Jam digital kecil. Tinggal hubungkan ke baterai. Bisa didesain casing sesuai kreativitas.

Jam Digital Kecil

Sudah beberapa bulan yang lalu saya iseng order jam digital dari dx.com, tapi baru saya coba minggu lalu. Saya tertarik karena bentuknya yang kecil dan telanjang alias tidak pakai casing/box. Jadi bisa kita modifikasi sendiri sesuai kreativitas. Oh iya, walau pun bentuknya kecil, jam ini punya beberapa fitur seperti penampilan tanggal, suhu sekitar dan baterai RTC untuk penghitungan waktu, sehingga walau pun sumber daya mati, jam ini tetap menghitung waktu secara internal.

Jadi ingat sudah beberapa kali membuat jam digital dengan Arduino dan Embedded Arduino. Sayangnya sekarang sedang malas ngoprek elektronika, hehehe… Berikut foto-foto iseng jam digital tersebut:

Jadi kepikiran untuk bikin pin yang ada jamnya. Atau dijahit di tas saja? Tapi kalau di bandara bisa dikira bom waktu ya? Hehehe… Anda punya ide lain?

Iklan

Masih Bersemangat Ngoprek

Ketika terjadi hiruk pikuk saat launching Arduino Due saya hanya bisa berdecak kagum. Maklum, teknologi & fitur yang diusungnya jauh lebih powerful dibanding board Arduino sebelumnya. Arduino Due termasuk sesuatu yang baru yang sedikit keluar dari jalur Arduino sebelumnya karena Due menggunakan prosesor dengan arsitektur ARM sedangkan sebelumnya menggunakan AVR.

Dengan digunakannya arsitektur ARM, maka Arduino Due jadi head-to-head dengan Raspberry Pi yang telah lebih dulu mengguncang dunia sebagai PC paling murah sedunia. Walau pun sebenarnya keduanya jelas memiliki target pengguna yang berbeda, dimana Arduino bermain di dunia microcontroller sedangkan Raspberry Pi bermain di microcomputer. Pada kenyataannya keduanya bisa digunakan untuk controller dan computer dengan trik khusus.

Menurut saya langkah Arduino Due ini sudah baik walau pun keluar dari pakem Arduino sebelumnya karena transisi AVR ke ARM ini difasilitasi dengan baik oleh tim Arduino (salut!!!). Karena bisa jadi dunia microcontroller memang membutuhkan tenaga dan kemampuan yang lebih besar dari yang telah ada sekarang ini. Contohnya adalah saat Google mengeluarkan ADK, Sparkfun dengan IOIO, atau Arduino dengan ADK. Semuanya menjadikan MCU (microcontroller unit) lebih mudah diakses dengan piranti lain, khususnya piranti dengan sistem operasi Android.

Tidak dipungkiri kalau itu semua membutuhkan tenaga yang besar yang lebih dari pada yang bisa didapat dari MCU model AVR. Dan ARM adalah salah satu solusi termurah. Bisa saja kita menggunakan prosesor x86 dari Intel atau AMD, tetapi itu seperti membasmi nyamuk dengan bom.

Di tengah semakin cepatnya perkembangan teknologi saat ini, dengan segenap kerendahan hati, saya sedang merayap mempelajari MCU dengan basis arsitektur AVR. Dimulai dengan keluarga ATtiny yang sederhana sampai ke ATmega yang menengah. Sedangkan board Raspberry Pi masih tergeletak tak terurus menunggu dioprek.

Terus terang saya merasa seakan sedang mengejar ketertinggalan saya. Dan saya agak menyesal karena saat kuliah elektro dulu sering bolos dan tidak memperhatikan atau mempelajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh. Di lain pihak, jaman saya kuliah memang masih serba sulit, baik dari segi kurangnya literatur, kurangnya komunitas elektronika, terbatasnya koneksi internet/komunikasi, dan yang pasti karena kurangnya dana untuk membiayai eksperimen.

Syukurlah saat ini semua kendala itu sudah lenyap. Dan saya bersyukur masih bisa menikmati belajar itu semua dengan semangat yang masih menyala. Kendala saya saat ini hanyalah waktu, usia dan menurunnya kemampuan (*hiks*). Namun itu semua tetap tidak mengalahkan semangat saya.

Ini curhatku, mana curhatmu?