Mahasiswa Mendukung Gayus Jadi Presiden

Pagi ini daku cukup terhenyak saat mendengarkan berita di TV kalau ada sekelompok mahasiswa yang mendukung Gayus Tambunan jadi presiden. Alasannya sederhana, yaitu karena Gayus dianggap berani dalam memberantas kasus korupsi dan mafia hukum/pajak.

Daku jadi prihatin juga sih karena dengan naif-nya mahasiswa bisa menyatakan dukungan Gayus menjadi presiden. Kok naif sekali ya? Padahal bisa saja Gayus melakukan itu semua hanya karena kepepet, karena ingin keringanan hukuman, atau hanya sekedar mengalihkan perhatian dengan menyeret orang-orang lain ke dalam kubangan hukum dengan masalah-masalah mereka sendiri. Hasilnya memang bisa bagus, diharapkan bisa membersihkan republik tercinta ini dari lingkaran setan korupsi. Tapi mbok ya jangan Gayus jadi presiden gitu loh. Emang jadi presiden itu gampang? Memang jadi presiden itu modalnya cuma berani & nekad? Mau dibawa kemana Republik Indonesia kalau begitu?

Cape deh denger berita-berita Gayus dan pernak-pernik ngga penting bin naif kayak gini. BTW, tetap semangad yaaaa!!!

Dasar Malaysia Kambing!

Tadinya daku sudah berusaha menahan diri tidak menulis apa pun tentang konflik RI dgn Malaysia. Tapi ternyata daku tidak tahan lagi. Apalagi setelah membaca banyak status dari berbagai jejaring sosial yg isinya mencela SBY. Ya benar, keputusan pemerintah dalam mengatasi konflik ini dengan diplomasi seperti yg dituangkan dalam pidato presiden malam ini memang mengundang banyak cercaan. Selain dari lawan politiknya, juga dari banyak masyarakat.

Benar-benar memprihatinkan. Mengenai hal ini, daku cuma punya opini sederhana. Daku menganalogikannya begini: ada seekor kambing jantan nakal yang hobinya ngajak berantem mulu. Hobinya memamerkan tanduk panjang bergelung indah kebanggaannya. Seandainya saja kambing nakal ini diladeni secara kambing juga, pasti terjadi adu tanduk antara dua kambing. Hem… tidak heran kan kalau sering terjadi adu kambing?

Lha kita ini bukan kambing, Saudara-saudara! Dan Indonesia ini bukan negara kambing, Sobat-sobat! Ya kalau ketemu kambing jantan nakal kayak gini, mestinya kita bisa ngelus-ngelus, syukur-syukur berhasil menjinakkannya. Nanti kalau sudah jinak, kita bisa menyembelihnya dengan suka cita. Apalagi kalau waktunya pas perayaan. Ya, tho?

Baca selebihnya »

Ono-ono, Kawir-kawir, Tibo

Ini adalah tulisan daku yang “kedua” (+) di Politikana setelah “Nahkoda Kapal Bocor”. Sengaja kuarsip di sini. Link asli: “Ono-ono, Kawir-kawir, Tibo”

Beberapa waktu yang lalu, kurang lebih seminggu yang lalu, saya menjumpai singkatan yang cukup menarik di sebuah artikel di harian papan tengah negeri kita tercinta. Singkatan itu adalah: Ono-ono, Kawir-kawir, Tibo. Sayangnya saya lupa mencatat pengarangnya, judul artikelnya, dan nama koran tersebut. Maklum, cuma pinjem.

Sayangnya lagi, dalam artikel tersebut singkatan-singkatan unik tersebut hanya diartikan sebagai singkatan nama-nama capres dan cawapres hasil koalisi saja. Dan dalam tesisnya tidak diartikan lebih lanjut arti dari singkatan tersebut. Mungkin penulisnya sengaja melakukannya karena kebanyakan orang telah mengerti artinya.

Namun, dalam kesempatan ini, perkenankanlah saya secara semena-mena menggunakan singkatan tersebut dan mengartikannya secara harafiah. Karena sejatinya ketiga singkatan itu mempunyai makna dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Jawa. Dan mungkin banyak yang belum mengerti apa maksud dari singkatan-singkatan ini.

Baca selebihnya »

Ikutan Berpolitikana

Daku pun ingin turut dapat berpartisipasi dalam hingar-bingar pesta politik demokrasi di negeri ini. Untuk itulah daku bergabung dengan Politikana. Bermula dari rekomendasi seorang sahabat maya yang sebenarnya dengan ogah-ogahan bin terpaksa daku pun menilik situs politikana. Awal mulanya biasa saja. Namun lama-kelamaan kok jadi semakin melekat dan akhirnya keranjingan. Makanya pepatah “tak kenal maka tak sayang” benar-benar mengena. Untuk itulah daku akhirnya turun ke kancah pesta demokrasi negeri ini di dunia maya.

Walau pun turun ke kancah politik di dunia maya, daku tidak memiliki ambisi apa pun. Tidak ada terbersit ambisi menjadi caleg, apalagi jadi presiden. Hayah, rasanya kok sangat tidak mungkin. Pembaca pasti tahu mengapa daku bisa sepesimistis seperti ini. Hahahaha…

Sejatinya daku memang tidak hobi di dunia politik. Membaca berita-beritanya pun sebenarnya ogah. Kalau akhirnya membaca dan terakhir menerjunkan diri dan menulis sesuatu di Politikana, itu tidak lebih karena geregetan saja.

Baca selebihnya »

Bersih Sebersih-bersihnya

Bersih itu tidak kotor. Bersih membuat kita nyaman.

Tapi bagaimana kalau ada orang yang hobinya bersih-bersih? Rupanya tidak hanya dirinya, istrinya, anak-anaknya, rumahnya, halamannya, mobilnya, yang diinginkannya untuk bersih. Tapi sekitarnya juga harus bersih.

Kalau perlu mengetok pintu tetangga dan membersihkan istrinya, anak-anaknya, rumahnya, baju-bajunya, halamannya, mobilnya, motornya, perabotannya, dll. Kalau sudah cape segera saja menyuruh tetangganya membersihkannya sendiri. Tapi ditunggui terus sampai semuanya benar-benar dibersihkan. Kalau perlu sampai mengkilap-lap-lap.

Eh, emang ada orang yang sebegitu terobsesinya?

“Membersihkan itu memindahkan kotoran ke tempat lain. Ke tempat yang tidak mau dilihat olehnya.”

“Lebih mudah membersihkan jasmani dari pada rohani. Namun yang terpenting adalah kebersihan rohaninya.”