CHIP OLED Radio Internet (versi 3) | Vlog

Ini masih membahas CHIP OLED Shield untuk C.H.I.P. Kali ini adalah contoh aplikasinya. Dan lagi-lagi saya membuat Radio. Bahkan ini berarti versi ke-3 untuk radio internet CHIP (baca: C.H.I.P Radio Internet versi 2). Ini karena saya menggunakan CHIP yang sama saat saya ngoprek radio internet sebelumnya.

Hanya saja, kali ini saya melakukan beberapa perbaikan, yaitu:

  1. Yang pertama sangat jelas, saya menggunakan CHIPOLED Shield. Yang berarti saya menggunakan display OLED mungil namun sangat jelas tampilannya dan hemat dayanya.
  2. Karena menggunakan CHIPOLED Shield, maka saya leluasa membuat kontrol untuk radio karena shield ini sudah dibekali dengan 5 buah tombol.
  3. Berbeda dengan sebelumnya yang menggunakan library vlc, untuk engine streaming kali ini saya menggunakan mpd/mpc. Terus terang saya mencontek cara yang digunakan oleh piradio.

Berikut adalah video-nya:

Read More »

Iklan

Bingung Memilih Platform

Seorang teman meminta didesainkan sebuah sistem antrian. Masalahnya, sekarang platform yang tersedia banyak. Ini yang membuat kita jadi bingung menentukan mau pakai platform apa dan apakah platform tersebut efisien dari segi biaya?

Contohnya ya sistem antrian ini, opsinya bisa pakai PC biasa yang mahal; pakai Raspberry Pi yang lebih murah; pakai dongle Android yang praktis; atau murni mendesain elektronikanya? Masalahnya adalah harus pas antara biaya, kemudahan dan kehandalan. Seperti sebuah segitiga, ketiga faktor tadi ada di setiap sudut segitiga. Ketika kita mengedepankan kehandalan dan kemudahan, maka biaya akan jadi mahal. Atau ketika ketika memilih murah tapi handal, biasanya untuk mengembangkannya jadi sangat sulit. Namun memilih platform yang mudah dengan biaya murah biasanya kurang handal.

     Biaya --- Handal
       \         /
        \       /
         \     /
          Mudah

Tapi sebenarnya ada solusi lebih baik, yaitu mencampurkannya. Ada beberapa bagian menggunakan Raspberry Pi, bagian lain Dongle Android, dan yang membutuhkan komputasi dan penyimpanan besar bisa menggunakan PC biasa. Oh iya, sebagian lagi pakai Wemos D1 Mini.

Begitulah kira-kira.

Membuat Tutorial Video dgn Kazam

Dulu pernah bikin video tutorial sistem dengan camtasia. Dulu itu termasuk ironi, soalnya sistem dibuat dengan linux tapi tutorial videonya dibuat pakai MS Windows plus Camtasia. Maklum, jaman dulu linux belum seintuitif dan se-user friendly jaman sekarang, terutama untuk pengolahan video.

Syukurlah sekarang sudah lebih lengkap & powerfull software-software di Linux. Dan yang lebih mengasyikkan adalah karena lisensinya yang GNU/GPL atau turunannya. Menjadikannya bisa diinstal & digunakan dengan bebas (boleh dibaca gratis). Beberapa waktu yang lalu sempat mencoba Xvidcap yang user interface-nya sederhana sekali. Namun walau pun sederhana, tapi hasilnya bener-bener baik. Hanya saja, sayangnya tidak mengenali audio input di notebookku. Jadi mesti di-dubbing. Hiks…

Nah, ketika tadi pagi daku re-install Ubuntu ke versi 12.04 LTS, ternyata Xvidcap sudah dihapus dari repository. Daku tidak bisa install dari Software Center mau pun apt-get. Mesti download dari website resminya (yang ternyata sudah tidak aktif beberapa tahun) untuk kemudian install manual. Ehm, aneh ya? Mengapa utility penting ini dihapus dari Ubuntu 12.04?

Setelah menyelidiki daftar software di Software Center, ternyata ada alternatif lain untuk screen capture format video, yaitu Kazam Screencaster. Ternyata memang lebih bagus fiturnya dari pada Xvidcap. Dan sudah mendukung hardware modern. Pantas saja Xvidcap dihapus.

Cara pakainya sederhana kok. Kayaknya tidak perlu buku panduan untuk mengoperasikannya. Tinggal tentukan area capture dan tekan tombol record atau dengan shortcut keyboard. Kemudian lakukan apa pun pada komputer dan semuanya terekam oleh Kazam. Piranti audio input bisa dikenali dengan baik. Tidak perlu oprek settingnya. Jadi sambil mengoperasikan bisa langsung rekam suara kita. Asyik deh.

Tinggal bikin skenario dan bikin video tutorial. Ehm, mestinya yang menyuarakan suaranya bagus dan bening. Cocoknya cewek ya? Dulu pernah sampai menyewa penyiar radio untuk membacakan tutorial atau narasinya.

When Droid Meets Human

Rupanya Ubuntu tidak tinggal diam ketika dunia mobile bergeliat mulai menguasai pasar komputer. Terutama ketika Android (dari kata droid; manusia robot) mulai merajai OS smartphone & tablet, dan nyaris berhasil mengganjal Apple dengan iOS-nya. Hadirnya kedua penguasa OS utk smartphone & tablet ini telah membuktikan bahwa dunia komputasi telah bergeser ke piranti bergerak, yaitu ke Tablet PC dan Smartphone. Sekarang sudah jamak kalau Tablet dan Smartphone telah memiliki daya pemrosesan yang hampir setara dengan PC biasa (PC desktop & notebook).

Dan Ubuntu memberikan solusi yang brilian ketika mencoba untuk menyatukan 2 dunia ini, dunia piranti bergerak dengan piranti untuk produktivitas (office), yaitu dengan menghadirkan OS Ubuntu di piranti bergerak. Dengan Ubuntu terinstall di smartphone Android, maka Smartphone Android menjadi piranti yang powerfull setara PC biasa karena dengannya kita dapat bekerja seperti biasa yang kita lakukan di PC/Notebook.

Read More »

Mencoba Ubuntu Netbook Edition

Di kala menjamurnya penggunaan netbook, daku lebih memilih untuk tidak ikut arus membeli netbook. Jujur, kepengen sih. Tapi berdasarkan pengalaman sebelumnya, berkomputasi dengan layar kecil sungguh tidak menyenangkan. Pengalamanku dulu dengan Tablet PC 10″ sudah cukup menguras air mata karena tampilannya yang imut-imut.

Dan, alasan berikutnya utk tidak membelinya adalah karena… UANG. Xixixi… Soalnya kan sekarang saja sudah pakai 2 notebook, kayaknya tidak perlu banget beli netbook. Lagi pula keunggulan utama netbook cuma di mobilitas alias portabilitasnya saja. Sisanya inferior terhadap notebook.

Namun ada rasa penasaran juga untuk mencoba sistem operasi khusus buat netbook dari Ubuntu, yaitu Ubuntu Netbook Edition (UNE). Tambah penasaran karena dari screenshot tampilannya beda banget dengan Ubuntu versi desktop. Maka langsung saja daku men-download ISO-nya. (Link download Ubuntu Netbook Edition: di sini (klik)).

Read More »