Beberapa Aplikasi Untuk SysAdmin dengan iPad-nya

Kalau Anda seorang system administrator yang sering bepergian dan lebih suka menggunakan Apple iPad, maka Anda membutuhkan beberapa aplikasi ini. Karena dengan menggunakan beberapa aplikasi ini, Anda dapat dengan mudah mengelola server-server Anda.

Termius

Termius adalah sebuah aplikasi yang gratis tapi hebat. Dengan Termius kita bisa me-remote server dengan protokol ssh/mosh dan telnet. Kita bisa mengkonfigurasikan beberapa koneksi dan Termius dapat menyimpan password atau secret key sehingga kita dapat dengan mudah terkoneksi ke server tanpa perlu login lagi.

Termius memang hanya menawarkan remote dengan console text, tapi ya ini memang level pertama remote server yang mesti dipelajari oleh seorang system administrator.

Lebih baik jika Anda menggunakan mosh (protokol mobile ssh) sehingga sesi remote Anda akan aman walau pun koneksi yang Anda gunakan tidak stabil atau bahkan putus. Ketika tersambung lagi, sesi ssh Anda tidak akan hilang. Sangat disarankan untuk sesi remote yang sangat lama seperti instalasi, backup, update/upgrade, dll.

Baca selebihnya »

Iklan

Koder Code Editor

Saat dulu membeli iPad, saya cuma berpikir menggunakannya untuk konsumsi media (browsing, musik dan nonton film), sosial media, menggambar, nge-blog dan membuat lagu. Tapi rupanya jiwa coder saya lebih kuat dari pada itu semua. Sehingga akhirnya saya memutuskan membeli keyboard bluetooth Logitech K380 dan menjadikan iPad saya sebagai mesin untuk coding/pemrograman. Saya ingin menggunakan iPad sebagai mesin alternatif dari MacBook Pro dan Asus saya untuk pemrograman.

Mengapa? Karena iPad ini sangat ringkas dan ringan. Walau pun demikian, iPad dengan iOS-nya cukup gegas. Saya lebih suka membawa iPad ketika bepergian dibandingkan jika membawa MBP/Asus yang berat yang memerlukan backpack besar. Apalagi jika harus ke luar kota naik pesawat, mending backpack digunakan untuk membawa baju ditambah tas kecil untuk iPad dan keyboard.

Bisakah?

Ternyata bisa, Teman-teman! Tentu dengan beberapa catatan. Kalau digunakan untuk memprogram aplikasi berbasis web tentu saja bisa. Tapi kalau untuk memprogram aplikasi desktop atau mobile app (Android atau iOS) tentu tidak bisa. Dan saya yang sebagian besar menghabiskan waktu untuk membuat aplikasi berbasis web tentu bisa menggunakan iPad sebagai perangkat alternatif untuk pemrograman. Sedangkan jika harus memprogram iOS/Android terpaksa balik dulu ke MacBook Pro atau pun Asus, hehehe…

Syarat mempergunakan iPad untuk mesin coding ada 2, yaitu Editor yang mumpuni dan Server Web. Kalau Server Web kebetulan banyak tersedia, jadi bukan masalah bagi saya. Yang jadi masalah adalah mencari editor yang cukup mumpuni. Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya saya menemukan Koder Code Editor. Koder ini tertulis App Store dibuat oleh Reny Mustika. Apakah Reny Mustika ini orang Indonesia? Yang jelas aplikasi ini sangat bagus. Selain itu bisa digunakan untuk mengedit file secara remote dengan protokol FTP atau sFTP (FTP over SSH). Dan tidak masalah jika server Anda menggunakan port SSH yang tidak standard, karena Koder bisa menggunakan port sesuai setup server Anda.

Yang lebih asyik adalah karena aplikasi ini gratis. Sangat menyenangkan menemukan aplikasi yang bagus dan gratis. Saya memang suka yang gratisan. Anda juga kan? Hehehe…

Terima kasih Reny Mustika yang telah mempublikasikan aplikasi keren dan gratis ini. Sementara ini saya dapat menikmatinya untuk memprogram di iPad.

Menggali Lubang Kesialan Sendiri

Seringkali saya masih belum paham dengan apa yang ada di benak para militan pendukung capres (baik 01 mau pun 02). Kok bisa-bisanya mereka saling ejek dan posting atau membagikan banyak hal yang belum tentu benar. Kebanyakan malah mengandung fitnah karena tidak ada bukti nyata dan cuma berisi tuduhan tanpa dasar.

Saya bisa pahami jika para militan di media sosial itu cuma akun kloningan atau akun bayaran yang tidak diketahui punya siapa dan orangnya kayak apa. Mereka memang dibayar untuk itu. Yang saya tidak pahami justru jika akun itu milik saudara atau teman baik yang mendadak berubah menjadi militan medsos di masa pilpres 2019 ini. Saya seperti tidak mengenal mereka lagi. Seperti bukan orang yang sama ketika bertemu langsung saling berhadapan.

Efek dari pilpres 2019 ini memang luar biasa sekali. Saya merasakannya sangat dahsyat dibanding pilpres sebelumnya. Terutama karena amat-sangat gencar peperangannya di dunia maya. Di dunia di mana saya memang banyak melakukan interaksi dengan orang lain (dan juga mesin).

Saya memang pernah ikut terjerumus posting ejekan atau sharing tulisan yang tidak jelas kebenarannya. Tapi kemudian saya sadar bahwa apa yang saya lakukan itu salah. Itu bukan saya. Saya tidak seperti itu. Saya tidak seperti mereka. Buat apa menyakiti hati orang lain (pembaca postingan saya)? Apa yang saya dapatkan setelah berhasil menyakiti hati mereka?

Bisa saja saya memiliki pilihan berbeda dengan saudara atau teman-teman saya. Bisa saja saya punya dasar pemikiran berbeda dengan mereka. Saya terbiasa berdebat di dunia pekerjaan. Namun buat apa berdebat yang kemudian malah menyakiti hati orang lain? Ya, ini poin yang ingin saya utarakan di tulisan ini. Buat apa menyakiti hati orang lain?

Menyakiti hati orang lain, entah disadari atau tidak, itu seperti menggali lubang di hidup kita sendiri. Yang mungkin akan menjebloskan diri kita sendiri kelak di masa datang. Dan ketika kita jatuh ke dalam lubang yang kita gali sendiri, selain sakit, kita juga akan sulit untuk bangkit lagi. Sulit untuk membangun persahabatan dan kerja sama dengan orang-orang yang telah kita sakiti hatinya.

Apalagi kalau menyakiti hatinya diutarakan di medsos. Dampaknya akan berlipat. Karena friend-of-friend akan turut membacanya. Apalagi jika tulisannya diset public, yang berarti bukan teman pun akan bisa membacanya.

Ketika lebih banyak orang yang tersakiti hatinya, maka semakin banyak lubang yang kita gali. Karena banyak lubang yang kita gali, maka akan semakin besar kemungkinan kita kecemplung di lubang-lubang itu. Sial jadinya.

Mungkin tulisan saya di atas masih terasa abstrak. Namun saya akan memberikan contoh lubang ini. Misalnya kita posting sesuatu yang menyakiti hati saudara kita. Di masa depan ketika kita butuh bantuannya, misalnya mau pinjam uang untuk modal, apa yang ada di benak saudara kita itu? Mungkin saudara kita akan tetap meminjamkannya karena rasa sayang pada kita. Tapi bagaimana kalau yang kita sakiti orang lain yang kelak kita akan membutuhkan bantuannya? Atau ketika kita butuh pekerjaan atau kerja sama?

Ketika kita memposting/membagikan sesuatu yang lebay dan halu (baca: halusinasi), apakah kita tidak berpikir siapa saja pembacanya? Bisa jadi orang-orang yang kelak berpotensi bekerja sama dengan kita. Atau bisa jadi orang-orang itu potensial menjadi kolega atau client. Tapi kalau postingan kita isinya cuma lebay dan halu, apakah mereka bisa menerima kita?

Di masa modern ini kita bisa dengan mudah memposting segala hal. Semudah menekan layar smartphone. Tapi dampaknya jauh lebih dahsyat dibanding teriakan kita di masa lalu. Di masa lalu teriakan sekuat tenaga cuma didengar oleh sedikit orang. Sekarang? Penekanan lembut di layar smartphone seketika bisa dibaca oleh ratusan, ribuan bahkan jutaan orang. Apa yang kita posting bisa menyakiti hati orang lebih banyak lagi. Lebih banyak lubang yang kita gali.

Sekedar untuk diketahui, hari ini orang dapat dengan mudah menyelidiki latar belakang seseorang. Dengan hanya mengakses internet, maka Anda bisa membaca latar belakang saya. Demikian juga sebaliknya. Saya bisa mempelajari latar belakang Anda dengan hanya berbekal smartphone yang terkoneksi ke internet.

Ketika seorang bos besar membaca latar belakang Anda dan kemudian menemukan banyak postingan negatif di akun medsos Anda, tentu bos tersebut akan berpikir ulang untuk bekerja sama dengan Anda.

Seperti ketika saya ingin membeli sesuatu tapi saya menjumpai bahwa catatan penjual ternyata jelek. Tentu saya tidak akan membeli darinya.

Kembali ke pertanyaan inti, apakah akun-akun militan ini sadar bahwa mereka sedang menggali lubang untuk diri mereka sendiri? Apakah mereka memikirkan apa yang mungkin terjadi di masa depan?

Kemudian saya sadar bahwa hal ini pernah dituliskan di Alkitab. Apa yang ada di diri mereka, itulah yang mereka bagikan. Orang tidak mungkin membagikan sesuatu yang tidak mereka punyai.

Kalau mereka cuma punya kebencian di hati mereka, maka itulah yang mereka bagikan. Tapi kalau kita punya kasih di hati kita, maka kita akan selalu membagikan kasih. Dan kita tidak mungkin membagikan kebencian, karena kita hanya punya kasih.

Dari para militan itu kita bisa tahu orang-orang yang hanya punya kebencian di hati mereka. Kita tahu siapa saja yang hatinya penuh luka karena sering disakiti (entah oleh siapa). Dan mereka akan senang hati membagikan sakitnya kepada orang lain.

Kebencian itu seperti virus. Ketika Anda tertular virus kebencian dan kemudian menjadi sakit juga, maka Anda akan menjadi carrier virus kebencian itu untuk kemudian menularkannya ke orang lain.

Jadi jangan lupa selalu minum vitamin supaya kuat dan tidak mudah tertular virus kebencian. Jangan lupa install anti-virus, hahaha…

Salam damai.

Keyboard Bluetooth Logitech K380

Ketika 8 bulan yang lalu (Agustus 2018) saya membeli iPad 6th 2018, saya sempat berpikir memberdayakannya lebih dari sekedar tablet biasa. Seperti kita tahu, tablet biasanya digunakan untuk konsumsi media (nonton video, baca-baca eBook, dll), bermedia sosial, browsing, email, dan sedikit menulis. Khusus untuk iPad 6th, Apple memulai dukungan Pencil-nya untuk iPad yang lebih murah. Sebelumnya Pencil hanya bisa digunakan di iPad Pro yang harganya jauh lebih mahal.

Memang saya sudah membeli Pencil versi 1 yang bisa digunakan di iPad 6th. Dan saya sudah mencoba belajar menggambar lagi. Di samping tentu saja mencoba membuat lagu di GarageBand.

Tapi saya masih ingin menggunakan iPad saya lebih dari pada itu, terutama untuk menunjang pekerjaan saya. Saya ingin membuat iPad saya bisa digunakan juga untuk mengadministrasi server-server, remote desktop, bahkan untuk coding. Bisakah?

Ternyata bisa teman-teman. Ada beberapa aplikasi yang saya install yang bisa membantu saya melakukan hal-hal tersebut. Namun ada tapinya… Yaitu tidak nyamannya keyboard virtual/touchscreen di layar. Bukan tidak nyaman sih, tapi ada 2 hal yang membuat saya tidak terlalu suka menggunakan keyboard touchscreen, yaitu:

  1. Mengkorupsi layar karena separo layarnya dipakai untuk keyboard virtual. Sisanya baru digunakan untuk tampilan aplikasi. Tentu tidak nyaman ya? Apalagi saya sudah terbiasa dengan setup dual monitor yang memiliki pandangan luas ke aplikasi, kode dan data.
  2. Mengetik di layar serasa tidak natural. Tidak ada feedback, tidak ada batasan antar karakter sehingga sering nyasar, dan tidak ada tombol shortcut seperti Ctrl, Alt, Del, Back, Function Key, dll. Padahal tombol-tombol itu sangat penting untuk administrasi server dan coding.

Sehingga akhirnya saya memutuskan membeli Keyboard Bluetooth dari Logitech, yaitu seri K380. Sebenarnya ada opsi seri K480 yang lebih besar dan punya beberapa fitur tambahan. Namun setelah lihat-lihat review positif tentang K380 dibanding K480 akhirnya saya memutuskan membeli K380.

Sebelumnya saya berpikir mau membeli converter Lightning-to-USB sehingga saya bisa menggunakan keyboard Logitech USB yang biasa saya pakai untuk Raspberry Pi. Namun setelah dipertimbangkan, kalau pakai cara ini jadinya malah tidak praktis dan tidak mudah untuk dibawa-bawa.

Pilihan saya atas Logitech K380 rupanya pilihan yang tepat. Pagi ini saya menerima paket ini dan langsung saya coba. Pairing ke iPad 6th dan MacBook Pro dapat berlangsung dengan mudah. Cukup tekan tombol #1 selama 3 detik, maka channel 1 siap pairing dengan iPad. Saya menggunakan channel #2 untuk koneksi ke MackBook Pro. Oh iya, K380 bisa terkoneksi ke 3 piranti. Untuk mengganti ke piranti tertentu tinggal klik tombol #1, #2 atau #3. Simpel banget.

Bentuk keyboard ini cukup mungil dan simpel. Tapi key-nya punya ukuran standar. Key-nya berbentuk bulat sehingga nampak lebih artistik. Walau pun key-nya ketika ditekan lebih senyap dibanding kebanyakan keyboard (bahkan lebih silent dibanding keyboard MacBook Pro saya yang menggunakan mekanisme butterfly), namun terasa lebih keras. Mungkin per-nya masih baru sehingga lebih keras. Tapi secara keseluruhan keyboard ini sangat nyaman digunakan.

Keyboard K380 ini juga bisa digunakan untuk mayoritas sistem operasi, mulai dari Windows, MacOS, iOS dan Android. Untuk MacOS dan iOS juga sudah disematkan label alternatif untuk tombol Command, Options dan Back. Ada juga tombol ke media player (play, fast forward, back dan volume), menu, pindah window, bahkan shortcut ke screen capture (fn + tab). Keren…

Satu hal yang menurut saya jadi kekurangan keyboard ini, yaitu tidak adanya tombol Home, Page Down, Page Up dan End. Mengakalinya harus menggunakan kombinasi antara Command + panah. Di beberapa aplikasi bisa menggunakan kombinasi Ctrl + panah. Ya memang sedikit repot kalau coding yang memerlukan navigasi ke kode dengan cepat. Tapi sepertinya tidak masalah jika sudah terbiasa menggunakan MacOS yang memang tidak menyediakan tombol Home, Page Down, Page Up dan End.

Sebagai kesimpulan, saya senang sekali menggunakan keyboard ini karena membuat iPad saya bisa digunakan sebagai piranti darurat untuk administrasi server dan coding ringan (web programming). Ini sangat berguna karena saya sering ke luar kota dan tentu saja tidak praktis jika harus membawa MacBook Pro atau Asus.

Sebagai catatan, posting ini saya tulis dengan K380 di iPad. Ternyata nyaman juga. Keyboard yang dipairing dengan iPad juga nyaris tanpa lag, apa yang diketikkan langsung tampil nyaris tanpa jeda. Jadi kepikiran mau beli mouse bluetooth sehingga iPad bisa benar-benar kayak PC. Atau upgrade ke iPad Pro yang lebih powerful ya? Hahaha…

Sepedaan dengan Samsung Gear Sport Smartwatch

Judul yang aneh. Mestinya sepedaan ya pakai sepeda, bukan pake jam, hahaha…

Sejak punya Samsung Gear Sport Smartwatch, saya sudah memanfaatkannya untuk mendampingi aktivitas keseharian saya dan saat berolah raga (dalam hal ini sepedaan). Namun saya belum sempat menuliskannya di blog. Jadi perkenankanlah saya menuliskannya sekarang.

Jam pintar keluaran Samsung ini punya fitur untuk mendeteksi detak jantung dan bisa mencatat berapa langkah kita berjalan. Namun yang paling menarik ketika jam pintar ini digunakan untuk mengukur aktivitas olah raga kita. Ada beberapa opsi olah raga yang bisa dipantau oleh jam pintar ini. Namun karena olah raga yang saya bisa adalah sepedaan, maka saya pilih sepedaan. Ini pun ada opsi targetnya, apakah olah raga dasar (sekedar memantau), atau ada target durasi sepedaan, atau target jarak, atau target kalori. Saya sih selalu pilih olah raga dasar. Maklum newbie, hehehe…

Ketika diaktifkan, tampilan jam bisa menampilkan jarak, durasi, kalori dan detak jantung. Asyiknya tampilan ini bisa dikustomisasi apa-apa saja yang ingin kita tampilkan. Jam pintar ini bisa menghitung jarak karena sudah punya GPS built in. Dan hasil pencatatan bisa dipantau juga dari smartphone. Asyik ya?

Nah, setelah beberapa bulan tidak sepedaan, minggu lalu saya pun sepedaan lagi. Ini dia hasil sepedaannya. Maaf ada foto narsisnya, hahaha

Menurut sebuah penelitian yang pernah saya baca, punya gadget kesehatan seperti ini tidak serta merta membuat kita sehat. Lagi-lagi tergantung dari niat seseorang. Walau pun punya gadget kesehatan tapi kalau memang tidak pernah olah raga ya percuma saja. Dan sayalah buktinya, punya gadgetnya tapi malas olah raganya, hahaha…

Ayo semangat olah raga lagi!

Test Asam Urat Sendiri

Tempo hari saya mencoba test kolesterol sendiri (baca: Test Kolesterol Sendiri) yang hasilnya nampak meragukan karena hasilnya “LO”. Padahal sebelumnya test di Century hasilnya 231 mg/dL. Sampai-sampai saya harus ngecek 3 kali untuk memastikan apakah hasilnya valid atau tidak.

Nah sore ini saya mencoba cek asam urat. Kebetulan EasyTouch GCU selain bisa digunakan untuk test Glucose (gula darah) dan Cholesterol juga bisa digunakan untuk test Uric Acid (asam urat).

Rada deg-degan juga sih karena sebelum ini saya tidak pernah test asam urat. Secara saya tidak pernah mengalami keluhan atau gejala asam urat. Tapi saya mencoba pede aja.

Hasilnya cukup melegakan karena alat test menunjukkan angka 4.4 mg/dL yang berarti masih normal. Untuk pria batas asam urat dalam darah adalah 3-7.2 mg/dL. Sedangkan untuk wanita 2-6 mg/dL.

Hasilnya 4.4 mg/dL

Hasil ini sangat melegakan sekali. Dan sepertinya punya alat test sendiri itu asyik ya? Bisa cek setiap saat kalau curiga ada sesuatu yang mengganggu, misalnya leher belakang terasa kencang, pegal di dada/bahu, dll. Walau pun demikian test sendiri ini belum tentu akurat sih. Karena seperti ditulis di buku petunjuk, angka-angka batas cuma digunakan untuk referensi. Namun setiap orang bisa saja berbeda kondisinya.

Yang paling tepat ya sebaiknya konsultasi ke dokter jika ada keluhan tapi ketika ditest sendiri hasilnya normal. Mungkin nilai ambang kita berbeda dengan angka yang ada di referensi.

Test Kolesterol Sendiri

Setelah Senin lalu mencoba ngetes sendiri gula darah (baca: Kolesterol Tinggi), hari ini saya mau mencoba ngetes sendiri kolesterol. Saya sudah puasa sejak jam 20:00. Tapi sebelum ngetes, saya jalan kaki dulu ke pasar untuk belanja pisang, apel, brokoli dan wortel. Sayang pasarnya dekat, jadi sepertinya tidak tepat kalau dihitung olah raga. Tapi sudah bisa membuat sedikit berkeringat, hahaha…

Oh iya, hari ini libur memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Selamat memperingati bagi yang merayakan.

Nah, sepulang dari pasar saya mempersiapkan segala sesuatu untuk test, termasuk memastikan strip test kolesterol beserta memorinya. Jari yang saya tusuk adalah jari manis kiri. Ternyata hasilnya “LO” (LOW). Nah loh, kok bisa? Padahal hari Sabtu yang lalu hasilnya tinggi banget. Saya pun konsultasi sama kakak-kakak. Bahkan sudah dikonsultasikan juga ke laborat RS. Katanya sih tidak apa-apa, justru kalau hasilnya HI (HIGH) yang harus diwaspadai.

Kalau melihat di buku petunjuk sih artinya kolesterol dalam darah kurang dari 100 mg/dL dan direkomendasikan cek ulang. Jika tetap Low, maka harus segera ke dokter. Nah lo, jadinya kan panik. Walau pun kata laboran hasilnya tidak apa-apa low tapi kan tetap panik. Maklum, saya kan orang awam di bidang kesehatan.

Kata kakak sih mungkin darah kurang masuk ke strip. Baiklah, saya coba tes ulang. Kali ini di jari tengah kiri. Dan hasilnya tetap LO.

Apakah karena alkohol dari swab belum kering di jari sehingga membuat hasil pemeriksaan tidak valid? Begitu kecurigaan kakak. Baiklah, walau tetap masih merasa ngeri, saya pun mencoba test ulang. Masih tetap di jari tengah kiri. Hehehe… ini jari yang paling tinggi di antara temen-temennya dan saya anggap jari yang paling kuat.

Setelah memastikan alkohol kering, saya pun mulai men-test darah. Setelah menunggu 150 detik, hasilnya tetap LO. Nah kan berarti memang benar-benar LO. Cek tanggal kadaluarsa stripnya juga masih panjang, tahun 2020.

Sebenarnya kakak usul test asam urat juga. Tapi lain kali deh. Hari ini sudah terjadi penusukan 3 kali, hahaha…

Baiklah, saya menganggap hasilnya memang LO. Walau pun rada aneh juga sih secara hari Sabtu lalu sangat tinggi di angka 231 mg/dL. Setelah test saya makan pisang dan merasa lega. Lapar setelah semalam puasa. Paling enak memang puasa malam karena tidak terasa, hahaha…

Terima kasih Tuhan karena hasil test baik.