Membuat WhatsApp di Ubuntu Seperti Aplikasi Desktop Beneran

Seperti kita ketahui bersama bahwa aplikasi desktop WhatsApp tidak tersedia untuk platform Ubuntu (atau lebih tepatnya Linux secara umum). Kalau pun ada, itu bukan resmi keluaran WhatsApp. Tapi dari pihak ke-3 yang kadang kala disusupi iklan atau bahkan malware/trojan. Jadi pengguna Ubuntu akan sedikit iri dengan pengguna MacOS atau pun Windows yang memiliki WA versi desktop.

Sebenarnya pengguna Ubuntu tetap dapat menggunakan versi web (web.whatsapp.com). Tapi ya gitu deh, harus berbagi tab dengan halaman internet yang lain. Kalau pun tab-nya dilepas dari browser, tetap ada tampilan tab dan panel alamat (address bar) yang bagi saya sedikit mengganggu pemandangan. Hahaha…

Namun usah khawatir. Saya ada solusi untuk menyingkirkan tab ini dan address bar serta menambahkan shortcut di desktop Ubuntu sehingga seolah-olah seperti menggunakan WhatsApp versi desktop beneran. Mau tau caranya? Yuk kita buat.

Baca selebihnya »

Iklan

Aplikasi-aplikasi Untuk Ubuntu

Sepertinya sudah berkali-kali saya meng-install Ubuntu, baik di laptop, server mau pun di Virtual Machine. Dan setiap kali install Ubuntu, setiap kali pula saya harus mengulangi meng-install beberapa aplikasi yang menunjang pekerjaan dan hobi saya. Sayangnya kadang kala saya lupa apa saja yang harus saya install sehingga ketika dibutuhkan perlu install dulu. Jika dalam kondisi terburu-buru tentu sangat tidak menguntungkan, misalnya saat akan meeting atau bertemu client. Apalagi jika terjadi gangguan koneksi internet.

Jadi perkenankanlah saya menuliskan daftar apa saja yang harus/perlu saya install di Ubuntu baru. Tentu ini sekedar pengingat bagi diri sendiri jika kelak diperlukan install Ubuntu lagi. Seperti saat ini di mana saya perlu install Ubuntu lagi karena upgrade SSD NVMe.

SERVER

  1. Tasksel. Ini adalah sebuah utility installer yang sangat membantu. Dengan tasksel ini meng-install beberapa aplikasi dapat dilakukan dengan cara yang praktis.
  2. LAMP. Ini adalah stack aplikasi yang sangat diperlukan oleh server Linux, meliputi Apache, MySQL dan PHP. Gunakan tasksel untuk menginstall stack LAMP supaya mudah.
  3. NodeJS dan NPM. Penting untuk server aplikasi dengan bahasa JavaScript.
  4. PHPMyAdmin. Aplikasi berbasis web ini sangat penting ketika diperlukan administrasi database MySQL secara remote.
  5. OpenSSH. Sangat penting supaya server bisa di-remote secara ssh. Juga tersedia utility penting seperti ssh-keygen dan ssh-copy-id supaya sesi ssh tidak perlu lagi login.
  6. Samba. Sifatnya opsional saja karena ada beberapa cara lain yang lebih secure seperti sFTP atau scp.
  7. sFTP. Sifatnya opsional saja. Belakangan saya lebih sering menyalin file secara remote dengan scp.
  8. Postfix. Sifatnya opsional saja tergantung apakah kita akan menjadikan server ini sebagai server email.
  9. Ufw. Sebuah firewall ringan dan praktis. Sangat diperlukan.
  10. Htop. Ini adalah aplikasi ringan berbasis teks untuk memonitor kerja CPU dan memori dan aplikasi apa saja yang sedang bekerja di server.
  11. Mytop. Seringkali kita perlu melihat apa saja yang terjadi di server database. Dengan aplikasi ini kita bisa melihat query apa saja yang sedang berjalan dan ada berapa koneksi ke server database. Jika diperlukan kita bisa membunuh query yang lambat.
  12. MC (midnight commander). Sebenarnya tidak terlalu penting. Tapi ketika server dikonfigurasi headless dan perlu diakses dari jarak jauh, maka menggunakan mc akan sangat membantu ketika berurusan dengan file/direktori. Saya sangat suka mc karena mengingatkan saya pada NC (Norton commander) di era masa lalu.
  13. Tightvncserver. Sebuah server VNC. Tidak terlalu dibutuhkan sebenarnya. Tapi kadang asyik juga remote server dengan GUI.
  14. Rkhunter. Sangat diperlukan untuk mengecek apakah ada penyusupan malware di server.
  15. Speedtest-cli. Sangat diperlukan untuk mengetest kecepatan jaringan di server.
  16. Nmap dan beberapa utility jaringan lain.

DESKTOP/LAPTOP

Berhubung kerjaan saya adalah programmer, maka laptop juga saya fungsikan sebagai server. Jadi apa yang terdaftar di SERVER di atas juga saya install di laptop. Sedangkan Ubuntu Desktop yang saya install sudah mengikutkan banyak aplikasi berguna seperti LibreOffice, Remmina, transmission torrent, dll. Namun saya tetap membutuhkan beberapa aplikasi yang perlu saya install secara manual. Yaitu:

  1. VirtualBox. Aplikasi ini sangat penting untuk membuat VM di laptop. Kadang kita perlu experimen atau belajar sesuatu di sistem operasi terbatas di VM. Ketika bermasalah atau ketika tidak dibutuhkan lagi tinggal dihapus tanpa mempengaruhi sistem utama.
  2. Chrome. Sebenarnya Ubuntu sudah mempunyai browser bawaan Mozilla Firefox yang cukup powerfull. Namun Chrome memiliki banyak keunggulan penting seperti integrasi dengan Google dan G-Suite. Bahkan Youtube lebih baik dijalankan di Chrome.
  3. Geany. Ini sebuah editor ringan favorit saya sejak dahulu kala. Sebenarnya banyak editor lain yang lebih fancy seperti Atom, Visual Studio Code Editor, dll. Namun saya selalu balik lagi menggunakan Geany karena ringan dan bersih tampilannya.
  4. Android Studio. Digunakan untuk membuat aplikasi di Android.
  5. Scrcpy. Sangat berguna untuk digunakan me-remote hape Android. Sangat membantu juga ketika digunakan saat membuat aplikasi Android karena aplikasi bisa langsung diuji coba ke hape sedangkan tampilan hape-nya tetap di komputer. Tidak perlu bolak-balik pegang hape.
  6. Arduino IDE. Digunakan untuk ngoprek Arduino dan kawan-kawannya.
  7. Fritzing. Digunakan untuk mendesain PCB dengan cara yang paling mudah.
  8. GIMP. Untuk editor foto/gambar.
  9. InkScape. Untuk menggambar vector.
  10. VLC. Untuk nonton video/film. Saya gunakan juga untuk nonton TV digital yang saya streaming dari Raspberry Pi + TV HAT dengan TVHeadEnd. Alternatif lain yang cukup baik adalah omxplayer yang sangat ringan karena dijalankan dari terminal.
  11. VNC Viewer. Digunakan untuk remote desktop ke server-server. Bisa juga menggunakan Remmina yang memiliki dukungan lebih banyak seperti VNC, RDP, VNC over SSH, dll.
  12. Postman. Untuk menguji coba API/Web Service.
  13. Mysql-workbench-community. Sayangnya belum ada versi untuk Ubuntu 19.04. Padahal di Ubuntu 18.04/10 bisa di-install dan berjalan dengan baik. Alternatif lain adalah Tora. Tapi saya kurang cocok dengan Tora.
  14. Kazam. Untuk screen recorder. Sangat diperlukan saat membuat video tutorial.
  15. Etcher. Digunakan untuk menyalin file image ke USB atau SDCard. Sangat dibutuhkan ketika membuat OS di SDCard untuk Raspberry Pi.
  16. Git. Penting untuk versioning code.
  17. TestDisk. Sebuah utility berbasis teks untuk recovery file.

Sedangkan berikut ini adalah beberapa aksesoris yang tidak terlalu diperlukan, tapi bagus juga jika di-install.

  1. CPU G. Ini seperti CPU Z yang legendaris itu. Fungsinya sekedar mengetahui merek dan tipe jeroan komputer kita seperti CPU, Motherboard, RAM, dll.
  2. Slimbook Battery. Jika Ubuntu di-install di laptop, maka aplikasi ini sangat diperlukan supaya baterai bisa lebih hemat. Karena secara alami Ubuntu itu menggenjot sistem secara optimal sehingga cenderung lebih boros baterai.
  3. Terminator. Sebenarnya ini cuma terminal/console saja di mana Ubuntu sudah punya terminal bawaan yang cukup baik. Keunggulan Terminator adalah di kemampuannya membagi jendela Terminator menjadi beberapa terminal. Kita bisa membaginya ke vertikal atau horizontal.
  4. Cmatrix. Hahaha ini cuma aplikasi iseng saja. Bisa difungsikan sebagai screensaver. Yang menarik adalah karena tampilannya seperti di video Matrix yang dibintangi Keanu Reeves.
  5. Tor Browser. Jika ingin browsing situs yang diblokir oleh pemerintah, maka Tor Browser ini adalah solusi praktis dibandingkan jika harus install VPN.

Nah kan ternyata banyak sekali. Makanya seringkali ada saja yang tertinggal. Tapi ya paling asyik kalau saat diperlukan baru di-install. Sayangnya tidak setiap saat tersedia koneksi internet yang memadai seperti ketika harus tugas luar kota. Dan kadang kala ukuran aplikasi yang harus di-download sangat besar. Jadi lebih baik jika aplikasi sudah terinstall dan kapan saja diperlukan siap digunakan.

Sepertinya daftar di atas akan terus bertambah saat saya menyadari apakah ada yang terlupa. Atau belakangan baru tahu ada aplikasi baru/penting yang perlu di-install juga. Jadi daftar di atas akan dinamis. Masukan dari pembaca juga mungkin baik sehingga saya perlu meng-install aplikasi usulan tersebut juga.

Walau pun tulisan ini cenderung sebagai pengingat bagi diri sendiri, tapi mungkin pembaca juga dapat memperoleh manfaat juga.

Oh iya, beberapa aplikasi yang berhubungan dengan multimedia tetap lebih asyik menggunakan versi MacOS/iOS seperti misalnya iMovie, Garageband, Procreate, dll. Jadi untuk kebutuhan edit multimedia tersebut lebih baik di MacBook Pro atau iPad.

Salam.

Upgrade Asus TUF FX505DD Tahap 1

AMD Ryzen 5 3550H di laptop Asus TUF FX505DD bukanlah prosesor yang lambat. Seharusnya dia cepat. Namun di laptop TUF FX505DD ini terasa lambat performanya. Ada 2 hal yang membuatnya jadi lambat, yaitu:

  1. Harddisk 1 TB. Menjalankan sistem operasi Microsoft Windows dari harddisk menjadikan laptop terasa sangat lambat. Apalagi jika harus melakukan pekerjaan yang berat yang butuh akses ke storage. Contoh paling terasa adalah saat booting, perlu beberapa menit hingga muncul tampilan login. Saya yang terbiasa menggunakan MacBook Pro jadi sering sewot karena harus menunggu lama. Belum lagi lag yang terasa saat mau menjalankan aplikasi besar.
  2. RAM Single Channel. Sayangnya laptop ini datang dengan konfigurasi RAM single channel. Walau pun RAM 8 GB yang terpasang sudah merupakan versi sangat cepat, yaitu Hynix 8GB PC4-2666. Ironisnya 2 GB telah terpakai untuk internal VGA dari AMD, yaitu Vega 8. Sedangkan kartu grafis tambahannya, yaitu NVidia GeForce 1050 telah dibekali VRAM 3 GB.

Untungnya laptop TUF Gaming ini upgradeable, mudah untuk di-upgrade bahkan oleh penggunanya sendiri. Upgrade yang bisa dilakukan meliputi RAM, Harddisk, SSD (tersedia slot M.2) dan kalau tidak salah modul wifi juga bisa diganti.

Oleh karenanya saya memutuskan untuk meng-upgrade laptop ini secara bertahap. Tahap pertama adalah memasang SSD NVMe supaya masalah kelambatan karena bottle neck di storage dapat teratasi. Saya pun membeli SSD NVMe M.2 sebesar 256 GB dari V-GeN. Sebenarnya pengen sekalian beli yang 512 GB, tapi kok harganya nyaris 2x lipat yang bagi saya kemahalan. Jadi sementara saya beli 256 GB dulu. Toh harddisk 1 TB tetap akan saya pasang..

Tahap kedua adalah meng-upgrade RAM. Tapi untuk upgrade RAM ini menunggu ada rejeki dulu, soalnya lumayan mahal juga, hahaha…

Hari ini SSD NVMe ini datang dan saya pun segera memasang di laptop TUF FX505DD. Saya meng-install Ubuntu Desktop 19.04 di NVMe sedangkan Harddisk 1 TB tetap MS Windows apa adanya. Jadi laptop ini bisa dual boot. Saat awal dinyalakan ada opsi mau boot ke mana? Ubuntu atau Windows? Kalau saya sih jelas boot ke Ubuntu, hehehe…

Kesan saya tentang NVMe ini adalah luar biasa. Amat sangat jauh bedanya. Amat sangat terasa cepatnya. Untuk booting cukup beberapa detik saja. Dan Ubuntu jadi terasa gegas dan lag sangat singkat terasanya.

Laptop TUF Gaming FX505DD ini jadi terasa kencang sekali.

Backlight Keyboard Asus TUF FX505DD Tidak Menyala di Tombol Spasi

Saat install banyak hal di Asus TUF FX505DD mendadak saya tersadar kalau backlight keyboard di tombol spasi tidak menyala. Saya pun mengecek foto dan video saat pertama kali laptop ini dinyalakan. Ternyata memang tidak menyala backlight di tombol spasinya. Saya pun komplain ke supplier. Kata supplier backlight untuk spasi memang tidak menyala. Bahkan supplier sudah memvideokan laptop stok.

Kalau saya lihat di website resmi Asus TUF FX505 seri D (dengan prosesor AMD Ryzen 5/7) tampak bahwa backlight di spasi nyala. Coba teliti di website resminya: ASUS TUF Gaming FX505DD/DT/DU. Tuh kan nyala!?

Saya pun penasaran jadinya. Lalu saya pun melihat video beberapa review Asus TUF FX505DD dari beberapa reviewer/vlogger. Ternyata memang tidak nyala di unit yang mereka review. Berarti di seri FX505DD memang tidak menyala backlight di spasinya. Saya lihat di beberapa review di seri Intel juga tidak menyala. Tapi ada beberapa yang menyala. Jadi sepertinya tidak semua seri TUF ini nyala spasinya.

Sayangnya perihal nyala atau tidaknya ini tidak terdokumentasi dengan baik di website atau brosur Asus. Dan bahkan vendor tidak mengerti jelas masalah ini. Dan saya pun sempat khawatir apakah laptop yang saya beli ini ada cacat bawaan atau tidak. Syukurlah jika memang tidak menyala. Artinya laptop saya ini baik-baik saja.

Di bawah ini video backlight keyboard di laptop saya.

Nyobain Laptop ProGaming untuk Programming (Asus TUF FX505DD)

Bagi seorang programmer kayak saya, laptop adalah hal yang penting. Tidak hanya penting, tapi 1 saja tidak cukup. Jadi untuk menemani MacBook Pro 13″ saya pun membeli sebuah laptop cadangan. Karena cadangan, maka kriteria yang saya ajukan adalah: tidak bego-bego amat (maksudnya prosesor harus cukup kencang dan storage cukupan), terjangkau di kantong dan harus handal. Setelah melakukan pengamatan (bukan riset loh ya!) selama 3 bulan belakangan ini, akhirnya saya membulatkan diri membeli Asus TUF Gaming. Walau pun laptop ini Pro-Gaming, tapi saya akan menggunakannya untuk Programming, hehehe…

Mengapa saya membeli Asus TUF Gaming seri FX505DD? Bagi saya laptop ini sangat memenuhi kriteria saya:

  1. Tidak bego, alias harus pinter! Dengan dibekali prosesor AMD Ryzen 5 3550H, laptop dengan arsitektur Zen+ (peralihan dari aristektur Zen ke Zen2) ini konon setara dengan prosesor berforma tinggi dari Intel, yaitu seri i5 8300H yang sangat dikenal di laptop-laptop gaming entry level. Tambah gesit dengan dibekali kartu grafis Nvidia GeForce GTX1050 dengan VRAM 3GB. Paduan antara prosesor AMD Ryzen dengan kartu grafis Nvidia ini konon membuat laptop ini bisa memainkan game AAA dengan baik. Makanya saya menuliskannya sebagai laptop Pro-Gaming, hehehe…
  2. Terjangkau! Saya tidak bisa bilang laptop ini murah karena ya bagi saya laptop ini cukup menguras kantong. Tapi dibandingkan MacBook Pro yang harganya 23 jutaan itu jelas harga FX505DD bisa dibilang murah, tidak ada setengahnya. Bisa juga dibandingkan dengan seri DY yang lebih dulu diluncurkan. Bahkan dibandingkan seri DT dan DU yang diluncurkan bebarengan dengan DD. Dengan perbandingan ini, saya pun rela mengeluarkan kocek untuk menebusnya.
  3. Handal! Jujur saja, saya sangat suka ketika melihat iklan Asus yang menonjolkan jargon standard military grade MIL-STD-810G yang disematkan di laptop TUF-nya. Kehandalan ini sangat saya butuhkan mengingat saya bakal sering membawanya bepergian.

Selain itu ada alasan lain mengapa saya memilih membeli TUF FX505DD, yaitu:

  1. Saya membutuhkan layar 15.6″. Bagi seorang programmer, saya sangat suka melihat beberapa window sekaligus ketika coding. Misalnya untuk melihat IDE, browser (untuk mencari referensi atau tutorial/contoh) dan output (bisa emulator android, debugging, dll). Kadang pula perlu remote ke beberapa server untuk debugging dan menjalankan suatu proses. Intinya bakal banyak window atau aplikasi yang terbuka. Makanya saya sering menggunakan dual atau bahkan triple monitor. Dan kadang kala layar 13.3″ itu terlalu sempit! Kalau ditinggikan resolusinya, maka tulisan jadi sangat kecil sehingga membuat mata cepat lelah.
  2. Keyboardnya enak banget! Bagi seorang programmer, keyboard laptop ini seenak sebuah burger dari merek terkenal! Empuk, renyah dan bikin nagih. Bagi pengguna laptop Apple pasti bakal tau rasanya ketika mengetik menggunakan laptop Asus ini setelah bertahun-tahun menderita dengan keyboard MacBook Pro yang cetek dan berisik. Mau ngetik cepat dengan MBP? Wah jari malah sakit, hahaha…
  3. Tidak hanya empuk dan menyenangkan, keyboard dari TUF FX505 ini nyalanya berwarna-warni. Sangat entertaining. Saya jarang sekali menyalakan backlight keyboard MBP. Tapi menggunakan TUF ini serasa enggan mematikan backlight-nya. Enak dilihat. Baiklah, mungkin saya ndeso ya? Maklumlah, ini pertama kali beli laptop gaming, hahaha…
  4. Port-nya cukupan. Walau pun belum ada USB type-C dan slot SDCard, tapi dengan adanya 3 USB type-A, HDMI dan Ethernet sudah cukup menyenangkan. Coba bandingkan dgn MBP yang cuma punya 2 port USB Type-C, xixixi…

Walau pun banyak hal yang saya sukai dari laptop TUF gaming ini, ada beberapa hal yang kurang saya sukai, yaitu:

  1. Sistem operasinya Microsoft Windows. Saya tidak membenci Windows, tapi saya lebih suka menggunakan Ubuntu. Sayangnya saya tidak bisa beli laptop ini tanpa Windows karena dari sononya sudah di-bundling dengan Windows. Seandainya saja bisa beli tanpa Windows tentu saya akan sangat senang, di samping tentu saja bakal lebih murah lagi harganya.
  2. Layarnya bukan IPS. Cuma tertulis IPS-level yang artinya setara dengan panel IPS. Yang saya rasakan adalah warnanya kurang kontras/cerah dan layarnya kurang terang. Lagi-lagi pengguna MBP bakal segera menyadari kekurangan ini.
  3. Konfigurasi RAM cuma single channel. Konon AMD Ryzen akan bekerja optimal ketika menggunakan RAM dual channel. Ini artinya saya harus menabung untuk membeli 1 lagi keping RAM.
  4. Masih menggunakan harddisk untuk storage utamanya. Ini artinya lambat dan rentan rusak ketika terbentur atau jatuh. Dan lagi usia pakai harddisk lebih singkat dari pada SSD. Walau pun demikian kapasitasnya lumayan lega, yaitu 1 TB. Artinya saya bisa buat beberapa VM di sini. Tapi sudah sewajibnya saya harus menabung untuk membeli SSD NVMe.
  5. Touchpad-nya kurang nyaman. Bagi pengguna produk Apple pasti akan segera menyadari ketika menggunakan laptop ini karena kurang presisi dan tidak nyaman klik-nya. Selain itu gesture yang biasa digunakan di touchpad MBP berbeda dengan di laptop ini. Kalau gesture ini lebih dipengaruhi oleh sistem operasi Windows-nya sih.

Tapi mengingat harganya yang terjangkau, saya tidak akan komplain. Mungkin saya harus menabung untuk membeli SSD NVMe dan RAM 1 keping.

Baru : Raspberry Pi 4 dengan Harga Tetap $35

Kabar gembira bagi pengguna, pecinta, penggemar, hobbyist Raspberry Pi karena sekarang sudah tersedia Raspberry Pi 4 Model B. Model baru ini memiliki beberapa kelebihan dibanding versi 3B atau pun 3B+, yaitu meliputi:

  • CPU 1.5GHz quad-core 64-bit ARM Cortex-A72 dengan peningkatan kinerja sampai 3x
  • Pilihan RAM 1GB, 2GB atau 4GB dengan tipe LPDDR4 yang dapat meningkatkan bandwidth hingga 3x
  • Gigabit ethernet dengan kecepatan penuh
  • Dual-band 802.11ac wireless networking
  • Bluetooth 5.0
  • Dua port USB 3.0 yang lebih cepat dan masih ada dua port USB 2.0
  • Mendukung 2 monitor resolusi 4K sekaligus dengan disediakannya 2 port mini HDMI
  • VideoCore VI graphics, mendukung OpenGL ES 3.x
  • 4Kp60 hardware decode of HEVC video
  • Menggunakan konektor daya USB-C yang dapat menambah extra power dengan kemampuan penambahan aliran arus listrik 500mA sehingga secara total bisa memberikan downstream ke piranti USB full 1.2A

Dengan peningkatan-peningkatan di atas, RPi 4 tetap kompatibel dengan RPi versi sebelumnya. Walau pun peningkatan di atas termasuk luar biasa, namun RPi 4 tetap mempertahankan harga dasarnya tetap $35 untuk opsi 1 GB RAM. Sedangkan untuk opsi 2GB dan 4GB harganya $45 dan $55 yang mana masih terhitung sangat terjangkau.

Beberapa aksesoris juga sudah tersedia untuk dijual terpisah, yaitu:

  • Case Raspberry Pi 4 dengan lubang-lubang port yang sesuai dengan bentuk baru versi 4
  • Power Supply 5V 3A dengan konektor USB-C
  • Converter USB micro-B ke USB-C jika pengguna ingin mempertahankan power supply resmi model lama
  • Kabel micro HDMI
  • Desktop Kit yang terdiri dari Raspberry Pi 4 dengan RAM 4GB, case resmi, PSU resmi, mouse+keyboard resmi, sepasang kabel HDMI, buku panduan pemula dan pre-installed microSD 32GB

Opini Pribadi

Dengan peningkatan-peningkatan yang luar biasa ini namun dengan harga tetap rendah, kita harus mengapresiasi Yayasan Raspberry Pi setinggi-tingginya. Bagi saya yang pernah mengalami masa awal-awal komputer hingga kini sudah semakin canggih (dan semakin mahal), mendapatkan sebuah Raspberry Pi itu suatu berkah.

Namun di sisi lain, saya merasa Raspberry Pi ini cenderung semakin lebih desktop PC dari pada sebuah board untuk tinkering (ngoprek). Ya memang dari awal RPi ini adalah SBC (single board computer) yang bisa digunakan juga untuk tinkering seperti layaknya Arduino yang memang sejak awal adalah MCU (microcontroller unit).

Hanya saja sebenarnya saya berharap ada penambahan berikut ini di RPi4:

  • Penambahan jumlah GPIO sehingga kita bisa ngoprek RPi dan menyambungkannya ke lebih banyak piranti tanpa perlu menambahkan multiplexer
  • Penambahan fitur ADC sehingga kita bisa menambahkan sensor-sensor analog yang secara harga lebih murah dari pada sensor digital
  • Sebenarnya Raspberry Pi sudah memiliki PWM tapi hanya 1 pin sehingga alangkah lebih baik jika pin PWM atau DAC bisa ditambahkan
  • Proteksi arus berlebih dan korslet sehingga tidak merusak RPi4

Walau pun demikian, peningkatan2 yg ada di versi 4 ini sudah sangat luar biasa dan membuat para penggemar Raspberry Pi (termasuk saya) sangat bersemangat!

Sumber:
~ Raspberry Pi 4 on sale now from $35

Desain Grip Kamera untuk Samsung Galaxy A7 2018 (Belajar 3D Design)

Dalam rangka belajar desain 3D di Fusion 360, saya pun mencoba mendesain Grip untuk handphone Samsung Galaxy A7 2018 yang saya punya. Grip ini meniru grip pada kamera DSLR sehingga A7 jadi nyaman digunakan untuk memotret.

Samsung A7 memang tidak memiliki kamera yang mumpuni walau pun dia punya 3 kamera di bagian belakangnya. Tapi ya saya ingin supaya memotret dengan A7 lebih menyenangkan dengan mendesain grip yang menyerupai grip di kamera DSLR.

Grip ini didesain memiliki slot yang sesuai dengan dimensi Samsung Galaxy A7 2018 sehingga tidak diperlukan mekanisme untuk mengunci body smartphone ke grip. Tentu saja jadi tidak sesuai jika digunakan untuk smartphone selain A7 2018.

Video di atas menggambarkan bagaimana desain grip ini.

Di masa mendatang sepertinya perlu didesain grip yang lebih universal atau generik sehingga bisa digunakan untuk smartphone dengan merek atau seri berbeda. Saat ini sih yang saya pikirkan adalah dengan mekanisme baut. Kalau di pasaran sekarang ini tersedia grip universal dengan mekanisme jepit berpegas. Ini solusi yang bagus. Tapi sepertinya saya akan mencoba mendesain dengan mekanisme baut dengan pengunci saja.

Dan mencontek desain yang ada di pasaran, sepertinya saya akan menambahkan shutter (tombol kamera) dengan koneksi bluetooth dan bisa dilepas dari body grip sehingga bisa digunakan untuk remote shutter. Jadi bisa digunakan untuk selfie atau wefie.

Ya tentu saja baru desain ya? Maklum baru belajar, hehehe…

Sampai jumpa di posting lainnya. Salam…