur yang mengotori jalan dan car port. Masalah terbesar adalah membludaknya septic tank. Alhasil WC mengeluarkan cairan pekat nan bau. Weks…

Untunglah sekarang telah marak jasa pengurasan septic tank ya? Mereka sangat berjasa menguras sampah organik dari manusia.

Papahanda, Bung Kecer Menemukan Cinta Sejati

Sebelum prosesi pemakaman Papah di Sagan Yogyakarta, Mbak Choco bertemu dengan Pak Helan Supardi, teman semasa mudanya Papah. Beliau bercerita tentang masa muda mereka. Waktu muda, Papah dikenal sebagai pria yang lurus dan tidak mau ikut menggoda wanita. Saat teman-teman menggoda wanita, Papah selalu memisahkan diri sehingga sering diledek sebagai Bung Kecer yang artinya mas yang tercecer.

Mungkin karena Papah lebih banyak dibesarkan oleh Ibundanya setelah kehilangan sosok Ayah ketika Papah masih SD. Peran Sang Ibunda sangat besar dalam membesarkan dan membimbing Papah. Tidak lupa peran dari Kakak-kakak perempuan Papah. Dulu Papah sangat dekat dengan Mbakyu Ning, sang Kakak yang penuh kasih membesarkan dan banyak membantu Papah dari segi keuangan.

Papah banyak dikelilingi sosok wanita yang mengasihinya sehingga Papah tidak ingin menyakiti hati wanita.

Hingga akhirnya Papah bertemu dengan Ibu. Pertemuan terjadi saat Papah melihat Ibu di asrama RS Panti Rapih, Yogyakarta. Rumah Papah di Sagan tepat di belakang asrama perawat dimana Ibu dulu belajar. Setiap kali selesai makan siang, para perawat akan pergi ke bagian belakang asrama untuk mencuci piring. Di situlah Papah melihat ibu.

Papah bersama teman-temannya naik pohon dan Papah pun berteriak ke Ibu: “Bud, rene tak kenalke karo dokterandes.” (“Bud, sini saya kenalkan sama dokterandus”).

Baca selebihnya »