Day #1 Without Coffee

Kira-kira 100 tahun yang lalu saya punya teman kerja yang hobinya minum kopi. Tiada hari tanpa minum kopi. Jadilah saya mencoba minum kopi. Hari pertama minum kopi sungguh tidak menyenangkan karena malamnya saya tidak bisa tidur dan jantung berdebar-debar.

Tapi besoknya saya minum kopi lagi karena setiap meeting dan melihat teman minum kopi itu rasanya kok nikmat & asyik banget. Apalagi katanya kopi bisa membuat pikiran lebih konsentrasi, menambah stamina dan membuat tidak ngantuk di jam kerja sehingga bisa lebih produktif. Setelah beberapa hari minum kopi rupanya tubuh saya sudah mulai bisa beradaptasi. Jantung tidak lagi berdebar-debar. Dan malamnya saya tetap bisa tidur, asal minum kopinya tidak kesorean.

100 tahun kemudian saya masih minum kopi. Kopinya juga sudah macam-macam, dari yang kandungannya lunak sampai yang keras, dari yang hitam sampai yang dicampur macem-macem, dari buat sendiri sampai ke cafe, dari yang sachetan sampai yang buatan barista, dari yang lokal sampai yang import, dari yang kotak, botol, mug sampai tumbler, pokoknya sudah banyak deh… maklum sudah 100 tahun ngopi, hahaha…

Baca selebihnya »

Iklan

Ulasan Kuliner yang Tidak Enak?

Kalau membaca ulasan-ulasan kuliner di blog, rasanya selalu menarik dan membuat air liur menetes (hiii…). Kesannya enak banget gitu. Jadi pengen ikut merasakan juga.

Namun apakah makanan/minuman yang diulas itu benar-benar enak? Menurutku, tidak menjamin. Bisa jadi tidak sesuai dengan lidah kita. Suatu saat daku membaca twit seseorang yang suka mengulas kuliner, dia berkata kalau semua yang diulasnya pasti enak, karena kalau tidak enak pasti tidak akan dia ulas.

Lalu daku pun terusik dengan subyektivitas ulasannya. Pertama, mungkin makanan yang dia ulas cocok dengan lidahnya, tapi belum tentu cocok dengan lidah orang lain. Seperti contohnya lidah orang Jogja yang lebih senang makanan manis, sedangkan orang Jawa Tengah lebih suka yang gurih. Tentu beda dengan orang Padang yang suka pedas dan bersantan kental. Bahkan urusan lidah ini menjadi masalah besar bagi beberapa orang Indonesia yang ke luar negeri. Konon mereka harus beradaptasi cukup keras untuk bisa menerima masakan lokal di sana.

Kedua, sepertinya makanan/minuman yang tidak enak berhak pula diulas. Walau pun tentu tidak dengan maksud menjatuhkan Si Pengusaha makanan, tetapi sepertinya perlu juga diapresiasi dalam tulisan publik. Bisa kan mengulasnya dari sisi yang lain? Misalnya nuansa, dekorasi restoran, atau keunggulan-keunggulan lain. Seperti halnya Starbucks yang minuman/makanannya itu-itu saja, tidak ada yang istimewa, tetapi tetap layak untuk diulas. Dan nyatanya kesuksesan Starbucks tidak hanya karena minuman/makanannya, tetapi karena konsep experience yang dia unggulkan. Inovasinya mendobrak budaya minum kopi di Amerika. Dan sekarang sudah merombak konsep “ngopi” di Indonesia juga.

Anda punya pendapat lain?

Nyobain Kopi Grande Java Latte

image

Kata teman-teman kopi baru ini enak. Iklannya juga sedang banyak tayang di TV. Daku pun ingin mencobanya.

Pagi yang cerah di hari Minggu, sambil nunggu cucian, daku pun membuat sarapan mie dan kopi Kapal Api Grande Java Latte ini. Sebenarnya bukan kombinasi yang keren ya? Mie dengan kopi, hehehe… Tapi acara nyobain kopi terus kulanjutkan.

Rasanya agak ringan, tidak terlalu kental rasa kopinya. Cukupanlah. Berhubung lidahku bukan pencita rasa ulung bak pakar, jadi daku cuma bisa bilang: lumayanlah… Mungkin bagi penggemar kopi betulan rasanya kurang tegas. Tapi bagi peminum kopi sesekali kayak daku ini ya lumayanlah.

Belum tahu juga apa ada efek ke perut bagi yang sensitif terhadap kopi. Soalnya sekarang banyak kopi yang bersahabat dengan perut sensitif, seperti kopi decaf atau white coffee. Syukurlah daku tidak sensitif terhadap kafein.

Kopi Cappuccino

Di antara jenis-jenis kopi yang ada, daku paling suka Cappuccino. Selain enak, penyajiannya juga atraktif, misalnya dengan membentuk busanya menjadi hati, daun, dll (*jadi sayang utk meminumnya, hehehe*). Asyiknya kini untuk menikmati Cappuccino tidaklah perlu di Caffè lagi karena sekarang telah bertebaran kopi Cappuccino instant. Tinggal disedu dan ditambahkan topping.

Dalam posting ini, perkenankanlah daku meng-upload foto Cappuccino yang sama sekali tidak artistik. Apalagi penyajiannya di gelas tinggi. Benar-benar tidak matching dengan penyajian Cappuccino ala Caffè. Yang penting rasanya, Bung… (*hayah*)

Cappuccino ala Dewo
Cappuccino ala Dewo