Dobosan Elektro

Kemarin saat menunggu penerbangan yang delay 2 jam, daku mengisi waktu dengan ngobrol dengan seorang dokter obsgyn. Sang dokter curhat tentang anaknya yang tahun depan akan lulus SMA dan akan kuliah. Masalahnya sang anak ingin masuk jurusan teknik dan salah satu pilihannya adalah teknik pertambangan.

Karena beliau bertanya-tanya tentang jurusan teknik lain dan kemudian menanyakan latar belakang pendidikanku, maka sekalian saja daku ndobos tentang elektro. Kan daku lulusan program studi Elektronika dan Telekomunikasi. Pas… Xixixi…

Teknik elektro itu adalah jurusan yang ajaib. Dan kami diajari untuk berimajinasi. Jadi jangan heran kalau orang elektro itu kreatif.” kataku memulai dobosan.

“Kok bisa begitu, Mas?” Tanya Sang Dokter dengan sedikit mengernyitkan dahi. Dia berpikir daku mengada-ada. Xixixi…

Baca selebihnya »

Iklan

Pengalaman Drop Out

Hari ini cukup leluasa untuk blogwalking dan menemukan beberapa blogger menuliskan banyak hal tentang pendidikan dan suka dukanya. Ada yang menuliskan tentang DO (drop out) dilihat dari sudut pandang dosen. Nampaknya memang cukup memprihatinkan jika membaca beberapa alasan yang ditulisnya.

Sekedar sharing yang mungkin berguna mungkin juga tidak, daku juga pernah mengalami DO. Ceritanya dulu semasa jadi dosen daku melanjutkan studi S2 di UGM, Yogyakarta. Cukup keren sebenarnya karena mengambil jurusan SKI (Sistem Komputer & Informatika) yang ada di bawah naungan Teknik Elektro. Jaman tahun 1997/1998 bidang ini amat besar potensinya.

Dalam perjalanan waktu, ternyata terjadi banyak hal. Dari pacaran, menikah, istri hamil, berhenti jadi dosen, dan lain-lain, hingga akhirnya diterima bekerja di Jakarta.

Baca selebihnya »

Belajar dan Mengajar Tidak Pernah Mudah

Pembaca pasti pernah nonton film kungfu kan? Nah, daku jadi teringat film-film kungfu ketika sedang berintrospeksi mengapa daku tidak dapat melakukan alih pengetahuan kepada anak buah dengan baik. Sudah berkali-kali diajarkan pun tidak ada yang nyanthol di kepala mereka. Apakah caraku yang salah? Apakah ada yang salah ketika aku mengajarkan mereka?

Nah, di saat interospeksi inilah daku kemudian teringat pada film-film kungfu tersebut. Seringkali dalam film tersebut dikisahkan seorang pemuda yang sombong dan suka nantangin orang lain untuk berkelahi. Hingga suatu saat (seperti biasanya) pemuda sombong tadi kalah oleh seorang tua yang dari sosoknya saja tidak meyakinkan untuk bisa berantem. Tapi kenyataannya berbeda, si pemuda dengan tubuh atletis ternyata dapat dengan mudah dikalahkan tubuh renta tersebut.

Dan ternyata walau pun si pemuda ini adalah pemuda yang sombong, dia rupanya punya hati besar untuk menyadari kesalahannya dan kesombongannya. Si pemuda akhirnya memohon untuk dapat berguru kepada si tua yang ternyata adalah pendekar terkenal pada masanya.

Baca selebihnya »

Guru: Masihkah Menjadi Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?

Dahulu dikenal sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.”
Masihkah kini engkau dikenang sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa?”

− Dewo Retoricaman

Guru atau dosen kerap kali dianggap sebagai pekerjaan “panggilan hati.” Hanya orang “terpanggil hatinya” saja yang dapat menjadi guru/dosen yang sebenarnya.

Di sisi lain daku menjumpai banyak sekali guru/dosen pelarian. Maksudnya adalah karena banyak orang yang tidak diterima atau tidak mampu bekerja di ladang lain kemudian melarikan dirinya menjadi guru/dosen.

Atau banyak juga yang “menyambi” menjadi dosen di samping pekerjaan utamanya yang belum tentu stabil alias beresiko tinggi.

Bukan hal yang buruk sih. Dan juga tidak salah. Cuma rasanya semakin sedikit saja orang yang benar-benar “terpanggil” yang menjadi guru/dosen sejati. Dimana merekalah yang sebenarnya berhak menyandang “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.”

Selamat di Hari Guru bagi para guru, “Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.”

Nilai Dosen Honorer

Dosen Senior: “Nilai mahasiswa kamu bagus-bagus ya? Pasti pintar-pintar ya?”

Dosen Honorer: “Siapa bilang mahasiswa saya pintar-pintar?”

Dosen Senior: “Lha itu nilainya bagus-bagus?”

Dosen Honorer: “Halah… Kalau saya kasih nilai semua mahasiswa apa adanya, bisa-bisa semester depan saya tidak ngajar lagi!”

Dosen Senior: “Weks…”

(* Benarkah demikian? Patut kita renungkan. *)

Consultant Coaching

Siang ini ada yang istimewa di kantor kami karena kami kedatangan salah satu konsultan TIK dan manajemen senior, yaitu Pak Riri Satria. Pada kesempatan ini Pak Riri memberikan coaching bagi para konsultan. Mulai dari bagaimana menggali ide-ide dengan brainstorming hingga ke masalah teknis seperti metodologi analisis dan dokumen-dokumen yang terlibat.

Para peserta diajak untuk turut berpartisipasi dan berpikir secara maksimal dengan alat bantu yang tepat. Tepat di sini belum tentu harus hi-tech. Bahkan Pak Riri lebih banyak menggunakan peralatan tradisional seperti kertas, post-it, spidol warna-warni dan tentu saja whiteboard. Walau pun demikian coaching ini tetap saja menarik dan menggugah.

Setelah coaching yang luar biasa ini, kami langsung menuju Read Bean untuk bukber (buka bersama). Terima kasih untuk Pak Riri atas coaching yang sangat menginspirasikan kami.

Program S2 CIO di UGM

Anda seorang CIO (chief information officer) atau berminat ingin menjadi CIO? Jangan takut, Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka program S2 CIO. Program ini diharapkan dapat mencetak tenaga kerja yang memiliki keterampilan manajerial dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Program ini di bawah naungan Magister Teknologi Informasi. Program ini berfokus pada strategi dan manajemen teknologi informasi dan komunikasi. Kurikulumnya juga meliputi dimensi-dimensi non teknis seperti hukum, ekonomi, manajemen dan sosial.

Berita lengkapnya dapat dibaca di: “Pertama di Indonesia, UGM Gelar Program CIO.”