Bakar Kapal

{ Ketika akan memposting artikel ini, daku merasa kalau ada pecinta kapal yang akan sebel padaku karena ada acara bakar-bakaran kapal di sini. Namun artikel yang juga dimuat di IndoConsulting dan di Usaha (Menyesatkan Pekerja & Memotivasi Pengusaha) ini akan tetap daku posting di sini. Maafkan daku karena telah mengecewakan para pecinta kapal. }

Cerita ini kudapat dari seorang motivator terkenal. Dan akan kuceritakan kembali di sini. Tentu dengan gaya bahasaku sendiri yaaa… Ceritanya tentang kehebatan Napoleon Bonaparte yang tidak pernah kalah dalam perang. Sedemikian hebatnya pasukan Napoleon ini begitu menarik untuk kita pelajari bersama.

Lalu apa yang membuat superioritas pasukan Napoleon? Ternyata setiap menyerang suatu pulau, sesaat setelah mendarat, Napoleon menyuruh pasukan untuk membakar kapalnya. No way to return. Hanya ada 2 opsi tersisa, pasukan harus menang, atau kalah dan mati semua. Atas strategi ini, pasukan menjadi sangat termotivasi untuk menang, terutama karena mereka tidak ingin mati. Tidak heran pasukannya selalu menang dalam peperangan.

Baca selebihnya »

Inspirasi Hari Ini: Maaf Proaktif

Sebagai manusia sosial yang tidak sempurna, tentu ada kalanya kita menghadapi suatu masalah dengan sesama yang membuat hubungan menjadi renggang atau malah putus sama sekali. Dan hilanglah harmoni di antara sesama. Kalau di posting sebelumnya kita membahas “Maaf” dalam konteks kita yang bersalah dan kemudian mengucapkan kata “maaf”, maka kali ini kita akan membahas “Maaf yang Proaktif.”

Maaf yang proaktif adalah ucapan maaf dari kita saat kita menghadapi suatu masalah dengan sesama walau pun sebenarnya kita tidak bersalah. Maaf yang proaktif ini merupakan upaya pendamaian karena terjadi masalah pada hubungan dengan sesama.

Mungkin orang lain yang bersalah atau memusuhi kita, dan akibatnya hubungan kita dengannya menjadi tidak sehat. Namun apa salahnya kita meminta maaf duluan? Inilah “maaf yang proaktif.”

Baca selebihnya »

Inspirasi Hari Ini: Maaf

Sebagai manusia yang tidak sempurna, kita tentu seringkali berbuat salah, dosa, kejahatan, kegagalan, kelalaian, atau perbuatan lain yang bisa saja merugikan orang lain. Namun kata “maaf” ini mengapa sulit sekali keluar dari mulut?

Kita semua tahu bahwa kesederhanaan kata “maaf” yang hanya terdiri 4 huruf ini menyimpan sesuatu yang sangat besar. Dan membuat kita enggan dan menghindari kata “maaf” ini.

1) Kata “Maaf” merupakan pengakuan dan penyesalan atas kesalahan, dosa, kejahatan, kegagalan, kelalaian, atau perbuatan kita yang merugikan orang lain atau melanggar hukum. Seringkali kita berasa berat sekali mengakui kesalahan kita. Entah karena ego atau malu?

Baca selebihnya »

Inspirasi Hari Ini: GOD Bless You

Kalau kemarin kita mengulas kerendah hatian dalam bentuk ucapan terima kasih, maka hari ini kita akan mengulas kemurah hatian dalam bentuk ucapan “God Bless You” (Tuhan memberkati Anda).

Mungkin tidak banyak orang yang mengucapkan “God Bless You” atau yg sering kita singkat sebagai GBU. Dan kita jarang mendengar kata GBU. Namun GBU ini sudah sangat populer sekali di kalangan Kristiani. Dan saya rasa setiap orang seharusnya juga mengucapkan GBU kepada orang lain.

Mengapa?

1) Kita bisa memberi kalau kita mempunyai. Kita bisa memberi dengan “kelimpahan” kalau kita mempunyai “kelimpahan” itu. GBU adalah suatu pengakuan bahwa kita mendapatkan “kelimpahan” berkat dari Tuhan, dan kita berkenan membagikannya kepada sesama.

Baca selebihnya »

Inspirasi Hari Ini: Terima Kasih

Berapa kali dalam sehari kita mengucapkan kata “terima kasih”? Dalam konteks apa kita mengucapkan kata “terima kasih”? Kepada siapa kita mengucapkan kata “terima kasih”? Atau malah seringkali kita lupa mengucapkannya?

Bagi sebagian orang, mengucapkan kata “terima kasih” adalah suatu hal yang sulit. Bagi sebagian yang lain, ucapan “terima kasih” hanya diberikan kepada seseorang yang telah memberikan uang atau kado kepadanya. Atau diucapkan ketika orang lain berhasil membantu kita secara profesional.

Namun apakah kita mengucapkan “terima kasih” untuk ibu/istri yang telah menyiapkan makan pagi kita? Apakah kita mengucapkan “terima kasih” pada ibu/istri yang membangunkan kita pagi ini sehingga kita tidak terlambat pergi bekerja atau ke sekolah? Atau malah ngomel? Hihihi…

Apakah kita mengucapkan “terima kasih” kepada tukang ojek atau sopir angkot yang telah mengantarkan kita dengan selamat sampai tujuan? Apakah kita mengucapkan “terima kasih” kepada ibu kantin yang telah menyediakan kita makan?

Baca selebihnya »