Teddy Ingin Terbang

“Ah, seandainya aku bisa terbang seperti burung-burung itu.” Gerutu Teddy Si Beruang Kecil sambil duduk lesu di sebuah batu. Seharian ini dia berlari-lari di lapangan sambil mengepak-kepakkan sayap dari kertas yang diikat di kedua lengannya. Bukannya terbang, Teddy malah jatuh terjerembab ketika meloncat dan mengepakkan sayap buatannya kuat-kuat. Kini sayap-sayap itu robek. Kayu kerangkanya patah.

Ayah Teddy yang sedari tadi memperhatikan polah anak kesayangannya itu pun tersenyum simpul. Dia pun mendekati Teddy. Diusapnya kepala Teddy dengan lembut.

“Bagaimana percobaan terbangmu hari ini?” Tanya Ayah Teddy lembut.

“Gagal lagi, Ayah.” Sungut Teddy. “Beruang memang tidak bisa terbang ya? Padahal Teddy ingin bisa terbang seperti burung. Teddy ingin melihat pemandangan alam dari ketinggian. Pasti indah sekali.”

Ayah Teddy pun tersenyum simpul.

“Siapa bilang beruang tidak bisa terbang?” Kata ayah Teddy.

“Buktinya Teddy tidak punya sayap. Pakai sayap buatan pun Teddy tidak bisa terbang, Yah.” Kata Teddy sambil cemberut.

“Begini saja, besok kan hari minggu, ayah akan mengajak Teddy untuk terbang.” Kata Ayah Teddy sambil merangkul Teddy.

“Bener, Yah? Ayah beneran mau mengajak Teddy terbang? Bagaimana caranya, Yah?” Tanya Teddy penuh antusias.

“Percaya saja pada ayah. Sekarang kita pulang dulu. Besok pagi-pagi benar kita terbang.” Kata Ayah sambil beranjak berdiri.

“Horeee… bener ya, Yah…” Seru Teddy kegirangan disambut anggukan ayah. Mereka pun pulang ke rumah dengan penuh semangat.

Baca selebihnya »