Nazaruddin, Lie to Me

Daku adalah salah satu penggemar serial TV Lie to Me yang saat ini diputar di B Channel. Film ini bercerita tentang keahlian Dr. Cal Lightman (diperankan oleh Tim Roth) dan koleganya dalam membongkar berbagai kasus yang tidak bisa dibongkar oleh pihak penegak keadilan. Asyiknya, pendekatan yang digunakan tidak melulu berdasarkan fakta/bukti di lapangan, karena biasanya fakta/bukti di lapangan sudah direkayasa atau sulit dikaitkan antara satu dengan yang lain. Jadi pendekatan yang dilakukan adalah dengan membongkar para individu yang terkait dengan kasus tersebut.

{Gambar diambil dari situs resmi Lie to Me}

Dalam serial ini Dr. Cal Lightman selalu dapat menemukan gerak-gerik alias bahasa tubuh yang bisa menunjukkan kalau si tersangka berbohong, berkata benar, atau menyembunyikan sesuatu. Jika ditengarai si tersangka menyembunyikan sesuatu, maka dengan cerdiknya Dr. Cal Lightman dan kolega akan menemukan apa itu. Tentu seringkali harus melibatkan individu lain di sekitar tersangka. Kadangkala si tersangka ternyata bukanlah pelaku kejahatan yg sebenarnya, tetapi berusaha menutupi si pelaku kejahatan yang sebenarnya.

Baca selebihnya »

Gaung Seseorang

Di tengah diskusi saya yg HOT dengan seseorang yang terkenal, berpengaruh, pandai (dengan title tinggi dari luar negeri) & bolak-balik menerima penghargaan dari pemerintah & lembaga lain, yang terjadi hanya gara-gara statusnya yg memaki BANGSA ini, mendadak saya kangen Dik Kirana. Lho? Apa hubungannya?

Saya teringat saat Kirana berkata, menangis, teriak, menyanyi, dsb. Suaranya yang lirih dan walau pun teriak tidak akan keras sekali. Benar-benar lucu dan menggemaskan.

Ini sangat kontras jika yang bersuara adalah seseorang yang begitu powerful. Seseorang dengan pengaruh besar dan terkenal tentu memiliki dampak yang luar biasa saat dia bersuara, walau pun selirih apa pun. Apalagi kini suara tidak sekedar suara yang terdengar langsung dari mulut ke telinga orang lain, karena kecanggihan teknologi sekarang bisa membuat suara itu terdengar ke mana-mana dalam waktu yg singkat.

Hati-hati dengan lidahmu, penamu, keyboardmu, touchscreenmu (*hayah*) dan apa pun yang dapat menyuarakan isi hatimu. Apalagi jika engkau seseorang yang hebat, pandai, powerful, memiliki pengaruh besar, karena suaramu itu sungguh besar dan berdampak luas.

Obama vs Osama

Hari ini seneng banget denger berita tewasnya gembong teroris, Osama bin Laden. Namun ada yang mengganjal kesenangan ini ketika daku membaca pernyataan presiden PKS Luthfi Hasan Isaq di PKS: Tes DNA Osama, Baru Percaya. Kok kesannya bagaimana gitu?

Yg lebih mengganjal lagi adalah pernyataan presiden PKS ini terkait terorisme di Indonesia:

Jika benar Bin Laden telah tiada, Luthfi yakin tak akan ada pengaruhnya secara langsung untuk Indonesia. Pasalnya, aksi terorisme yang terjadi di Tanah Air dinilainya lebih dipicu oleh ketidakadilan yang terjadi dan kesejahteraan yang tak kunjung terpenuhi.

“Jadi, ada atau tidak ada Osama, kalau ketidakadilan masih jadi common sense dan kesejahteraan belum teperhatikan secara keseluruhan, itu (terorisme) akan masih ada. Osama, saya rasa, tidak punya sentuhan sama sekali ke Indonesia. Perusahaan-perusahaan Osama juga tak ada di Indonesia. Tak ada sentuhan langsung Osama ke Indonesia. Saya harap Indonesia tetap aman,” katanya.

Oke, partai bertajuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini semoga tidak mewakili suara teroris juga. Dan semoga saja saya hanya salah sangka terhadap pernyataan Pak Luthfi yang seolah paham benar tentang terorisme di Indonesia, yang katanya karena adanya ketidakadilan dan tidak diperhatikannya kesejahteraan.

Semoga damai sejahtera di Indonesia tercinta.

Akhirnya Pemblokiran Depkominfo 90%

Senang rasanya membaca berita “Tifatul: Pmblokiran Situs Berbahaya Sudah 90 Persen.” Asli, walau pun masih tidak bisa mempercayai angka “90%” yg ditulis di situ, tetapi paling tidak ada optimisme di situ. Mengenai angka yang salah kan bisa diralat kemudian. Ya tho? (*hayah*)

Dan lebih menyenangkan lagi, pemblokiran ini disebutkan tidak hanya situs-situs pornografi, tetapi juga disebutkan sebagai situs-situs yang berbahaya, yaitu situs yang mengandung muatan pornografi dan mengajarkan kekerasan. Yap, patut digarisbawahi: “mengajarkan kekerasan” seperti “terorisme”. Hehehe… jadi GR nih, jangan-jangan Om Tif mbaca tulisan daku sebelumnya. (*hayah, GR-nya ndak ketulungan*)

Eniwei, baidewei, baswei, nampaknya ada kemajuan sedikit dari depkominfo. Dan semoga ada progres lebih keren lagi di masa mendatang.

Namun ada sedikit masukan bagi Om Tif, terutama mengenai akurasi angka yang disebutkannya, yaitu “90%”. Lebih baik tidak meniru kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh Pakar Telematika gadungan yang semena-mena menulis angka tanpa dasar. Kita semua tentu masih ingat angka sakti 68% yang pernah disebutkannya. Usulanku ini bukan tanpa dasar loh! Soalnya daku masih bisa melihat situs-situs porno dan bahkan mendownload film-nya loh!!! (*hayah, membuka aib. Iya-iya, sudah kuhapus dari tablet & nobie, kok*) Dan kalau menyebutkan “persentase”, tentu ada jumlah acuan 100%-nya. Lha ini apakah ada 100%-nya?

Depkominfo vs Teroris

Woke, sepak terjang teroris memang sudah sangat mengerikan dan sekarang cenderung brutal, karena sudah berani menyerang polisi & masjid, di samping tentu saja target lamanya, yaitu gereja2. Rasanya tak habis2 membaca berita tentang terorisme ini.

Namun di antara berita2 tersebut tidak dijumpai peran serta depkominfo dalam mencegah & menanggulangi terorisme. Mereka malah sibuk dengan norma2 beraurat di dunia maya. Padahal depkominfo bisa turut aktif dalam pemberantasan terorisme dengan keahlian mereka di bidang IT. Dan daku rasa inisiatif ini pasti akan dapat meningkatkan prestise & kewibawaan depkominfo dari pada hiruk pikuk hujatan yang berlangsung saat ini, terutama yg tertuju langsung pada menkominfo.

Usaha ini tentu perlu mendapat dukungan & bantuan dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat & tim ahli. Dan itu pasti akan didapat secara otomatis kemudian.

Jadi, bagaimana nih Om Tif? Mau berinisiatif membantu & membentuk tim elit IT? Atau lebih suka bergumul dengan norma2 beraurat yg lebih mengasyikkan & menggiurkan?