Obrolan Taxi Konvensional dan Online

Ini masih cerita dengan sopir taxi konvensional tempo hari. Namun bahasannya berbeda, yaitu dari sisi Sopir taxi konvensional yang bercerita bagaimana BlueBird masih bisa survive walau digempur habis-habisan oleh taxi online. Padahal banyak taxi konvensional lain yang ambruk dan gulung tikar karena kalah bersaing dengan taxi online. Ringkasnya, dia bercerita kalau pada akhirnya konsumen kembali menggunakan jasa taxi konvensional ini.

Tak lain dan tak bukan adalah karena kualitasnya. Mobil BB termasuk bagus, bersih dan selalu dipelihara dengan baik sehingga penumpang akan merasakan kenyamanan. Sopirnya pun tidak sembarangan, tapi melalui proses perekrutan yang baik dan evaluasi yang dilakukan terus menerus. Ada rapot-nya. Tidak seperti kebanyakan taxi online yang dengan mudah menerima orang sebagai mitra asalkan punya kendaraan dan SIM.

Saya sependapat sih. Beberapa kali naik taxi online tidak nyaman. Dari mobil yang bau rokok/pengap, kotor, sopirnya ugal-ugalan sampai ke kecurangan pengemudi. Dan saya tambah sependapat ketika situasinya adalah saat harus berangkat pagi-pagi buta atau sudah larut malam, lebih baik naik taxi konvensional yang terpercaya ini. Riskan banget kalau pakai taxi online.

Itu dari sisi konsumen ya. Dan sang Sopir juga bercerita dari sisi pengemudi. Dia bercerita kalau ada temannya yang sudah 15 tahun bekerja di BB dan kemudian tergiur bergabung ke taxi online. Apa yang terjadi? Temannya itu akhirnya balik lagi ke BB dengan masa bakti mulai dari 0 lagi. Hilang sudah masa bakti 15 tahunnya.

Namun mengapa dia keluar dan kemudian balik lagi? Begini ceritanya.

Read More »

Iklan

Perusahaan Menggunakan Grab for Work

Mulai November 2017 ini perusahaan kami menggunakan jasa Grab for Work. Grab for Work merupakan salah satu layanan dari Grab yang menyediakan jasa transportasi untuk karyawan yang perlu melakukan perjalanan bisnis.

Tentu saja, sebagai salah satu karyawan saya sangat menyambut positif langkah ini. Karena saya tidak perlu repot lagi menyetir sendiri jika ada tugas ke luar kantor. Apalagi lalu lintas Jabodetabek itu tahu sendiri kan macetnya kayak apa? Apalagi mobil saya transmisinya manual, tentu merupakan siksaan tersendiri jika harus menyetir sendiri di kemacetan berjam-jam.

Dengan Grab for Work saya tidak perlu membayar taxi-online Grab karena secara otomatis tagihan dibebankan ke perusahaan. Lebih asyiknya lagi karena Grab for Work ini juga menanggung biaya toll dan parkir (jika ada). Selama ini kami harus membuat rekap perjalanan, mengumpulkan tiket toll dan parkir untuk kemudian di-reimburse ke kantor. Ini merupakan kerepotan sendiri, hehehe…

Karena semuanya langsung ditagihkan ke perusahaan, karyawan jadi lebih praktis kalau perlu melakukan perjalanan bisnis. Tinggal pesan Grab, tentukan tujuan, masukkan kode perusahaan, tuliskan keperluan perjalanan bisnis, dan tunggu mobil grab datang menjemput dan kemudian mengantarkan ke tujuan. Setelah sampai tujuan tidak perlu bayar. Asyik ya?

Read More »

Melawan Disrupsi di Bidang Kesehatan (4)

{ Artikel sebelumnya: Melawan Disrupsi Bisnis di Bidang Kesehatan 3 }

Tulisan sebelumnya kita mengulas karakteristik dari perusahaan teknologi yang sekiranya akan masuk ke bidang kesehatan dan sekaligus mengganggu alur bisnis Rumah Sakit dan klinik. Kalau saat ini RS/klinik masih belum punya ide bagaimana sekiranya perusahaan teknologi ini akan mengganggu mereka, maka perkenankanlah saya menyampaikan bahwa perusahaan-perusahaan itu sudah mulai muncul. Kalau sebelumnya saya memberikan contoh HaloDoc, Go Dok, KlikDokter, dan Dokter.id, maka sekarang sudah ada MEDI-CALL yang secara bisnis benar-benar akan mengganggu RS/klinik.

Mengapa Bisa Mengganggu?

Karena Medi-call sudah mulai mencuri pasar RS/klinik dengan cara menyediakan layanan panggil dokter, panggilan darurat, panggil laboratorium, vitamin, vaksin, infus/IV line, bahkan farmasi. Menurut saya ini sudah lengkap dan semuanya tersedia untuk dipanggil ke rumah.

Read More »

Melawan Disrupsi Bisnis di Bidang Kesehatan (3)

{ Artikel sebelumnya: Melawan Disrupsi Bisnis di Bidang Kesehatan 2 }

Jika bagian 1 dan 2 menjelaskan betapa seriusnya ancaman dari perusahaan teknologi, maka kali ini kita coba diskusikan bagaimana melawan disrupsi bisnis yang akan mereka lakukan di bidang kesehatan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang apa itu perusahaan teknologi masa kini yang belakangan cenderung mengganggu bisnis konvensional. Benar pepatah kuno yang mengatakan bahwa untuk memenangkan pertempuran, kita perlu mengenali siapa musuh kita.

1) Pemanfaatan Teknologi

Sebagai perusahaan teknologi, mereka benar-benar menguasai teknologi, terutama teknologi terbaru. Dengan gesit mereka dapat segera mengadopsi teknologi terbaru dalam waktu yang singkat. Kadang kala mereka di-endorse oleh perusahaan teknologi besar semacam Microsoft, Google, Facebook, IBM dan masih banyak lagi perusahaan besar lain yang siap membantu mereka dalam pengadopsian teknologi baru dan infrastrukturnya.

Read More »

Melawan Disrupsi Bisnis di Bidang Kesehatan (2)

{ Artikel sebelumnya: Melawan Disrupsi Bisnis di Bidang Kesehatan (1) }

Sepertinya saat ini banyak RS hanya berfokus pada kompetisi antar RS dan membuat strategi untuk mengalahkan kompetitornya, seperti misalnya membuat program-program unggulan, kelengkapan fasilitas medis, pelayanan kesehatan yang baik dan lengkap, dan lain-lain. RS menerapkan strategi bagaimana menggaet pasien sebanyak-banyaknya; menerapkan standar pelayanan, keamanan dan kenyamanan pasien; dan menerapkan efisiensi operasional sebesar-besarnya demi memenangkan persaingan antar RS.

Namun benarkah semua itu relevan?

Sejauh ini RS masih memandang RS lain sebagai kompetitornya. Dan nampaknya semua strategi tersebut masih relevan. Namun sejatinya saat ini RS telah memiliki kompetitor baru, yaitu perusahaan teknologi.

Read More »

Melawan Disrupsi Bisnis di Bidang Kesehatan (1)

Kalau kita lihat beberapa tahun belakangan ini, maka kita bisa mengamati beberapa disrupsi bisnis di beberapa bidang. Sebut saja dengan hadirnya ojek online yang mengganggu bisnis ojek pangkalan; taxi online yang mengganggu bisnis taxi konvensional; e-commerce yang mengganggu bisnis perdagangan, retail dan bahkan distribusi; agen tiket perjalanan online yang mengganggu agen tiket konvensional; penginapan online (Airbnb) yang mulai mengganggu bisnis perhotelan.

Kalau dicermati, semua disrupsi bisnis ini dilakukan oleh perusahaan teknologi yang tidak memiliki sumber daya di bidang tersebut. Sebut saja Gojek yang merupakan pemain ojek online. Gojek ini tidak memiliki armada sepeda motor. Pengemudi yang menjadi mitralah yang memiliki sepeda motornya. Demikian juga dengan Uber atau Grab yang tidak memiliki armada taxi, tapi pengemudilah yang mengusahakan sendiri mobilnya.

Mengapa kita perlu mencermati para pemain disruptif ini?

Kita perlu mencermatinya karena para pemain ini bisa dikatakan “sadis”. Dengan penguasaan teknologi yang prima, mereka bisa menghancurkan bisnis konvensional tanpa ampun. Lihat saja ketika Gojek hadir, maka bermunculanlah banyak ojek online dengan harga kompetitif dan layanan door to door yang kemudian membuat ojek pangkalan tidak laku lagi. Atau lihat saja Uber, Grab dan GoCar yang membuat banyak perusahaan taxi seperti hidup segan mati pun enggan.

Read More »

Mengelola Barang-barang Dengan Tepat

Suatu hari saya hendak bersih-bersih apartemen yang sudah tampak berantakan. Ternyata barang-barang saya sangat banyak sehingga apartemen seluas 45 m2 menjadi terasa sempit. Saya tahu kalau kebanyakan sudah tidak saya butuhkan lagi. Namun ada rasa sayang untuk membuangnya. Setiap kali akan membuang, saya berpikir mungkin lain waktu akan membutuhkannya lagi.

Namun karena apartemen saya jadi penuh sesak, saya mencoba memikirkan bagaimana cara mengelola barang-barang. Mungkin cara-cara ini bermanfaat juga bagi Pembaca.

Membeli Sesuai Kebutuhan

Ini merupakan faktor paling penting, semuanya berawal dari sini. Kita harus membeli barang sesuai kebutuhan saja. Bukan karena berdasar keinginan, lapar mata atau karena kebetulan ada diskon. Apalagi jika yang dibeli adalah barang-barang dengan ukuran besar, misalnya TV 32″, kulkas, meja, lemari, dll.

Menyimpan Dengan Rapi

Meletakkan barang-barang pada tempatnya dengan rapi merupakan keharusan. Kerapian akan membuat kita mudah mencari barang jika akan digunakan. Lagi pula kerapian membuatnya jadi nyaman dan enak dipandang.

Paling gampang adalah menyimpan barang-barang di laci, lemari, container atau rak.

Menyediakan Tempat Penyimpanan

Idealnya kita punya gudang untuk menyimpan barang-barang sehingga ruangan tetap tampak rapi & bersih. Namun karena terbatasnya lahan, tidak semua rumah atau apartemen memiliki gudang. Jadi perlu disiasati. Paling mudah adalah dengan membeli container plastik yang bisa ditumpuk, lemari yang bisa berfungsi sebagai pembatas dan hiasan, rak tempel di dinding, laci di bawah tempat tidur atau anak tangga, dll.

Saya sangat suka ide rak tempel di dinding yang sekaligus berfungsi sebagai dekorasi dengan bentuk dan warna beraneka ragam. Rak tempel ini jamak diadopsi di apartemen dengan luasan yang terbatas.

Ide desain rak bisa dicari di Google
Ide desain rak bisa dicari di Google

Menjual atau Membuang

Bagi sebagian orang, opsi menjual atau membuang mungkin bukan pilihan terutama jika barang tersebut memiliki nilai historis atau sangat berkesan di hati. Mungkin barang tersebut dari orang yang kita cintai. Namun jika memang sudah tidak ada tempat lagi, mau tidak mau langkah ini harus dipilih. Menjual adalah pilihan paling ekonomis.

Ketika saya berkunjung ke situs LiveOlive.com saya menemukan artikel yang cukup bagus mengenai hal ini. Silakan menuju ke: Cara Cerdas Membuang Barang-Barang Lama Anda.

Penutup

Hari ini saya telah berhasil beres-beres apartemen. Sebagian barang sudah saya buang. Ada juga yang saya berikan ke saudara. Lihat… kini apartemen saya tampak lapang, rapi, bersih dan nyaman. Senangnya…