Akhirnya Pemblokiran Depkominfo 90%

Senang rasanya membaca berita “Tifatul: Pmblokiran Situs Berbahaya Sudah 90 Persen.” Asli, walau pun masih tidak bisa mempercayai angka “90%” yg ditulis di situ, tetapi paling tidak ada optimisme di situ. Mengenai angka yang salah kan bisa diralat kemudian. Ya tho? (*hayah*)

Dan lebih menyenangkan lagi, pemblokiran ini disebutkan tidak hanya situs-situs pornografi, tetapi juga disebutkan sebagai situs-situs yang berbahaya, yaitu situs yang mengandung muatan pornografi dan mengajarkan kekerasan. Yap, patut digarisbawahi: “mengajarkan kekerasan” seperti “terorisme”. Hehehe… jadi GR nih, jangan-jangan Om Tif mbaca tulisan daku sebelumnya. (*hayah, GR-nya ndak ketulungan*)

Eniwei, baidewei, baswei, nampaknya ada kemajuan sedikit dari depkominfo. Dan semoga ada progres lebih keren lagi di masa mendatang.

Namun ada sedikit masukan bagi Om Tif, terutama mengenai akurasi angka yang disebutkannya, yaitu “90%”. Lebih baik tidak meniru kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh Pakar Telematika gadungan yang semena-mena menulis angka tanpa dasar. Kita semua tentu masih ingat angka sakti 68% yang pernah disebutkannya. Usulanku ini bukan tanpa dasar loh! Soalnya daku masih bisa melihat situs-situs porno dan bahkan mendownload film-nya loh!!! (*hayah, membuka aib. Iya-iya, sudah kuhapus dari tablet & nobie, kok*) Dan kalau menyebutkan “persentase”, tentu ada jumlah acuan 100%-nya. Lha ini apakah ada 100%-nya?

Depkominfo vs Teroris

Woke, sepak terjang teroris memang sudah sangat mengerikan dan sekarang cenderung brutal, karena sudah berani menyerang polisi & masjid, di samping tentu saja target lamanya, yaitu gereja2. Rasanya tak habis2 membaca berita tentang terorisme ini.

Namun di antara berita2 tersebut tidak dijumpai peran serta depkominfo dalam mencegah & menanggulangi terorisme. Mereka malah sibuk dengan norma2 beraurat di dunia maya. Padahal depkominfo bisa turut aktif dalam pemberantasan terorisme dengan keahlian mereka di bidang IT. Dan daku rasa inisiatif ini pasti akan dapat meningkatkan prestise & kewibawaan depkominfo dari pada hiruk pikuk hujatan yang berlangsung saat ini, terutama yg tertuju langsung pada menkominfo.

Usaha ini tentu perlu mendapat dukungan & bantuan dari berbagai pihak, termasuk dari masyarakat & tim ahli. Dan itu pasti akan didapat secara otomatis kemudian.

Jadi, bagaimana nih Om Tif? Mau berinisiatif membantu & membentuk tim elit IT? Atau lebih suka bergumul dengan norma2 beraurat yg lebih mengasyikkan & menggiurkan?

Penggemblengan 10,000 jam

Konon setiap orang sukses telah melalui 10,000 jam penggemblengan sehingga dirinya bisa memiliki kesuksesan atau prestasi seperti sekarang. Kita ambil contoh Valentino Rossi, dia bisa memenangkan kelas 125 cc, 250 cc dan MotoGP karena telah melalui penggemblengan yang sangat panjang. Sekedar informasi, Vale memulai pelatihannya sejak umur 5 tahun. Amat-sangat muda. Jadi tidak heran jika dia begitu hebat dan penuh prestasi.

Demikian dengan atlet lain seperti Tiger Wood, David Beckham, dll. Tidak hanya di dunia olah raga, di dunia entertainment pun begitu. Kalau kita ambil contoh penyanyi lokal, kita bisa merujuk kepada Agnes Monica. Kita bisa melihat begitu suksesnya Agnes di dunia tarik suara. Namun kita tidak dapat memungkiri bahwa di balik kesuksesannya sekarang, dia telah melewati masa penggemblengan yang lama yang terus dilakukan secara konsisten. Kita bisa yakin kalau Agnes pun telah melampaui masa penggemblengan 10,000 jam.

Masa 10,000 jam ini memang bukan angka mutlak. Namun banyak orang dan pengamat yakin bahwa angka ini adalah suatu batas psikologis untuk mendukung kesuksesan seseorang. Dan hampir setiap orang yang sukses dapat kita telusuri bahwa mereka telah melampaui batas penggemblengan 10,000 jam ini.

Baca selebihnya »

Mahasiswa Mendukung Gayus Jadi Presiden

Pagi ini daku cukup terhenyak saat mendengarkan berita di TV kalau ada sekelompok mahasiswa yang mendukung Gayus Tambunan jadi presiden. Alasannya sederhana, yaitu karena Gayus dianggap berani dalam memberantas kasus korupsi dan mafia hukum/pajak.

Daku jadi prihatin juga sih karena dengan naif-nya mahasiswa bisa menyatakan dukungan Gayus menjadi presiden. Kok naif sekali ya? Padahal bisa saja Gayus melakukan itu semua hanya karena kepepet, karena ingin keringanan hukuman, atau hanya sekedar mengalihkan perhatian dengan menyeret orang-orang lain ke dalam kubangan hukum dengan masalah-masalah mereka sendiri. Hasilnya memang bisa bagus, diharapkan bisa membersihkan republik tercinta ini dari lingkaran setan korupsi. Tapi mbok ya jangan Gayus jadi presiden gitu loh. Emang jadi presiden itu gampang? Memang jadi presiden itu modalnya cuma berani & nekad? Mau dibawa kemana Republik Indonesia kalau begitu?

Cape deh denger berita-berita Gayus dan pernak-pernik ngga penting bin naif kayak gini. BTW, tetap semangad yaaaa!!!