Cuek

Daku memasuki lift yang hanya kebetulan diriku saja penumpangnya. Kutekan angka 6 dan daku langsung melangkah mengambil posisi belakang. Sesaat sebelum pintu tertutup secara otomatis, kulihat seorang Bapak berlari mendekati lift dan mencoba menekan tombol lift supaya pintu kembali terbuka. Namun upayanya gagal, pintu akhirnya tertutup sempurna dan lift mulai bergerak naik.

Sementara itu… daku di dalamnya hanya diam tidak membantunya. Daku tidak berupaya sedikit pun maju ke depan dan menekan tombol untuk buka pintu lift. Malah daku hanya terpaku.

Sejenak kemudian daku tersenyum menahan tawa. Daku mentertawakan diriku sendiri yang mengapa sedemikian cueknya. Sekaligus mentertawakan sang Bapak yang gagal dalam upanyanya menghentikan lift.

Namun kemudian daku merasa bersalah. Seharusnya daku bisa membantunya, siapa tahu dia memiliki urusan yang sangat penting dan harus segera dilakukan. Hiks…

Penggemblengan 10,000 jam

Konon setiap orang sukses telah melalui 10,000 jam penggemblengan sehingga dirinya bisa memiliki kesuksesan atau prestasi seperti sekarang. Kita ambil contoh Valentino Rossi, dia bisa memenangkan kelas 125 cc, 250 cc dan MotoGP karena telah melalui penggemblengan yang sangat panjang. Sekedar informasi, Vale memulai pelatihannya sejak umur 5 tahun. Amat-sangat muda. Jadi tidak heran jika dia begitu hebat dan penuh prestasi.

Demikian dengan atlet lain seperti Tiger Wood, David Beckham, dll. Tidak hanya di dunia olah raga, di dunia entertainment pun begitu. Kalau kita ambil contoh penyanyi lokal, kita bisa merujuk kepada Agnes Monica. Kita bisa melihat begitu suksesnya Agnes di dunia tarik suara. Namun kita tidak dapat memungkiri bahwa di balik kesuksesannya sekarang, dia telah melewati masa penggemblengan yang lama yang terus dilakukan secara konsisten. Kita bisa yakin kalau Agnes pun telah melampaui masa penggemblengan 10,000 jam.

Masa 10,000 jam ini memang bukan angka mutlak. Namun banyak orang dan pengamat yakin bahwa angka ini adalah suatu batas psikologis untuk mendukung kesuksesan seseorang. Dan hampir setiap orang yang sukses dapat kita telusuri bahwa mereka telah melampaui batas penggemblengan 10,000 jam ini.

Baca selebihnya »

Merasa Sehat?

Apa jadinya ketika suatu ketika Anda tahu bahwa sebenarnya Anda sedang berdiri di ujung tanduk dan segera menyadari kalau Anda belum terjatuh atau tertusuk oleh tanduk itu? Percayalah, hanya ucapan syukur yang bisa terucap. Hanya pujian kepada Tuhan begitu Anda menyadari kalau Anda masih diberi kesempatan untuk hidup dan menikmati kebersamaan dengan orang-orang yang dicintai.

Ya, saya pun pernah mengalami perasaan itu, karena kemudian saya tersadar kalau pola hidup dan makan saya tidak sehat. Jika sebelumnya saya sering mengkritik para perokok, ternyata saya tidak lebih baik dari mereka. Kenyataan yang sulit diterima nalar tentu saja, karena sebenarnya tanpa sadar saya pun telah merusak kesehatan saya dengan tidak menjaga pola hidup yang baik.

Semuanya bermula ketika entah mengapa saya tergerak untuk memeriksakan diri ke sebuah stand di mall saat saya sedang berlibur di Semarang. Ironis sebenarnya, karena saya bekerja di dunia kesehatan, namun saya tidak pernah memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan baik. Betapa sok tahunya saya akan kesehatan saya sendiri, yang jika saja terus saya abaikan, mungkin saya tidak bernasib sebaik ini.

Baca selebihnya »

Mahasiswa Mendukung Gayus Jadi Presiden

Pagi ini daku cukup terhenyak saat mendengarkan berita di TV kalau ada sekelompok mahasiswa yang mendukung Gayus Tambunan jadi presiden. Alasannya sederhana, yaitu karena Gayus dianggap berani dalam memberantas kasus korupsi dan mafia hukum/pajak.

Daku jadi prihatin juga sih karena dengan naif-nya mahasiswa bisa menyatakan dukungan Gayus menjadi presiden. Kok naif sekali ya? Padahal bisa saja Gayus melakukan itu semua hanya karena kepepet, karena ingin keringanan hukuman, atau hanya sekedar mengalihkan perhatian dengan menyeret orang-orang lain ke dalam kubangan hukum dengan masalah-masalah mereka sendiri. Hasilnya memang bisa bagus, diharapkan bisa membersihkan republik tercinta ini dari lingkaran setan korupsi. Tapi mbok ya jangan Gayus jadi presiden gitu loh. Emang jadi presiden itu gampang? Memang jadi presiden itu modalnya cuma berani & nekad? Mau dibawa kemana Republik Indonesia kalau begitu?

Cape deh denger berita-berita Gayus dan pernak-pernik ngga penting bin naif kayak gini. BTW, tetap semangad yaaaa!!!

Memilih yang Baik atau Benar?

Seringkali kita dihadapkan kepada 2 pilihan yang sulit, yaitu baik atau benar. Daku yakin setiap orang akan bingung ketika muncul 2 opsi ini. Karena baik itu belum tentu benar. Dan benar belum tentu bisa diterima dengan baik.

Baik itu relatif, tergantung pada persepsi individu atau golongan. Tergantung pula pada konteks dan juga jaman. Di lain pihak, kebenaran itu lebih bersifat universal walau pun tidak semua individu atau golongan bisa menerimanya dengan baik.

Lalu ketika kita dalam suatu situasi dan kondisi tertentu cenderung lebih memilih suatu tindakan/sikap yang baik, tapi tahu bahwa yang dilakukannya itu sebenarnya tidak benar, kemudian apakah dapat dibenarkan? Tentu tidak bisa. Namun seringkali kita lebih permisif dan melakukan pembenaran. Dan kemudian kebenaran itu pun menjadi bias.

Paling bagus ya kalau bisa berbuat baik & benar.