Bekerja Dengan Samsung ATIV Book 9 Lite

Sudah lebih dari 2 minggu saya menggunakan Samsung ATIV Book 9 Lite. Nampaknya kinerjanya kurang dibanding notebook saya sebelumnya, yaitu Acer V5-471G 53334G50Mabb. Jelas saja begitu karena spesifikasinya beda jauh walau pun secara harga ATIV Book 9 Lite lebih mahal. Seperti pada penggunaan prosesor AMD A6 1GHz di ATIV Book 9 Lite vs Intel Core i5 1.8GHz di Acer V5. Sedangkan RAM sama-sama DDR3 dengan kapasitas 4 GB.

CPU Utilization
CPU Utilization

Keunggulan dari ATIV Book 9 Lite adalah penggunaan media penyimpanan SSD yang walau pun kapasitasnya cuma 128 GB tetapi memiliki kecepatan yang jauh lebih baik dari pada harddisk biasa. Di samping tentu saja adanya fitur Touchscreen. Acer V5 sendiri juga mengeluarkan opsi layar Touchscreen. Sayangnya waktu itu kami tidak membeli V5 dengan fitur Touchscreen karena pertimbangan harga.

Saat saya gunakan untuk bekerja, ATIV Book 9 Lite ini memang lebih lambat. Saya mencoba menjadikannya sebagai server Apache, PHP dan MySQL. Browsing beberapa situs berita yang penuh dengan animasi, mendengarkan musik, membuka facebook, gmail dan webmail, skype dan download film. Puncaknya saat saya mengeksekusi aplikasi pembuatan laporan. Ternyata prosesor terforsir, kadang stat sampai 100% dan clock mencapai 1.4 GHz. Oh iya, prosesor AMD yang digunakan bisa bekerja sampai maksimal 1.4 GHz saat dibutuhkan. Sedangkan urusan penampilan grafis sedikit beruntung karena ada prosesor khusus, yaitu GPU AMD Radeon HD 8250 sehingga interaksi touchscreen dan tampilan bisa berjalan lancar.

Keunggulan lain yang bagi saya termasuk menyenangkan adalah karena baterainya tahan sampai lebih dari 5 jam. Bagi saya ini suatu kemewahan, karena selama 5 jam lebih bisa bebas bekerja dimana saja tanpa perlu tergantung dengan colokan listrik. Notebook saya sebelumnya maksimal 4 jam. Sedangkan Acer V5 cuma bertahan maksimal 2.5 jam. Memang sih, notebook-notebook sebelumnya fokus di performa, sedangkan yang ini saya khususkan untuk bekerja ringan dan ngeblog saja. Kalau mau kerja serius bisa pakai notebook yg lain, xixixi…

Peralatan tempur pekerja IT
Peralatan tempur pekerja IT

Sejatinya dengan spesifikasi ATIV Book 9 Lite ini sudah lebih dari cukup untuk pengguna biasa. Namun untuk programmer seperti saya atau pekerja multimedia mungkin termasuk kurang bertenaga. Sayangnya saya tidak mencobanya untuk bermain game. Mungkin lain waktu ya. Tapi untuk memainkan film resolusi tinggi lancar-lancar saja.

Acer V5 + Ubuntu = Gagal Shutdown

Sudah hampir 2 minggu saya menggunakan notebook Acer V5. Ada keanehan yang terjadi saat saya mengganti Sisop-nya dari Windows 8 ke Ubuntu 12.10, yaitu notebook akan selalu reboot ketika di-shutdown. (*notebook yg ngeyel*)

Sudah beberapa hari ini saya mencari solusinya di internet. Ternyata kejadian ini sering terjadi pada notebook generasi baru yang di-install Ubuntu 12, tidak hanya terjadi pada notebook Acer. Saya menemukan salah satu solusi yang mengharuskan menginstall laptop-mode-tools. Sejenak saya bergembira karena notebook bisa shutdown. Tapi setelah itu gagal dan selalu reboot lagi.

Baca selebihnya »

Ngeblog dengan Monitor 32″

Kali ini saya mencoba mengkoneksikan notebook Acer V5 saya ke TV LED 32″. Kebetulan Acer V5 memiliki port HDMI yang mendukung kanal audio, jadi suara bisa disalurkan juga ke TV.

Saya memilih menggunakan resolusi tertinggi, yaitu 1920×1080. Sayangnya tampilan agak pecah, tidak sesolid jika ditampilkan oleh LCD bawaan notebook. Namun dengan resolusi sebesar ini, saya dapat melihat lebih banyak hal.

Monitor 32"
Monitor 32″

Yang juga menggembirakan adalah karena Acer V5 bisa dual display. Dengan OS Ubuntu, saya bisa mengeset TV LED di sebelah kiri dan LCD bawaan notebook di sebelah kanan. Keduanya memiliki resolusi yang berbeda.

Kalau sudah begini, kegiatan nge-blog (menulis dan blogwalking) dan surfing pun menjadi menyenangkan. Apalagi untuk nonton video. Ehm, kalau untuk kerja pasti lebih menyenangkan juga ya? Mungkin saya perlu membawa TV LED ke kantor? Hahaha…

Melewati UEFI MS Windows 8

Saat saya menerima notebook Acer V5 471G-53334G50Mabb, dia sudah dilengkapi dengan sistem operasi Microsoft Windows 8. Seharian saya menggunakan Windows 8 dan berkesimpulan kalau sistem operasi ini malah merepotkan saya. Pilihan antarmuka Start Screen (dulu disebut Metro?) dan Dekstop saja sudah membuat saya tidak nyaman. Belum lagi sulitnya akses ke konfigurasi aplikasi.

Oh iya, pernah pakai Skype di Windows 8? Pasti Anda akan menilainya sebagai jempol terbalik. Bukan karena lambatnya aplikasi, tetapi karena Skype menggunakan semua layar untuk 1 komunikasi. Kita akan kesulitan saat berkomunikasi dengan banyak orang. Atau ketika kita perlu beralih ke aplikasi lain.

Banyaknya keluhan di Windows 8 tersebut membuat saya tidak ragu membabat habis Windows 8 dan menggantikannya dengan Ubuntu 12.10 versi 64 bit. Masalah kemudian timbul karena saya tidak bisa masuk ke BIOS. Rupanya Acer V5 menggunakan UEFI (Unified Extensible Firmware Interface) Windows 8.

Syukurlah saya menemukan caranya di internet untuk memutuskan UEFI Windows 8 ini. Caranya sederhana, yaitu matikan notebook dengan cara paksa dengan menekan tombol Power beberapa detik. Setelah itu tekan lagi tombol power untuk menyalakan. Saat muncul logo Acer, tekan tombol F2 sampai bunyi Beep. Dan layar BIOS akan muncul.

Matikan fungsi UEFI Windows 8 dan pilih Legacy BIOS. Simpan kembali konfigurasi BIOS. Setelah itu kita dapat kembali menikmati BIOS.

Pada saat instalasi Ubuntu 12.10, saya sempat mendapati opsi untuk menggunakan UEFI ini. Sayangnya saya gagal memanfaatkannya untuk Ubuntu.

Notebook Baru

Sesuatu yang baru biasanya membawa suka cita tersendiri. Demikian pula ketika saya mendapatkan notebook baru dari kantor sebagai pengganti notebook lama yang telah 5 tahun menemani saya dengan setia.

Namun di balik suka cita itu, ada pula hal-hal yang menjemukan, yaitu instalasi dan penyalinan data dari notebook lama ke baru. Untuk instalasi saja sudah memakan waktu banyak. Praktis seharian penuh digunakan untuk instalasi. Dari penggantian OS Windows 8 ke Ubuntu 12.10 64 bit, LAMP stack, virtualbox, utility/tools, dll. Update OS saja sudah memakan waktu lama karena harus download langsung.

Habis itu copy data yang ratusan giga. Menggunakan koneksi Wi-Fi menambah lama proses penyalinan. Mestinya pakai kabel ethernet. Sayangnya saya kekurangan kabel ethernet.

Namun setelah itu semua dilalui, rasa senangnya timbul lagi. Maklum, notebook baru memiliki spesifikasi yang lebih baik. Semoga saja dapat menunjang pekerjaan saya dan menambah produktivitas kerja.