Harddisk External 2 TB

Tidak terasa harddisk Toshiba Canvio Art saya yang 1 TB sudah penuh. Apalagi semenjak pakai DSLR dan GoPro yang punya ukuran foto dan video luar biasa. Kalau ada acara seharian bisa menghabis beberapa giga byte foto/video. Itu pun yang disimpan yang bagus-bagus saja, sedangkan yang jelek atau saya nilai tidak ada manfaatnya langsung saya hapus. Dan kebanyakan foto dari ponsel tidak saya backup karena langsung saya upload di instagram atau facebook atau google photo.

Mau tidak mau saya harus beli harddisk external baru. Sebenarnya ngiler pengen beli NAS, tapi terpaksa saya urungkan karena belum lama ini saya boros banget (baca: Penantian Panjang Yamaha Silent Guitar), hehehe… Jadi sementara beli yang murah dulu, yaitu harddisk external.

Semalaman cari harddisk external 2 TB yang termurah di beberapa toko online, hingga akhirnya ketemu harddisk external toshiba Canvio Basic 2 TB. Dibandingkan dengan Seagate, Western Digital, dll, harga Toshiba Canvio Basic ini paling murah. Jadi saya beli Canvio saja. Harddisk external saya sebelumnya juga Toshiba (Canvio Art) dan sudah berumur tua tapi tidak ada masalah. Jadi saya cukup yakin dengan Toshiba Canvio ini.

Malam ini sambil menulis blog saya memindahkan 1 TB dari harddisk lama ke yang baru. Dan ternyata lama banget, hehehe…

Kok dipindah? Ya karena harddisk lama saya mau format ulang untuk menghilangkan partisi yang sebelumnya pernah saya pakai untuk backup MacBook Air. Dan mungkin akan saya pakai untuk membuat NAS dengan Raspberry Pi. Dulu pernah sukses buat sih, tapi ternyata lambat dan tidak stabil. Mungkin perlu buat NAS dengan laptop lama yang punya prosesor lebih bagus dari pada Raspberry Pi?

Semalam Bersama Raspberry Pi

Ini masih cerita saya bersama Raspberry Pi yang telah lama teronggok di laci. Setelah berhasil menyalakan lagi, saya pun memberdayakannya untuk hal yang lebih bermanfaat, lebih dari sekedar “mainan”. Pertama yang saya lakukan adalah menginstall samba server sehingga bisa dijadikan file sharing. Sayangnya dengan koneksi WiFi kecepatan file sharing termasuk lambat, cuma bisa 1-1.2 Mbps. Secara teknis kalah cepat sama koneksi internetnya, hehehe…

Hal yang kedua adalah menjadikannya mesin backup MySQL otomatis. Saya menggunakan Automysqlbackup dan telah berhasil melakukan backup server KUNET di cloud. Kemudian saya jadwalkan untuk otomatis backup jam 12.00. Kok tidak dijadwalkan tengah malam saja? Soalnya backup tengah malam sudah dilakukan server KUNET sendiri, hehehe…

Sebenarnya solusi backup remote dengan automysqlbackup tidaklah terlalu baik jika ukuran database sudah besar. Soalnya bisa makan resources server dan juga memenuhi bandwidth jaringan. Bisa parah jika koneksi yang dipakai ada kuotanya. Lagi pula backup model begini cuma menyimpan data pada posisi waktu tertentu.

Yang lebih efisien mungkin mensetupnya sebagai replikasi database. Tapi saya masih ragu, apakah Raspberry Pi mampu? Mengingat Raspberry Pi saya ini generasi 1 yang hanya punya RAM 256 MB. Sudah gitu, berdasarkan pengalaman beberapa kali saya konfigurasi replikasi MySQL seringnya macet sendiri tanpa diketahui penyebabnya.

Tapi apa salahnya dicoba ya? Baiklah, nanti kalau ada kesempatan akan saya coba jadikan RPi ini mesin replikasi.

Galau CubieTruck, Banana Pi atau NUC

Tempo hari saya teringat Raspberry Pi yang telah teronggok beberapa lama. Mau diapakan ya? Lantas saya sibuk mengurus start-up yang baru saya rintis. Di sela-sela kesibukan terbersit ide untuk bikin PC backup atau replicator dengan Raspberry Pi. Namun saya ingat kalau Raspberry Pi milik saya ini cuma punya RAM 256MB. Apa bisa diinstall MySQL?

Kepikiran pula untuk merakit PC sendiri. Tapi kayaknya tidak mudah. Baru mau menentukan komponen saja sudah bikin puyeng. Sempat pula melirik NUC milik Intel. Keren juga sih, sayangnya tidak murah. Yang termurah dengan prosesor Intel Celeron saja sudah lebih nyaris 3 juta. Kayaknya terlalu mahal untuk budget startup. Kan belum punya penghasilan, jadi harus hemat.

Lantas googling alternatif lain nemu Banana Pi dan Cubietruck. Konon Banana Pi merupakan tiruan dari Raspberry Pi namun punya spesifikasi lebih baik. Selain menggunakan prosesor dual core, Banana Pi sudah dibekali RAM 1 GB. Keren to?

Namun rupanya CubieTruck lebih mumpuni. Sama-sama sudah dual core, Cubietruck punya RAM onboard 2 GB. Ditambah port SATA sehingga Cubietruck bisa dihubungkan ke harddisk. Jangan lupa dicatat, Cubietruck sudah punya koneksi WiFi+BT di samping ethernet Gigabit-nya. Mantab ya?

Nampaknya Banana Pi atau Cubieboard bisa digunakan untuk tujuan saya, yaitu membuat PC Backup atau DB Replicator dengan pemakaian daya yang rendah dan bisa ditenteng. Beberapa video di Youtube malah menampilkan penggunaan board-board ini sebagai server.


{Gambar dipinjam dari sini}

Namun kemudian saya tersadar kalau saya belum menyelesaikan pekerjaan, tapi pikiran sudah melayang kemana-mana. Hampir saja saya order Cubietruck, tapi saya urungkan. Lebih baik saya menyelesaikan pekerjaan dulu, barulah nanti dilanjut galaunya kalau sudah selesai kerja. Hiks…

~~~

Bacaan:
Spesifikasi Cubietruck
Spesifikasi Banana Pi