Testing CHIP OLED Shield | Vlog

Kalau kemarin saya bercerita tentang latar belakang CHIP OLED Shield dan bagaimana membuatnya, maka kali ini saya akan mencoba apakah shield Chipoled ini berhasil atau gagal. Kemarin saya baru mencoba fungsionalitas display OLED-nya. Walau pun cuma 0.96 inchi, tetapi display ini bagus. Selain sangat jernih dan kontras, display ini lebih hemat energi dibanding display non-OLED.

Dalam shield ini saya cuma membuat 5 tombol. Tadinya mau membuat 6 tombol, tetapi karena ruang terbatas dan demi kerapian tata-letak, maka saya cuma membuat 5 tombol. Di bawah ini adalah video testing CHIP OLED Shield ini:

Read More »

Iklan

Bingung Memilih Platform

Seorang teman meminta didesainkan sebuah sistem antrian. Masalahnya, sekarang platform yang tersedia banyak. Ini yang membuat kita jadi bingung menentukan mau pakai platform apa dan apakah platform tersebut efisien dari segi biaya?

Contohnya ya sistem antrian ini, opsinya bisa pakai PC biasa yang mahal; pakai Raspberry Pi yang lebih murah; pakai dongle Android yang praktis; atau murni mendesain elektronikanya? Masalahnya adalah harus pas antara biaya, kemudahan dan kehandalan. Seperti sebuah segitiga, ketiga faktor tadi ada di setiap sudut segitiga. Ketika kita mengedepankan kehandalan dan kemudahan, maka biaya akan jadi mahal. Atau ketika ketika memilih murah tapi handal, biasanya untuk mengembangkannya jadi sangat sulit. Namun memilih platform yang mudah dengan biaya murah biasanya kurang handal.

     Biaya --- Handal
       \         /
        \       /
         \     /
          Mudah

Tapi sebenarnya ada solusi lebih baik, yaitu mencampurkannya. Ada beberapa bagian menggunakan Raspberry Pi, bagian lain Dongle Android, dan yang membutuhkan komputasi dan penyimpanan besar bisa menggunakan PC biasa. Oh iya, sebagian lagi pakai Wemos D1 Mini.

Begitulah kira-kira.

MiFi in action

Speedtest MiFi Bolt! di Apartemen

Kemarin sore saya bergegas mencoba koneksi Bolt di apartemen. Dapat sinyal 4 bar. Dan ternyata koneksinya lumayan. Ini dia hasilnya:

10418352_10152321383054620_4041654947488069052_n

Secara teoritis LTE 4G punya kecepatan maksimal 72 Mbps. Dan ketika dapat kecepatan download 7.13 Mbps rasanya keren banget. Langsung saja saya nonton video youtube dengan kualitas HD. Boleh dikata lancar walau kadang buffering sebentar.

MiFi in action

Bolt! Mobile WiFi (Huawei E5372s)

Rasanya putus asa kalau mengandalkan koneksi internet dengan operator selular biasa. Selain tidak bisa diandalkan sinyal dan kecepatannya juga karena ada kuota pemakaian internet. Sebelumnya saya menggunakan XL, Tri dan Smartfreen. Yang satu bagus tapi kemahalan, sementara yang lain murah tapi tidak bisa diandalkan kecepatan dan sinyalnya.

Kali ini saya mencoba membeli Bolt! Sebenarnya keinginan ini sudah sejak lama, tapi saya menunda membelinya karena saya sering keluar kota dimana sinyal 4G Bolt! belum menjangkau daerah kerja. Tapi apa mau dikata, saya sudah malas menggunakan koneksi selular biasa. Saya mau yang luar biasa, maka saya pun membeli MiFi (mobile wifi) dari Bolt!

Kemarin siang saya pesan dari Lazada.co.id dan siang ini saya sudah menerimanya. Bener-bener jos tho? Ini dia penampakan ketika saya membuka paketnya. Jangan lupa perhatikan tulisan kalau MiFi ini buatan Indonesia. Top!

Read More »

Menentukan Spesifikasi Server Virtual

Bekerja dengan hardware pas-pasan itu memang menyebalkan. Namun bukan berarti tidak bisa diakali. Dengan sedikit trik tentu bisa membuat pekerjaan kita jadi lebih menyenangkan. Dalam hal ini pekerjaan saya sebagai programmer sistem berbasis web.

Trik pertama adalah dengan membuat server virtual dengan Oracle VM VirtualBox. Saya membutuhkan server virtual ini karena terbukti platform LAMPP lebih gegas dari pada XAMPP walau pun dengan spesifikasi hardware rendah. Jadi saya pun membuat VM untuk server. Sedangkan editing script dan pengujian bisa menggunakan lingkungan Windows.

Trik kedua adalah untuk menentukan spesifikasi hardware yang dialokasikan untuk VM. Ini sangat penting karena jika spesifikasi terlalu rendah, maka kinerja server akan sangat lambat, yang artinya percuma saja bikin VM, mending sekalian pakai server Windows. Sedangkan jika spesifikasi VM terlalu tinggi, maka kinerja Windows (atau host) akan menjadi lambat. Jadi tidak optimal kerjanya, karena saya masih membutuhkan Windows untuk editor script dan pengujian dengan browser. Jadi saya perlu menentukan spesifikasi yang optimal, yang pas dengan kebutuhan saya.

Maka saya pun mencoba benchmarking sederhana dengan menjalankan query sederhana untuk menentukan jumlah RAM yang dibutuhkan dan penggunaan CPU yang paling optimal. Pengujian ini bisa dibaca di: “Spesifikasi Server Virtual Sesuai Kebutuhan”. Ternyata konfigurasi yang menurut saya paling optimal adalah RAM 748 MB dan penggunaan 2 CPU. Konfigurasi ini akan berjalan baik jika menggunakan profile “High performance” atau “Balanced”. Jika menggunakan profile “Power saver” performa server virtual akan nge-drop.

Anda punya opini atau saran? Mari kita diskusikan.

Development Dengan Spesifikasi Minimum

Tempo hari sempat menuliskan 2 tech talk yang berhubungan dengan optimasi & tuning, yang gunanya untuk meningkatkan performa sistem dan menjaga agar mampu menangani beban kerja yang semakin meningkat setiap harinya (baca: “Optimasi & Tuning Server” dan “Optimasi Query”). Namun sebenarnya ada tips yang cukup jitu yang membuat kita aware akan optimasi dan tetap menjaga performa sistem sejak awal development, yaitu dengan menggunakan hardware berspesifikasi minimal.

Mungkin sulit dibayangkan, tapi kurang lebih ceritanya begini. Saat development saya menggunakan notebook yang cukup powerfull, yaitu Acer V5 yang memiliki prosesor Intel i5 berclok 1.8 GHz yang pada saat mode turbo bisa mencapai 2.7 GHz. Cukup powerful untuk development sistem berbasis web. Semuanya berjalan lancar sampai ketika sistem diimplementasikan ke user. Saat diimplementasikan, ternyata banyak hal yang turut mempengaruhi performa sistem, dari PC user yang spesifikasinya lebih rendah, koneksi jaringan, sampai ke beban kerja server.

IMG_00003236_edit

Saat saya memprogram di notebook powerful tentu saja hal-hal seperti ini tidak muncul. Lagi pula database di notebook sifatnya statik, jika ada perubahan tentu dari saya saja. Sedangkan server production memiliki beban kerja tinggi seiring banyaknya user yang bekerja. Saat implementasi inilah banyak permasalahan muncul. Apalagi jika sistem telah dipakai cukup lama dan database sudah mulai membesar.

Nah, tips-nya cukup sederhana, yaitu gunakan PC development dengan spesifikasi minimal. Sebenarnya tips ini sangat menyebalkan karena rasanya semua berjalan dengan lambat. Saat coding lambat. Saat menjalankan query lambat. Bahkan menunggu eksekusi query jadi hal yang menjemukan. Namun dari kelambatan ini, kita jadi bisa melakukan optimasi code dan query sejak dari development. Saya sangat terkesan ketika mencoba modul baru yang diinstall di server production, ternyata modul berjalan dengan sangat cepat. Wow…

Tips ini sebenarnya bukan hal yang baru. Selain karena saat ini saya menggantungkan pekerjaan di notebook yang kurang powerful, juga karena saya pernah mengalami development saat berwirausaha dulu. Dulu saat mulai berwirausaha, saya membeli notebook bekas dengan spesifikasi rendah, yang penting terjangkau kantong saya yang pas-pasan dan paling tidak bisa digunakan bekerja dengan baik. Rasanya dulu saya tidak mengeluh saat mengembangkan sistem dengan spesifikasi minimum. Eh sekarang malah sering mengeluh, hehehe… Maklum, sekarang sudah pernah merasakan notebook dengan spesifikasi yang baik.

Rasanya tips ini bisa dicoba walau pun mungkin mengundang rasa sebel saat development.

Tech Talk: Optimasi Query

Melanjutkan tech talk kemarin, perkenankanlah saya menyambungnya dengan membahas optimasi lebih detail lagi, yaitu ke level database dan pemrograman. Oh iya, sebagai catatan, optimasi di sini adalah berdasarkan pengalaman dan diskusi internal, mungkin belum benar-benar optimal sehingga saya harap mendapat masukan dari pembaca. Dalam kasus ini, kami menggunakan database server MySQL dan pemrograman PHP.

Oh iya, posting ini juga dimuat di studewo.com sebagai arsip.

Menggunakan mysqli

PHP telah menyediakan function untuk koneksi ke database baik secara prosedural mau pun secara obyek (class). Namun dengan berkembangnya waktu & teknologi, beberapa function telah usang dan mulai ditinggalkan karena telah ada function yang lebih baru dan lebih baik.

Kalau dahulu kita mengenal pustaka (library) mysql_xxx, maka sekarang sudah digantikan dengan mysqli_xxx (mysql improve). Jadi lebih baik mulai menggunakan library mysqli_xxx. Lebih baik lagi jika memigrasikan aplikasi yang masih menggunakan mysql_xxx ke mysqli_xxx.

Berita baiknya, cara penggunaan librari mysqli_xxx mirip dengan mysql_xxx. Dan php tetap menyediakan 2 cara penggunaan, yaitu metode prosedural mau pun obyek (class).

Read More »