Kejanggalan di The Fate of The Furious (Fast and Furious 8)

Gambar diambil dari Wikipedia

Saya baru saja nonton film The Fate of The Furious yang dikenal juga sebagai Fast and Furious 8. Memang rada telat sih nontonnya, karena film ini sudah main beberapa bulan yang lalu.

Menurut saya aksi mereka keren. Namun begitu saya menemukan beberapa kejanggalan. Tentu saja ini cuma menurut saya ya? Mungkin banyak orang tidak memikirkannya dan sekedar menikmati film ini sebagai hiburan. Hanya saja, saya kok merasa ganjalan ini perlu saya tuliskan, supaya tidak seperti duri dalam daging. Hayaaah… lebay.

EMP

Aksi pertama sebenarnya cukup keren. Tapi sepertinya diringkas saja sehingga langsung di adegan ketika tim berhasil mencuri EMP dan kemudian melarikan diri dengan aksi yang spektakuler. Adegan ini saya sebutkan janggal karena sebenarnya aksi paling sulit itu seharusnya saat masuk ke daerah militer dan kemudian mengambil senjata yang sepertinya sangat powerful itu.

Sepertinya kok senjata EMP ini cuma ada 1 ya? Kalau ada beberapa kan sebenarnya militer bisa menggunakannya untuk menembak timnya Dominic ini ya? Pasti langsung rontok semua mobil mereka itu. Xixixi…

God Eyes

Aksi yang juga cukup keren adalah pencurian piranti God Eyes di markasnya Nobody. Okelah, akhirnya piranti God Eyes ini tercuri oleh Dom & Cipher. Tapi yang menurut saya janggal, seperti halnya EMP yang sepertinya cuma 1, ternyata God Eyes ini juga cuma 1 ya? Lalu selama ini apakah tidak ada upaya backup atau reverse engineering gitu? Sehingga mestinya bisa melakukan pengawasan seperti halnya yang dilakukan Cipher dengan God Eyes-nya itu.

Read More »

Iklan

Vlog Ngomongin Wonder Woman

Kamu sudah nonton Wonder Woman? Minggu lalu saya sudah nonton. Keren banget sih. Ceritanya cukup mengharukan. Dan Gal Gadot yang jadi WW itu cantik banget. Tidak heran jika banyak cowok bakal jatuh cinta padanya.

Sebenarnya pas film Batman vs Superman si WW ini sudah nongol. Tapi bukan tokoh sentral. Dan di situ kok nampaknya biasa-biasa saja. Tidak ada kharismanya. Beda dengan di film WW yang kharismanya sangat kuat.

BTW, kalau belum nonton, mending buruan nonton deh. Dijamin gak nyesel, hehehe…

Kesalahan Waktu di Pound of Flesh

Sudah nonton film “Pound of Flesh” yang dibintangi Jean Claude Van Damme? Lumayan menghibur kan? Tapi saya melihat kejanggalan waktu di film ini. Mari kita lihat beberapa scene di bawah ini.

2015-04-29 23:05:27
2015-04-29 23:05:27

Dalam rekaman CCTV jalan tertera tanggal 29/04/2015 jam 23:05:27. Rekaman ini menunjukkan figur wanita yang membantu penjahat mencuri ginjal Deacon. Dari sinilah penyelidikan yang dilakukan kakak-beradik ini dimulai.

Read More »

Film Kepemimpinan

Saya sangat suka film perang China kuno seperti yang baru saja saya tonton, yaitu The Dragon Blade. Atau film-film lama seperti The Three Kingdoms, The Red Cliff, dll. Film peperangan memang tidak pernah menyenangkan mengingat kita disuguhkan kekejian. Namun terlepas dari itu, saya selalu tertarik ketika disuguhkan adegan kepemimpinan, baik kepimpinan yang baik mau pun yang jahat. Dan juga intrik perebutan kepimpinan atau kekuasaan, penghianatan dan balas dendam.

Yang membuat saya termenung adalah bagian kepimpinan yang baik, dimana dia mampu membuat para anak buah menjadi setia dan rela berkorban jiwa dan raganya demi visi dan misi yang diperjuangkan pemimpinannya. Dan pemimpin yang baik menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap visi dan misinya dengan rasa persahabatan dan kesetiakawanan yang tinggi serta penghargaan yang besar terhadap setiap anak buahnya. Pemimpin yang baik diperlihatkan dengan keteladanannya yang luar biasa sehingga para anak buah dapat begitu menghormatinya.

Dan dari film-film ini kita dapat belajar banyak. Selain belajar kepimpinan, juga nilai-nilai kemanusiaan dan juga strategi.


{Gambar dipinjam dari Wikipedia}

Sayangnya film-film Indonesia tidak banyak yang menggarap sisi kepemimpinan seperti ini. Mungkin tidak perlu berlatar belakang peperangan, cukuplah jika film kepemimpinan digarap dengan latar belakang berbeda seperti misalnya kepimpinan perjuangan bisnis, pembelaan hak asasi manusia. Atau yang ringan-ringan saja seperti kepimpinan kelompok belajar, band, daerah, dll.

Rasanya jenis film seperti ini perlu lebih diperbanyak mengingat kita membutuhkan banyak pemimpin. Namun sebelum film-film seperti ini banyak dibuat di Indonesia, kita perlu belajar dari film-film China dulu. Asal dipetik yang baik. Yang buruk dibuang saja, hehehe…

Sensor di Buku

Ketika terjadi kehebohan buku “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” tempo hari, jadi terbesit di pikiran (hayah, kayak ngga ada lagi yg dipikirkan ya?), apakah bisa dilakukan sensor di buku? Kalau kita amati sensor di film, maka kita akan lihat blur saat ada gambar yang disensor, atau suara “tiiiit” sepanjang ucapan yang disensor. Tapi bagaimana dengan buku?

Kalau di blog sih seringkali kata yang disensor (oleh penulisnya sendiri) digantikan dengan “*” (bintang) atau karakter lain. Tapi seringkali penggantian karakter ini hanya di karakter tertentu sehingga kata aslinya masih bisa ditebak. Contohnya: “p*n*s” yang masih bisa ditebak dari kata “panas” (hayah). Atau ada juga yang diganti total 1 kata dengan bintang, misalnya “*****”. Kalau diganti total dengan bintang sih jadi tidak tertebak kata asli yg dimaksud penulis.

Hehehe… rasanya tidak ada buku yg disensor model begini ya? Yang terjadi adalah buku tersebut sama sekali tidak bisa beredar. Kalau pun terlanjur terbit/cetak ya dibakar saja. Dan tidak boleh lagi dicetak.

Tapi mengapa film dan musik masih bisa beredar walau pun dengan sensor? Adilkah?

Cowboys vs Aliens

Terakhir nonton film tentang “aliens” kira-kira 2 minggu lalu saat menonton film bajakan berjudul “Cowboys and Aliens”. Habis itu daku berkesimpulan kalau film ini sama “jeleknya” dengan film horror Indonesia, hehehe. Percaya deh, ceritanya memang tidak bagus kok.

Tapi yang daku mau tulis di sini bukanlah ceritanya, melainkan sosok alien itu. Entah mengapa alien dalam film digambarkan sangat menyeramkan, bahkan sosoknya lebih cenderung seperti binatang. Ada juga film yang menampilkan alien berbentuk mirip laba-laba, gurita atau pun reptil. Bagiku, ini agak menggelikan karena dengan fisik yang njelimet dan seperti binatang, mereka ini bisa menerbangkan pesawat untuk menginvasi bumi.

Lha kemudian penampilan mereka yg super menyeramkan plus nggilani itu tentu bertolak belakang sama manusia yang dewasa ini semakin cantik, ganteng dan modis penuh warna. Lha kalau alien warnanya itu-itu saja, cenderung gelap dan sulit dibedakan alien yang satu dgn yg lain.

Akhirnya memang film2 bergenre alien ini tidak jauh beda dengan film horror Indonesia.

Nazaruddin, Lie to Me

Daku adalah salah satu penggemar serial TV Lie to Me yang saat ini diputar di B Channel. Film ini bercerita tentang keahlian Dr. Cal Lightman (diperankan oleh Tim Roth) dan koleganya dalam membongkar berbagai kasus yang tidak bisa dibongkar oleh pihak penegak keadilan. Asyiknya, pendekatan yang digunakan tidak melulu berdasarkan fakta/bukti di lapangan, karena biasanya fakta/bukti di lapangan sudah direkayasa atau sulit dikaitkan antara satu dengan yang lain. Jadi pendekatan yang dilakukan adalah dengan membongkar para individu yang terkait dengan kasus tersebut.

{Gambar diambil dari situs resmi Lie to Me}

Dalam serial ini Dr. Cal Lightman selalu dapat menemukan gerak-gerik alias bahasa tubuh yang bisa menunjukkan kalau si tersangka berbohong, berkata benar, atau menyembunyikan sesuatu. Jika ditengarai si tersangka menyembunyikan sesuatu, maka dengan cerdiknya Dr. Cal Lightman dan kolega akan menemukan apa itu. Tentu seringkali harus melibatkan individu lain di sekitar tersangka. Kadangkala si tersangka ternyata bukanlah pelaku kejahatan yg sebenarnya, tetapi berusaha menutupi si pelaku kejahatan yang sebenarnya.

Read More »