Antara Go-Jek dan HaloDoc (1)

Tahun lalu ketika Go-Jek berkolaborasi dengan HaloDoc membuat Go-Med, sepertinya belum banyak RS (rumah sakit) yang peduli dengan sepak terjang duo ini. Rasanya sulit meyakinkan manajemen RS kalau kelak di kemudian hari, kedua perusahaan teknologi ini akan mengubah pola kerja bisnis di bidang kesehatan. Seperti kebanyakan perusahaan konvensional, RS tidak terbiasa brainstorming bagaimana bisnis bisa berubah kelak, terutama karena peran teknologi yang semakin merasuk ke masyarakat.

Saat ini manajemen RS hanya sibuk memikirkan bagaimana operasional RS-nya supaya bisa efisien dengan tarif yang lebih kompetitif dibanding pesaing. Di sini RS akan mengambil banyak keuntungan dari semakin efisiennya operasional. Jika keuangan sudah kuat, maka akan dilakukan ekspansi seperti menambah layanan, menambah jumlah bed, membeli peralatan medis, membeli atau membangun RS baru, dan lain-lain.

Tentu hal ini bukan sesuatu yang salah. Malah bagus! Tapi bagus dalam artian “konvensional”. Karena sayangnya belum banyak RS yang memikirkan bagaimana bisnis kesehatan ini bisa dijalankan dengan cara yang berbeda. Dan “bagaimana bisnis kesehatan ini bisa dijalankan berbeda” sedang didemonstrasikan oleh paduan HaloDoc dan Go-Jek! Dua perusahaan teknologi yang sedang merevolusi bisnis kesehatan. Kalau sedikit berkilas balik, Go-Jek ini sudah lebih dulu merevolusi bisnis transportasi roda dua yang dulu dikenal sebagai “ojek”. Dari sini Go-Jek telah melakukan ekspansi layanan seperti Go-Food, Go-Car, dll. Tidak berhenti di situ, Go-Jek pun mulai ekspansi ke negara lain, yaitu Vietnam (Go-Viet), Thailand (Get)! Dalam waktu dekat Go-Jek akan menantang Grab di kandangnya, yaitu di Singapura! (Indonesia’s Go-Jek could launch ride-hailing service in Singapore to challenge Grab).

Terbayang kan kalau tahun lalu Go-Jek bekerja sama dengan HaloDoc? Go-Jek sudah merambah dunia kesehatan! Dan itu bukan hal yang main-main! Go-Jek ini sudah menjadi raksasa dengan valuasi melebihi Garuda Indonesia! Perlukah RS2 khawatir? Mari kita renungkan bersama.

Kalau Anda membaca serial “Melawan Disrupsi di Bidang Kesehatan”, mungkin kita perlu mulai mengamati bagaimana duo ini akan melangkah kemana, dan mulai mengambil langkah yang diperlukan supaya tidak terlibas. Syukur-syukur bisa mengikuti perubahan yang akan terjadi dan bisa tetap bertahan.

Ah sepertinya berlebihan ya? Bisa jadi iya, tapi tidak ada salahnya kita lihat dan analisa apa yang sedang mereka lakukan belakangan ini. Saat ini kita hanya bisa menganalisa dan memperkirakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, karena seperti layaknya perusahaan teknologi, mereka tertutup soal strategi. Mereka suka sekali membuat kejutan dan mereka akan senang disebut pionir atau pengubah sejarah bisnis! Itu sebuah prasasti digital yang sangat membanggakan! Tidak ada salahnya kita mulai memperkirakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya! Dan tentu saja antisipasi! Atau malah mendahului mereka?

Halo HaloDoc!

Dari sisi HaloDoc, saat ini sepertinya mereka mengubah strategi. Mereka tidak lagi memposisikan “melawan” RS, tetapi merangkulnya. Tentu dengan cara yang elegan.

Pada awalnya HaloDoc merangkul banyak dokter sehingga para dokter mau menggunakan platform HaloDoc untuk memberikan konsultasi online. Pasien akan membayar seberapa lama mereka berkonsultasi. Namun sepertinya cara ini tidak bekerja dengan baik. Seperti yang saya tuliskan di serial sebelumnya, mekanisme ini memiliki banyak kelemahan, baik secara teknis, medis mau pun legal. Pada akhirnya konsultasi yang bisa diberikan sangat terbatas, tidak mendalam, dan lagi-lagi akan diarahkan untuk berobat ke RS.

Dari mekanisme bisnis sudah sedikit bermasalah, ditambah lagi dengan mekanisme ini membuat HaloDoc menjadi berhadap-hadapan langsung dengan RS. Seolah menjadi pesaing. Hal yang tentu saja tidak bijaksana.

Namun dengan hadirnya Go-Jek di belakang HaloDoc, mereka mulai menambahkan layanan pembelian/pengantaran obat dan order laboratorium (bekerja sama dengan Prodia). Pasien bisa membeli obat langsung via Go-Med. Resep dari dokter bisa dipotret untuk pembelian obat online. Tapi cara ini juga masih berhadapan muka langsung dengan RS yang saat ini sudah memiliki instalasi farmasi dan menerapkan e-prescribing (resep online/elektronik) sehingga pasien terpaksa membeli obat di farmasi.

Tidak menyerah, Go-Med kemudian berubah haluan, kini merangkul RS dengan menawarkan jasa pengantaran obat ke pasien. Obat yang dibeli pasien tetap berasal dari farmasi RS tersebut, namun Go-Med mengantarkannya ke rumah pasien. Jadi pasien tidak perlu menunggu lama di farmasi RS.

Berapa tarif yang dikenakan HaloDoc ke pasien/RS untuk mengantarkan obat langsung ke rumah pasien? Zero! Alias gratis! Apakah mereka rugi? Tidak! Pada awalnya akan nampak rugi, padahal kelak mereka akan menuai keuntungan! Apa yang mereka dapatkan dari apa yang mereka lakukan sekarang ini?

Mari kita coba tebak apa yang bisa saja terjadi di balik layanan ini.

(1) Obat Iter

Baiklah, saat ini pasien membeli obat dari farmasi RS. Tapi apakah ini menjamin setiap kali pasien membeli obat akan selalu di farmasi RS? Tidak! Dengan kemudahan pembayaran (via Go-Pay), diskon besar, dan bahkan obat diantar ke rumah, pasien cukup membeli dari smartphone-nya di rumah. Resep iter adalah sasaran empuk bagi Go-Med! Terutama bagi para penderita penyakit kronis.

(2) Diskon Besar

Apa yang menarik bagi pasien sehingga mau membeli obat via Go-Med selain harga obat yang lebih murah dari pada harga di farmasi RS? Plus diantar gratis ke rumah? Bagaimana jika HaloDoc mampu menawarkan hal ini? Ini bukan omong kosong atau sekedar promosi karena ternyata mereka mampu! Hanya saja, mungkin saat ini belum terbuka. Mereka tidak mau merusak struktur harga obat. Jadi insentif bagi pasien ini bukan berupa diskon besar, tapi diwujudkan dalam hal gratis biaya pengantaran.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkin saya akan menuliskannya lebih detail di artikel terpisah.

(3) Pembayaran Mudah dengan Go-Pay

Kalau kita amati, belakangan ini Go-Pay menawarkan promosi besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, promosi ini berupa cashback, voucher, diskon, kode kupon, untuk banyak sekali merchant! Lihat saja di: Promo GO-PAY Oktober 2018: Cashback, Voucher, Diskon, Kode Kupon. Apa yang mereka lakukan? Mereka seperti membakar-bakar uang saja! Apakah mereka rugi?

Yang bisa kita amati, sesungguhnya mereka sedang berusaha merebut user sebanyak-banyaknya dari para pesaing, sebut saja Ovo yang mem-backup Grab, T-Cash, atau e-money konvensional (seperti flazz, brizzi, mandiri e-money, dll). Promosi jor-joran ini juga untuk mengantisipasi sistem dompet elektronik dari luar yang konon akan masuk Indonesia, sebut saja Alipay, Apple Pay, dll. Tidak boleh telat kalau tidak mau dilibas para raksasa ini.

User base yang masif tentu akan memuluskan layanan-layanan lain dari Go-Jek untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Ya tentu saja salah satunya adalah HaloDoc! Seandainya Anda sudah memiliki jumlah uang yang banyak di dompet Go-Pay, maka Anda akan malas mengisi dompet Ovo. Kecuali jika Anda punya uang lebih sehingga rela menyimpan sejumlah tertentu di masing-masing dompet elektronik tersebut.

Mengapa Anda mau menyimpan uang banyak di dompet Go-Pay? Ya mungkin saja Anda suka memesan Go-Food, naik Go-Jek atau Go-Car. Atau karena Anda pernah menggunakan jasa pijat Go-Massage, jasa pindahan Go-Box, dll.

Kalau sudah begitu, maka ketika sakit Anda akan melirik HaloDoc karena Anda bisa membayar konsultasi dan obat dari dompet Go-Pay Anda! Begitulah kira-kira yang mungkin bisa terjadi ketika Go-Pay mendominasi dompet elektronik.

(4) Rebut Data Pasien

Kalau Go-Pay merebut pangsa pasar dompet elektronis, maka HaloDoc merebut data pasien dari RS. Apa yang terjadi ketika pasien dengan suka rela menggunakan jasa Go-Med? Pasien memang akan merasakan kenyamanan karena tidak perlu antri di farmasi, bisa melakukan pembayaran dengan mudah via Go-Pay langsung dari smartphone-nya, dan bahkan obatnya diantar ke rumah gratis.

Yang terjadi sebenarnya adalah HaloDoc memperoleh data pasien tersebut meliputi nama, alamat, copy resep dan dengan mudah bisa tercatat pula profile pasien seperti jenis kelamin, umur, dan mungkin juga profile kesehatan berdasarkan obat yang dibelinya. Dengan data yang diperoleh ini, HaloDoc + Go-Jek dengan mudah akan melakukan personalisasi layanan. Contoh sederhananya begini, kalau diketahui kalau pasien ternyata menderita diabetes, maka Go-Med akan menawarkan obat iter. Seperti kita ketahui, penderita diabetes itu akan selalu mengkonsumsi obat diabetik. Belum lagi penawaran pemeriksaan lab langsung di rumah secara berkala. Oke, dari sini kita bisa lihat bahwa selanjutnya pasien akan mem-bypass RS.

Intinya adalah, jika HaloDoc sudah memegang data pasien ini, maka mereka bisa menawarkan layanan yang sudah dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan pasien. Seperti kita tahu, menawarkan sesuatu yang tepat kepada orang yang membutuhkan itu lebih efektif dari pada sekedar broadcast message atau memasang iklan billboard atau menayangkan iklan di TV yang semuanya ini butuh biaya besar.

Contoh lain misalnya: ibu hamil, penderita stroke, jantung, dll. Silakan berimajinasi layanan apa kiranya yang cocok bagi para pasien tersebut? Jika yang Anda tawarkan cocok dengan kebutuhan mereka, pasti mereka tidak ragu untuk membeli.

(5) Analisa Profile Pembelian

Sebenarnya ini masih terkait dengan poin (3) tentang pembayaran. Tapi ketika dipadupadankan dengan poin (4), maka akan meningkatkan personalisasi layanan yang tentu saja akan lebih efektif dan efisien.

Contohnya begini, hasil dari analisa pembelian dan profile kesehatan seseorang, maka ditemukan fakta ini : ada seorang lelaki yang menderita sakit diabetes, umur 40 tahun, hasil pemeriksaan lab diketahui juga, sering belanja online dengan rata-rata pengeluaran Rp 100 juta per bulan, tinggal di bilangan elite Jakarta, dll. Kira-kira layanan apa yang bisa ditawarkan untuk pasien tersebut?

Atau contoh lain, ditemukan fakta seorang wanita single berumur 35 tahun, obesitas, sering makan mewah di restoran, sering belanja hal-hal tidak perlu, dengan rata-rata pengeluaran per bulan Rp 50 juta. Kira-kira layanan apa yang bisa ditawarkan untuk wanita ini? Walau pun belum pernah menggunakan jasa HaloDoc, namun dari profile ini kita bisa melihat kecenderungan orang ini akan sakit apa.

Penutup

Tulisan ini sekedar apa yang terlintas di pikiran saya, sebuah opini pribadi hasil pengamatan saya. Tentu saja bisa salah. Tapi kalau Anda mengikuti tulisan saya sebelumnya tentang disrupsi bisnis kesehatan, nampaknya sudah mulai bisa terlihat bahwa para perusahaan teknologi ini bisa dengan mudah mengubah strateginya dalam waktu yang singkat. Mereka sedang menguji coba berbagai strategi dan melihat mana yang akan berhasil.

Yang perlu diacungi jempol adalah karena kesigapan mereka dalam mengubah strategi dan menerapkan pola pikir komprehensif dari berbagai sudut pandang/bidang yang kemudian dianalisa dan disatukan untuk mendukung strategi mereka. Seperti dalam kasus di dunia kesehatan ini, mereka tidak hanya melihat dari sisi medis, tapi juga bisa melihat dari profile pengeluaran, kebiasaan, trend, kesehatan dan dengan sigap melakukan personalisasi layanan.

Tentu saja saya masih akan menuliskan beberapa hal di tulisan selanjutnya, hasil pengamatan dari sepak terjang Go-Jek dan HaloDoc ini. Sampai jumpa lagi. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan

Membeli iPad 2018 Apakah Worth It?

Saya sudah memimpikan memiliki tablet Apple sejak lama. Apalagi sejak keluar seri iPad Pro dan kemudian melihat bagaimana para seniman memamerkan keterampilan menggambarnya di YouTube. Benar-benar membuat ngiler.

Sayangnya saya tidak bisa membelinya karena terlalu mahal. Sebenarnya alasan sesungguhnya adalah tidak tega membelinya karena terlalu mahal. Karena keperluan rumah-tangga tidak boleh diabaikan. Maklum sudah bapak-bapak, harus lebih bertanggung jawab dalam membelanjakan uangnya, hahaha…

Tapi kemudian saya memutuskan untuk memiliki iPad (bukan yang Pro), apalagi iPad 2018 ini termasuk “murah” untuk ukuran produk dari apel krowak itu. Karena Apple mengeluarkan iPad versi 2018 ini untuk berkompetisi langsung dengan ChromeBook yang nampaknya mulai menggerogoti dominasi iPad. iPad 2018 secara resmi dibandrol mulai $329 (versi 32GB WiFi Only). Sedangkan untuk pelajar bisa memilikinya dengan harga $299. Kalau Anda guru bisa membelinya dengan harga $309. Tapi ini harga di sono ya? Kalau di sini yang tidak bisa dapat harga diskon ini karena Apple belum membuka toko resminya di Indonesia.

Dari harganya nampak bahwa Apple memang menyasar segmen ChromeBook yang memang harganya sekitar itu. Belakangan laptop dengan platform ChromeBook memang semakin diterima oleh masyarakat terutama karena harganya lebih murah dibanding laptop/PC namun memiliki fungsionalitas dan kinerja tidak kalah.

Kembali ke iPad, akhirnya kemarin saya membeli versi 128GB WiFi Only warna Gold. Warna Gold ini baru dikeluarkan di jajaran iPad mulai tahun 2018 ini. Gold-nya lebih gelap dan jadi lebih menarik dibandingkan iPhone. Sebenarnya kalau ada versi RED pasti saya akan memilih RED, hahaha…

Saya memilih versi 128GB karena versi 32GB itu nanggung. Pasti cepat habis terisi. Dan saya tidak memerlukan versi selular karena bagi saya memasang nomer khusus di iPad itu sia-sia. Karena toh tidak bisa digunakan untuk nelfon atau WhatsApp.

Apakah membeli iPad itu Worth It?

Ini pertanyaan yang sangat subyektif sebenarnya. Karena pasaran tablet itu agak rancu, karena ada 3+ platform yang available di pasaran tablet tapi kesemuanya tidak sejajar. Tidak sejajar ini dilihat dari fungsionalitas, target market dan harganya.

Jadi rada sulit menilai apakah membeli iPad 2018 ini worth it jika dibandingkan dengan produk kompetitor. Sedangkan bila dianggap tidak ada pesaing karena tidak ada kesejajaran yang tepat, ya pastinya jadi worth it, hehehe…

Disclaimer: Ini pendapat pribadi saya loh. Mungkin berbeda dengan pemikiran Anda. Silakan isi komentar untuk berdiskusi. Oh iya, pembahasan platform di bawah bukan diurutkan berdasarkan awal kemunculan produk. Saya mengurutkannya berdasarkan alur penulisan yang ingin saya sampaikan.

Berikut ini pendapat saya tentang beberapa platform tablet tersebut.

Platform yang mau saya bahas pertama adalah platform Android. Di sini pemain besarnya ada Samsung, Asus, dan berbagai merek dari China. Merek besar lain mulai meninggalkan pasar tablet platform Android dan fokus di PC/laptop/hybrid, seperti misalnya Acer, HP, Sony, Lenovo, Benq, dll.

Tablet dengan platform Android ini agak nanggung. Kesannya hanya berguna untuk konsumsi media (media consumption) atau cuma untuk main game. Target segmen jadi mengerucut ke anak-anak sampai remaja. Mau diajak kerja lebih produktif oleh orang dewasa tapi dirasa kurang tenaga. Dulu pemain tablet Android ini banyak sekali. Tapi lama-lama rontok satu per satu.

Saya rada trauma dengan tablet platform Android ini. Karena tahun 2011 dulu pernah membeli Samsung Galaxy Tab 10.1″ (Baca: “Samsung Galaxy Tab“, “Keyboard Dock Samsung Galaxy Tab 10“, “Keyboard Dock untuk Samsung Galaxy Tab 10“) namun tidak sesuai ekspektasi. Sangat terbatas kemampuannya dan rada lambat. Yang membuat trauma adalah karena Samsung tidak mengeluarkan update OS Android untuk tablet ini setelah 1-2 tahun produk ini dirilis. Menyebalkan! Tidak bertanggung jawab! Padahal harganya muahaaaal! (Hahaha… ngomel2 jadinya).

Platform yang ke-2 adalah dari Microsoft. Dulu Microsoft mengeluarkan tablet versi Windows RT (Baca: “Windows RT” di Wikipedia). Ini adalah porting OS Windows ke arsitektur ARM. Sayangnya platform ini tidak berhasil. Serba nanggung. Walau pun aplikasi-aplikasi penting berhasil diboyong ke platform ini, namun kinerjanya tetap kurang dibandingkan versi desktop-nya. Tentu saja tidak banyak developer aplikasi yang mau bertaruh di platform yang tidak matang ini.

Platform Windows RT ini memang nyaris gagal sehingga akhirnya Microsoft mengeluarkan tablet full fledged, yaitu tablet dengan sistem operasi Windows yang asli versi desktop. Sayangnya para pabrikan PC tetap tidak mau mengeluarkan tablet dengan sistem operasi Windows sehingga Microsoft mulai memproduksi sendiri tablet Surface (dan Surface Pro). Demi memangkas harga, Microsoft mengeluarkan juga Surface RT dengan aristektur ARM.

Kekurangan dari platform Windows ini adalah karena memboyong arsitektur x86 dari Intel yang dikenal boros daya (dibandingkan dengan aristektur ARM yang dari dulu dikenal hemat daya). Sudah gitu form factor susah diajak langsing menandingi ARM yang bisa lebih hemat ukurannya.

Ini yang membuat para produsen males membuat tablet versi Windows. Kan tidak lucu juga kalau bikin tablet tapi bentuknya besar, tebal dan cuma bisa dipakai 3-4 jam karena boros baterai. Ya memang akhirnya Microsoft harus membuat contoh dengan tablet Surface-nya.

Akhirnya bermunculanlah produk-produk hybrid, yang bisa menjadi tablet dan bisa juga menjadi laptop. Seperti berdiri dengan 2 kaki berpijak di dua dunia. Serba nanggung jadinya ya?

Platform ke-3 adalah tablet dengan sistem operasi iOS dari Apple. Menurut saya, ini adalah platform yang ideal untuk tablet saat ini. Apple memang dikenal sebagai produsen dengan produk yang nyaman digunakan, gegas dan cocok untuk para seniman. Tablet dari Apple sangat digemari para musisi karena iPad bisa mensimulasikan efek-efek suara dengan latency paling rendah, terdengar nyaris realtime. Misal: ketika kita memukul drum di iPad, maka suara langsung terdengar ketika jari menyentuh display. Kekerasan dan aksennya tergantung dari tekanan dan kecepatan ketukan jari ke display. Ini sangat mengesankan!

Jangan lupakan fenomena efek gitar dengan latency rendah di iPad dan iPhone yang nyaris realtime. Dulu ramai sekali orang menggunakan iPad dan iPhone untuk simulasi efek gitarnya (Baca: iRig HD). Dulu latency serendah itu sulit sekali dikejar oleh platform lain!

Dan jangan lupakan artis seni rupa (gambar/lukisan dan foto). Mereka sangat menikmati iPad untuk berkreasi. Karena menggambar di iPad (terutama di iPad Pro) sangat menyenangkan dan nyaris memiliki sensasi seperti menggambar di kertas atau kanvas yang sebenarnya. iPad Pro memang memiliki display yang luar biasa dengan teknologi laminasi dan refresh rate lebih tinggi dari pada tablet saingannya sehingga menggambar di iPad Pro jauh lebih menyenangkan. Sampai sekarang kenyamanan menggambar di iPad Pro masih sulit ditandingi para kompetitor (CMIIW).

Dan sekarang iPad memiliki kemampuan editing video sampai 4K. Ini berarti para vlogger/youtuber yang banyak berkeliaran (mobilitas tinggi) itu tidak perlu membawa laptop dan bisa segera mengedit dan meng-upload videonya dari mana saja. Tinggalkan saja laptop yang berat itu di rumah!

Ini yang membuat iPad mendominasi pangsa pasar tablet. Hingga akhirnya banyak orang menyebutkan “iPad” sebagai nama generik piranti yang hanya punya layar itu dibanding menyebutnya sebagai tablet.

Namun sepertinya Apple sudah mulai khawatir dengan kehadiran platform ke-4, yaitu platform ChromeBook yang menggunakan sistem operasi Chrome OS. Ya awal mulanya ChromeBook itu ditargetkan untuk laptop murah. ChromeBook bisa murah karena sebenarnya laptop menggunakan kernel turunan Linux yang ringan/ringkas dan browser Chrome. Sedangkan aplikasi-aplikasi berjalan di atas browser Chrome. Jadi tidak perlu spesifikasi hardware yang tinggi. Untuk kapasitas penyimpanan juga cuma seadanya, secukupnya saja. Karena sebagian besar dokumen akan disimpan di Cloud.

Nah, belakangan Chrome OS ini dipakai juga untuk tablet. Ini yang membuat Apple khawatir. Karena jika tablet Chrome berhasil, maka secara kombinasi antara ChromeBook dengan Chrome Tablet bisa saja mengejar dominasi iPad. Karena bagaimana pun juga ChromeBook yang murah itu sudah cukup kinerjanya bagi para pelajar. Dan pelajar ada gerbang pertama untuk suatu dominasi produk di masa depan. Dan Apple tidak mau kehilangan pelanggan masa depannya!

Apple harus merebut kembali pasar masa depannya dengan menggelar harga pelajar. Untuk para pelajar dan pengguna awal, Apple menawarkan New iPad yang sejatinya sudah cukup mumpuni untuk tugas-tugas yang tidak berat/kompleks. Dan versi 2018 bentuknya sudah tipis, manis dan modern. Di harga segitu sulit sekali menemukan produk dari pesaing yang fitur, mutu dan kemampuannya setara.

Untuk segmen lain, Apple juga mengeluarkan versi-versi murah dari iPad-nya. Kalau versi mahal iPad Pro adalah ukuran 12.9″, maka kemudian dikeluarkanlah versi murah dengan ukuran 10.5″. Masih kurang murah? Keluar jugalah versi 9.7″. Semuanya nyaman digunakan untuk menggambar (dan melukis).

Sedangkan produk nanggung iPad Air dan iPad Mini sepertinya bakal dihentikan karena membuat bingung konsumen karena sudah ada New iPad yang sudah bisa setipis iPad Air. Sedangkan iPad Mini tidak diteruskan karena iPhone sudah mulai punya versi besar (iPhone 8 Plus). Sebagai informasi, sejatinya iPad Mini dibuat untuk menjembatani iPhone yang punya layar kecil dengan iPad. Apple memberikan opsi di antara itu untuk mengisi gap bagi pengguna yang merasa layar iPhone kekecilan tapi menganggap iPad kebesaran. Nampaknya sekarang jadi kurang relevan karena iPhone sudah punya versi besar dan iPad sudah bisa setipis dan seringan iPad Air. Tapi ya tentu saja terserah Apple ya? Kita tunggu September nanti saat Apple merilis produk-produknya.

Kompetisi

Menurut saya (ini menurut saya ya?) pesaing yang benar-benar memiliki fitur dan fungsionalitas mirip dengan iPad Pro adalah Microsoft Surface. Tapi Surface (dan Surface Pro) menggunakan Windows Desktop yang multi fungsi. Cenderung tidak mudah digunakan. Orang harus belajar menggunakannya supaya bisa produktif. Bahasa kerennya: learning curve-nya lama. Bandingkan dengan iPad yang nyaris bisa segera digunakan.

Dari segi bentuk jelas lebih langsing dan manis iPad. Sedangkan harganya? Surface Pro malah mahalnya 2-3x harga iPad Pro (tergantung tipenya).

Bagaimana dengan tablet-tablet Android? Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, sekarang tablet Android itu malah seperti mainan saja. Penggunanya cuma menggunakannya untuk ber-sosial media, main game, cek email dan tugas-tugas ringan lainnya. Mau diajak melukis selayaknya iPad Pro? Dibanding iPad regular yang murah itu saja belum tentu bisa menyaingi. Mau diajak bikin lagu atau ngedit film? Kebanyakan tablet Android akan kedodoran.

Ini yang membuat iPad sulit dibandingkan atau disetarakan dengan kompetitornya.

Beneran Worth It?

Kembali ke pertanyaan apakah iPad 2018 ini worth it? Jawaban subyektif saya adalah: YAAA! (dengan bonus “A”). Saya memang sudah menginginkannya sejak lama. Dan versi 2018 ini menurut saya adalah versi iPad dengan teknologi yang jauh lebih baik dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dia sudah punya prosesor A10 Fusion yang gegas dan dukungan Apple Pencil dan split screen untuk kerja multitasking. Kalau melihat produk kompetitor, nyaris sulit membuat perbandingannya.

Tetapi jawaban obyektifnya baru bisa saya tuliskan setelah beberapa bulan menggunakannya yaaa… Soalnya 2 hari menggunakan iPad ini belum bisa memberikan penilaian yang sebenar-benarnya. Tapi 2 hari ini menggunakan iPad rasanya baik-baik saja. Serba cepat dan bisa split screen. Saya sedang memesan Apple Pencil untuk menggambar dan menulis. Nanti akan saya tulis terpisah.

Keluhan yang saya rasakan adalah keyboard virtualnya. Dari dulu Apple memang tidak pernah nyaman keyboard virtualnya. Kalau terbiasa akhirnya bisa nyaman sih. Tapi kalau kita menggunakan Apple dan Android bersamaan, ya akhirnya mau tidak mau jadi membandingkannya dengan keyboard-nya Android. Enakan keyboardnya google yang bisa swipe dan suggestion/prediction-nya akurat.

Sementara ini dulu tulisan saya. Rupanya sudah panjang lebar dan tinggi rendah. Kapan-kapan disambung lagi (kalau sempat dan niat). Jangan lupa kalau ini adalah pendapat saya pribadi. Mungkin bisa beda dengan pemikiran Anda. Silakan tuliskan di kolom komentar untuk berdiskusi lebih lanjut.

Salam.

Bingung Memilih Platform

Seorang teman meminta didesainkan sebuah sistem antrian. Masalahnya, sekarang platform yang tersedia banyak. Ini yang membuat kita jadi bingung menentukan mau pakai platform apa dan apakah platform tersebut efisien dari segi biaya?

Contohnya ya sistem antrian ini, opsinya bisa pakai PC biasa yang mahal; pakai Raspberry Pi yang lebih murah; pakai dongle Android yang praktis; atau murni mendesain elektronikanya? Masalahnya adalah harus pas antara biaya, kemudahan dan kehandalan. Seperti sebuah segitiga, ketiga faktor tadi ada di setiap sudut segitiga. Ketika kita mengedepankan kehandalan dan kemudahan, maka biaya akan jadi mahal. Atau ketika ketika memilih murah tapi handal, biasanya untuk mengembangkannya jadi sangat sulit. Namun memilih platform yang mudah dengan biaya murah biasanya kurang handal.

     Biaya --- Handal
       \         /
        \       /
         \     /
          Mudah

Tapi sebenarnya ada solusi lebih baik, yaitu mencampurkannya. Ada beberapa bagian menggunakan Raspberry Pi, bagian lain Dongle Android, dan yang membutuhkan komputasi dan penyimpanan besar bisa menggunakan PC biasa. Oh iya, sebagian lagi pakai Wemos D1 Mini.

Begitulah kira-kira.

Berebut Masuk Lift

Saya heran ketika melihat banyak sekali orang yang begitu pintu lift terbuka langsung menerobos masuk. Padahal banyak orang dari dalam lift yang mau keluar. Sehingga bisa dipastikan orang dari dalam lift kesulitan keluar dan akhirnya mereka berusaha menerobos arus orang-orang yang mau masuk lift.

Tidak hanya sekali dua kali kejadian seperti ini saya alami, nyaris setiap hari. Mungkin mereka takut kalau ketinggalan lift seperti orang-orang di stasiun yang takut ketinggalan kereta.

Seperti kemarin ketika saya satu lift dengan penderita stroke yang menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Saat pintu lift terbuka, beberapa orang terburu-buru akan menerobos masuk. Langsung saja saya berikan kode tangan stop tinggi-tinggi supaya orang-orang tidak menerobos masuk dan membiarkan kami keluar terlebih dahulu. Syukurlah mereka mengerti kode tangan saya dan mereka urung menerobos. Tetapi beberapa anak kecil terlanjur berlari masuk lift dan hampir menabrak bapak si penderita stroke. Haduuuh…

Saya lihat di beberapa lift sudah ditempeli papan bertuliskan “Dahulukan yang keluar” atau memberikan pembatas di tengah pintu lift sebagai pengatur jalur masuk dan keluar lift, kiri untuk masuk dan kanan untuk keluar. Nampaknya masyarakat kita masih perlu belajar banyak ya?

Film Kepemimpinan

Saya sangat suka film perang China kuno seperti yang baru saja saya tonton, yaitu The Dragon Blade. Atau film-film lama seperti The Three Kingdoms, The Red Cliff, dll. Film peperangan memang tidak pernah menyenangkan mengingat kita disuguhkan kekejian. Namun terlepas dari itu, saya selalu tertarik ketika disuguhkan adegan kepemimpinan, baik kepimpinan yang baik mau pun yang jahat. Dan juga intrik perebutan kepimpinan atau kekuasaan, penghianatan dan balas dendam.

Yang membuat saya termenung adalah bagian kepimpinan yang baik, dimana dia mampu membuat para anak buah menjadi setia dan rela berkorban jiwa dan raganya demi visi dan misi yang diperjuangkan pemimpinannya. Dan pemimpin yang baik menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap visi dan misinya dengan rasa persahabatan dan kesetiakawanan yang tinggi serta penghargaan yang besar terhadap setiap anak buahnya. Pemimpin yang baik diperlihatkan dengan keteladanannya yang luar biasa sehingga para anak buah dapat begitu menghormatinya.

Dan dari film-film ini kita dapat belajar banyak. Selain belajar kepimpinan, juga nilai-nilai kemanusiaan dan juga strategi.


{Gambar dipinjam dari Wikipedia}

Sayangnya film-film Indonesia tidak banyak yang menggarap sisi kepemimpinan seperti ini. Mungkin tidak perlu berlatar belakang peperangan, cukuplah jika film kepemimpinan digarap dengan latar belakang berbeda seperti misalnya kepimpinan perjuangan bisnis, pembelaan hak asasi manusia. Atau yang ringan-ringan saja seperti kepimpinan kelompok belajar, band, daerah, dll.

Rasanya jenis film seperti ini perlu lebih diperbanyak mengingat kita membutuhkan banyak pemimpin. Namun sebelum film-film seperti ini banyak dibuat di Indonesia, kita perlu belajar dari film-film China dulu. Asal dipetik yang baik. Yang buruk dibuang saja, hehehe…

Simfoni Negeriku

Masih dalam rangka mencari lagu-lagu instrumental untuk menemani kerja, saya malah menemukan album “Simfoni Negeriku” dari Victorian Philharmonic Orchestra & Addie MS. Isinya lagu-lagu nasional.

Jepretan Layar 2015-04-21 pada 11.01.40 AM

Langsung saja pikiran terlempar jauh ke masa lalu, saat dimana saya masih SD. Saat itu Papah yang masih bekerja sebagai pegawai negeri sering sekali menyetel kaset lagu-lagu nasional dan perjuangan menjelang 17-an atau saat perayaan hari nasional lainnya. Kami semua jadi ikut bersemangat mendengar lagu-lagu perjuangan itu.

Sayangnya album “Simfoni Negeriku” ini bukan lagu-lagu perjuangan yang menggugah semangat. Walau pun ada lagu Indonesia Raya dan Mars Pancasila, namun menurutku kurang bisa membangkitkan asa. Jadi sementara ini saya lewatkan saja.

Sleep Songs

Sedang cari-cari lagu instrumentalia yang tenang yang sekiranya bisa menemani kerja ternyata malah menemukan album bertajuk “Sleep Songs: 101 Sleep Songs & Relaxation Music, Relax Sounds to Reduce Stress Level”. Saya coba dengar sampelnya ternyata musiknya begitu saja. Ya memang ditujukan supaya pendengarnya bisa relaks dan tertidur. Musiknya lambat, nadanya begitu-begitu saja. Jadi bayangin, ini yang main musik pasti merekamnya sambil terkantuk-kantuk atau malah tertidur? Hahaha…

Jepretan Layar 2015-04-21 pada 10.44.02 AM

Syukurlah saya bukan tipe yang kesulitan tidur. Kadang merasa sulit tidur sih, tapi ternyata cuma 5 menit. Habis itu terlelap, bablas.

Oh iya, kalau sedang kerja, Anda suka ditemani lagu apa?