Upgrade Asus TUF FX505DD Tahap 1

AMD Ryzen 5 3550H di laptop Asus TUF FX505DD bukanlah prosesor yang lambat. Seharusnya dia cepat. Namun di laptop TUF FX505DD ini terasa lambat performanya. Ada 2 hal yang membuatnya jadi lambat, yaitu:

  1. Harddisk 1 TB. Menjalankan sistem operasi Microsoft Windows dari harddisk menjadikan laptop terasa sangat lambat. Apalagi jika harus melakukan pekerjaan yang berat yang butuh akses ke storage. Contoh paling terasa adalah saat booting, perlu beberapa menit hingga muncul tampilan login. Saya yang terbiasa menggunakan MacBook Pro jadi sering sewot karena harus menunggu lama. Belum lagi lag yang terasa saat mau menjalankan aplikasi besar.
  2. RAM Single Channel. Sayangnya laptop ini datang dengan konfigurasi RAM single channel. Walau pun RAM 8 GB yang terpasang sudah merupakan versi sangat cepat, yaitu Hynix 8GB PC4-2666. Ironisnya 2 GB telah terpakai untuk internal VGA dari AMD, yaitu Vega 8. Sedangkan kartu grafis tambahannya, yaitu NVidia GeForce 1050 telah dibekali VRAM 3 GB.

Untungnya laptop TUF Gaming ini upgradeable, mudah untuk di-upgrade bahkan oleh penggunanya sendiri. Upgrade yang bisa dilakukan meliputi RAM, Harddisk, SSD (tersedia slot M.2) dan kalau tidak salah modul wifi juga bisa diganti.

Oleh karenanya saya memutuskan untuk meng-upgrade laptop ini secara bertahap. Tahap pertama adalah memasang SSD NVMe supaya masalah kelambatan karena bottle neck di storage dapat teratasi. Saya pun membeli SSD NVMe M.2 sebesar 256 GB dari V-GeN. Sebenarnya pengen sekalian beli yang 512 GB, tapi kok harganya nyaris 2x lipat yang bagi saya kemahalan. Jadi sementara saya beli 256 GB dulu. Toh harddisk 1 TB tetap akan saya pasang..

Tahap kedua adalah meng-upgrade RAM. Tapi untuk upgrade RAM ini menunggu ada rejeki dulu, soalnya lumayan mahal juga, hahaha…

Hari ini SSD NVMe ini datang dan saya pun segera memasang di laptop TUF FX505DD. Saya meng-install Ubuntu Desktop 19.04 di NVMe sedangkan Harddisk 1 TB tetap MS Windows apa adanya. Jadi laptop ini bisa dual boot. Saat awal dinyalakan ada opsi mau boot ke mana? Ubuntu atau Windows? Kalau saya sih jelas boot ke Ubuntu, hehehe…

Kesan saya tentang NVMe ini adalah luar biasa. Amat sangat jauh bedanya. Amat sangat terasa cepatnya. Untuk booting cukup beberapa detik saja. Dan Ubuntu jadi terasa gegas dan lag sangat singkat terasanya.

Laptop TUF Gaming FX505DD ini jadi terasa kencang sekali.

Backlight Keyboard Asus TUF FX505DD Tidak Menyala di Tombol Spasi

Saat install banyak hal di Asus TUF FX505DD mendadak saya tersadar kalau backlight keyboard di tombol spasi tidak menyala. Saya pun mengecek foto dan video saat pertama kali laptop ini dinyalakan. Ternyata memang tidak menyala backlight di tombol spasinya. Saya pun komplain ke supplier. Kata supplier backlight untuk spasi memang tidak menyala. Bahkan supplier sudah memvideokan laptop stok.

Kalau saya lihat di website resmi Asus TUF FX505 seri D (dengan prosesor AMD Ryzen 5/7) tampak bahwa backlight di spasi nyala. Coba teliti di website resminya: ASUS TUF Gaming FX505DD/DT/DU. Tuh kan nyala!?

Saya pun penasaran jadinya. Lalu saya pun melihat video beberapa review Asus TUF FX505DD dari beberapa reviewer/vlogger. Ternyata memang tidak nyala di unit yang mereka review. Berarti di seri FX505DD memang tidak menyala backlight di spasinya. Saya lihat di beberapa review di seri Intel juga tidak menyala. Tapi ada beberapa yang menyala. Jadi sepertinya tidak semua seri TUF ini nyala spasinya.

Sayangnya perihal nyala atau tidaknya ini tidak terdokumentasi dengan baik di website atau brosur Asus. Dan bahkan vendor tidak mengerti jelas masalah ini. Dan saya pun sempat khawatir apakah laptop yang saya beli ini ada cacat bawaan atau tidak. Syukurlah jika memang tidak menyala. Artinya laptop saya ini baik-baik saja.

Di bawah ini video backlight keyboard di laptop saya.

Nyobain Laptop ProGaming untuk Programming (Asus TUF FX505DD)

Bagi seorang programmer kayak saya, laptop adalah hal yang penting. Tidak hanya penting, tapi 1 saja tidak cukup. Jadi untuk menemani MacBook Pro 13″ saya pun membeli sebuah laptop cadangan. Karena cadangan, maka kriteria yang saya ajukan adalah: tidak bego-bego amat (maksudnya prosesor harus cukup kencang dan storage cukupan), terjangkau di kantong dan harus handal. Setelah melakukan pengamatan (bukan riset loh ya!) selama 3 bulan belakangan ini, akhirnya saya membulatkan diri membeli Asus TUF Gaming. Walau pun laptop ini Pro-Gaming, tapi saya akan menggunakannya untuk Programming, hehehe…

Mengapa saya membeli Asus TUF Gaming seri FX505DD? Bagi saya laptop ini sangat memenuhi kriteria saya:

  1. Tidak bego, alias harus pinter! Dengan dibekali prosesor AMD Ryzen 5 3550H, laptop dengan arsitektur Zen+ (peralihan dari aristektur Zen ke Zen2) ini konon setara dengan prosesor berforma tinggi dari Intel, yaitu seri i5 8300H yang sangat dikenal di laptop-laptop gaming entry level. Tambah gesit dengan dibekali kartu grafis Nvidia GeForce GTX1050 dengan VRAM 3GB. Paduan antara prosesor AMD Ryzen dengan kartu grafis Nvidia ini konon membuat laptop ini bisa memainkan game AAA dengan baik. Makanya saya menuliskannya sebagai laptop Pro-Gaming, hehehe…
  2. Terjangkau! Saya tidak bisa bilang laptop ini murah karena ya bagi saya laptop ini cukup menguras kantong. Tapi dibandingkan MacBook Pro yang harganya 23 jutaan itu jelas harga FX505DD bisa dibilang murah, tidak ada setengahnya. Bisa juga dibandingkan dengan seri DY yang lebih dulu diluncurkan. Bahkan dibandingkan seri DT dan DU yang diluncurkan bebarengan dengan DD. Dengan perbandingan ini, saya pun rela mengeluarkan kocek untuk menebusnya.
  3. Handal! Jujur saja, saya sangat suka ketika melihat iklan Asus yang menonjolkan jargon standard military grade MIL-STD-810G yang disematkan di laptop TUF-nya. Kehandalan ini sangat saya butuhkan mengingat saya bakal sering membawanya bepergian.

Selain itu ada alasan lain mengapa saya memilih membeli TUF FX505DD, yaitu:

  1. Saya membutuhkan layar 15.6″. Bagi seorang programmer, saya sangat suka melihat beberapa window sekaligus ketika coding. Misalnya untuk melihat IDE, browser (untuk mencari referensi atau tutorial/contoh) dan output (bisa emulator android, debugging, dll). Kadang pula perlu remote ke beberapa server untuk debugging dan menjalankan suatu proses. Intinya bakal banyak window atau aplikasi yang terbuka. Makanya saya sering menggunakan dual atau bahkan triple monitor. Dan kadang kala layar 13.3″ itu terlalu sempit! Kalau ditinggikan resolusinya, maka tulisan jadi sangat kecil sehingga membuat mata cepat lelah.
  2. Keyboardnya enak banget! Bagi seorang programmer, keyboard laptop ini seenak sebuah burger dari merek terkenal! Empuk, renyah dan bikin nagih. Bagi pengguna laptop Apple pasti bakal tau rasanya ketika mengetik menggunakan laptop Asus ini setelah bertahun-tahun menderita dengan keyboard MacBook Pro yang cetek dan berisik. Mau ngetik cepat dengan MBP? Wah jari malah sakit, hahaha…
  3. Tidak hanya empuk dan menyenangkan, keyboard dari TUF FX505 ini nyalanya berwarna-warni. Sangat entertaining. Saya jarang sekali menyalakan backlight keyboard MBP. Tapi menggunakan TUF ini serasa enggan mematikan backlight-nya. Enak dilihat. Baiklah, mungkin saya ndeso ya? Maklumlah, ini pertama kali beli laptop gaming, hahaha…
  4. Port-nya cukupan. Walau pun belum ada USB type-C dan slot SDCard, tapi dengan adanya 3 USB type-A, HDMI dan Ethernet sudah cukup menyenangkan. Coba bandingkan dgn MBP yang cuma punya 2 port USB Type-C, xixixi…

Walau pun banyak hal yang saya sukai dari laptop TUF gaming ini, ada beberapa hal yang kurang saya sukai, yaitu:

  1. Sistem operasinya Microsoft Windows. Saya tidak membenci Windows, tapi saya lebih suka menggunakan Ubuntu. Sayangnya saya tidak bisa beli laptop ini tanpa Windows karena dari sononya sudah di-bundling dengan Windows. Seandainya saja bisa beli tanpa Windows tentu saya akan sangat senang, di samping tentu saja bakal lebih murah lagi harganya.
  2. Layarnya bukan IPS. Cuma tertulis IPS-level yang artinya setara dengan panel IPS. Yang saya rasakan adalah warnanya kurang kontras/cerah dan layarnya kurang terang. Lagi-lagi pengguna MBP bakal segera menyadari kekurangan ini.
  3. Konfigurasi RAM cuma single channel. Konon AMD Ryzen akan bekerja optimal ketika menggunakan RAM dual channel. Ini artinya saya harus menabung untuk membeli 1 lagi keping RAM.
  4. Masih menggunakan harddisk untuk storage utamanya. Ini artinya lambat dan rentan rusak ketika terbentur atau jatuh. Dan lagi usia pakai harddisk lebih singkat dari pada SSD. Walau pun demikian kapasitasnya lumayan lega, yaitu 1 TB. Artinya saya bisa buat beberapa VM di sini. Tapi sudah sewajibnya saya harus menabung untuk membeli SSD NVMe.
  5. Touchpad-nya kurang nyaman. Bagi pengguna produk Apple pasti akan segera menyadari ketika menggunakan laptop ini karena kurang presisi dan tidak nyaman klik-nya. Selain itu gesture yang biasa digunakan di touchpad MBP berbeda dengan di laptop ini. Kalau gesture ini lebih dipengaruhi oleh sistem operasi Windows-nya sih.

Tapi mengingat harganya yang terjangkau, saya tidak akan komplain. Mungkin saya harus menabung untuk membeli SSD NVMe dan RAM 1 keping.

Membiasakan Diri Menggunakan Windows 8

Semenjak membeli Samsung ATIV Book 9 Lite, saya pun harus membiasakan diri menggunakan Windows 8. Bukan hal yang mudah karena selama bertahun-tahun saya menggunakan Ubuntu (atau turunannya). Walau pun beberapa notebook saya sebelumnya sudah dibekali Sisop Windows Original, namun saya tetap menggunakan Ubuntu.

Laptop cowok boleh kok pake aksesoris :)
Laptop cowok boleh kok pake aksesoris 🙂

Bagi saya Ubuntu itu sederhana dan aman. Sederhana karena semua yang saya butuhkan sudah tersedia saat instalasi dilakukan. Untuk menginstall aplikasi tambahan bisa dilakukan dengan mudah. Asal terhubung ke internet. Yang mengasyikkan adalah karena semuanya gratis. Dan lagi Ubuntu termasuk sisop yang aman. Bertahun-tahun saya menggunakannya tidak pernah ada masalah dengan virus, malware atau serangan dari luar.

Lain halnya jika menggunakan Windows, saya harus beli MS Office yang harganya mahal. Untunglah ada LibreOffice yang open source (gratis). Banyak aplikasi tambahan yang harus saya install, mulai dari utility untuk compress/decompress, PDF reader, Antivirus, browser lain (Mozilla & Chrome), puTTY, Bittorrent, XAMPP, dan banyak lagi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah jika kita menginstall aplikasi yang di dalamnya ada malware. Atau jika ternyata aplikasi tersebut adalah palsu.

Jadi bagi saya, OS Windows sungguh merepotkan. Apalagi antarmukanya yang tidak begitu user friendly. Saya kesulitan untuk kontrol sepenuhnya. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan antar muka versi desktop.

Alasan saya mempertahankan Windows 8 di laptop saya adalah karena harddisknya terbatas (hanya 128GB SSD, user space cuma 100GB) dan layarnya touchscreen. Alasan terakhir paling dominan. Sampai saat ini Ubuntu belum sempurna dalam urusan touch screen. Sedangkan Ubuntu Touch yang konon memiliki dukungan penuh ke layar sentuh hanya untuk phone/tablet (arsitektur ARM). Jadi sayalah yang harus menyesuaikan diri untuk menggunakan Windows 8.