Menggunakan Skype

Nampaknya YM (Yahoo Messenger) sudah tidak menarik lagi ya? Integrasinya dengan video/audio call tidak cukup baik. Lagi pula YM tidak hadir di semua platform. Atau, jikalau hadir di platform lain, dia tidak sempurna dibandingkan versi PC.

Alternatif lain untuk chatting adalah Skype. Saya lebih suka menggunakan Skype karena dia bisa text, audio call atau bahkan video call dan video conference. Dulu dibutuhkan bandwidth besar untuk bisa menggunakan Skype dengan lancar. Tapi kini dengan teknik kompresi yang baik dan juga meningkatnya bandwidth membuat penggunaan Skype jauh lebih menyenangkan.

Skype bisa jalan hampir di semua platform (kecual di platform BB). Di sisi lain, BBM baru mengintegrasikan fitur voice call di versi bbm 7. Itu pun harus menggunakan Wi-Fi.

Standarisasi Kopi?
Standarisasi Kopi?

Atas dasar itu, nampaknya saya perlu membuat standar baru bagi komunikasi tim IT, yaitu menggunakan Skype. Sebenarnya kami secara parsial sudah menggunakan Skype dalam pekerjaan. Namun belum menjadi standard. Mungkin kini saat yang tepat untuk menjadikannya standard.

Gaji Sesuai UMR

Mengenai UMR DKI yang baru saja disyahkan oleh Jokowi, saya menjumpai sebuah kasus yang menurut saya cukup memprihatinkan. Jadi ceritanya ada 2 orang bekerja di tempat yang sama. Sebut saja namanya A. Dia sudah bekerja hampir 5 tahun di perusahaan tersebut. Gajinya naik setiap tahun dan sekarang gajinya 2 juta. Sedangkan B baru bekerja beberapa bulan dengan gaji 1.5 juta.

Januari ini mereka naik gaji tahunan. A mendapat kenaikan 15% sehingga gajinya menjadi 2.3 juta. Sedangkan B dinaikkan mengikuti UMR menjadi 2.2 juta.

Saya jadi prihatin melihat dua angka ini. Bagaimana menurut Anda?

Pembiaran

Saya tengah prihatin ketika menyadari bahwa terjadi “pembiaran” di lingkungan kerja. Sudah tahu ada masalah, tapi dibiarkan. Seolah nantinya akan selesai sendiri, beres sendiri. Nyaris tidak ada tindakan untuk memperbaiki, menyelesaikannya & mencegahnya terjadi lagi.

Pembiaran ini terjadi mungkin karena para pekerja & pemimpinnya tidak tahu potensi besarnya masalah yang dibiarkan itu di kemudian hari. Atau mungkin karena malas memperbaikinya dengan harapan ada orang lain yang prihatin dan bertindak memperbaikinya. Atau karena kurangnya rasa tanggung jawab di diri pekerja & pemimpinnya.

Padahal sekecil-kecilnya masalah, jika dibiarkan terus dan bertambah banyak, bisa jadi dia akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja di kemudian hari.

Apakah Anda mengetahui dan menyadari ada pembiaran di lingkungan kerja Anda? Apa yang Anda lakukan?

Agen Ganda

Mendengar istilah “agen ganda” tentu pikiran kita melayang ke film-film action spionase. Tapi tidak usah jauh-jauh melayang, karena “agen ganda” ini terkadang tidak jauh beroperasi di dekat kita. Secara gampang kita bisa melihat dari rekan kerja yang mengerjakan sesuatu atau pekerjaan untuk perusahaan lain di jam kerja, mungkin dilakukan di ruang kerja dan dengan fasilitas kantor tanpa ada kaitan dengan pekerjaannya yang resmi, tanpa restu kantor, dan seringkali memperoleh keuntungan dari perusahaan lain.

Seandainya saja pekerjaan lain ini dikerjakan di luar jam kerja tanpa menggunakan fasilitas kantor, tentu lain ceritanya, karena hal ini bisa disebut sebagai pekerjaan sampingan. Tapi kalau sudah menggunakan jam kerja dan fasilitas kantor untuk kepentingan perusahaan lain tanpa seijin perusahaan tempat dia bekerja, silakan saja cap dia sebagai agen ganda.

Belakangan ini kami ada kasus dimana seorang sekretaris memanggil beberapa koordinator & karyawan untuk diwawancara di perusahaan lain. Tentu saja para koordinator & karyawan penuh tanda tanya, kok bisa sang sekretaris resmi memanggili koordinator untuk diwawancara untuk perusahaan lain? Ironisnya ini dilakukan di jam kerja dengan fasilitas kantor! Wah, ada agen pembajakan SDM nih.

Baca selebihnya »

S3 : Senyum, Salam, Sapa

S3, yaitu “Senyum, Salam, Sapa” telah digalakkan (*jadi galak banget ya?*) di jaringan kantor kami. Bahkan di salah satu cabang setiap pagi ada sapaan operator via pengeras suara untuk mengucapkan selamat pagi dan mengingatkan para karyawan untuk selalu “Senyum, Salam, Sapa.” Tentu tidak S3 dengan diri sendiri ya? Itu bahaya, bisa dikira korslet, hehehe…

Ini penting banget diingatkan karena budaya keramahan rupanya telah semakin luntur dari hari ke hari. Mungkin karena masyarakat sekarang sudah terlalu sibuk dan stress dengan pekerjaannya. Atau terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sehingga menjadi semakin jarang berinteraksi dengan orang lain di dunia nyata yang masih membutuhkan keramahan.

Orang yang melihat senyum dan mendengar sapaan kita tentu juga akan senang sekali. Sebaiknya S3 ini tidak hanya dilakukan saat mengemban tugas di kantor, terutama bagi yang sering berinteraksi dengan pelanggan, tetapi hendaknya sudah menjadi karakteristik bangsa kita lagi. Dan semoga bisa dilakukan dengan tulus tanpa memandang siapa yang kita ajak S3 ini, apakah dari kalangan bawah, menengah atau atas.

Salam S3