Upgrade Head Unit Mobil dengan TV Digital

Mobil saya belum kekinian, tidak ada display LCD atau pun TV. Tadinya mau upgrade ke head unit yang sudah ada display LCD dan TV tapi ternyata mahal. Apalagi yang support TV Digital, harganya mahal banget Gan! Kalau maksa beli yang murahan takutnya malah kecewa, hahaha…

Jadi saya pun memutuskan mengadopsi Raspberry Pi Zero W + DVB TV Hat yang saya oprek tempo hari plus iPad sebagai display TV-nya. Berikut video-nya :

Tadinya saya mau memanfaatkan Raspberry Pi 3B ditambah LCD Display 3.5″ (lihat di sini) tapi ternyata display segitu kekecilan. Memang lebih baik pakai iPad yang 9.7″. Jelas lebih legaan. Ditambah iPad punya kemampuan dihubungkan ke head unit bawaan mobil untuk amplifikasinya. Dengan integrasi ke head unit mobil, suaranya jadi bagus dan keras.

Sebenarnya saya mau membuat setup ini permanen. Tapi ternyata Raspberry Pi perlu pasokan voltase yang stabil. Charger mobil saya seringkali tidak stabil sehingga membuat RPi kadang tidak mau nyala. Solusi sementara adalah dengan menghubungkan Raspberry Pi ke USB-nya head unit yang relatif lebih stabil. Tapi berarti output suara dari iPad tidak bisa masuk ke head unit.

Untuk mengatasi masalah stabilitas voltase ini ada 2 opsi, yaitu membeli charger mobil yang voltasenya stabil atau membuat sendiri regulator tegangan. Sepertinya opsi ke-2 lebih masuk akal.

Kemarin mencoba juga mengganti iPad dengan hape Samsung A7 yang display-nya walau pun lebih kecil tapi masih cukup nyaman. Sayangnya output audio dari A7 tidak bisa masuk ke headunit standard bawaan mobil. Kalau iPad dan iPhone suaranya bisa dikeluarkan via kabel lightning ke USB. Kalau Samsung A7 dan Xiaomi A1 belum ketemu caranya walau pun mode USB-nya sudah di-set ke “audio source”. Sepertinya setting “audio source” di Android itu justru memasukkan suara ke hape ya? Bukan sebaliknya?

Opsi “media transfer” juga tidak bisa membuat suara dialihkan ke USB. Sempat coba Xiaomi A1 pakai kabel audio biasa masuk ke port auxillary-nya head unit tapi suaranya tidak bagus. Nanti kapan-kapan coba pakai Samsung A7.

Tapi yang pasti dengan setup RPi Zero + DVB TV HAT + iPad sudah mencukupi bagi saya. Suasana perjalanan jadi lebih menyenangkan. Tantangan berikutnya adalah jika setup ini dibawa perjalanan jauh antar kota. Pasti jadi berantakan secara frekuensi siaran digital bisa berbeda di setiap region.

Iklan

Setup DVB TV uHAT di Raspberry Pi

Sebenarnya pemerintah sudah memaksa para penyiar TV itu untuk melakukan siaran digital terestrial. Dan batas waktu untuk memindahkan siaran analog ke digital seharusnya berakhir di akhir tahun 2018. Siaran digital terestrial ini tentu sangat menguntungkan bagi masyarakat karena akan mendapatkan siaran TV yang sangat jernih di samping adanya informasi tambahan yang bisa didapat (seperti EPG, electronic program guide).

Tapi sepertinya belum semua penyiar serius menindaklanjutinya, terbukti masih banyak penyiar yang belum memiliki penyiaran digital yang stabil (bahkan ada yang mati, hanya bekerja baik di jam-jam tertentu), coverage sinyal belum merata, adanya tulisan “experimental”, dan lain-lain.

Saya menguji coba TV uHAT ini di Raspberry Pi 3B, mengikuti petunjuk di sini dan mencoba front-end webbased untuk konfigurasi. Ada beberapa hambatan memang. Berikut adalah beberapa catatan yang saya buat.

Raspberry Pi 3B + DVB TV uHAT

  1. Tidak ada preset muxes (frekuensi multiplexes) untuk Indonesia. Bisa kok menggunakan preset Default-Auto. Bisa juga menambahkan muxes secara manual.
  2. Sebelum melakukan scanning, edit semua muxes untuk menggunakan delivery system DVB-T2 dan bandwidth 8MHz. Baru kemudian lakukan force scan.
    Untuk mengedit sekaligus semua muxes, lakukan select all (ctrl+A) dan tekan tombol edit. Parameter yang mau diubah harus dicentang, masukkan nilainya, tekan tombol Save.
  3. Catatan tambahan, untuk mendapatkan Nexmedia, tambahkan muxes secara manual di frekuensi 290MHz, delivery system DVB-T2 dan bandwidth 7 MHz. Lakukan scan, maka akan muncul banyak services. Hanya saja hampir semua service terenkripsi, kecuali Nex SCTV. Kita cuma bisa nonton Nex SCTV.
  4. Kalau terdeteksi siaran, maka akan ditampilkan sebagai services.
  5. Setelah dapat beberapa services, lakukan mapping supaya bisa tampil di end user.
  6. Memainkan langsung di Raspberry Pi yang dipasangi TV HAT bisa menggunakan VLC. Saya lebih suka Raspberry Pi digunakan sebagai server streaming saja. Untuk menontonnya bisa menggunakan Raspberry Pi yang lain, tablet/iPad, smartphone Android, atau dari Laptop/MacBook.
  7. Untuk streaming dibutuhkan koneksi yang cepat. Saya menggunakan koneksi tethering dari smartphone ternyata kadang lancar kadang lambat. Sepertinya karena banyak lalu lintas internet juga di jaringan tethering. Jadi kalau lagi penuh bisa bikin siaran nge-lag.
  8. Kalau siarannya putus-putus, maka banyak hal yang perlu diselidiki: mungkin memang siarannya jelek sinyalnya, muxes memang tidak bekerja, koneksi jaringan lambat (seperti saya yg menggunakan tethering), atau bisa jadi Raspberry Pi-nya terbebani.
  9. Kalau saya cek di Raspberry, untuk keperluan streaming tidak membutuhkan banyak processing CPU. Seringkali di bawah 10% penggunaan CPU. Tapi memang dibutuhkan jaringan yang cepat karena data yang di-streaming besar.

Baca selebihnya »

Membeli DVB TV µHAT untuk Raspberry Pi

Begitu tahu ada sebuah HAT baru untuk Raspberry Pi, yaitu DVB TV µHAT, mata saya langsung berbinar-binar. Ini sebuah HAT untuk Raspberry Pi yang sangat menarik. Saya pun langsung memesannya di ModMyPi (karena sayangnya Pimori tidak menyediakan pengiriman ke Indonesia). Berikut adalah link untuk pembeliannya: Raspberry Pi TV HAT (DVB-T & DVB-T2 uHAT).

Berhubung dikirim langsung dari UK, maka HAT ini baru sampai setelah hampir sebulan. Benar-benar sebuah penantian yang melelahkan dan semakin menambah rasa penasaran. Tapi begitu sampai tidaklah kecewa! Ini benar-benar keren.

Mengapa saya sangat tertarik dengan µHAT ini? Bukankah ada STB (set top box) yang jauh lebih murah? Sebagai informasi, harga STB termurah saat ini adalah Rp 200ribu. Bandingkan jika harus beli µHAT + ongkir, Raspberry Pi (B atau Zero W), micro SDCard, power supply, jatuhnya bisa berkali lipat harganya. Ini dia alasan saya:

  1. Tentu saja karena saya penasaran dengan µHAT ini. Sebelumnya saya sudah mencoba membuat Radio Internet dengan CHIP, sampai-sampai saya membuat sendiri shield/HAT untuk CHIP (baca: Internet Radio). Tentu saja saya sangat penasaran apakah Raspberry Pi bisa dijadikan engine Smart TV!
  2. Saya punya beberapa Raspberry Pi 3B dan Zero yang siap dijadikan eksperimen. Ini akan menambah fungsionalitas Raspberry Pi itu sendiri.
  3. Saya sangat tertarik dengan konsep server streaming. Ini artinya saya bisa menonton TV digital dari piranti apa saja, misalnya di smartphone, tablet/ipad, laptop/macbook, termasuk di Raspberry Pi.
  4. Alasan berikutnya adalah karena saya tidak punya TV dengan kemampuan penerimaan siaran digital (DVB-T/T2). Namun saya ingin menikmati siaran digital yang jernih itu. Sedangkan membeli TV DVB rasanya tidak mungkin karena sudah tidak ada tempat lagi di apartemen. Kalau di rumah Semarang sih sudah ada TV Digital.

Saya sudah mencobanya seminggu ini. Dan hasilnya memang keren dan jernih. Bisa merekam siaran secara terjadwal juga. Detail akan saya ceritakan kemudian ya. Karena tulisan ini sebagai pengantar saja.

Di bawah ini sumber bacaan untuk memulai menggunakan DVB uHAT dan konfigurasinya.

Nantikan lanjutan ceritanya ya… Salam.

PR Untuk CHIP OLED Internet Radio

Kemarin saya sudah berhasil membuat internet radio yang menurut saya keren (menurut saya saja loh ya). Radio sudah berhasil bekerja dengan baik. Namun ada beberapa hal yang perlu saya perbaiki. Tidak begitu penting sih, tapi belum berhasil saya buat. Berikut PR-nya:

  1. Scroll text untuk nama channel. Rupanya harus pakai virtual view port kalau menggunakan library dari Luma.OLED. Belum nemu cara semudah scroll text di LCD 16×2. Kalau bisa scroll kan keren, terutama untuk nama channel yang panjang. Saat ini saya cuma membatasi penamaan channel supaya tidak terlalu panjang. Tapi nama channel yang sudah terlanjur saya tulis panjang jadi terpotong, contohnya: Sonora Classic Rock.
  2. Tombol Shutdown belum berjalan dengan semestinya. Ini rada aneh juga sih karena beberapa cara yang saya tahu dan juga hasil googling di internet belum berhasil membuat CHIP shutdown. Ketika saya tekan tombol shutdown cuma keluar dari aplikasi radio, tetapi tidak membuat CHIP shutdown.
  3. Baterai untuk CHIP. Enaknya adalah CHIP sudah punya controller battery. Kita bisa memonitor status power, pakai baterai atau tidak, status pengisian, tegangan dan arus baterai, arus pengisian dan temperatur CHIP sehingga kita bisa bikin proteksi.
  4. Case/box untuk Internet Radio. Jadi pengen beli printer 3D. Hiks, harus nabung dulu.
  5. Membuat program untuk MP3 player. Jadi ketika CHIP tidak terhubung ke internet bisa memainkan file MP3. Memang sih internal storage CHIP saya cuma 4 GB yang sudah terisi OS dll sehingga tersisa sedikit. Namun enaknya adalah CHIP masih punya colokan USB. Jadi lagu-lagu bisa mengambil dari flashdisk.
  6. Apalagi yaaa? Cari ide dulu deh. Hehehe

Itu dia beberapa PR untuk CHIP radio internet ini. Kalau teman-teman mau bantuin juga boleh kok. Kalau sudah jadi saya dikasih tahu yaaa? Terima kasih.

Merapikan Penyimpanan Source Code

Rupanya saya sudah mulai harus merapikan penyimpanan source code dari proyek-proyek elektronika saya. Kenapa? Karena saat ini saya coding di beberapa device, yaitu:

  1. MacBook Air. Ada beberapa proyek yang saya program dari MBA ini. Sayangnya MBA pernah bermasalah dengan Wemos D1 Mini yang menggunakan driver CH340. Ini adalah chip yang bertanggung jawab menghubungkan komputer dengan Wemos D1 Mini sehingga kita bisa meng-upload program ke Wemos. Kalau Wemos D1 mini dicolokkan ke MBA, maka laptop langsung crash. Jadi saya tidak menggunakan MBA lagi untuk coding proyek elektronika, karena ternyata Arduino Uno versi cloning juga menggunakan CH340. Baru kemudian saya nemu solusi ketidakcocokan MacOS dengan CH340. Dan ironisnya solusi ini baru ada setelah beberapa tahun. Namun terlambat, saya sudah banyak coding di device lain.
  2. Laptop Acer kuno. Ini adalah laptop kuno saya. Sudah pensiun. Source code sudah saya backup ke harddisk external.
  3. Raspberry Pi. Ya… saya memang menggunakan Raspi untuk coding beberapa proyek, termasuk salah satunya adalah Radio Touchscreen. Masalahnya saya aktif coding di 2 Raspberry Pi. Satu Raspi dengan casing hitam dimana saya banyak coding untuk Arduino, Wemos, Nano, Micro, dll. Sedangkan satu Raspi yang telanjang dimana saya gunakan untuk coding beberapa proyek yang membutuhkan modul external seperti display TFT Touchscreen, dll. Untungnya saya tidak menggunakan 2 Raspi lain sebagai basis development. Saya masih punya Raspi Zero W dan Raspi model B versi pertama. Keduanya belum sempat saya oprek, hehehe…
  4. CHIP. Belakangan saya sering ngoprek CHIP. Sejatinya saya senang ngoprek CHIP ini. Sayangnya ngoprek CHIP ini seperti tidak punya masa depan, karena CHIP versi original sudah tidak dijual oleh NextThingCo. Sekarang NTC jualan PocketCHIP dan CHIP Pro saja. Di websitenya cuma ditulis kalau CHIP akan hadir kembali dengan CPU GR8. Tapi sudah lama berselang tidak keluar juga. Kemarin dapat info kalau ada startup baru yang membuat cloning CHIP, yaitu: Popcorn Computer. Konon pinout-nya sama dengan CHIP. Namun sayangnya Popcorn Computer ini terlalu mahal. Di situ tertulis $99 untuk 2 buah. Beda banget dengan CHIP yang cuma $9.
  5. Notebook Asus. Saya juga coding di laptop ini. Tidak banyak sih. Secara ini laptop milik kantor. Seingat saya, saya coding  Radio Mini dengan Wemos D1 Mini di laptop ini. Oh iya, hampir lupa, antrian wemos dan IoT dengan wemos ada di sini juga. Ini gara-gara MBA saya tidak bisa berkomunikasi dengan Wemos.

Nah, banyak kan? Belakangan saya sering bingung, code proyek ini dimana ya? Saya harus mengingat alasan-alasan mengapa saya harus coding di salah satu perangkat saya di atas, baru kemudian saya teringat. Hahaha…

Baca selebihnya »

CHIP OLED Radio Internet (versi 3) | Vlog

Ini masih membahas CHIP OLED Shield untuk C.H.I.P. Kali ini adalah contoh aplikasinya. Dan lagi-lagi saya membuat Radio. Bahkan ini berarti versi ke-3 untuk radio internet CHIP (baca: C.H.I.P Radio Internet versi 2). Ini karena saya menggunakan CHIP yang sama saat saya ngoprek radio internet sebelumnya.

Hanya saja, kali ini saya melakukan beberapa perbaikan, yaitu:

  1. Yang pertama sangat jelas, saya menggunakan CHIPOLED Shield. Yang berarti saya menggunakan display OLED mungil namun sangat jelas tampilannya dan hemat dayanya.
  2. Karena menggunakan CHIPOLED Shield, maka saya leluasa membuat kontrol untuk radio karena shield ini sudah dibekali dengan 5 buah tombol.
  3. Berbeda dengan sebelumnya yang menggunakan library vlc, untuk engine streaming kali ini saya menggunakan mpd/mpc. Terus terang saya mencontek cara yang digunakan oleh piradio.

Berikut adalah video-nya:

Baca selebihnya »

Testing CHIP OLED Shield | Vlog

Kalau kemarin saya bercerita tentang latar belakang CHIP OLED Shield dan bagaimana membuatnya, maka kali ini saya akan mencoba apakah shield Chipoled ini berhasil atau gagal. Kemarin saya baru mencoba fungsionalitas display OLED-nya. Walau pun cuma 0.96 inchi, tetapi display ini bagus. Selain sangat jernih dan kontras, display ini lebih hemat energi dibanding display non-OLED.

Dalam shield ini saya cuma membuat 5 tombol. Tadinya mau membuat 6 tombol, tetapi karena ruang terbatas dan demi kerapian tata-letak, maka saya cuma membuat 5 tombol. Di bawah ini adalah video testing CHIP OLED Shield ini:

Baca selebihnya »