Potentiometer Reverse Log

Akhirnya potensiometer pesananku tiba juga setelah beberapa minggu menanti. Pots (singkatan dari potensiometer) yang daku pesan ini termasuk langka di Indonesia, yaitu bertipe reverse log atau biasa dikodekan sebagai C. FYI, kode A adalah utk potensiometer tipe logaritmis dan B untuk linear.

Potensiometer Reverse Log
Potensiometer Reverse Log

Pots bermerk Alpha dengan ukuran C500k ini memang seringkali dipakai untuk membuat efek dan juga untuk volume/tone gitar. Sifatnya memang agak unik dan seperti halnya tipe logaritmis, pembuatan pots jenis ini relatif lebih sulit dari pada yang jenis linear biasa. Makanya harga pots ini relatif lebih mahal dibandingkan dengan yg linear atau pun logaritmis. Jika digambarkan, efek dari pot ini grafiknya terbalik dari yang tipe logaritmis. Kalau logaritmis memiliki bentuk lengkung parabola ke atas, maka yang ini lengkung parabolanya menghadap ke bawah.

Baca selebihnya »

Membuat MXR Distortion Plus

Sangat penuh perjuangan saat daku membangun kloningan efek gitar MXR Distortion Plus. Dari hunting komponen, gagal saat menggunakan perf board, gagal saat menyablon PCB, sampai perburuan FeCl.

Namun perjuangan itu berakhir manis saat daku berhasil membuatnya. Terima kasih untuk Bro Yuswanto yang telah membantu menyablon PCB.

Yang polos bersama teman-temannya
Yang polos bersama teman-temannya

MXR Distortion Plus (clone) ini memang bersuara mantap. Tidak bakal kecewa deh kalau membuatnya sendiri. Selain modalnya relatif tidak besar, efek distorsi memang menu wajib gitaris, apalagi gitaris metal, kuti mesdu (baca: kudu mesti) memilikinya! Atau beli jadi saja? Hem… boleh juga lah, praktis, tapi butuh modal ekstra.

Sayangnya daku belum berhasil merekam suara efek via Digicam. Suaranya jadi terlalu cempreng saat direkam oleh Digicam. Padahal kalau didengarkan langsung dari ampli Fender Frontman 15G suaranya mantap banget. Kayaknya perlu pakai microphone yang bagus. Besok deh kucoba merekam pakai Nokia XM 5800. Sekarang daku mau santai dulu. Ciao…

Dalemannya
Dalemannya

Membuat Efek Gitar Sendiri

Selain main gitarnya sudah karatan, rupanya keterampilanku berelektronikaku pun sudah karatan. Sudah tidak seteliti, secermat & sesabar dulu lagi. Maklum, kedua hobi ini sudah kutinggalkan selama belasan tahun.

Bermula ketika daku menemukan skema efek gitar yang tidak terlalu rumit dan semua komponennya tersedia di pasaran (tepatnya toko elektronika di Tangerang), yaitu MXR Distortion Plus yang bila dimodif sedikit bisa menjadi DOD 250. Wah menarik sekali. Dan kurasa daku bisa membuatnya. Langsung saja daku belanja semua keperluan untuk membangunnya.

Komponen MXR+
Komponen MXR+

Namun ternyata apa yang nampaknya sederhana itu tidak selamanya mudah untuk direalisasikan. Apalagi saat daku memilih cara hacker alias jalan pintas, yaitu membangunnya dengan menggunakan Perf Board (perforated board). Sekedar informasi, Perf Board ini adalah PCB yang sudah berlubang-lubang tapi tidak memiliki sambungan antar komponen. Untuk menyambungnya, kita perlu membuatnya sendiri, bisa menggunakan kawat kecil, kabel, atau sejenisnya.

Baca selebihnya »

Toko Elektronika di Tangerang

Sudah beberapa minggu ini daku mencari sisik melik (halah, opo tho iki) tentang keberadaan toko elektronika di sekitar sini. Entah mengapa toko elektronika ini sangat jarang keberadaannya di Tangerang. (Yang jelas pastinya karena daku belum tahu tempatnya. Hehehe…) Kebanyakan yang ada adalah toko listrik atau “toko elektronika” yang menjual barang-barang elektronika jadi seperti TV, mesin cuci, kulkas, dll. Yang daku maksud toko elektronika ini adalah toko yang menjual komponen-komponen elektronika macam resistor, kapasitor, transistor, radiator (hehehe), IC, dll. Memang sih, kalau mau lengkap ya harus ngibrit ke Glodok. Tapi jawuhnya itu loh!

Syukurlah akhirnya daku menemukannya dengan bantuan Bro Yuswanto. Rupanya toko yang mulai jarang ini terletak di dekat rumah Bro Yuswanto, yaitu di kompleks Poris. Langsung saja semangat dan hobi elektronikaku menggelora (hayah) lagi.

Baca selebihnya »

Cukup Pakai Amplifier Atau Harus Pakai Efek?

Mau belajar atau main gitar? Rupanya berbekal gitar elektrik saja tidak cukup. Soalnya gitar elektrik berbeda dengan gitar akustik. Kalau gitar akustik sudah mampu menyuarakan dirinya ketika dimainkan berkat bagian akustiknya. Sedangkan gitar elektrik membutuhkan alat-alat elektronika lain untuk bersuara.

Bagi gitaris pemula kayak daku (*ehm… sebenarnya tidak pemula lagi sih, tapi karatan, hehehe…*), sebenarnya untuk memainkan gitar elektrik ini cukup dibantu oleh amplifier gitar rumahan yang memiliki daya penguatan suara kecil, misalnya 10 s/d 15 watt. Tidak hanya sebagai penguat suara, amplifier gitar kebanyakan juga sudah dibekali efek tertentu yang memperkaya suara gitar kita. Biasanya secara standard sudah ada efek distortion atau overdrive sehingga kita bisa memainkan jenis musik Rock atau pun Metal.

Namun amplifier rumahan berdaya kecil ini memang hanya untuk bermain di rumah atau di studio kecil. Dan tidak cocok untuk dipakai bermain di panggung, apalagi panggung terbuka. Bisa-bisa suaranya tidak terdengar karena tekalahkan oleh suara riuh sekitar. Hehehe…

Sayangnya tidak banyak amplifier berdaya besar untuk keperluan panggung yang memiliki efek seperti amplifier rumahan kita. Kalau pun ada, bisa jadi suaranya berbeda karena perbedaan produsen amplifier, sirkuit elektroniknya atau bisa juga pengaruh dari daya penguatan plus kualitas speakernya.

Ini tentu tidak kita inginkan, karena setting suara yang telah kita set di rumah akan sulit kita bawa ke panggung. Sebagai informasi, seringkali kita senang menggunakan karakteristik suara tertentu yang menjadi ciri khas permainan kita atau band kita. Dan itu akan sulit dibawa begitu saja ke atas panggung.

Baca selebihnya »