Yang Tertunda: Eldario Mini Berbasis Web

Sebenarnya saat membuat Eldario Mini, saya merencanakan kalau Eldario Mini ini bisa dikendalikan secara nirkabel (wireless). Jadi kita bisa mengubah volume dan frekuensi dari browser, baik dari PC mau pun smartphone yang 1 jaringan dengannya. Cocok bagi programmer kayak saya yang lebih banyak menatap layar laptop tapi kadang perlu mengubah frekuensi radio.

Itulah mengapa saya menggunakan Wemos D1 Mini yang sudah memiliki modul WiFi build in. Karena jika alasannya cuma membuat radio berukuran mini, sebenarnya saya bisa menggunakan Arduino Mini Pro (versi 5 Volt) yang kebetulan ada beberapa stok.

Namun ternyata saya belum punya waktu untuk mengerjakannya. Padahal ini cuma semacam upgrade firmware di Eldario Mini. Tapi ya menuangkannya ke dalam kode membutuhkan sejumlah waktu, hiks…

Belakangan waktu, tenaga dan pikiran banyak dialokasikan untuk mengerjakan hal lain. Rupanya saya perlu manajemen waktu yang lebih baik. Dan tulisan ini untuk mengingatkan saya juga agar kelak jika ada waktu, saya harus meneruskan Eldario Mini versi Web. Atau harus segera mengalokasikan waktu supaya bisa segera terealisasi.

Iklan

Membuat Jam Digital Sendiri

Dulu saat kelas 2 SMP saya pernah membuat jam digital dengan display seven segment besar. Jaman tahun segitu betapa bangganya saya bisa membuatnya sendiri. Memang sih dulu membeli PCB yang sudah jadi, jadi tinggal beli komponen dan solder-solder komponen saja. Sayangnya dulu kristal yang dibutuhkan tidak ada yang nilainya pas sehingga jam menjadi terlambat beberapa menit setelah beberapa hari. (*wah jam kok tidak akurat?*)

Kini setelah puluhan tahun kemudian saya diminta untuk membuat jam lagi. Kali ini saya mendesainnya dengan microcontroller Atmega328. Jam ini didesain memiliki alarm yang bisa menyalakan suara biasa atau bisa diset untuk menyalakan radio. Selain itu jam ini didesain memiliki sensor suhu. Saya mendesainnya menggunakan LM35, kebetulan ada stoknya. Tadinya mau pakai DHT11 tapi saya pikir tidak perlu sensor kelembaban. Selain menghemat biaya, pemakaian LM35 juga menghemat memori karena tidak perlu library khusus untuk pemrogramannya.

Masih 1/2 selesai
Masih 1/2 selesai

Untuk display saya menggunakan LCD 16×2. Terus terang ini solusi yang paling praktis bagi saya, karena saya sudah beberapa kali menggunakan display ini dan berjalan dengan baik. Lagi pula dengan LCD 16×2 lebih fleksibel tampilannya karena bisa menampilkan banyak karakter/angka.

Mungkin proyek selanjutnya saya akan coba pakai 7-Segment. Kebetulan harga 7-segment kecil tidak terlalu mahal.

Selain sulitnya mendesain rangkaian, tantangan terbesar adalah mendesain tampilan akhir produk. Ini yang paling sulit, bagaimana membuat produk yang enak dipandang dan dipakai. Banyak produk bagus (apa pun produknya) yang gagal di pasaran hanya karena tampilannya tidak menarik dan/atau tidak enak dipakai, padahal fiturnya canggih.

Untuk sementara ini saya memilih untuk memprioritaskan fungsionalitas. Untuk tampilan nanti sajalah saat membuat versi selanjutnya. Hehehe…

Oh iya, dalam desain jam ini masih tersisa beberapa pin, yaitu 2 pin analog dan 4 pin digital (2 di antaranya PWM). Jadi ke depannya jam ini masih bisa dioprek untuk menambahkan fitur, misalnya menambahkan sensor gas/LPG, cahaya, soil moisture (oh bisa jadi ngepot), atau bisa juga ditambahkan relay untuk lampu/AC atau motor untuk membuka/menutup tirai jendela.

Kebetulan saya pakai ATmega328 yang punya memori 32KB, yang berarti 4x lebih besar dari pada ATmega8.

Foto di atas adalah tampilan jam-nya. Masih setengah jadi. Baru bisa menampilkan tanggal dan jam saja. RTC dengan DS1307 didesain embedded. Nanti malam akan dilanjutkan untuk memasang tombol-tombol dan sensor suhu LM35. Sebenarnya saya sangat penasaran untuk segera bisa memasang modul radio (dengan breakout Si4703 dari Sparkfun). Sayangnya pesanan saya belum tiba. Hiks…

nge-Pot 84 with LCD (Pot Elektronik)

Ini adalah salah satu jawaban dari tantangan terhadap produksi alternatif Garduino yang lebih murah dan terjangkau. Jika sebelumnya saya telah berhasil membuat versi sederhana dengan nge-Pot 85 yang menggunakan Atmel Attiny85, maka sekarang saya menggunakan Atmel seri Attiny 84 yang lebih kaya I/O. Dengan Attiny84 ini saya bisa menambahkan LCD sebagai display bagi nilai penginderaan kelembaban tanah dan suhu sekitar.

Tampilan Ngepot 84
Tampilan Ngepot 84

Sayangnya jumlah pin I/O Attiny84 banyak terpakai untuk mengendalikan LCD yang butuh 6 pin. Jadi hanya tersisa 5 dari pin yang bisa dipakai. Sisa 5 ini terpakai untuk 1 sensor Soil Moisture, 1 relay, dan 3 tombol (tombol ini digunakan untuk membuat referensi digital). Kurang 1 I/O untuk termometer. Pikir punya pikir, akhirnya saya mengakalinya dengan berbagi pakai 1 pin untuk tombol plus dan sensor temperatur LM35 DZ. Saat beroperasi normal, pin ini akan dipakai untuk membaca suhu sekitar yang diindera oleh LM35 DZ. Sedangkan pada mode edit, maka pin ini digunakan untuk tombol plus.

Tombol pengatur ambang dan sensor suhu udara sekitar
Tombol pengatur ambang dan sensor suhu udara sekitar

Tampak pada gambar di sebelah kanan LCD ada sebuah sensor suhu udara LM35 DZ dan di bawahnya berjejer 3 tombol untuk mengganti mode edit, tombol plus dan tombol minus.

Bagian sebelah kiri
Bagian sebelah kiri

Di sebelah kiri LCD tampak banyak komponen berjejal. Hehehe, berat sebelah ya? Di sebelah kiri ini ada port untuk menancapkan sensor Soil Moisture, jack power supply 6-12V, LED indikator nyala (warna hijau), LED indikator relay aktif (warna merah), dan relay untuk pompa air. Sedangkan tepat di sebelah kiri LCD ada 2 potensiometer yang bisa digunakan untuk mengatur kecerahan lampu latar belakang LCD dan pengatur kejelasan karakter LCD.

Ngepot 84 in action
Ngepot 84 in action

Tampak pada foto di atas saat relay pompa aktif. Selain ditunjukkan di LCD berupa tulisan “Pump: ON”, juga direpresentasikan oleh penyalaan LED merah. Nampaknya saya salah menggunakan resistor sebagai penurun arus sehingga LED merah nampak terlalu cerah.

Pump On dan LED merah menyala
Pump On dan LED merah menyala

Sebenarnya desain awal Ngepot 84 ini menempatkan relay di sebelah kanan board, tapi saya pikir kalau diletakkan di sebelah kanan akan membahayakan pengguna terutama saat melakukan edit nilai ambang yang ke-3 tombolnya ada di sebelah kanan. Takutnya relay yang terhubung dengan tegangan tinggi AC akan tersentuh secara tidak sengaja.

Tampilan keseluruhan Ngepot 84
Tampilan keseluruhan Ngepot 84

Foto di bawah ini menampilkan bentuk Ngepot 85 yang sederhana dengan Ngepot 84 yang lebih informatif dengan LCD. Kedua rangkaian prototype ini jatuhnya lebih murah dari pada Garduino (gardening Arduino ala Dewo).

Ngepot 85 dan Ngepot 84+LCD
Ngepot 85 dan Ngepot 84+LCD

Memang sih akan lebih mudah menggunakan Arduino. Tapi rasanya terlalu mahal jika untuk merawat tanaman saja harus menggunakan Arduino yang mahal harganya. Toh dengan Attiny 85 atau 84 yang jauh lebih murah bisa dilakukan hal yang sama. Walau memang ada beberapa batasan, misalnya kecepatan prosesor yang lebih rendah, kapasitas memori program yang lebih kecil sehingga tidak bisa diprogram untuk hal yang kompleks, dan jumlah pin yang lebih sedikit dari pada Arduino. Tapi ternyata saya bisa membuat Ngepot (Pot elektronik) versi murah yang bisa digunakan untuk merawat tanaman.

Bagi saya, mendesain dan membuat Ngepot 85 dan 84 memiliki kepuasan tersendiri. Di samping tujuan untuk membuat alternatif Garduino yang lebih murah dan praktis, juga karena hobi saya tersalurkan. Ini merupakan bentuk ekspresi diri bahwa saya mampu membuat versi saya sendiri dan dapat bekerja dengan baik. Walau pun sangat sederhana, saya cukup bahagia lohhh…

Saya akan mencoba mendokumentasikan desain proyek saya ini di blog. Hanya saja harus saya akui, saya malas merapikan skema rangkaian, hehehe. Jadi seperti yang sudah-sudah, cukup tampilan layout PCB yaaa… Cara membuatnya akan saya susulkan. Semoga proyek-proyek ini dapat berguna bagi orang banyak.

PERINGATAN:

  • Rangkaian Garduino, Ngepot 85 dan Ngepot 84+LCD dipublikasikan dengan lisensi Open Source Hardware. Semua pihak bisa mempelajarinya dan memproduksi/mengembangkan sendiri.
  • Rangkaian Garduino, Ngepot 85 dan Ngepot 84+LCD menggunakan relay yang bisa digunakan untuk mengontrol piranti lain dengan tegangan tinggi (s/d 240 Volt), misalnya pompa air, solenoid valve/kran, lampu, dll. Harap berhati-hati dalam menggunakan tegangan tinggi karena dapat mencelakakan diri sendiri atau orang lain. Selain berhati-hati, harap perhatikan potensi kecelakaan kerja dan operasional. Karena tegangan tinggi dapat mengakibatkan kecelakaan yang mematikan.

Membuat Efek Gitar Sendiri

Selain main gitarnya sudah karatan, rupanya keterampilanku berelektronikaku pun sudah karatan. Sudah tidak seteliti, secermat & sesabar dulu lagi. Maklum, kedua hobi ini sudah kutinggalkan selama belasan tahun.

Bermula ketika daku menemukan skema efek gitar yang tidak terlalu rumit dan semua komponennya tersedia di pasaran (tepatnya toko elektronika di Tangerang), yaitu MXR Distortion Plus yang bila dimodif sedikit bisa menjadi DOD 250. Wah menarik sekali. Dan kurasa daku bisa membuatnya. Langsung saja daku belanja semua keperluan untuk membangunnya.

Komponen MXR+
Komponen MXR+

Namun ternyata apa yang nampaknya sederhana itu tidak selamanya mudah untuk direalisasikan. Apalagi saat daku memilih cara hacker alias jalan pintas, yaitu membangunnya dengan menggunakan Perf Board (perforated board). Sekedar informasi, Perf Board ini adalah PCB yang sudah berlubang-lubang tapi tidak memiliki sambungan antar komponen. Untuk menyambungnya, kita perlu membuatnya sendiri, bisa menggunakan kawat kecil, kabel, atau sejenisnya.

Read More »

Review Japier Screaming Dari Fatmac

Akhirnya kemarin sore datang juga efek gitar pesananku setelah menunggu selama 3 hari dengan perasaan tak menentu (*hayah*). Efek ini berjejuluk Japier Screaming yang merupakan clone dari amplifier ternama dari Ibanez, yaitu Ibanez Tube Screamer (TS808). Secara fisik, efek buatan FatMac ini sedikit lebih besar dari yang kubayangkan. Ya, dimensinya lebih besar dari pada pedal efek (stompbox) buatan pabrik. Tepatnya berdimensi 12cm × 8cm × 5cm. Dan rupanya box berukuran besar ini sudah menjadi standar dari efek-efek produksi Fatmac.

Fatmac Japier Screamer
Fatmac Japier Screamer

Lalu bagaimana dengan suaranya? Benar juga seperti kata teman-teman dan juga Arif Dwiarmawan (sang produsen Fatmac) sendiri, yaitu bahwa efek ini lebih cocok untuk jenis musik blues. Ada seorang teman yang tanya mengapa aku membeli Japier Screaming ini padahal gitaranku metal? Lalu kujawab saja, “apa pun alatnya, mainnya tetap metal.” Hehehe…

Read More »