Samsung Gear Sport Smartwatch

Beberapa waktu yang lalu saya sedih karena ingin ganti jam. Jam Sony Smartband Talk SWR30  yang telah saya pakai selama lebih dari 3 tahun ini sudah baret dan serasa ketinggalan jaman. Terus lihat-lihat jam analog dan smartwatch di toko online yang indah dan keren tapi kok mahal-mahal banget ya? Apalagi yang punya logo buah itu. Fiuhhh…

Ketika memendam keinginan untuk membeli jam, mendadak dapat email dari Dicoding kalau saya memenangkan salah satu challenge dan mendapatkan poin 10,000. Wow… Lumayan banget loh poin segitu. Ditambah poin saya sebelumya, maka total poin saya 11,400. Saya pun semangat ke toko Dicoding siapa tahu bisa dapat jam. Dan ternyata poin saya cukup untuk membeli Samsung Gear Sport Smartwatch. Kebetulan banget ya?

Tapi di bawah Samsung Gear Sport Smartwatch ada smartphone Samsung Galaxy A6+. Mendadak kok jadi bimbang dan ragu mau nebus Gear Sport atau Galaxy A6+, hahaha… Tapi akhirnya saya memantapkan diri menukarkan poin dengan Samsung Gear Sport Smartwatch yang sebenarnya tahun lalu waktu peluncurannya sudah memikat hatiku.

Dan hari Minggu kemarin paket datang. Betapa senangnya hatiku (hehehe lebay). Ini dia foto-fotonya.

 

Yang saya suka dari smartwatch ini adalah karena tampilannya bisa diubah-ubah. Banyak sekali opsi yang bisa di-download, baik yang gratis mau pun yang berbayar. Baik yang analog, digital mau pun hybrid. Baik yang simpel mau pun yang ruwet, semuanya ada. Kita juga bisa install aplikasi-aplikasi lain seperti kalkulator, shutter untuk kamera, remote shutter untuk GoPro dan banyak lagi.

Fitur keren lainnya adalah heartbeat monitor. Fitur ini bisa menghitung detak jantung kita dan memberikan info sebaiknya ada di berapa bpm (beat per minute) saat istirahat, kegiatan normal mau pun aktif/berolah raga.

Sebenarnya masih banyak fitur keren lainnya seperti penghitung langkah kaki, berapa lantai tangga, olah raga, dan lain-lain. Bisa jadi panjang kalau dibahas semua, hehehe…

Tapi  yang ingin saya sampaikan dari tulisan ini adalah bahwa kadang kala kita memiliki suatu keinginan tapi kita tidak mampu membelinya, entah karena tidak punya uang atau tidak punya budget untuk membelinya atau tidak ada kesempatan. Namun ternyata kita masih punya saluran lain untuk bisa mendapatkannya. Pasti ada jalan. Tuhan memang punya jalan yang seringkali berbeda dengan apa yang bisa kita pikirkan.

Nah salah satu jalan yang mungkin bisa kita jalani adalah lewat Dicoding. Ini adalah suatu wadah bagi para developer untuk belajar pemrograman dan mengikuti challenge. Setelah belajar dan memenangkan challenge kita bisa mendapatkan poin experience dan poin reward. Nah poin reward ini bisa digunakan untuk membeli gadget keren. Coba deh lihat daftar reward di Dicoding! Keren-keren loh! Ada laptop canggih, PC gaming, tablet terbaru, smartphone populer, smartwatch, dll. Ada juga tas, kaos, dll.

Dicoding ini berguna banget buat para developer. Selain wadah untuk belajar, juga untuk menempa diri dalam bentuk challenge. Kalau menang bisa jadi portfolio yang mungkin berguna bagi karir kita.

Dah gitu aja tulisan ini. Selain pamer Smartwatch baru juga sekalian mengenalkan Dicoding buat Anda semua. Semoga berguna.

Salam.

Iklan

Unboxing GoPro Hero5 Black

Ketika GoPro merilis update terbaru line up kamera actionnya bulan lalu, yaitu GoPro Hero5 Black dan GoPro Hero5 Session, saya jadi berpikir untuk memilikinya. Kebetulan di sebuah situs toko online menawarkan preorder. Langsung saja saya memesannya 1.

Setelah menunggu 11 hari, akhirnya GoPro Hero5 Black sampai ke tangan saya. Berikut adalah video unboxing-nya:

Sebenarnya hari Jumat (tgl 21/10/2016) barang sudah mulai dikirimkan ke para pembeli. Tapi saya masih di Semarang. Jadinya galau juga karena ingin segera mencoba GoPro.

Hari Minggu malam ketika tiba kembali di Tangerang, dari bandara saya langsung ke kantor untuk mengambil paket. Niat banget ya? Hehehe… Dan langsung saja bikin video unboxing ala kadarnya, hehehe… Maaf suara di video rada berantakan karena kabel mic kesenggol tanpa saya sadari sehingga bersuara-suara.

Ini adalah action camera pertama saya. Kayaknya asyik dibawa kemana-mana (baca: bertualang) atau untuk membuat video ngoprek.

Antrian Motorola Moto E di Lazada

Kali ini Lazada menawarkan pre-order untuk Moto E dengan harga Rp 1.299.000. Bisa dibilang sangat terjangkau bagi pendamba smartphone. Tapi apakah harganya layak? Mengingat sebelumnya Lazada menjual Xiaomi Redmi 1S dengan harga yang lebih mahal sedikit tapi memiliki spesifikasi jauh lebih baik.


{Foto dipinjam dari www.gsmarena.com}

Kalau kita simak spesifikasinya, jika dibandingkan dengan Xiaomi Redmi 1S, maka Moto E sangat inferior. Prosesornya menggunakan Qualcomm Snapdragon 200 yang “cuma” dual core 1.2 GHz Cortex A7 yang disandingkan dengan GPU Adreno 302. Coba dibandingkan dengan Redmi 1S yang berani mengusung prosesor Qualcomm Snapdragon 400 MSM8228 yang punya core 4 buah dengan clock 1.6 GHz Cortex A7 dan disanding dengan GPU Adreno 305.

Baca lebih lanjut…

Benchmarking Xiaomi Redmi 1S dengan Antutu

Setelah mencoba beberapa hari dengan ketahanan baterai yang lumayan, saya pun mencoba melakukan benchmark Redmi 1S. Saya menggunakan program Antutu Benchmark 5 yang saya download dari Google Playstore.

Hasilnya keren, pada percobaan pertama Redmi 1S dapat skor 20146. Berikut screenshot-nya:

benchmark_redmi

Sayangnya percobaan ke-2 cuma dapat skor 18141. Hasil ini termasuk lumayan ya? Bisa mengalahkan beberapa smartphone dengan harga di atasnya.

Lanjut »

Bekerja Dengan Samsung ATIV Book 9 Lite

Sudah lebih dari 2 minggu saya menggunakan Samsung ATIV Book 9 Lite. Nampaknya kinerjanya kurang dibanding notebook saya sebelumnya, yaitu Acer V5-471G 53334G50Mabb. Jelas saja begitu karena spesifikasinya beda jauh walau pun secara harga ATIV Book 9 Lite lebih mahal. Seperti pada penggunaan prosesor AMD A6 1GHz di ATIV Book 9 Lite vs Intel Core i5 1.8GHz di Acer V5. Sedangkan RAM sama-sama DDR3 dengan kapasitas 4 GB.

CPU Utilization
CPU Utilization

Keunggulan dari ATIV Book 9 Lite adalah penggunaan media penyimpanan SSD yang walau pun kapasitasnya cuma 128 GB tetapi memiliki kecepatan yang jauh lebih baik dari pada harddisk biasa. Di samping tentu saja adanya fitur Touchscreen. Acer V5 sendiri juga mengeluarkan opsi layar Touchscreen. Sayangnya waktu itu kami tidak membeli V5 dengan fitur Touchscreen karena pertimbangan harga.

Saat saya gunakan untuk bekerja, ATIV Book 9 Lite ini memang lebih lambat. Saya mencoba menjadikannya sebagai server Apache, PHP dan MySQL. Browsing beberapa situs berita yang penuh dengan animasi, mendengarkan musik, membuka facebook, gmail dan webmail, skype dan download film. Puncaknya saat saya mengeksekusi aplikasi pembuatan laporan. Ternyata prosesor terforsir, kadang stat sampai 100% dan clock mencapai 1.4 GHz. Oh iya, prosesor AMD yang digunakan bisa bekerja sampai maksimal 1.4 GHz saat dibutuhkan. Sedangkan urusan penampilan grafis sedikit beruntung karena ada prosesor khusus, yaitu GPU AMD Radeon HD 8250 sehingga interaksi touchscreen dan tampilan bisa berjalan lancar.

Keunggulan lain yang bagi saya termasuk menyenangkan adalah karena baterainya tahan sampai lebih dari 5 jam. Bagi saya ini suatu kemewahan, karena selama 5 jam lebih bisa bebas bekerja dimana saja tanpa perlu tergantung dengan colokan listrik. Notebook saya sebelumnya maksimal 4 jam. Sedangkan Acer V5 cuma bertahan maksimal 2.5 jam. Memang sih, notebook-notebook sebelumnya fokus di performa, sedangkan yang ini saya khususkan untuk bekerja ringan dan ngeblog saja. Kalau mau kerja serius bisa pakai notebook yg lain, xixixi…

Peralatan tempur pekerja IT
Peralatan tempur pekerja IT

Sejatinya dengan spesifikasi ATIV Book 9 Lite ini sudah lebih dari cukup untuk pengguna biasa. Namun untuk programmer seperti saya atau pekerja multimedia mungkin termasuk kurang bertenaga. Sayangnya saya tidak mencobanya untuk bermain game. Mungkin lain waktu ya. Tapi untuk memainkan film resolusi tinggi lancar-lancar saja.

Menabung atau Berhutang?

Saya ingin membeli gadget baru. Sayangnya saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Apalagi harganya sangat mahal. Apa yang harus saya lakukan?

Hehehe… ini pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada diri saya sendiri. Dan saya pun berpikir keras supaya dapat membelinya. Yang terpikir adalah, apakah saya akan menabung atau membelinya secara kredit?

Jika saya memilih menabung, berapa uang yang dapat saya sisihkan setiap bulan dan berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk dapat mengumpulkan uang sebesar harga gadget tersebut?

Untunglah saya menemukan artikel bagus dari LiveOlive.com yang berjudul “Bagaimana Saya ‘Menemukan’ Ekstra Rp 1 Juta Tiap Bulan”. Artikel ini mengajak kita semua supaya mulai mempelajari pengeluaran kita. Kita harus mulai mempertimbangkan pos-pos pengeluaran kita. Hilangkan pos-pos yang tidak perlu. Jika bisa dihemat, kita bisa menabung lebih banyak.

Oh iya, sebaiknya menabung dilakukan di bank yang terpisah dengan bank utama kita. Maksudnya supaya tidak terpakai secara tidak sengaja. Kalau perlu kita tidak punya ATM di bank khusus tabungan ini.

Opsi kedua adalah membelinya secara kredit. Keuntungan membeli dengan kredit adalah kita bisa membelinya saat itu juga. Kita dapat mencicil pembayarannya. Untunglah saat ini banyak kartu kredit yang mengenakan bunga 0% untuk jangka waktu 6 sampai 12 bulan. Program ini sangat menguntungkan bagi kita yang memang sangat membutuhkan pembelian mendesak.

Dengan opsi kredit yang cukup menguntungkan seperti ini, pertanyaannya menjadi: apakah saya membutuhkan pembelian gadget saat ini atau bisa ditunda? Jika bisa ditunda, maka saya akan menabung terlebih dahulu baru kemudian membelinya. Namun jika barang tersebut memang benar-benar saya butuhkan segera, maka mau tidak mau saya harus menggunakan kartu sakti tersebut.

Bagaimana pun juga penggunaan kartu kredit harus dilakukan dengan bijaksana dan penuh perhitungan. Jangan sampai kita kelewat banyak membeli barang dengan kartu kredit. Karena jika kita melakukan pembelian tanpa promo, sebenarnya bunga per bulannya sangat tinggi.

Untuk memproteksi pembelian yang kelewat besar, kita perlu mempertahankan limit maksimal pembelian kartu kredit kita tetap kecil. Biasanya pada awal kepemilikan kartu kredit, limit yang ditetapkan bank kecil, kecuali jika kita menggunakan kartu platinum. Namun jika pembayaran kredit kita lancar, biasanya pihak bank akan menawarkan kenaikan limit.

Selain itu, kita perlu disiplin dalam membayar kartu kredit. Paling tidak, kita harus membayar sebesar minimum yang diperbolehkan. Jangan sampai kita terlambat membayar atau malah tidak membayarnya sama sekali karena biasanya akan dikenakan penalti.