Pantai Losari Kini

Pertama kali ke Makassar dan ke Pantai Losari sekitar tahun 2007 saat masih berkarir di Sisfo Kampus. Kalau menilik ke tahun 2007, perbedaannya banyak. Sekarang Pantai Losari sudah direklamasi dan sudah bersolek cantik sehingga bisa menarik masyarakat untuk berwisata ke Pantai Losari.

Pembangunan area sekitar pantai juga pesat. Sudah banyak bangunan modern di sekitarnya. Sayang tidak diikuti pelebaran jalan sehingga terkesan padat. Kalau Sabtu-Minggu dijamin padat. Apalagi Minggu pagi dimana diberlakukan car free day dan banyaknya masyarakat yang berolah raga sepeda.

IMG_00002142

Kemarin sore kami menyempatkan diri main ke Pantai Losari. Kebetulan di situ sedang disetting panggung besar. Mungkin akan ada konser musik. Selain banyak kru yang men-setting panggung banyak pula masyarakat yang berekreasi sambil foto-foto. Tentu saja daku tidak mau kalah narsis (*bletak*), hehehe…

Numpang narsis
Numpang narsis

Baca selebihnya »

Tidur Seperjalanan

Seperti biasa, kalau melakukan perjalan udara daku selalu minum Antimo sebelumnya. Demikian pula kemarin pagi saat akan terbang ke Pekanbaru dalam rangka tugas. Efeknya luar biasa, ngantuk banget, apalagi kemarin pakai penerbangan yang jam 06:00. Begitu duduk di pesawat langsung tertidur.

Ternyata pesawat delay karena first officer (mungkin co-pilot) sakit dan harus menunggu penggantinya. Karena tertidur nyenyak, daku tidak tahu kalau pesawat harus menunggu 1 jam. Bahkan saat take off daku nggak sadar. Hahaha…

Daku baru terbangun saat pesawat akan landing. Benar-benar tidur yang nyenyak. Padahal antimo-nya cuma minum setengah. Mungkin karena masih ngantuk akibat bangun jam 3 pagi.

Warna Cewek

Tempo hari daku membeli tas kecil untuk tempat tablet PC. Sayangnya hanya ada 1 warna untuk model tas yang menurut saya keren dan cukup untuk Tablet PC 10.1″, yaitu Ungu. Hanya saja, ketika daku pakai tas ini ke kantor selalu mengundang komentar seperti, “Pak, tasnya bagus”, “Wah tasnya keren”, “Pak, saya naksir deh tasnya”, “Pak, tasnya lebih pas kalau saya pakai.” Dan semua yang memberikan komentar adalah wanita.

Tas Ungu
Tas Ungu

Seandainya saja tas ini warnanya hitam atau coklat tua, daku yakin tidak banyak yang komentar. Daku sadar kok warna ungu ini memiliki stereotipe wanita atau malah dulu sering disebut “warna janda”. Entah mengapa bisa diberi julukan “warna janda” ya? Ada yang tahu asal muasalnya?

Daku sendiri tidak terlalu mempermasalahkan warna karena daku sering juga pakai baju warna merah, mobil maroon, koper maroon, kaos oranye atau pink, dan warna-warna lain yang seringkali diidentikkan dengan warna perempuan.

Mengenai koper maroon daku punya cerita tersendiri ketika sedang antri di conveyor pengambilan bagasi. Saat itu daku menunggu koper maroonku. Ketika daku lihat koper maroon itu, daku pun menunggu sampai tas itu tiba di tempat daku menunggu. Lha tapi kok belum sampai di depanku seorang gadis mengambil koper itu. Langsung saja daku dekati dan amati tas itu. Kayaknya itu memang benar tasku, tapi kok diambil gadis itu.

Koper Maroon
Koper Maroon

Gadis itu nampaknya tahu kalau daku mencurigainya lalu dia bilang, “Ini koper saya, Pak. Nih ada nama saya.” Kata gadis itu sambil menunjukkan tulisan pen kecil di kopernya. “Itu tuh koper Bapak,” katanya kemudian sambil menunjuk koper warna ungu yang sedang nongkrong dengan manisnya di conveyor.

“Oh iya. Maaf ya.” Hehehe… daku pun minta maaf dengan malu.

Sebelum membeli koper warna maroon ini daku berpikir kalau koper warna maroon ini agak norak. Mungkin tidak banyak yang membeli sehingga daku pun membelinya dengan harapan kalau di bandara tidak perlu kesulitan mengidentifikasi koper karena warnanya yang beda dan mencolok. Namun pemikiranku ternyata salah. Hehehe…

Anak Kecapaian

image

Ini adalah foto yang daku ambil (*curi tepatnya, karena tidak minta ijin*) di sebuah mall. Sebelumnya Sang Anak sempat membuat pengunjung mall kaget, terlebih diriku yang saat itu ada di dekatnya. Balon Sang Anak pecah entah mengapa, dan membuat suara ledakan yang dahsyat. Untungnya jantungku sehat, demikian juga dengan jantung banyak orang di dekatnya. Sang Anak melongo dengan mata berkaca-kaca. Daku yakin dia pun sangat terkejut.

Sang Anak pun kemudian digendong kakaknya (*mungkin itu kakaknya*). Sementara Si Ibu tetap lahap meneruskan makannya. Sang Kakak menggendong Sang Anak agak lama sampai Sang Anak terkantuk-kantuk. Sementara Si Ibu terus melahap makannya yang di mataku kok sepertinya tidak habis-habis. Daku iba juga dengan Si Kakak yang kurus namun harus menggendong adiknya yang gendut itu. Hingga akhirnya Sang Anak pun tertidur. Itu berarti saatnya Sang Kakak bisa duduk sambil tetap menggendong adiknya.

Baca selebihnya »

Jalan Pantura Rusak

Dalam perjalanan pergi-pulang Tangerang-Semarang ini menyimpan kekesalan karena banyak jalan yang rusak di Pantura (Pantai Utara). Kalau pun ada yang mulus cuma beberapa kilometer, setelah itu rusak ringan dan parah. Adanya beberapa perbaikan jalan membuat macet sampai beberapa kilometer, hiks…

Selain berpotensi merusak mobil, terutama di sektor kaki-kaki, jalan rusak ini sangat berbahaya bagi pengendara motor. Seperti kita tahu, mengendarai motor itu seperti akrobat karena mengandalkan keterampilan dalam hal kendali dan keseimbangan. Lengah sedikit saja, atau jika tidak sengaja terkena lubang jalanan, keseimbangan dan kendali bisa hilang. Jatuh saja sudah sakit dan bisa menghilangkan nyawa, apalagi jika harus tertabrak dari belakang. Membayangkan saja sudah ngeri banget. Hiiii… (bergidik)

Selain kesal karena jalan rusak, perjalanan ini juga menyisipkan rasa ngeri karena bayangan tadi. Maklum, daku lihat di berita banyak kecelakaan parah yang menghancurkan. Maka daku pun nyetirnya benar-benar waspada dan jaga jarak, apalagi jika ada pengendara motor di sekitar. Hanya saja sayangnya banyak pengendara motor yang ugal-ugalan juga. Yowis ngalah saja, jaga jarak, jangan sampai tersenggol. Kalau pun mau pindah jalur harus nyalakan lampu sein dan pindahnya perlahan-lahan sambil ngawasin area belakang dan samping dibantu spion, kalau perlu nengok supaya bisa melihat sekitar dengan baik. Lebih baik hati-hati dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Begitu masuk tol rasanya merdeka, tancap gas, tak terasa menembus 140 km/jam di 3,500-4,000 rpm saat menggunakan Mbak Vega. Wusss… Teringat kalau harus hati-hati, jadilah ngerem dan membatasi diri maksimal 120 km/jam saja, hehehe… BTW, Mbak Vega enak juga diajak ngebut, tenaganya bagus, hehehe…