Tips Mengatasi Raspberry Pi 4B Gagal Menyala

Tentu rasanya nyebelin banget saat Raspberry Pi 4B yang telah ditunggun-tunggu lama itu datang dan Anda sudah menyiapkan segalanya, namun kemudian dia tidak mau menyala! Saya juga sempat mengalaminya loh! Kemudian saya browsing di internet dan menemukan beberapa pengecekan dan langkah yang bisa dilakukan. Syukurlah kemudian board komputer murah meriah itu mau menyala! Senangnyaaa…

Video ini tentang beberapa pengecekan tersebut. Semoga video ini bermanfaat ya, Teman2…

Membuat Virtual Machine Portable

Saat coding saya biasa menggunakan MacBook Pro. Sayangnya saat upgrade ke MacOS Catalina segalanya jadi berubah. Ada beberapa masalah yang timbul. Salah satunya adalah XAMPP tidak bisa bekerja lagi. Jadi saya tidak menjalankan Apache, PHP dan MySQL di MacBook Pro. Konon karena masalah dukungan aplikasi 32 bit yang dihilangkan.

Solusinya simple sih sebenarnya, yaitu dengan menggunakan Virtual Machine dengan guest Linux Ubuntu seperti yang saya lakukan juga di laptop Asus TUF saya. Tapi itu berarti mengorbankan sebagian storage MBP untuk VM.

Maklum, ukuran VM untuk OS Ubuntu, aplikasi HIS, database HIS, NodeJS, dan segala pernak-pernik pendukungnya itu memerlukan ukuran yang besar. Saya pernah mengalokasikan VM sebesar 40 GB ternyata kurang. Dan menurut kebutuhan saya ini, kurang lebih dibutuhkan ukuran VM antara 50-60 GB.

Naaah, MBP saya yang cuma punya kapasitas storage 256 GB itu tentu saja tidak mencukupi. Kalau saya membuat VM sebesar 50 GB, maka itu berarti sisa storage cuma tinggal 5-10 GB karena saat ini MBP juga saya pakai untuk membuat banyak dokumen dan konten.

Kemudian saya pun memikirkan solusi yang lebih kreatif, yaitu dengan membuat Virtual Machine di Flash Drive. Seperti biasa, saya membuat VM dengan menggunakan VirtualBox yang sangat user friendly dan bisa bekerja di MacOS, Windows dan Ubuntu. Dengan VM di FlashDrive ini berarti saya bisa:

  1. Menghemat storage internal di laptop. Saya bisa menghemat storage di MacBook Pro yang cuma punya SSD 256 GB itu. Cukup colokkan Flash Drive di MBP dengan bantuan kabel konverter USB A ke C.
  2. VM bisa portable, karena saya bisa menyalakan VM ini di MBP mau pun di TUF. Itu artinya saya tidak perlu tergantung dengan salah satu laptop saja. Kalau di kantor bisa pakai MBP dan ketika dibutuhkan coding di apartemen bisa pakai TUF. Cukup colokkan Flash Drive ke laptop yang tersedia. Jika perlu suatu saat nanti ketika ada laptop baru bisa langsung colok dan nyalakan VM. Praktis kan?
  3. Cukup membawa Flash Drive kemana saja. Idealnya saya cukup bawa Flash Drive VM ini untuk bekerja. Cukup menghemat tenaga karena tidak perlu bawa-bawa laptop. Dan ketika VM dinyalakan, semua lingkungan kerja sudah tersaji di laptop yang saya pakai.

Jadi saya pun membeli sebuah Flash Drive untuk mewujudkan ide ini. Saya membeli Flash Drive dari Sandisk dengan tipe Ultra Fit yang punya form factor sangat kecil. Tadinya saya ingin membeli yang tipe Ultra Flair yang punya kecepatan lebih tinggi, yaitu 150 Mbps. Tapi ukurannya lebih panjang sehingga kurang praktis. Terlalu menonjol dan tidak praktis.

Ultra Fit ini sangat pendek sehingga tidak terlalu menonjol saat dicolokkan di laptop TUF. Tapi kalau dicolokkan di MBP memang masih perlu kabel konverter USB A ke C sih. Tapi ketika digunakan di TUF bisa tertempel rapi di samping dongle USB mouse wireless yang juga selalu tercolok di TUF.

Sebagai catatan, Ultra Fit yang saya beli memang kapasitasnya cuma 64 GB. Kebetulan dapat diskon sehingga harganya menjadi Rp 159.000 dari harga normalnya yang Rp 229.000. Tadinya mau beli yang 128 GB tapi sayangnya tidak diskon. Harga yg 128 GB mencapai Rp 479.000 (tidak ada diskon). Bagi saya kemahalan, mending beli SSD sekalian yang sudah pasti punya kecepatan tinggi ya? Hehehe.

Kecepatan Ultra Fit yang sudah punya versi USB 3.1 ini memang cuma 130 Mbps, yang mana lebih rendah dari pada Ultra Flair yang mencapai 150 Mbps. Sebenarnya saya punya kartu MicroSD dari Samsung dengan kapasitas 128 GB. Lebih lega tentu saja. Tapi sayangnya cuma punya kecepatan 100 Mbps utk read dan 90 Mbps untuk write. Sepertinya tidak saya rekomendasikan. Lagian jadi kurang praktis karena perlu SD Card reader USB yang lebih besar dari pada Flash Drive.

Kecepatan Flash Drive dan Micro SD ini tentu boleh dibilang sangat rendah dibandingkan dengan SSD bawaan MBP mau pun SSD hasil upgrade di TUF. Tapi saat saya coba gunakan untuk VM, ternyata performanya baik-baik saja. Memang agak lambat saat pertama menyalakan dan saat shutdown VM. Tapi ketika sudah menyala dan digunakan untuk programming sudah cukup baik.

Proses pemindahan VM dari internal ke Flash Drive juga bisa dilakukan dengan mudah. Memindahkan ke laptop lain juga mudah. Tidak ada masalah kompatibilitas, bahkan di saat menggunakan 2 laptop dengan platform yang berbeda, yaitu di MacBook Pro dengan MacOS Catalina mau pun di Asus TUF dengan Microsoft Windows. Bahkan keduanya punya prosesor yang berbeda, yaitu Intel dan AMD. Ternyata tidak ada masalah. VirtualBox memang bagus!

Lagian saya membuat konfigurasi VM di kedua laptop ini berbeda. Saat di MBP saya cuma mengalokasikan 2 core dan 2 GB RAM. Sedangkan di TUF saya mengalokasikan 3 CPU dan 4 GB RAM. Ternyata saat dipindah-pindah tidak masalah. VM bisa menyesuaikan diri di kedua alokasi tersebut.

Tidak dipungkiri, VM memang bisa lebih gegas di TUF yang punya alokasi mesin lebih baik. Namun untuk di MBP saya sedikit mengakali dengan menjalankan editor dan browser penguji di MacOS (host). Jadi VM di MBP cuma untuk dijadikan server LAMP. Sedangkan di TUF saya full menjalankan desktop Ubuntu 18.04.2 di VM dengan nyaman.

Demikian kurang lebih sharing tentang membuat Virtual Machine Portable denga VirtualBox. Jika ada kesempatan saya akan membuatkan videonya.

Di dunia teknologi informasi ini kita memang harus dituntut untuk lebih kreatif dalam mengatasi banyak tantangan dan masalah. Semoga tips ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya. Salam.

Berapa Biaya Yang Dibutuhkan Untuk Menjadikan Raspberry Pi 4B Sebagai Komputer Desktop?

Konon Raspberry Pi adalah sebuah komputer kecil yang ekonomis (baca: murah). Ya kalau di media selalu ditulis harganya cuma $35, $45 atau $55 tergantung Anda mau beli yang versi RAM-nya 1GB, 2GB atau 4GB.

Namun untuk menjadikannya sebuah komputer desktop yang sebenar-benarnya diperlukan beberapa piranti yang harus kita beli, seperti kartu MicroSD, kabel micro HDMI, power supply, monitor, keyboard & mouse, dan casing dengan kipas pendingin supaya aman dan tetap dingin. Jadi berapa total biaya yang dibutuhkan? Mari kita lihat video berikut ini yang menjelaskan apa saja yang diperlukan untuk menjadikan Raspberry Pi 4B kita menjadi sebuah komputer desktop beneran.

Sebagai catatan, Raspberry Pi 4B ini sudah sangat baik performanya berkat prosesor yang lebih baik, RAM yang lebih baik dengan opsi kapasitas yang bisa dipilih tergantung kebutuhan dan kecepatan bus data yang lebih baik yang mengakibatkan kecepatan koneksi wifi dan ethernet jauh lebih cepat.

Semoga video ini bermanfaat. Jangan lupa subscribe jika belum dan aktifkan lonceng supaya Anda mendapat notifikasi jika ada video baru.

Terima kasih

Yuk Main Tank Force: Pertempuran Tank 3D

Saya baru mulai main game Tank Force: Pertempuran Tank 3D belakangan ini walau pun sebenarnya game ini sudah rilis sejak 2017. Ya maklumlah, baru punya laptop gaming barusan, hehehe… Tapi sebenarnya game ini tidak terlalu membutuhkan spesifikasi hardware yang berat. Jadi tidak perlu laptop khusus gaming.

Di tokonya tidak disebutkan secara spesifik spesifikasi hardware, cuma dituliskan butuh memory 1 GB dan bisa berjalan di arsitektur ARM, x86 atau x64. Tidak disebutkan diperlukan kartu grafis khusus atau CPU dengan clock tertentu. Namun di Asus TUF FX505DD dapat berjalan baik dengan setting grafis tertinggi.

Yang saya suka dari game ini karena game play-nya mudah dipelajari dan memainkannya tidak butuh waktu lama. Jadi kalau kalah di suatu pertempuran ya tidak apa-apa, tinggal ikut pertempuran selanjutnya. Kalau menang ya tentu saja senang karena mendapat poin yang besar. Kalau naik pangkat dapat reward yang lumayan lah…

Upgrade tank juga mudah. Yang sulit adalah ngumpulin perak untuk upgrade tank karena harus ikut banyak perang untuk mengumpulkan perak supaya cukup. Eh ada opsi beli perak atau emas sih, tapi saya tidak mau keluarkan uang untuk membeli emas atau silver tersebut, hehehe…

Nah di bawah ini adalah rekaman salah satu peperangan di mana saya dapat menghancurkan 9 tank musuh. Rasanya puas banget, hahaha…

Baca selebihnya »

Kembali Ke Microsoft Windows

Setelah bertahun-tahun menggunakan MacOS dan Ubuntu, akhirnya saya memutuskan menggunakan Windows 10 di Asus TUF FX505DD. Ya memang laptop ini sudah ada Windows bawaannya. Tapi sebelumnya saya meng-install Ubuntu di SSD dan selalu boot ke Ubuntu. Hanya saja, Ubuntu bermasalah di driver display-nya. Ketika menggunakan monitor external atau proyektor atau TV dengan kabel HDMI, maka Ubuntu akan gagal mengenali dan bahkan seringkali hang ketika kabel dicolokkan. Padahal sudah menurunkan desktop manager dengan menggunakan gdm.

Contohnya kemarin ketika presentasi, awalnya baik dengan proyektor bekerja dengan baik. Namun ketika harus bergantian presentasi dan kemudian balik lagi saya harus presentasi, laptop langsung hang. Tidak bisa diapa-apakan walau pun sudah tekan Ctrl+Alt+Del atau Ctrl+Alt+Backspace. Terpaksa hard reset dan boot ke Windows untuk presentasi lagi.

Jadi Ubuntu masih bermasalah dengan kartu NVidia atau malah dengan AMD Ryzen + Vega? Entahlah. Tapi cukup mengganggu bagi saya yang sering presentasi atau menggunakan monitor external.

Sedangkan jika boot ke Windows dari harddisk itu sangat menyebalkan. Amat sangat lambat.

Akhirnya saya memutuskan meng-install ulang NVMe dengan Windows 10. Eh bukan install ulang, tapi menyalin Windows di harddisk ke NVMe. Untuk menyalin image Windows dari harddisk ke NVMe ini diperlukan aplikasi bernama EaseUS Todo Backup Free. Sejatinya ada versi berbayarnya, tapi kita bisa meng-install versi free-nya. Bagusnya adalah ada fitur “System Clone” yang cukup pandai sehingga walau pun storage tujuan lebih kecil, tapi EaseUS bisa mengaturnya dengan baik. Jadi walau pun harddisk saya 1TB sedangkan SSD NVMe hanya 256GB, namun karena isi harddisk hanya beberapa puluh giga byte, maka cloning bisa dilakukan dengan aman. Bahkan NVMe bisa langsung dipergunakan sebagai boot drive.

Walau kembali ke Windows, namun saya masih memerlukan Ubuntu untuk banyak hal yang berkenaan dengan pekerjaan. Jadi saya meng-install VirtualBox dengan VM Ubuntu 19.04. Bukan solusi yang efisien sih. Tapi efektif untuk pekerjaan saya.

Masalah berikutnya muncul. Yaitu ketika menyadari bahwa font di Windows tidak sebagus MacOS atau bahkan Ubuntu. Setting font clear type tidak membantu, tetap kurang nyaman. Jadi males kerjanya, hahaha… Apalagi kan saya memang akan banyak coding yang berarti akan sering berhadapan dengan banyak code/text.

Syukurlah menemukan program MacType yang bisa membuat font di Windows jadi seindah MacOS/Ubuntu. Syukurlah gratis juga. Saya memang paling suka yang gratisan dan halal, hahaha…

Jadi terima kasih untuk program EaseUS Todo Backup Free dan MacType.