Ancaman Gereja Katolik

Kemarin terjadi demonstrasi penolakan pembangunan Gereja Katolik Santa Clara di Bekasi oleh beberapa ormas Islam. Mereka menuding proses perijinan dilakukan dengan curang. Ada juga yang bilang kalau lokasi rencana gereja tersebut ada di tengah-tengah pesantren. Benarkah? Atau hanya alasan yang dibuat-buat?

Setelah dilakukan intermediasi akhirnya status pembangunan menjadi status quo. Tidak boleh diteruskan dan harus diulangi proses perijinannya.

Mendengar ini kok jadi sedih…

Apakah keberadaan gereja menjadi ancaman bagi masyarakat? Jika iya, apa wujud ancaman tersebut?

Baca selebihnya »

Mata Fisik dan Mata Iman

“Saya punya uang 100 ribu. Siapa mau?” Kata Romo sambil melambai-lambaikan selembar uang Rp 100.000.

“Saya mau…” Seru beberapa orang.

“Kalau uang ini saya remas-remas, siapa yang mau uang ini?” Kata Romo sambil meremas-remas uang itu. Tampak uang itu jadi kucel banget.

“Saya mau…” Seru beberapa orang.

“Bagus. Kalau uang ini terjatuh di got, berwarna kecoklatan, bau, dan terinjak-injak, siapa yang mau uang ini?” Kata Romo lagi sambil memperagakan seolah-olah uang itu terjatuh di got dan terinjak-injak.

“Saya mau…” Seru beberapa orang masih bersedia menerima uang itu.

“Anda masih mau uang ini karena Anda mata duitan!” Kata Romo diiringi tawa umat.

“Namun jika uang ini adalah manusia, apakah Anda masih mau menerimanya? Jika ada seseorang pendosa, penjahat, atau orang dengan penyakit seperti HIV, dll, apakah Anda masih mau menerimanya?”

Sejenak umat terdiam.

“Jika Anda menerimanya, maka Anda memandangnya dengan mata Iman. Tetapi jika tidak, maka Anda hanya memandang manusia dengan mata fisik yang hanya menilai orang lain berdasarkan apa yang Anda lihat.”

{ Sekelumit khotbah Romo di Gereja Santo Bartolomeus }

Dibaret Lagi

Usianya belum ada 1 tahun, tapi mobilku sudah dibaret 2 kali. Apa pasalnya? Saya pun mengira-ngira penyebabnya dan ngobrol dengan temanku. Kami sama-sama heran, kok ya di antara ratusan (atau ribuan) mobil yang diparkir di sini hanya mobilku yang dibaret? Karena kami lihat mobil di sekitar kami masih mulus.

Dan lagi, mobilku bukan mobil mewah yang bisa membuat orang lain iri dan dengki. Mobilku sederhana saja dan termasuk yang paling murah yang dijual di Indonesia. Sudah gitu jarang dicuci, paling cepat seminggu sekali baru dicuci (maklum musim panas jadi jarang kehujanan, hehehe).

Saya terus berpikir keras sampai kemudian temanku berkata: “Mungkin karena Salib di dashboard, De.”

Salib
Salib

Sungguh dugaan teman saya ini membuat saya shock dan tertegun. Benarkah? Sejenak saya pandangi Salib yang saya tempel di dashboard tersebut. Ketika saya lihat dari luar, Salib tersebut tampak jelas dari luar. Maklum, kaca depan mobil saya tidak dipasang kaca film.

Saya pun kemudian berpikir keras mengenai perkataan temanku. Walau pun ragu saya mulai melihat benang merah di situ. Tetapi, benarkah memang demikian?

Walau pun kecil, Salib tampak dengan jelas dari depan mau pun samping
Walau pun kecil, Salib tampak dengan jelas dari depan mau pun samping