Bingung Memilih Platform

Seorang teman meminta didesainkan sebuah sistem antrian. Masalahnya, sekarang platform yang tersedia banyak. Ini yang membuat kita jadi bingung menentukan mau pakai platform apa dan apakah platform tersebut efisien dari segi biaya?

Contohnya ya sistem antrian ini, opsinya bisa pakai PC biasa yang mahal; pakai Raspberry Pi yang lebih murah; pakai dongle Android yang praktis; atau murni mendesain elektronikanya? Masalahnya adalah harus pas antara biaya, kemudahan dan kehandalan. Seperti sebuah segitiga, ketiga faktor tadi ada di setiap sudut segitiga. Ketika kita mengedepankan kehandalan dan kemudahan, maka biaya akan jadi mahal. Atau ketika ketika memilih murah tapi handal, biasanya untuk mengembangkannya jadi sangat sulit. Namun memilih platform yang mudah dengan biaya murah biasanya kurang handal.

     Biaya --- Handal
       \         /
        \       /
         \     /
          Mudah

Tapi sebenarnya ada solusi lebih baik, yaitu mencampurkannya. Ada beberapa bagian menggunakan Raspberry Pi, bagian lain Dongle Android, dan yang membutuhkan komputasi dan penyimpanan besar bisa menggunakan PC biasa. Oh iya, sebagian lagi pakai Wemos D1 Mini.

Begitulah kira-kira.

Iklan

Berebut Masuk Lift

Saya heran ketika melihat banyak sekali orang yang begitu pintu lift terbuka langsung menerobos masuk. Padahal banyak orang dari dalam lift yang mau keluar. Sehingga bisa dipastikan orang dari dalam lift kesulitan keluar dan akhirnya mereka berusaha menerobos arus orang-orang yang mau masuk lift.

Tidak hanya sekali dua kali kejadian seperti ini saya alami, nyaris setiap hari. Mungkin mereka takut kalau ketinggalan lift seperti orang-orang di stasiun yang takut ketinggalan kereta.

Seperti kemarin ketika saya satu lift dengan penderita stroke yang menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Saat pintu lift terbuka, beberapa orang terburu-buru akan menerobos masuk. Langsung saja saya berikan kode tangan stop tinggi-tinggi supaya orang-orang tidak menerobos masuk dan membiarkan kami keluar terlebih dahulu. Syukurlah mereka mengerti kode tangan saya dan mereka urung menerobos. Tetapi beberapa anak kecil terlanjur berlari masuk lift dan hampir menabrak bapak si penderita stroke. Haduuuh…

Saya lihat di beberapa lift sudah ditempeli papan bertuliskan “Dahulukan yang keluar” atau memberikan pembatas di tengah pintu lift sebagai pengatur jalur masuk dan keluar lift, kiri untuk masuk dan kanan untuk keluar. Nampaknya masyarakat kita masih perlu belajar banyak ya?

Film Kepemimpinan

Saya sangat suka film perang China kuno seperti yang baru saja saya tonton, yaitu The Dragon Blade. Atau film-film lama seperti The Three Kingdoms, The Red Cliff, dll. Film peperangan memang tidak pernah menyenangkan mengingat kita disuguhkan kekejian. Namun terlepas dari itu, saya selalu tertarik ketika disuguhkan adegan kepemimpinan, baik kepimpinan yang baik mau pun yang jahat. Dan juga intrik perebutan kepimpinan atau kekuasaan, penghianatan dan balas dendam.

Yang membuat saya termenung adalah bagian kepimpinan yang baik, dimana dia mampu membuat para anak buah menjadi setia dan rela berkorban jiwa dan raganya demi visi dan misi yang diperjuangkan pemimpinannya. Dan pemimpin yang baik menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap visi dan misinya dengan rasa persahabatan dan kesetiakawanan yang tinggi serta penghargaan yang besar terhadap setiap anak buahnya. Pemimpin yang baik diperlihatkan dengan keteladanannya yang luar biasa sehingga para anak buah dapat begitu menghormatinya.

Dan dari film-film ini kita dapat belajar banyak. Selain belajar kepimpinan, juga nilai-nilai kemanusiaan dan juga strategi.


{Gambar dipinjam dari Wikipedia}

Sayangnya film-film Indonesia tidak banyak yang menggarap sisi kepemimpinan seperti ini. Mungkin tidak perlu berlatar belakang peperangan, cukuplah jika film kepemimpinan digarap dengan latar belakang berbeda seperti misalnya kepimpinan perjuangan bisnis, pembelaan hak asasi manusia. Atau yang ringan-ringan saja seperti kepimpinan kelompok belajar, band, daerah, dll.

Rasanya jenis film seperti ini perlu lebih diperbanyak mengingat kita membutuhkan banyak pemimpin. Namun sebelum film-film seperti ini banyak dibuat di Indonesia, kita perlu belajar dari film-film China dulu. Asal dipetik yang baik. Yang buruk dibuang saja, hehehe…

Simfoni Negeriku

Masih dalam rangka mencari lagu-lagu instrumental untuk menemani kerja, saya malah menemukan album “Simfoni Negeriku” dari Victorian Philharmonic Orchestra & Addie MS. Isinya lagu-lagu nasional.

Jepretan Layar 2015-04-21 pada 11.01.40 AM

Langsung saja pikiran terlempar jauh ke masa lalu, saat dimana saya masih SD. Saat itu Papah yang masih bekerja sebagai pegawai negeri sering sekali menyetel kaset lagu-lagu nasional dan perjuangan menjelang 17-an atau saat perayaan hari nasional lainnya. Kami semua jadi ikut bersemangat mendengar lagu-lagu perjuangan itu.

Sayangnya album “Simfoni Negeriku” ini bukan lagu-lagu perjuangan yang menggugah semangat. Walau pun ada lagu Indonesia Raya dan Mars Pancasila, namun menurutku kurang bisa membangkitkan asa. Jadi sementara ini saya lewatkan saja.

Sleep Songs

Sedang cari-cari lagu instrumentalia yang tenang yang sekiranya bisa menemani kerja ternyata malah menemukan album bertajuk “Sleep Songs: 101 Sleep Songs & Relaxation Music, Relax Sounds to Reduce Stress Level”. Saya coba dengar sampelnya ternyata musiknya begitu saja. Ya memang ditujukan supaya pendengarnya bisa relaks dan tertidur. Musiknya lambat, nadanya begitu-begitu saja. Jadi bayangin, ini yang main musik pasti merekamnya sambil terkantuk-kantuk atau malah tertidur? Hahaha…

Jepretan Layar 2015-04-21 pada 10.44.02 AM

Syukurlah saya bukan tipe yang kesulitan tidur. Kadang merasa sulit tidur sih, tapi ternyata cuma 5 menit. Habis itu terlelap, bablas.

Oh iya, kalau sedang kerja, Anda suka ditemani lagu apa?

Home Office

Kemarin malam (tengah malam tepatnya) saya browsing tentang home office. Keren-keren. Tidak hanya rapi tapi banyak juga yang indah dengan mengedepankan estetika. Ada juga yang wow seperti ada di: Stefan Didak’s Home Office Desktop. Dahsyat…

Lantas saya pun punya mimpi punya home office sendiri. Rasanya asyik banget jika punya tempat kerja yang nyaman dan bisa membuat kita betah berjam-jam kerja. Tentu menjadi sangat produktif.

Meja kerja saya saat ini
Meja kerja saya saat ini

Yang terpikir saat ini adalah menyulap ruang tengah apartemen supaya bisa jadi home office. Wah pasti butuh biaya banyak ya? Belum lagi biaya operasionalnya. Mungkin bisa dicicil ya? Bisa juga pakai PC yang hemat energi seperti NUC atau bahkan Laptop yang difungsikan sebagai server. Atau Raspberry Pi? Ehm… kayaknya kurang bertenaga.

Ketika kerja di apartemen
Ketika kerja di apartemen

Yang jelas sih kayaknya butuh multi monitor. Saat ini berguna banget bekerja dengan 2 monitor, 1 untuk code dan 1 untuk lihat hasilnya. Perlu 1 monitor lagi untuk contekannya, xixixi…

Sedangkan monitor lain untuk nge-test sistem jika dijalankan di OS berbeda. Ayo nabung…

Nomer Hape Mirip

Tempo hari saya memasang iklan untuk kontrakan apartemen di beberapa situs iklan gratis. Tidak berapa lama kemudian saya mendapat SMS yang menawarkan supaya saya memasang iklan juga di http://www.jualo.com.

Yang menarik adalah karena nomer si pengirim mirip dengan nomer hape yang saya gunakan, cuma dia menggunakan kode negara +46 yang tercatat sebagai Sweden. Di bawah ini capture SMS yang saya terima dari Sri dan Ana yang menggunakan nomer yang sama yang mirip dengan nomer saya.

Nomernya mirip

Memang ada ya masking dengan cara meniru nomer hape target? Jika demikian, berarti masking-nya bisa banyak sekali nomer, sebanyak nomer target iklan. Melihat kode negara +46, berarti layanan masking ini diselenggarakan di Sweden. Benarkah?