TouchRadio Gagal?

{ Ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya: Ngoprek TouchRadio Yuk? }

Kemarin malam saya mencoba menyatukan beberapa komponen untuk merealisasikan TouchRadio, yaitu modul radio FM Tea5767 dan Amplifier PAM8403. Sayangnya berantakan karena saya salah menyambung kabel power yang berakibat rusaknya PAM8403, hahaha… Modul ini rupanya sensitif terhadap besar tegangan. Harus 5V.

Sedangkan Modul TEA5767 rusak karena kelamaan nyolder. Mungkin koneksi ke board inti TEA5767 lumer. Untungnya saya masih memiliki beberapa stok TEA5767 dan PAM8403 jadi proyek ini masih jalan.

Masalah timbul ketika menyambungkan TEA5767 yang membutuhkan pin A4 dan A5 untuk koneksi I2C (inter-integrated circuit, two wire interface). Sedangkan shield TFT 2.8″ juga membutuhkan A4 untuk reset. Jadi ketika library untuk ke-2 modul ini diaktifkan layarnya jadi putih semua. Saya coba menjalankan reset untuk TFT setelah setiap perintah ke TEA5767. Tapi jadi tidak nyaman. Setiap kali mengeset radio harus mengalami layar putih dulu baru kemudian muncul lagi tampilan di display TFT. Tentu bukan UX (user experience) yang menyenangkan.

Malam ini mendadak saya teringat kalau Arduino Leonardo memiliki pin tambahan SDA-SCL. Jadi saya pun mengganti board UNO ke Leonardo. Saya menyolder pin modul radio ke board Leonardo & meng-upload sketch TouchRadio. Ternyata gagal juga, teman-teman… #Gubrak.

Setelah saya googling, ternyata  pin SDA-SCL ini sama-sama terhubung ke pin microcontroller dimana A4-A5 juga terhubung. Jadi kedua set pin ini terhubung ke sumber yang sama. Hanya saja memang di Leonardo diberikan tambahan header. #GubrakLagi

Walau pun modul radio dan display sudah bisa berjalan saat ini, tapi pengalaman menggunakan TouchRadio jadi tidak nyaman. Buat apa kalau tidak nyaman dipakai? Apalagi saya belum menyambungkan modul RTC DS3231 yang sama-sama menggunakan SDA-SCL namun lebih intensif komunikasinya dengan microcontroller.

Hampir saja saya menggagalkan proyek TouchRadio ini dan menggantinya dengan proyek lain. Namun saya masih penasaran dengan hal ini. Mosok begitu saja gagal? Mesti ada solusinya. Saya tidak boleh menyerah!

Baiklah… biar pembaca penasaran seperti halnya saya saat ini yang SANGAT penasaran dengan solusinya, maka tulisan ini saya potong di sini dulu. Saya mau mencoba solusi yang terpikir saat ini. Anda juga boleh menuliskan ide solusi di bagian komentar. Siapa tahu kita bisa bertukar pikiran mengenai hal ini.

Memproduksi Garduino

Nampaknya progres pembuatan prototype Garduino sudah mencapai 80%. Kekurangan 20% adalah untuk instalasi pompa air & growing light di apartemen. Secara hardweriah & softweriah sudah tidak ada kendala.

Sebenarnya masih ada tantangan berikutnya, yaitu membuatnya supaya bisa lebih murah sehingga bisa memiliki nilai ekonomis & komersil. Lumayan juga kan seandainya bisa dijual dan bisa mendapatkan penghasilan dari experimen dan hobi kita? Mengutip pendapat para motivator, bisnis yang berlatar belakang hobi itu lebih langgeng dan cenderung lebih mudah sukses karena pelaku bisnisnya memiliki dedikasi tinggi. Asyik kan?

Garduino (gardening arduino) ini jelas memiliki banyak manfaat karena garduino dapat membantu pemeliharaan tanaman baik indoor mau pun outdoor. Garduino sangat cocok bagi orang yang sibuk atau sering bepergian sehingga tidak bisa berkomitmen memelihara tanaman (*contohnya: jelas daku ini, hehehe*). Dari pada tanaman mati (*ehm, pembunuhan tanaman*), mending beli garduino untuk membantu pemeliharaan. Syukur-syukur biaya produksi Garduino bisa lebih murah sehingga bisa terjangkau banyak kalangan masyarakat.

Namun sebenarnya garduino bisa digunakan untuk industri perkebunan atau pembibitan yang boleh dikata memiliki skala lebih besar dari pada penanaman skala rumahan. Jelas garduino bisa digunakan untuk skala yang lebih besar seperti ini. Tentu saja diperlukan beberapa penyesuaian, misalnya dengan menggunakan banyak sensor yang di tanam di beberapa titik, penggunaan pompa yang tersebar atau pompa dengan daya yang lebih besar, dan masih banyak lagi. Yang jelas, aplikasi dari Garduino ini bisa sangat luas.

Selain kebisaan Garduino dalam membantu pemeliharaan tanaman, tantangan berikutnya adalah membuatnya se-simple mungkin sehingga pembeli Garduino bisa dengan mudah memasangnya sendiri tanpa perlu bantuan ahli. Kalau bisa tinggal colok sana-sini dan Garduino bisa jalan dengan baik.

Menanggapi tantangan ini, daku mencoba membuat sebuah box dengan beberapa socket sehingga sensor-sensor dan relay-relay bisa dihubungkan dengan mudah. Tentu saja beberapa sensor sudah dilengkapi dengan jack (colokan) yang cocok. Relay bisa dibuatkan box terpisah supaya tegangan tinggi terpisah dari box Garduino. Ini bisa mengurangi resiko korsleting. Di bawah ini adalah contoh desain dari box Garduino dan hubungannya dengan sensor-sensor & relay-relay.

Contoh desain box Garduino
Contoh desain box Garduino

Contoh desain di atas tentu dibuat se-simple dan se-generik mungkin. Contoh sensor dan relay yang tertera bisa diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Misalnya dari pada menggunakan sensor Temperature & Humidity dan Ambient Light, mungkin lebih baik menggantikannya dengan 2 sensor Soil Moisture sehingga kita bisa mengindera kelembaban 3 titik lahan. Demikian juga dengan relay-relay-nya, dari pada memasangnya ke growing light atau fan (kipas), mungkin lebih baik menggantinya dengan 2 pompa sehingga kita punya 3 pompa untuk mengairi 3 titik lahan.

Oh iya, sekedar catatan, pompa air yang digunakan dalam proyek Garduino ini bisa diganti dengan Solenoid Valve. Fungsinya seperti kran. Alat ini bisa dihubungkan ke pipa 3/4″ yang jamak digunakan di instalasi pipa perumahan. Dengan menggunakan Solenoid Valve ini, kita bisa menggunakan pompa air rumah untuk menyirami lahan, taman atau perkebunan. Karena pompa air besar tentu bisa memompa air lebih banyak dan lebih deras sehingga lebih efektif digunakan untuk menyirami lahan yang lebih luas.

Kan jadinya asyik tuh tidak perlu menyirami sendiri, cukup dibantu oleh Garduino. Cocok bagi petani perkebunan atau pembibitan.

Menghitung Biaya Prototype Garduino

Proyek Garduino-ku (gardening Arduino) hampir usai. Tadi sore daku membeli pompa air mini, selang, percabangan, kabel-kabel serta soket. Pompa air mini ini biasa digunakan untuk aliran air di aquarium. Nampaknya perlu sedikit modifikasi supaya bisa digunakan di Garduino.

Tidak disadari ternyata dompet jadi tipis. Nampaknya daku perlu menghitung pengeluaran dalam pembuatan prototype ini. Di bawah ini adalah daftar komponen yg diperlukan untuk membuat 1 prototype. Aslinya daku membeli beberapa buah komponen sekaligus, misalnya sensor Soil Moisture sekalian beli 2, tapi yang dihitung di biaya prototype cukup 1 saja supaya kita bisa menghitung biaya 1 prototype.

Baca selebihnya »

Bikin Prototype dengan Protoshield

Saat belanja elektronika di Famosa Studio tempo hari, salah satu yang daku beli adalah Arduino Protoshield Kit. Ini adalah board prototype yang bisa dipasang secara bertumpuk di board Arduino (tipe Uno R3 dan Leonardo). Sudah ada lubang-lubang dan jalur-jalur penting seperti power (Vcc) dan Ground (Gnd). Yang terpenting adalah pin-pin Arduino sehingga bisa menghubungkannya ke banyak komponen pendukung seperti sensor, relay, LED, display, dll.

Arduino Protoshield Kit
Arduino Protoshield Kit

Hanya saja Protoshield ini dijual dalam bentuk kit, yang berarti kita harus merakitnya sendiri. Ini keuntungan bagi kita karena kita bisa mendesain prototype yang sesuai dengan proyek kita. Dalam foto di bawah ini daku mendesain supaya bisa menampung 4 sensor. Sedangkan 2 buah LED merah kecil bisa digunakan sebagai warning jika sensor melebihi nilai ambang. Sisa lubang bisa digunakan untuk hal lain.

Protoshield ala Dewo
Protoshield ala Dewo

Oh iya, kit ini sudah dibekali dengan breadboard mini. Ini menjadi solusi praktis untuk prototyping karena kita tidak perlu men-solder dan bisa bongkar-pasang komponen dengan mudah.

Tinggal Ditumpukin ke Arduino Leonardo
Tinggal Ditumpukin ke Arduino Leonardo

Benar-benar praktis dalam membuat prototype. Setelah itu kita tinggal konsentrasi ke pemrograman.

Pengumuman Giveaway Arduino Leonardo

Tiba saatnya pengundian peserta Giveaway Arduino Leonardo. Pengundian dilakukan di Famosa Studio selaku sponsor acara ini. Pengundian dilakukan secara manual dengan mencetak nama-nama ke-24 peserta GA.

Lembaran Undian ke-24 Peserta
Lembaran Undian ke-24 Peserta

Kemudian digulung dan dimasukkan ke box. Lembaran peserta pun siap untuk diundi.

Siap diundi
Siap diundi

Mas Zerfani, Bos Famosa Studio, sedang bersiap-siap untuk mengundi. Siapakah pemenang ke-2 buah Arduino Leonardo?

Ayo kita undi
Ayo kita undi

Baca selebihnya »